RashSya Story

RashSya Story
RashSya~ Pertengkaran Aneh



Hari ini Icha dan teman-temannya akan berangkat menjalani kuliah kerja nyata dari kampusnya menuju Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat. Icha berangkat bersama sembilan belas orang lainnya dari satu fakultas yang sama. Mereka berangkat menggunakan bus yang disediakan oleh kampus.


Arash awalnya menginginkan Icha berangkat diantar olehnya. Namun prosedur dari kampus akan ada upacara pelepasan membuat Arash tak bisa berkutik dan menuruti keinginan Icha naik bis bersama yang lainnya.


Jangan duduk disamping pria. Jangan keseringan ngobrol sama pria. Jangan menerima bantuan dari pria. Dan masih banyak lagi larangan Arash. Karena Arash baru tahu jika dalam satu team Annisa lebih dominan pria daripada wanitanya. Saking posesifnya Arash bahkan mengambil cuti dua minggu hanya karena ingin melihat kegiatan annisa selama disana.


Jay dan Arsya kesal karena ulah Arash. Namun setiap mereka protes Jasmine dan Melany langsung mematahkan omongan mereka. Like father like son. Jay pun mengalah harus kembali ke kantor dan Arsya harus ektra sibuk karena Arash sedang ada proyek bersama perusahaan milik Papa Bagas.


"Bang jangan lupa balik bawain oleh-oleh awas kalau gak. Gak akan mau lagi gue gantiin loe bang"


"Iya nanti kalau ingat"


"Ya harus diingatkan bang"


"Hmm. Jangan lupa Chila diajak meeting. Tapi jangan sampai dia tau kalau yang jadi klie si ikan buntal"


"Huh berasa kayak mak comblang tapi mode detektif"


"Mau gimana lagi ikan buntal uda cinta sama Chila tapi Chila kan taunya wujud Bagas masih sama kayak dulu. Padahal kalau dia lihat Bagas yang sekarang bisa klepek-klepek"


"Pasangan aneh"


"Loe aja aneh Ars. Bucin"


"Eh dianya gak nyadar bucin juga. Sama anehnya"


Jasmine yang melihat perdebatan si kembar hanya geleng-geleng saja. Sedangkan Jay tetap asyik dengan kopinya.


"Udahlah dasarnya bapaknya juga aneh"


Jay yang merasa dirinya disebut-sebut langsung tak terima.


"Siapa bang yang aneh"


"Bapaknya Arsya"


"Bapaknya arsya bapak loe juga kali bang"


"Ya kali gue lupa gak lah. Emang bapak kita aneh"


"Heh kalian sadar gak sih yang dighibahin dibelakang kalian"


"Sadar. Kan kalau gibahin orang harus dibelakangnya. Gak salah kita kan"


"Heh bocah gendeng, seenak jidat kalian ngatain bapak sendiri"


"Huh ngatain anaknya gendeng kayak bapaknya gak gendeng aja. Anak itu Nurin bapaknya ya kalau anaknya gendeng otomatis bapaknya gendeng"


"Ya Allah apa dosa hamba punya anak kayak kalian"


"Bukan salah ibu mengandung tapi salah ayah menaruh burung"


Arka yang mendengar perdebatan tiga manusia absurd langsung ngakak. Dan ikuti menimpali. Namun dia kena batunya juga.


"Haha.. bener itu makanya burung kandangin gak usah dilepasin"


"Kalau di kandangin terus mana ada si kembar sama Chila. Dan Papa pasti gak punya anak setampan Jay"


"Dasar songong"


"Ingat buah jatuh tidak jauh dari pohonnya"


"Kalau kena batu pastilah meloncat jauh opa jatuhnya"


"Makanya jatuh jangan pas ada batunya"


"Dasar kepala batu dikasih tau ngeyel"


"Anak semprul"


Arsya dan Arash beranjak sambil mengumpat kepada opa dan Daddy-nya.


"Sama-sama semprul gak ada yang ngakuin"


Tak mau kalah Jay dan Arka pun membalas kedua cucunya dengan teriakan khas mereka.


"Dasar kampret"


Melany dan Jasmine mendengar kedua orang yang mereka cintai mengumpat cucu dan putranya hanya bisa tertawa. Kelakuan mereka memang tidak berubah selalu saling mengumpat.


Arash keruang kerjanya sambil membaca buku dia menghubungi sang kekasih. Namun tak kunjung diangkat membuatnya kesal. Bahkan pesan yang dikirimnya sedari pagi belum mendapat balasan dari Icha.


"Ngajak war ni bocah. Dari pagi dihubungi gak ada jawaban. Awas aja ya sayang berani cuekin Abang"


Annisa memang sedang sibuk dengan acara pembekalan kampus dan menyiapkan barang-barang yang harus dibawanya. Bahkan dia belum sempat makan dari pagi. Arash langsung menghubungi pengawal yang diminta menjaga Annisa.


"Selamat siang tuan muda"


"Siang Pak Santo, apa Annisa sedang ke kampus"


"Sedari pagi saya mengawasi tempat tinggal nona, belum terlihat keluar rumah tuan muda"


"Oh ya sudah, mungkin dia masih tidur"


"Apa perlu saya bertanya kepada ibu pemilik rumah tuan muda"


"Tidak usah. Cukup bapak awasi saja"


"Baik tuan muda"


Arash menutup panggilannya dan kembali menghubungi Annisa. Namun masih tetap sama saja belum ada jawaban dari Annisa.


"Kamu kemana sih sayang. Sampai dihubungi aja susah banget"


Arash meletakkan gawainya dan fokus mengerjakan pekerjaan yang dibawa kerumah. Walaupun pikirannya masih bercabang, Arash mencoba tidak berfikiran negatif.


Bukan hanya sekali dua kali mereka bertengkar karena masalah komunikasi. Bahkan pernah mereka berantem lewat telpon dan posisi Arash sedang bersama sahabatnya. Dan Icha sedang mengerjakan tugas bersama teman-temannya. Menurut teman-teman icha, cara mereka bertengkar sangat romantis. Bahkan sahabat Arash selalu bertaruh saat mereka bertengkar. Karena menurut mereka Arash dan Icha pasangan paling aneh saat bertengkar.


Pagi hari Arash sudah bersiap menuju kantor karena memang dia akan berangkat ke Lombok Sabtu nanti. Sedangkan Icha berangkat Jumat malam melalui jalur darat.


"Bang kenapa cemberut"


"Gapapa mom. Capek aja"


"Dad, Arash mau minta tolong"


"Paan"


"Temani meeting, Daffa masih di Semarang"


"Emang meeting sendiri gak berani"


"Bukan gak berani, cuma males sama klien cacing pita"


"Oh kalau kata Icha tipe kuntilanak kesiangan bang"


"Iya"


"Oke deh nanti Daddy temani"


Arash beranjak menuju mobilnya. Ponselnya bergetar. Arash mengambilnya. Dan tertera nama Annisa membalas pesannya. Setelah dua puluh empat jam baru ada kabar. Arash mengacuhkan pesan itu karena kesal.


Hari Icha lebih santai karena semua sudah siap dia hanya tinggal ke kampus untuk pembekalan. Icha tau jika Arash ngambek. Dia berusaha kembali menghubungi Arash walaupun masih dicueki.


"Oh bales ya ceritanya. Baiklah kita lihat siapa yang betah marahnya"


Jika sedang marahan tidak ada dalam kamus mereka berdua saling merayu. Tapi saling membalas sampai bosan. Arash membalas pesan Icha dengan foto sedang meeting dengan klien seorang perempuan. Icha tak mau kalah. Kebetulan memang teman satu kelasnya sedang bertamu ke kosnya untuk menyerahkan beberapa bahan makalah yang harus mereka bahas. Icha berfoto bersama Akbar. Bahkan pak Santo juga mengirim foto yang sama.


"Oh berani ya sekarang bocah nakal"


Jay yang melihat putranya bergumam sendiri sambil menatap ponsel dengan senyuman mematikan bisa dipastikan dia sedang mengumpati seseorang. Arash mengirim pesan singkat kepada Icha.


"Ngajak war. Ayo"


"Siapa takut. Maju sini"


Beruntung meeting sudah selesai. Sebenarnya klien Arash mengajak mereka makan siang, namun Jay dan Arash kompak menolak apalagi dia mendapat tantangan dari tunangan nakalnya. Arash masuk ruangan dan langsung menghubungi Icha. Tak lama sambungan telpon diangkat oleh Icha.


"Assalamu'alaikum. Maksud kamu apa sayang berani selfi sama pria lain. Nantangin gitu"


"Waalaikumsalam. Eh muka tembok, gak sadar dianya sendiri selfi sama cewek kuntilanak. Ayo sini bang Icha ladenin"


"Kamu itu sadar gak sih uda nyuekin Abang dari kemarin. Dengan santainya gak ada minta maaf malah ngirim foto lagi sama cowok lain"


"Lah kan icha juga uda ngomong masih sibuk buat persiapan KKN Abang sayang. Ya maaf toh Icha juga pagi tadi ngasih kabar. Eh malah dicueki. Dengan pede pamer lagi jalan sama kuntilanak. Tebar pesona. Merasa paling ganteng"


"Lah emang Abang ganteng. Bocah nakal sudah lupa punya tunangan hah, setelah dua puluh empat jam baru balas pesan itupun hanya dengan tiga kata. Maaf kemarin sibuk"


"Memang sibuk kemarin itu Abang. Icha mah jujur orangnya"


"Dari puluhan pesan dan panggilan Abang yang kamu cuekin hanya dapat balasan tiga kata. Kecewa Abang"


"Terus maunya Icha balasin satu persatu pesan Abang yang banyak banget itu. Lagian isi pesannya kan sama bang. Kamu kemana sih sayang. Ya udah jawabannya Icha repel aja"


"Kamu menyebalkan sayang sumpah pengen Abang jitak kamu"


"Emang Abang gak nyebelin. Abang lebih nyebelin. Pengen Icha seketika tuh muka biar sekalian datar dan halus"


"Males Abang ngomong sama kamu"


"Icha juga males ngomong sama Abang. Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


Arash melempar ponselnya ke sofa dan berkacak pinggang. Dia benar-benar kesal. Sambil mondar-mandir didalam ruangannya dia mengumpat.


"Apa susahnya minta maaf. Terus bujukin biar gak marah. Ini mana ada bujuknya malah pamer lagi sama cowok. Sumpah nyebelin banget sih kamu Cha. Ngeselin"


Tak jauh beda dengan Arash, Icha juga mengumpati arash didalam kamar. Icha sambil menatap foto kekasihnya yang ia remat sesuka hati.


"Dasar kanebo kering. Dia yang pamer duluan sama kuntilanak kok gue yang disalahin. Uda tau baru sibuk, pesan dijawab repel salah gak dijawab salah mau kamu apa sih. Sukanya tebar pesona, giliran dibalas marah. Pengen gue jambak rambut kamu biar botak gak ada yang suka. Manusia es ngeselin"


Icha yang kelelahan karena kesal pada Arash langsung tertidur pulas. Sedangkan Arash sedang bersama Mirza dan Ghaydan dikafe milik Malika.


"Muka ditekuk aja bro. Kesel sama siapa"


"Paling lagi ribut sama nyonya lagi"


"Haha uda berapa jam marahannya Rash"


"Sialan kalian"


"Haha palingan setengah jam lagi baikan"


"Huum. Kalian lucu tau gak. Setiap marahan gak nyampe sehari baikan. Kalau uda debat gak ada yang ngalah"


Arash hanya diam sambil mengaduk minumannya. Mendengar ocehan kedua sahabatnya itu.


"Lihat aja Tha palingan bentar lagi baikan"


"Heem. Kalau pasangan lain marahan saling membujuk biar gak lama marahnya. Ngasih hadiah apa kek. Lah kalian saling ngumpat. Hahaha"


"Justru yang beda itu kelihatan romantis Zha. Kalau saling membujuk mah uda biasa"


"Emang pasangan ekstrim mereka ini. Hahaha"


Arash tak bersuara sama sekali. Dia hanya mendengar ocehan sahabatnya itu. Tak terasa sudah tiga jam mereka saling diam. Arash kini berada dikamarnya menonton acara televisi namun ponsel masih tetap disampingnya.


"Masih belum mau minta maaf. Oke kita lihat siapa yang kalah"


Belum ada lima menit Arash berucap. Dia sendiri yang mengingkari. Arash langsung menghubungi Annisa. Tanpa menunggu lama Annisa langsung mengangkat panggilan dari Arash. Dan mereka sama-sama mengucapkan apa yang mereka rasakan saat ini.


"Kangennnn"


Hanya satu kata itu yang membuat mereka kembali berbaikan seperti semula. Bahkan tak mengungkit apa yang sudah lewat.


______


Tidak semua masalah terselesaikan dengan saling merayu dan membujuk jika pada akhirnya saling mengungkit apa yang telah lalu. Tenangkan hati dan pikiran ingat apa yang telah terlewati dengan indah dan susah, karena kuncinya berada dihati kita. Jaga lisan dalam kondisi emosi. Menjauh sementara lebih baik daripada menyesal kemudian.


jangan lupa jempolnya kakak


Happy Reading