RashSya Story

RashSya Story
Devin~CLBK 6



Genap enam bulan Tisya bekerja dikantor Devin. Dan selama itu pula, Devin jarang membawa Lea menemaninya pergi menghadiri acara-acara penting. Selain Lea sedang di Jerman mengunjungi saudara yang lain, Devin lebih sering mengajak Tisya. Mungkin suatu kebetulan, Reza juga jarang bisa bertemu Tisya.


Hari ini Lea diminta sang mama kekantor Devin. Awalnya Lea menolak. Karena pasti akan terjadi kehebohan. Karena semua karyawan mengira bahwa Lea adalah tunangan Devin. Selama ini Bintang memang tidak pernah mempublikasikan Lea dan Danish. Keamanan mereka terpenting. Karena dulu waktu kecil Devin hampir saja diculik.


"Hari ini ada meeting jam sepuluh dan jam Satu siang pak. Dan nanti malam ada undangan pernikahan dari Reswan Group"


"Oke. Makasih tis. Kamu bisa kembali"


"Permisi pak"


Tisya kembali ke mejanya. Anda Devin fokus pada pekerjaannya. Tisya yang sedang menyusun beberapa berkas dikejutkan kedatangan perempuan muda nan cantik.


"Mbak pak Devin ada"


"Ada bu. Maaf sudah ada janji belum sih"


"Tapi tolong bilang saja Lea datang"


"Baik"


Tisya langsung menghubungi Devin melalui interkom. Tak lama Devin muncul dan langsung memeluk Lea.


"Lea. Kapan pulang"


"Ah kangen"


"Sama. Masuk yuk"


Pemandangan itu tak luput dari mata Tisya. Tisya bahkan melongo tak bisa bergerak melihat kemesraan mereka. Apalagi saat Devin memeluk Lea Michele tadi sempat mencium kening Lea.


"Sudah punya pacar masih saja genit sama gue. Dasar buaya buntung"


Tisya kembali ke pada pekerjaannya, namun sudah tidak bisa konsentrasi lagi. Sesekali pandangan mata Tisya terarah pada pintu ruangan Devin yang tertutup rapat. Entah setan apa yang merasuki Tisya. Pikirannya jauh melayang.


"Mereka pasti lagi melepas rindu. Dan melepas semuanya. Hii"


Tisya kembali melirik pintu itu namun masih saja belum terbuka.


"Jadi penasaran lagi ngapain sih mereka. Kok hening banget"


Gludak


Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari ruangan Devin. Tisya semakin berfikiran negatif.


"Fix ini mah. Dasar gak modal. Hotel banyak milih disofa sempit. Jatuh kan. Rasain"


Hanya selang beberapa detik saja dari gumaman Tisya, Devin sudah keluar sambil merangkul pundak Lea. Dan nampak Lea merintih keasyikan sambil mengusap dahinya.


'Tis. Saya keluar sebentar. Nanti sebelum meeting saya sudah kembali'


"Baik pak"


Devin berjalan sambil mengusap dan meniupi dahi Lea. Tisya melihat semua itu tiba-tiba kesal sendiri.


"Sok romantis. Gak inget umur. Sukanya daun muda. Jijay"


Tisya kembali pada rutinitasnya. Karena terlalu kesal tanpa alasan, Tisya sempat membanting-banting kertas didepannya. Salah satu staf datang menitipkan file untuk Devin.


"Mbak tis. Titip buat pak Devin ya"


"Oh ya Mbak. Sini"


"Makasih ya"


"Sama-sama"


"Eh tadi pak bos keluar sama tunanganya ya"


"Gak tau saya mbak. Emang yang tadi tunangan pak bos mbak"


"Gimana sih masa sekretarisnya malah gak tau"


"Lah kan aku baru kerja enam bulan disini mbak. Dan gak pernah tanya masalah pribadi juga"


"Iya juga ya. Lagian tunangan pak bos udah lama gak kesini. Tak kira mereka udah putus. Ternyata enggak. Langgeng banget"


"Ya namanya jodoh mbak. Mau kayak apa tetap bakalan balik lagi"


"Betul-betul. Ya sudah saya balik ruangan dulu. Takut ketahuan pak Teddy. Bisa kena amuk kita ghibahin pak bos"


"Hahaha. Iya udah sana"


Tisya masuk kedalam ruangan Devin untuk menaruh berkas yang baru saja diterimanya tadi. Saat akan keluar, Tisya melihat pecahan vas bunga didekat sofa.


"Ganas juga mainnya. Sampai pecah tuh vas bunga"


Sambil bergumam, Tisya berjongkok memunguti pecahan vas bunga. Dia tak menyadari si pemilik ruangan sudah kembali.


"Apanya yang ganas ndek"


"Eh. Loe udah balik kung"


"Apanya yang ganas"


"Itu nyamuk. Tadi gue digigit nyamuk Gans banget. Sampai gatel"


"Emang ada nyamuk diruangan gue"


"Ada. Nih buktinya lengan gue merah"


Tisya menunjukkan lengannya yang berwarna merah. Sebelumnya dia sempat mencubit dahulu lengannya agar tampak merah. Devin langsung meraih lengan Tisya. Dan mengusap pelan sambil ditiupnya.


Tisya yang mendengar perkataan Devin, langsung menatap kearah Devin dengan dahi sedikit berkerut. Tisya langsung menarik lengannya secara paksa.


"Ngomong ngawur aja loe kung"


"Serius. Gue gak ngasal"


"Maksud loe apa Dev"


Spontan Devin menggenggam kedua tangan Tisya. Matanya lekat menatap langsung kedalam manik mata Tisya.


"Tisya Aulia Rahman. Menikahlah denganku"


Duar


Petir menyambar hati Tisya. Entah apa yang harus dijawabnya. Antara bahagia dan marah itu yang kini dirasakan oleh Tisya. Devin merasa Tisya belum menjawab pernyataannya, kembali mengulangi kata-kata tadi.


"Tisya. Maukan kamu jadi istri Devin Pradipta Alfatir. Menjadi pendamping hidupku"


Spontan Tisya menjawab perkataan yang keluar dari mulutnya. Namun ada rasa lain dihatinya saat kata-kata itu terlepas dari mulutnya.


"Tidak"


Devin diam mencerna perkataan Tisya. Dia kembali bertanya maksud jawaban Tisya.


"Kamu menolak ku tis"


"Iya. Maaf gue gak bisa menerima lamaran loe Dev"


"Kenapa tis. Apa aku kurang pantas untukmu"


"Bukan kamu, tapi aku. Masih ada wanita yang lebih pantas untuk dirimu Dev. Dan jelas itu bukan aku"


"Aku yang memilih mu tis. Dan hatiku pun sama. Tak ada yang lebih pantas selain dirimu. Tolong kamu pertimbangkan kembali. Aku akan menunggu jawaban kamu"


Devin melepas tangan Tisya. Dan menahan bibir Tisya dengan telunjuknya saat akan kembali membantah perkataannya.


"Hust. Jangan langsung dijawab. Kamu pikirkan lagi. Bila perlu kita sama-sama meminta petunjuk pada sang pemilik hidup"


Entah karena terhipnotis oleh tatapan mata Devin. Tisya spontan mengangguk.


"Aku akan menagih jawaban kamu satu Minggu lagi tis. Dan kuharap bukan sebuah penolakan"


Tisya kembali mengangguk setuju. Mulutnya benar-benar kelu untuk membantah. Walaupun hatinya terus mengumpat tak suka dengan perlakuan Devin.


"Ya sudah kita berangkat meeting sekarang. Itu biarkan saja. Nanti ada office boy yang akan membersihkan"


Tisya keluar mengambil tas dan berkas yang dibutuhkan untuk meeting. Sepanjang jalan mereka sama-sama diam. Rasa canggung itu yang mereka rasakan sekarang. Ponsel Tisya berdering. Nama Eza tertera dilayar.


"Assalamualaikum Za"


"__"


"Alhamdulillah baik. Ada apa"


"__"


"Boleh. Jemput gue sepulang kerja"


"__"


"Oke gue tunggu"


"__"


"Waalaikumsalam"


Devin langsung menekuk wajahnya mendengar Tisya akan dijemput seseorang. Jiwa keponya meronta.


"Siapa"


"Teman"


"Cowok"


"Iya"


"Mau kemana"


"Dinner"


"Gak boleh"


"Bukan urusan loe dev"


"Aku gak ijinin kamu pergi sama lelaki lain. Kecuali aku ikut"


"Ingat loe ngasih waktu seminggu. Dan gue masih bebas"


Devin langsung terdiam. Tak bisa menyangkal. Sepanjang jalan menuju restoran untuk meeting, Devin terus cemberut. Tisya sebenarnya ingin tertawa melihat ekspresi imut Devin. Namun dia berusaha menahannya.


______


Ou ou gercep ya bang Devin


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading