RashSya Story

RashSya Story
Mr. Jutek (Ghaisan Story)



"Assalamualaikum. Mah"


"Waalaikumsalam. Kamu baru pulang Arumi. Kenapa sampai malam begini nak"


"Ada lembur mah. Papa belum pulang mah"


"Belum nak. Sebaiknya kamu segera membersihkan diri nak. Kalau papa kamu tahu, kamu lembur lagi. Bisa ngamuk dia"


"Iya mama sayang. Makasih"


Mama Arumi tersenyum mendapat pelukan hangat sang putri. Arumi bergegas masuk kedalam kamarnya. Membersihkan diri dan beribadah. Sambil menunggu makan malam bersama kedua orangtuanya, Arumi memilih merebahkan badannya.


"Huh lelahnya hari ini. Dasar Mr Jutek. Ngasih kerjaan gak kira-kira. Efek kelamaan jomblo kali ya. Hehehe"


Tak terasa Arumi memejamkan matanya karena terlalu lelah. Memang hari ini Ghaisan seperti singa sedang kehilangan ekornya. Beberapa karyawan dari seluruh divisi mau tak mau harus lembur. Merevisi laporan yang menurut mereka sudah benar. Tapi tidak bagi Ghaisan.


tok tok tok


"Rumi. Sayang. Makan malam dulu yuk. Papa sudah nunggu"


tok tok tok


"Rumi. Arumi. Nak"


Mendengar suara lembut sang mama, Arumi pun mulai mengumpulkan nyawanya. Perlahan berjalan membuka pintu kamar.


"Ya mah"


"Kamu tidur nak"


"Hehehe. Gak sengaja mah"


"Ya sudah. Cuci muka dulu. Terus turun makan malam nak. Papa sudah menunggu"


"Oke mah"


Arumi kembali masuk kedalam kamarnya. Mencuci muka dan merapikan rambutnya. Arumi bergegas turun untuk makan malam bersama kedua orangtuanya.


"Malam mah. Pah"


"Malam nak"


"Wah makan enak nih"


"Emang biasanya gak enak apa masakan mama"


"Masakan mama selalu enak mah"


"Sudah ayo kita makan"


Mereka makan sambil sesekali berbincang. Dengan cara seperti ini kedekatan mereka semakin erat. Apalagi papa Arumi yang jarang sekali berada dirumah.


"Rumi. Sampai kapan kamu mau kerja di Mahendra. Kenapa gak bantu papa saja sih"


"Nanti pah. Rumi baru cari pengalaman. Kalau dikantor papa, Rumi gak bisa sebebas ini"


"Ya sudah. Tapi papa minta tiga bulan lagi kamu selesaikan semuanya Rumi. Papa butuh kamu diperusahaan"


"Siap Tuan Wijaya"


Arumi memberikan tanda hormat dengan tangan kepada sang papa. Arumi memang berasal dari keluarga berada. Bahkan hampir setara dengan keluarga Mahendra. Bahkan papa Arumi juga memiliki kerjasama bisnis dengan Ghaisan.


"Pah. Mungkin anak kita ini sedang memiliki misi penting lainnya"


"Misi apa sih mah. Mama suka ngarang deh"


"Misi meruntuhkan hati seorang tuan muda Mahendra. Hahaha"


"Ih. Amit-amit mah. Juteknya kayak singa bunting gitu. Bisa kejang-kejang Rumi kalau beneran sama dia"


"Hahahaha. Masa sih. Kalau menurut papa, Ghaisan itu pria yang dewasa, baik dan tanggung jawab"


"Itu kan papa yang gak setiap saat ketemu. Rumi kan hampir setiap hari dan setiap saat ketemu dia. Bahkan ya setiap pagi, Rumi selalu berdoa. Jangan sampai papasan atau ketemu si Mr Jutek. Karena bisa dipastikan hari iti Arumi akan sial"


"Hahaha. Arumi jangan suka gitu ah. Nanti beneran suka. Baru tau rasa kamu"


"Ih mama. Amit-amit"


Selesai makan malam, mereka berkumpul diruang tengah. Menonton acara televisi bersama sebelum tidur. Papa Arumi akan berada ditengah. Sang mama akan menempel pada dada sang suami disebelah kanan. Dan Arumi akan menempel disebelah kiri.


"Papa sudah kayak punya istri dua aja nih. Hahaha"


"Awas aja papa berani punya istri dua. Mama sunat"


"Nggaklah mah. Cukup mama seorang saja"


"Hoahm. Pah Rumi tidur duluan ya. Ngantuk"


"Iya sayang. Papa sama Mama juga mau tidur"


"Mimpi indah mah pah"


"Kamu juga sayang. Good night"


Arumi bergegas menuju kamarnya. Setelah mematikan lampu kamar, Arumi membaringkan tubuhnya dan tak lama iapun terlelap.


Disaat Arumi mengarungi mimpinya, Ghaisan sedang menjadi bahan olokan oleh sahabat sekaligus sepupunya dan juga keluarga lainnya karena status jomblo masih melekat pada dirinya. Malam ini Ghaisan menginap dikediaman Malik bersama kedua orangtuanya. Atuk Syakir sedang mengunjungi para cucunya dan cucu buyutnya.


"Tak berasa. Atuk semakin tua saja. Jasmine sekarang pun sudah menjadi seorang Oma"


"Iya ayah juga sudah memiliki cicit. Banyak lagi. Hahaha"


"Tak masalah. Semakin rame akan semakin semarak. Hanya saja rasanya masih ada yang kurang"


"Apa Atuk"


"Arash. Apa kamu tidak memiliki teman perempuan yang bisa dijodohkan untuk saudara kamu ini. Betah sekali jomblo. Hahaha"


"Atuk. Ichan bisa cari sendiri. Gak perlu dicarikan"


"Hei. Berapa usiamu sekarang"


"Belum juga tiga puluh tahun tuk"


"Tapi mendekati kan. Mau sampai kapan jomblo. Mumpung Atuk masih sehat. Atuk ingin melihat seperti apa wajah anak-anak kamu itu Ghaisan. Hahahaha"


"Jelaslah tampan Atuk"


"Heleh ngaku tampan tapi jomblo"


"Diem loe ars. Kompor aja"


"Mungkin masih belum move on dari sang mantan tuk. Hahaha"


"Haish. Macam tak ada wanita lain saja yang lebih baik"


"Enak aja gak move on. Ichan cuma belum nemu yang pas saja. Nanti kalau udah ketemu langsung Ichan nikahin. Gak pake pacaran"


"Benar ya. Tapi kali ini Atuk akan kasih kamu tenggat waktu. Deadline kamu mencari pasangan hanya enam bulan. Jika dalam waktu itu belum juga menemukan perempuan untuk kamu nikahi, maka Atuk yang akan mencarikan. Bagiamana apa kalian semua setuju"


"Setuju tuk"


Bahkan kedua orangtua Ghaisan pun ikut menyetujui. Ghaisan hanya bisa berdecak pelan. Mau tak mau dia harus mengikuti kemauan atuknya. Karena itu mutlak.


Malam kian larut. Kini hanya tinggal para papah muda dan sang jomblo yang masih terjaga. Beruntung esok weekend. Mereka tidak harus bekerja.


"Chan. Loe tau gak kabar mantan loe"


"Gak tau gue Ars. Gak mau tau juga sih"


"Hmmm. Loe masih belum mau maafin Malika"


"Gue sudah maafin ars. Dan gue gak ada dendam sama dia. Hanya saja gue memang gak mau mendengar tentang dia lagi"


"Namanya loe masih belum ikhlas maafin dia"


"Mungkin. Tapi gue beneran sudah gak mau berurusan dengan dia lagi"


"Malika ada di Jakarta Chan. Kemarin gue sama Icha gak sengaja ketemu dia saat ke mall"


Ghaisan yang tadinya memainkan gelas didepannya, mendadak terdiam mendengar perkataan Arash.


"Dia sempat nyamperin gue sama Icha. Dan dia sempat nanyain tentang loe"


"Chan. Saran gue. Jangan terjebak masalalu. Jika memang loe mau melepaskan dia. Lepaskan dengan hati yang ikhlas. Sudahi semuanya Chan. Sembuhkan hatimu. Agar mudah menerima hati yang baru"


Arsya dan Arash sangat paham seperti apa luka hati Ghaisan. Malika yang membuat hatinya terbuka, dan Malika pula yang meremukan hati Ghaisan. Bukan karena Malika yang selalu mengingat Arash. Namun ada suatu rahasia yang masih Ichan rahasiakan tentang kandasnya hubungan mereka dulu. Sesuatu yang membuat Ghaisan sangat marah.


"Temui Malika. Hanya kalian berdua yang tau cara menyembuhkan luka itu Chan"


"Hmmm"


______


**Gaessss...untuk cerita Ghaisan mungkin akan mengandung bawang... jadi jangan ngamuk ya kalau nanti baca gak sesuai kalian mau.


Jangan lupa jempolnya


Happy reading**