
Usai makan siang bersama seila dan karina, atha merubah jadwal pekerjaannya hari ini. Dia langsung mencari tahu apa saja yang perlu dibawa saat khitbah nanti. Beruntung seila masih berada didekatnya. Atha mengajak seila mencari cincin.
"Sel kamu gak sibuk kan habis ini"
"Nggak kak kenapa"
"Kita cari cincin sekarang. Ajak karina juga gapapa"
"Gue juga mau dibeliin cincin"
"Minta sama sony"
"Kok saya bos"
Sony langsung melayangkan protesnya pada atha. Sedangkan karina tersenyum sambil tersipu. Kini mereka perjalanan menuju toko perhiasan milik mama daffa. Atha memang baru akan memberitahu rencana menkhitbah seila setelah semua yang dibutuhkan lengkap.
"Selamat siang bisa dibantu"
"Mama jeje ada"
"Ibu ada didalam"
"Tolong panggilin mbk"
"Maaf dengan bapak siapa"
"Atha"
"Tunggu sebentar"
Atha langsung meminta seila memilih perhiasan yang diinginkannya. Tak lama Jeje keluar ruangannya bersama Dafina adik Daffa.
"Kamu pilih perhiasan yang kamu mau sel"
"Kak ini serius"
"Apa sudah sampai ditempat ini kamu masih mengira aku bercanda"
"Nggak kak. Seila cuma masih kaget aja"
"Bismillah. Kita mulai dari sekarang"
"Iya kak"
"Sekarang kamu pilihlah perhiasan mana yang kamu mau"
"Ya kak"
Seila langsung melihat isi etalase didepannya. Perhatiannya teralih karena seseorang.
"Atha"
"Pangeranku. I miss u"
"Mama apa kabar"
"Baik sayang. Kamu kemana aja kok ngilang. Lupa sama mama"
"Maaf ma. Atha sibuk banget. Ayah gak disini"
"Ayah lagi ke jerman nemani daddymu"
"Apa daddy ke jerman. Kapan mah"
"Baru pagi tadi berangkat. Kenapa kok kaget gitu"
"Nggak mah gapapa"
"Pangeran aku dicueki nih"
"Hahaha. Apa kabar little girl. Kapan balik kesini"
"Dua bulan yang lalu. Kangen tau sama pangeran"
"Eits jangan peluk-peluk. Peluk sony aja sana"
"Ish kak atha dari dulu gitu deh. Tiapau dipeluk gak mau. Padahal dulu dafi selalu bobok sama kakak"
"Iya dulu masih bocil. Sekarang mana boleh"
"Oya atha ada apa kesini. Nyari hadiah buat mami"
"Gaklah mah. Mami itu kalau minta hadiah langsung kirim gambar apa yang dimau bukan atha yang pilih"
"hahaha. Friska memang gak berubah. Terus ada apa"
"Oya lupa. Kenalin calon istri atha"
Seila yang diperkenalkan sebagai calon isrti langsung kaget. Hatinya masih belun siap menerima kejutan ini.
"Hallo cantik. Siapa nama kamu nak"
"Seila tante"
"Panggil mama saja. Akhirnya anak mama bawa calon mantu"
"Iya dong mah. Cantik kan"
"Ini calon kakak ipar dafi"
"Iya adik kecil"
"Kok kakak mau sih sama manusia aneh ini"
"Dafina"
"Haha emang kak atha aneh"
"Jangan didengerin sel. Dia emang kayak gitu orangnya"
"Hehe iya kak. Gapapa kok"
"Ma. Atha kesini mau cari seserahan buat seila. Ada desain baru gak mah"
"Cincin tunangan atau cincin nikah"
"Dua-duanya mah"
"Gercep amat sih"
"Harus dong mah. Sesuatu yang baik gak boleh ditunda"
"Betul sekali. Andai daffa bisa beefikir kayak gitu. Pasti mama uda punya cucu"
"Doakan yang terbaik untuk daffa mah. Kasian jomblo terus"
"Kamu tha. Bentar mama ambilkan kolekso terbaru"
"Oke mah"
"Aku juga mau pamit sekalian mah. Uda jam nugas nih"
"Kamu kerja dirumah sakit mana dek"
"Rumah Sakit Pratama kak. Kenapa"
"Itu bukannya rumah sakit punya Bagas ya"
"Iya. Kakak kenal Pak Bagas juga"
"Kenalah. Dia calon suami chila"
"Yang bener orang sedingin itu calon suami kak chila"
"Beneran. Emang waktu acara nikahan arash kamu kemana dek"
"Dafi kan lagi ada tugas full day hari itu"
"Pantes gak ngrusuh. Dah sana berangkat"
"Iya iya. Kakak ipar nitip kakak aku yang aneh ini ya"
"Hehe iya kak"
Setelah kepergian Daffina, atha melihat wajah kebingungan dari seila. Itu hal wajar karena seila belum mengenal siapa atha, tapi langsung dilamar. Lamaran dadakan.
"Kenapa kamu bingung ya"
"Iya kak. Setau aku tante friska itu mami kakak. Terus yang tadi siapa kak"
"Mereka juga keluargaku. Kamu akan tahu nanti perlahan sel. Karena kalau aku cerita gak akan habis semalam"
"Iya kak"
"Uda dapat perhiasan yang kamu mau"
"Kakak saja yang memilih. Seila akan menerima apapun pilihan kakak"
"Baiklah"
Atha sudah mengambil pilihan. Sepasang cincin pernikahan esklusif. Dan satu set perhiasan beserta logam mulia.
"Mah rapiin sekalian dong besok biar diambil sony"
"Kamu kapan lamaran"
"Besok. Mama dan ayah harus datang. Jangan lupa daffa sama dafina diajak mah"
"Iya insyallah. Tapi kok dadakan banget tha. Mama pikir bulan depan"
"Keburu disamber oranglain kali mah"
"Haha kamu tha. Jadi yang diambil ini aja"
"Iya mah. Gak kurang kan"
"Kamu gak mau pake cincin tunangan"
"Pake gak sel"
"Terserah kakak saja"
"Ya uda lihat cincin tunangannya mah. Bahannya yang bisa atha pake loh mah"
"Pasti sayang. Mama tau kok syariatnya"
Jeje kembali mengambil cinci yang memang untuk pasangan muslim. Atha langsung menyukai model cincin itu begitu juga seila.
"Mah ini saja. Bagus kan sel"
"Iya kak. Seila setuju"
"Oke mama siapkan semuanya. Ada yang mau kamu bawa hari ini"
"Cincin tunangan saja mah"
"Oke. Mama tinggal sebentar"
"Atha bayar dulu. Kamu duduk saja sel"
"Ya kak"
"Mah atha pulang dulu. Jangan lupa besok datang"
"Iya sayang. Pasti mama datang"
"Seila pamit mah"
"Hati-hati ya kalian"
"Ya mah. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Atha langsung meninggalkan toko milik jeje. Atha mengantarkan seila dan karina kembali ke kampus. Mobil seila ditinggal dikampus.
"Makasih ya kak"
"Sama-sama. Jangan lupa kasih tau tante nindi. Kalau kakak akan melamarmu besok malam"
"Iya kak. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Atha lupa belum meminta nomor ponsel seila. Atha keluar dari mobil dan mengejar seila.
"Sel. Seila tunggu"
"Ya kak. Ada yang lupa"
"Iya. Lupa minta nomor ponsel kamu. Masa aku gak punya nomor calon istri sih lucu aja kan"
"Hehe iya kak. Mana ponsel kakak"
"Ini. Sandinya 25594"
"Ini kak sudah"
"Oke makasih. Kamu hati-hati. Nanti kakak telpon"
"Iya kak"
Atha kembali kedalam mobil dan pergi meninggalkan kampus seila. Sony dari tadi hanya diam melihat bosnya bahagia.
"Cie cie. Cuit cuit yang udah nemu jodoh"
"Iya dong. Kamu buruan cari jodoh. Biar gak ngenes"
"Nantilah bos"
"Atau mau sama karina tuh. Kayaknya dia suka ma kamu son"
"Gak kuat biaya hidupnya bos. Apalagi emak gak suka modelan kayak dia bos"
"Haha kalau kamu memutuskan menikah harus siap buat biayain dong. Lagian kamu juga punya usaha showroom kan. Takut apalagi coba"
"Bukan takut bos tapi belum siap aja bos. Lagian nunggu adek saya lulus semua bos"
"Hmmm"
"Kita langsung pulang bos"
"Gak son kita ke mall cari semua keperluan lamaran"
"Bos sendirian. Gak minta bantuan kanjeng mami"
"Gak. Kamu kayak gak kenal mami saja. Bakalan nolak kalau saya tiba-tiba lamar anak gadis orang tanpa dia kenal dulu"
"Bos kan tinggal bilang kalau nona seoal yang bos lamar"
"Mau buat kejutan son"
"Terus bos sudah tau apa saja yang peelu dibeli"
"Tenang saja. Ada tadi saya udah menghubungi Shanum buat bantuin"
"Oke bos"
Mereka menuju mall terbesar. Disana Shanum sudah menunggu di depan mall. Tak lama atha tiba di mall. Mereka bertiga mencari barang-barang hantaran.
"Make up udah. Sandal, tas, sepatu udah. Perhiasan gimana ghay"
"Beres. Kurang apalagi"
"Perlengkapan sholat belum tha"
"Oya bener. Yuk cuss"
Mereka menuju toko yang menjual peralatan ibadah. Dan diseberang toko itu adalah toko underwear ternama. Shanum yang melihat itu langsung mengingatkan atha.
"Ghay ghay loe tau ukuran gunung kembar calon bini loe gak"
"Ngomong apaan sih loe sha. Ngawur aja"
"Bukan ngawur ghay. Loe harus bawa pakaian buat calon bini loe. Masa pakain luar loe beliin ********** kagak. Semriwing gandul-gandul ntar haha"
"Iya juga ya. Tapi gue gak tau ukurannya. Gimana dong"
Tiba-tiba shanum mengankat kedua telapak tangannya yang dibuat bulatan. Dan mengarahkan tangan itu kepada atha"
"Segini kekecilan gak"
"Hmm gak tau gue"
Shanum langsung melebarkan ukuran lingkaran tangannya. Dan kembali bertanya"
"Atau malah segini"
"Wow gede dong sha"
"Eh ogeb gue tanya ukuran bini loe. Malah traveling otaknya"
"Gue kan uda bilang gak tau sha. Gue ketemu dia baru beberapa kali. Dan dia kayak mommy jas pakaiannya. Masa gue langsung melotot kearah itunya. Ditampol yang ada"
"Ya uda siniin ponsel loe"
"Buat apa"
"Nelpon calon ipar. Sandinya berapa"
"Siniin. Ntar loe sabotase yang lainnya"
"Elah takut amat"
Atha langsung menghubungi seila. Menanyakan keperluan pribadinya.
"Assalamualaikum. Lagi sibuk gak"
"___"
"Hmm kakak mau tanya sesuatu tapi gak enak"
"___"
"Biar sahabat kakak aja yang nanyain ya. Sekalian kenalan lewat udara dulu"
"___"
Atha memberikan ponsel kepada shanum. Menanyakan kebutuhan pribadi seila. Sedangkan atha sedang membayar belanjaannya dan meminta untuk dihias layaknya hantaran.
"Ni ponsel loe. Gue uda dapat ukurannya. Yuk kesana"
"Loe ajalah yang beli sha. Gue malu"
"Cieleh sok malu. Padahal nanti lama-lama malu-maluin. Uda ayo. Loe yang pilih modelnya. Kan loe yang bakalan lihat"
"Ck sha. Zina mata kali"
"Zina mata kalau loe lihat isinya. Loe cuma lihat bungkusnya ghay. Asal otak loe gak ngayal aneh-aneh gak akan dosa"
"Loe ajalah. Gue terima beres"
"Ya uda gue pilih sesuai selera gue ya. Awas protes"
"Iya gue percaya ma loe. Gue sama sony tunggu disana. Ini kartu gue. Pin gue kirim ntar"
"Ya udah sana"
Atha dan sony duduk tak jauh dari toko pakaian dalam itu. Sambil menghubungi toko roti langganannya memesan beberapa jenis kue untuk besok.
"Bos ribet ya mau lamaran aja"
"Iya son saya juga baru tau. Seribet ini"
"Besok buat nikahan bakalan lebih ribet lagi kayak bos"
"Bismillah aja son"
Setelah setengah jam Shanum datang membawa kantong belanjaan dan juga box hantaran.
"Nih kartunya bos. Dan ini barangnya. Gue pilihin yang terbaru dan hot"
"Thanks. Terus paper bag itu"
"Upah hehe"
"Ealah loe pengen juga"
"Iya ada model terbaru tadi"
"Ya udah balik yuk. Uda semua kan"
"Uda kayaknya. Cek lagi aja nanti"
Dirasa sudah cukup mereka segera kembali kerumah. Shanum juga sudah dijemput sang suami didepan pintu masuk. Atha meminta shanum untuk mengundang para sahabatnya melalui grup. Atha takut lupa.
.
.
Seserahan mas atha gaesss...
Ini cincin nikahnya....
_______
Mas atha emang the best semua dipersiapkan sendiri
Jangan lupa jempolll
Happy reading