
"Abang. Karena pernikahan kamu dan Arumi sudah ditentukan, batalkan tiket kamu ke Jerman bang. Naomi juga akan stay disini sampai acara kamu selesai"
"Oh iya. Hampir saja ichan lupa mah"
"Ya sudah. Minta sekretaris kamu untuk membatalkan semua"
"Iya mah"
Ghaisan lekas menghubungi Mala agar membatalkan keberangkatan dirinya ke Jerman. Beruntung Mala memang belum mengurus semua keperluan Ghaisan ke Jerman dikarenakan proyek pelelangan beberapa waktu yang lalu.
"Bang. Ada yang mau mama tanyakan"
"Apa. Mah"
"Sebenarnya mama udah lama banget pemasaran. Dan pengen tanya Abang selalu saja tidak ada waktu yang tepat. Mumpung sekarang kita cuma berdua, mama mau Abang jawab jujur"
"Iya mah. Apa"
"Beberapa waktu yang lalu, mama ketemu Malika. Dia sama seorang anak perempuan kecil. Awalnya mama pikir itu anak saudaranya. Tapi saat mama mau nyapa anak itu manggil Malika mama. Jadi Malika sudah menikah bang"
Ghaisan terdiam sesaat sambil memainkan gelas didepannya. Mungkin sudah saatnya Ghaisan mengatakan tentang Malika. Itu yang terlintas dalam benak Ghaisan. Ghaisan masih terdiam belum menjawab pertanyaan sang mama. Dan kembali Syaqilla bertanya.
"Bang. Kenapa diam. Ada yang Abang sembunyikan dari mama"
"Ya. Dia memang anak Malika mah"
"Jadi Malika sudah menikah bang. Kok gak ada kabar. Shanum juga gak cerita apapun"
"Malika belum menikah mah"
"Bang jangan bercanda. Bagaimana bisa Malika memiliki anak sedangkan dia belum menikah. Kecuali... Astaghfirullah. Gak mungkin kan bang"
"Ya seperti yang mama pikirkan"
"Astaghfirullah. Terus itu anak siapa bang. Jangan bilang ada sangkut pautnya sama Abang ya"
"Astaghfirullah mah. Bukan. Anak itu bukan anak Ichan. Ichan masih tau batasan"
"Terus anak siapa bang"
"Anak seorang pengusaha yang menjadi pesaing keluarga Malik"
"Abang yakin"
"Iya mah"
Syaqilla menyadari ada kejanggalan dalam setiap perkataan Ghaisan. Syaqilla tau jika masih ada yang ditutupi Ghaisan.
"Sebentar bang. Sepertinya Abang tahu banyak hal tentang anak Malika. Ada apa sebenarnya bang. Mama tidak mau masalah ini nantinya akan membawa bencana di kehidupan kamu"
Ghaisan menghela nafasnya sangat dalam. Jujur dia sendiri memang salah saat kejadian itu. Bisa dia mencegah semuanya. Namun karena rasa sakit hatinya, Ghaisan membiarkan semua terjadi hingga lahir seorang anak cantik bernama Cheryl.
"Bang. Mama mau Abang jujur sekarang"
"Anak itu anak dari seorang pengusaha muda bernama Reza Admaja..."
Ghaisan menceritakan semua kepada Syaqilla. Bahkan dia juga sudah siap jika mamanya juga menyalahkan kejadian yang menimpa Malika. Syaqilla terus menatap lekat kedalam manik mata sang putra. Syaqilla sangat hafal watak masing-masing anaknya. Mereka tidak akan bisa berbohong jika terus ditatap matanya. Dengan lancar Ghaisan menceritakan semuanya. Bahkan tak takut dengan tatapan intimidasi dari sang mama.
"Sudah semua mah"
"Kenapa Abang gak mencegah semua terjadi. Kenapa ada hal buruk yang bisa Abang cegah, tidak Abang cegah. Apa kami mengajari Abang seperti itu. Pengecut"
Ghaisan menunduk. Dia paling takut jika mamanya sudah marah. Diam dan pasrah apapun yang akan dilakukan oleh sang mama terhadap dirinya.
"Sesakitnya hati kamu bang. Gak perlu juga sampai kejadian buruk ini terjadi. Walaupun kalian tetap tidak menikah, setidaknya Malika tidak mengalami hal seburuk ini bang. Dimana pikiran kamu bang"
"Maafkan Ghaisan mah. Ichan memang salah mah. Ichan sudah menyesalinya mah. Ichan juga sudah minta maaf sama Malika mah"
"Ck. Ya Allah. Bang, secara gak langsung kamu pun ikut berdosa. Pusing mama. Pusing"
"Mah maafin Ichan mah"
"Biarkan mama sendri dulu bang. Mama masih kecewa sama Abang"
"Mah. Ampun mah. Ichan salah mah"
Ghaisan berjongkok sambil memegang kedua kaki Syaqilla untuk meminta ampunan. Syaqilla sangat kecewa dengan sikap Ghaisan yang sangat pengecut. Air mata Syaqilla pun tak tertahankan.
"Bang. Walaupun bukan Abang pelakunya, tapi Abang melihat semua. Dan mama kecewa kenapa hal seburuk itu yang bisa Abang cegah tapi Abang biarkan begitu saja. Apa salah cara kami mendidikmu bang. Mama gak tau harus bilang apa lagi bang. Mama juga gak mau masalah ini papa sampai tahu bang. Lepaskan kaki mama bang. Mama mau istirahat"
"Mah. Mama pukul Ichan saja. Tapi Ichan minta mama jangan nangis mah. Ichan gak mau lihat mama nangis"
Syaqilla melepaskan secara paksa kaitan tangan Ghaisan pada kakinya. Syaqilla masuk kedalam kamar miliknya dan mengunci dari dalam. Ghaisan masih terduduk dengan tumpuan kedua lututnya menghadap pintu kamar Syaqilla. Sambil menangis Ghaisan terus meminta maaf.
"Maafkan Ichan mah. Maaf mah"
Didalam kamar Syaqilla menangis sesenggukan. Dia merasa sangat kecewa dengan sikap Ghaisan. Walaupun bukan Ghaisan pelaku utamanya, namun bagi Syaqilla Ghaisan juga salah.
Ghaisan masih menunggu Syaqilla keluar dari kamar. Dia duduk dimeja makan agar mudah melihat jika sang mama keluar. Satu jam lamanya Ghaisan menunggu, akhirnya Syaqilla keluar dari kamar. Ghaisan langsung berlari memeluk Syaqilla. Dengan derai air mata Ghaisan kembali meminta maaf.
"Maafkan Ichan mah. Maaf mah. Mama boleh mukul Ichan. Maafin Ichan mah"
Syaqilla melepaskan pelukan Ghaisan dan menggenggam kedua tangannya. Melihat wajah sang putra berderai air mata, Syaqilla langsung menghapusnya.
"Abang. Mama memang kecewa, tapi mama gak pernah bisa memukul kalian. Biar bagaimanapun Abang juga salah. Semua sudah terjadi bang. Jika memang Abang bisa menyatukan kedua orangtua Cheryl, itu akan lebih baik. Dan untuk sementara masalah ini cukup kita berdua yang tahu bang. Jangan sampai karena masalah yang sudah lama berlalu ini, mengganggu rencana pernikahan kamu bang"
"Iya mah. Maafin Ichan mah"
"Iya mama sudah maafin kamu nak. Tapi tolong kamu juga jujur kepada Arumi. Dia juga berhak tahu. Agar tidak ada salah paham"
"Iya mah. Nanti Ichan akan segera menceritakan kepada Arumi"
Tak lama terdengar suara deru mesin mobil memasuki pekarangan rumah keluarga Mahendra. Syamil dan Azzam yang memang sedari pagi sedang pergi, sudah kembali.
"Sepertinya papa dan Azzam sudah pulang. Lekas basuh wajah kamu bang. Jangan sampai mereka curiga nanti"
"Ya mah"
Syaqilla pun kembali masuk kedalam kamar untuk membasuh wajah dan menyamarkan bekas tangisannya. Syaqilla memilih pura-pura untuk tidur agar Syamil tak begitu curiga.
"Assalamualaikum. Mah. Papa pulang"
Sengaja Syaqilla menjawab perlahan didalam kamar agar tidak terdengar Syamil. Ghaisan pun lebih memilih menenangkan diri didalam kamar dan mengunci pintu kamar agar Azzam tidak sembarangan masuk ke kamarnya.
"Kok sepi gini ya dek"
"Abang pergi kali pah"
Syamil melihat kearah luar. Disana terparkir mobil Ghaisan.
"Tuh mobil Abang ada kok"
"Tidur kali pah. Azzam naik dulu pah. Mau nyante"
"Iya sudah sana. Papa juga mau istirahat"
Mereka kembali kedalam kamar masing-masing. Syamil tersenyum melihat Syaqilla tertidur. Walaupun Syamil tidak tahu jika Syaqilla hanya berpura-pura saja.
_________
Alhamdulillah... terimakasih atas doanya readerku tercinta. Dedek sudah kembali aktif dan emak bisa kembali up...Eneng nyusul sore ya...
Jangan lupa jempolnya gaesss
Happy reading