RashSya Story

RashSya Story
CPS~Rizky Story



"Terus menurut loe gue harus gimana. Bahkan gue yakin loe gak pernah tau tentang hidup gue sepenuhnya". Medina menunduk dan menangis. Rizky memang hanya mengetahui sekilas tentang apa yang dialami Medina.


"Jika kamu berkenan. Kamu boleh meluapkan semua kepada saya. Anggap ini cara saya meminta maaf ke kamu karena selama kamu susah saya tidak menemani kamu". Medina menoleh kearah Rizk. Dan Rizky menyambut dengan senyuman.


"Asal loe tau Ky. Sebelum perempuan tua itu menjodohkan kita, dia pernah berniat menjodohkan gue dengan beberapa pria. Dan gue jarang pulang kerumah sejak saat itu". Pandangan Medina lurus kedepan. Entah mengapa Medina merasa nyaman jika bercerita dengan Rizky.


"Kalau bukan karena gue pengen perusahaan ayah kembali, gue udah gak akan peduli lagi sama rumah itu. Tapi sampai sekarang gue belum bisa nemuin sertifikat rumah dan perusahaan ayah". Air mata Medina kembali mengalir. Ingin rasanya Rizky memeluknya namun itu tak akan mungkin.


"Kalau boleh saya tau, bagaimana ibu Fitri bisa keguguran". Pertanyaan ini yang selalu ingin Rizky tanyakan. Karena Rizky dan ibunya sangat paham seperti apa sifat Medina. Mereka tidak percaya dengan apa yang dituduhkan oleh Bu Fitri kepada Medina.


"Sebenarnya dia bukan keguguran, tapi sengaja digugurkan". Jawaban Medina cukup mengejutkan Rizky.


"Loe pasti gak nyangka kan. Gue tau itu karena teman gue yang kebetulan merawat wanita itu cerita ke gue. Dia datang dengan diantar Om Rudi. Kondisinya sudah pendarahan bahkan hampir tidak sadarkan diri". Rizky diam mendengarkan cerita Medina.


"Selama penanganan, dokter curiga karena tidak ada tanda-tanda keguguran seperti yang dikatakan Om Rudi saat awal pasien datang. Om Rudi berkata jika perempuan itu terjatuh dan pendarahan. Namun ditubuhnya tidak ada tanda benturan. Karena kecurigaan dokter itu suatu kesengajaan, jadi dokter minta bertemu langsung dengan ayah. Setelah kejadian dari rumah sakit itulah ayah memarahi gue. Dan gue jarang juga diusir. Padahal perempuan itu meminum obat penggugur kandungan. Gue dikambing hitamkan dengan alasan gue sengaja karena iri". Ada rasa sakit yang menjalar di hati Rizky saat mendengar cerita Medina.


"Terus kamu tau tidak alasan kenapa Bu Fitri menggugurkan kandungannya. Padahal itu anaknya sendiri". Rizky ingin sekali mengetahui secara rinci. Rizky ingin sekali membantu Medina.


"Gue tau. Karena gak selamanya kebusukan wanita itu bisa terus ditutupi. Dan sebenarnya jika ayah tidak mengusir gue, gue bisa cerita ke ayah. Tapi sayangnya ayah terlanjur percaya kepada wanita itu". Tangan Rizky hendak bergerak mengusap rambut Medina, namun dia menahannya.


"Wanita itu adalah selingkuhan Om Rudi. Dan saat tau dia hamil anak Om Rudi, Om Rudi memanfaatkan kesempatan itu. Karena sejak lama Om Rudi menginginkan perusahaan ayah. Om Rudilah perancang semua skenario ini. Saat tau anak yang dikandungnya berjenis kelamin perempuan, wanita itu takut jika ayah mengusirnya. Dia meminta Om Rudi untuk melindunginya bahkan meminta Om Rudi menikahinya jika ayah menceriakannya. Namun Om Rudi menolak karena tidak mau bibi marah dan meninggalkan Om Rudi. Setelah kejadian itulah dia dibawa kerumah sakit". Medina menatap Rizky. Dia tahu apa yang sedang Rizky fikirkan.


"Loe pasti bingung gue tau dari mana". Medina tersenyum tipis disudut bibirnya.


"Wanita itu yang bercerita sendiri. Gak usah kaget kenapa bisa seperti itu". Medina melanjutkan ceritanya. Dan ini sangat membuat Rizky terkejut.


"Setelah ayah meninggal dan Om Rudi juga tidak lagi peduli dengannya, Hal yang menyakitkan kembali dia dapat. Mungkin ini karma. Dia jatuh sakit satu bulan setelah ayah pergi. Dan dokter menyatakan jika dia terkena kanker serviks. Dia menjalani pengobatan dengan uang peninggalan ayah. Dia mengira semua harta ayah bisa dia gunakan seenaknya. Dan ternyata salah. Beberapa harta ayah sudah atas nama bunda dan gue. Dan tanpa persetujuan gue, dia tidak bisa menggunakan itu. Termasuk perusahaan. Tidak semua bisa Om Rudi kuasai. Karena semua sudah atas nama gue. Walaupun ayah mengusir gue, tapi ayah tidak merubah apa yang sudah dia berikan ke gue". Medina menangis mengingat kasih sayang sang ayah.


"Apa sampai sekarang Bu Fitri masih sakit". Rizky kembali bertanya kondisi Bu Fitri.


"Ya. Dan setau gue sudah semakin parah. Dia berharap gue mau membiayai dia karena hanya gue yang bisa dia harapkan. Keluarganya menolaknya. Om Rudi sudah tidak peduli lagi. Dia memang sedang berusaha merayu gue. Dan gue sadar itu". Rizky mengangguk paham dengan maksud Medina.


"Dia anak pemilik kafe tempat gue kerja. Dan gue tinggal dirumah singgah yang dia kelola juga. Tapi loe gak usah takut. Karena dia penyuka sesama jenis. Dia gay". Medina menjelaskan semuanya kepada Rizky. Mungkin karena sudah terbiasa dengan Rizky sejak kecil. Membuat Medina bisa mengatakan apapun.


"Apa kamu masih berniat memiliki perusahaan ayah lagi". Medina menatap sendu Rizky. Netra mereka saling beradu.


"Apa bisa. Sedangkan gue gak ada kekuatan apapun untuk melawan. Walaupun gue ada hak". Mata itu memiliki harapan agar bisa mengembalikan apa yang seharusnya. Tapi mata itu juga mengatakan jika dia ingin menyerah.


"Ayo kita menikah". Medina melotot mendengar ajakan Rizky yang begitu tiba-tiba.


"Gak usah ngaco. Gak perlu lagi loe nuruti permintaan wanita itu. Lagian gue tau loe udah punya pilihan kan". Medina memang sempat mendengar kabar jika Rizky akan mengkhitbah seseorang.


"Saya tidak main-main. Dan ini bukan atas kemauan ibu Fitri. Tapi ini dari lubuk hati saya. Tak ada siapapun yang saya khitbah kecuali kamu". Jawaban Rizky dan tatapan matanya itu benar-benar tidak ada satupun kebohongan. Medina tiba-tiba menangis mendengar penjelasan Rizky.


"Apa loe gak malu nikah sama gue. Loe pasti tau gimana reputasi gue dimasyarakat". Rizky menggeleng memberikan jawaban kepada Medina.


Yang bisa menilai baik-buruknya kita hanyalah Allah. Manusia hanya bisa berspekulasi tanpa tau yang sebenarnya. Biarkan mereka berpendapat apapun itu. Yang terpenting ibu merestui hubungan kita. Kamu tak perlu khawatir. Karena kebenaran akan datang dengan sendirinya". Medina mengangguk setelah mendengar perkataan Rizky.


"Kamu setuju kita menikah". Lagi-lagi Medina hanya mengangguk menjawab pertanyaan Rizky.


"Alhamdulillah. Saya akan menemui on Rudi untuk meminang kamu". Mendengar nama itu raut wajah Medina berubah.


"Bisa tidak gak usah melibatkan dia". Rizky tersenyum mendengar permintaan Medina.


"Saat ini hanya Om Rudi satu-satunya wali sah kamu. Dan saya tidak ingin hanya keluarga saya yang merestui kita. Tapi keluarga kamu juga". Medina hanya menghela nafas saja. Dia sadar jika memang hanya Om Rudi yang bisa menikahkannya.


"Oke. Terserah saja. Lalu bagaimana dengan wanita yang loe ta'aruf". Medina hanya tak mau ada masalah nantinya. Dia perlu mengetahui kejelasan tentang Rizky.


"Saya belum mentaarufnya. Itu baru wacana. Jadi kamu tidak usah takut". Rizky tersenyum membuat Medina tenang.


Rizky segera mengabari sang ibu dan mengatakan jika dia sudah meminta Medina menikah dengannya. Ibunda Rizky bahagia mendengar itu. Dan beliau segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk bertandang kekediaman Om Rudi. Dan meminang Medina secara resmi. Tak lupa keluarga Malik pun turut serta.