
Icha sudah libur semester. Sebenarnya dia masih belum ingin pulang karena ada kegiatan. Namun Arash menjemputnya kejogja. Icha harus segera membuat pasport dan visa. Sebelum berangkat ke Jerman, Arash akan menjemput Arsyila ke Malaysia beserta keluarganya.
"Abang gak harus jemput Icha kok"
"Abang gak yakin kamu mau pulang sayang. Kamu sudah terlalu betah disini. Abang gak suka itu"
"Hahaha. Emang urgent banget apa bang"
"Kamu belum bikin visa sama paspor sayang. Terus mommy ngajakin bikin seragam keluarga buat wisuda Arsyila"
"Huh seribet itu ya bang"
"Itulah keluarga Abang. Jadi kamu sudah harus bisa menerima keribetan mommy belum Oma loh ya. Hahaha"
Mereka sedang perjalanan menuju bandara. Arash tiba di bandara semalam dan pagi ini mereka langsung kembali ke Jakarta. Malam nanti Arash akan mengajak Annisa ke acara reuni SMA.
Berbeda dengan pasangan yang sedang menikmati perjalanannya, Ibunda Annisa sedang bingung menjelaskan kepada seseorang yang sudah lama koma dan kini terbangun. Dia ingin bertemu Annisa.
"Alif bagaimana ini nak. Dia ngotot ingin bertemu Annisa dan masih berharap Annisa mau menjadi calon istrinya"
"Hm. Sebaiknya Alif bertemu keluarga Arash dahulu Bu. Alif akan menceritakan semuanya. Dan setelah itu mencoba meminta Icha untuk menemui dia agar menejelaskan kondisi sebenarnya saat ini"
"Itu jalan terbaik nak. Segeralah bertemu orangtua Arash. Ibu akan menjaganya disini"
"Baik Bu. Alif pamit sekarang"
"Ya nak hati-hati"
Alif meninggalkan ibunya langsung menuju kediaman Malik. Jarak dari rumah sakit menuju rumah keluarga Malik lumayan jauh ditambah jalan lumayan macet. Tiba didepan rumah keluarga Malik, Alif turun dari motor lalu meminta ijin kepada penjaga. Penjaga sudah mengenal Alif langsung membuka pintu pagar dan mengantarnya masuk.
"Assalamualaikum Tante"
"Waalaikumsalam oh Alif masuk nak. Panggil mommy saja jangan Tante, kamu juga anak mommy"
"Hehe iya mom"
"Ada apa ini tumben main kerumah"
"Sebenarnya Alif mau bicara hal penting mom. Apa Daddy dan yang lain ada dirumah mom"
"Daddy sebentar lagi pulang, tadi hanya mengecek kantor Arash sebentar. Opa sedang main sepeda bersama Oma. Bentar lagi juga pulang kok"
"Ya sudah Alif tunggu saja mom"
"Iya gapapa. Kamu santai saja, anggap rumah sendiri. Mommy ke dapur dulu masih masak"
"Alif bantuin aja mom"
"Emang bisa"
"Bisa dikit-dikit mom"
"Ayolah"
Sampai di dapur, Alif sudah melihat beberapa masakan yang sudah siap. Dan beberapa makanan itu adalah kesukaan Annisa.
"Mommy banyak sekali masaknya"
"Nantikan Icha pulang, jadi mommy masak kesukaan Annisa"
Alif tersenyum dia begitu bahagia melihat calon mertua adiknya begitu menyayanginya. Dia sangat bersyukur karena sang adik bertemu orang yang tepat. Alif membantu Jasmine memasak dan juga membereskan dapur. Membuat Eneng markoneng meleleh.
"Aduh uda ganteng, printer masak, perawat lagi. Mau dong hati Eneng dirawat akang kasep"
"Hush kamu Neng, ingat anak sama suami. Ada yang bening meleng langsung"
"Duh nona mah gitu. Sekali-kali cuci mata non. Masa tiap hari cuma lihat yang butek-butek gitu"
"Dasarnya kamu gatel Neng"
Alif hanya senyum-senyum saja dia sudah biasa digoda pembantu Arash itu. Eneng terus menggodanya sambil bersih- bersih. Tak lama Arka dan Melany pulang.
"Loh ada tamu to. Uda dari tadi Alif"
"Belum Opa"
"Yasudah saya bersih dulu"
"Ya Opa"
Alif berjalan ke taman belakang dan duduk di gazebo sambil memberi makan ikan. Alif sangat suka suasana taman rumah keluarga Arash. Karena begitu sejuk dan menenangkan. Ditambah sifat keluarga ini yang begitu low profil tidak membedakan antar manusia. Baik status ataupun kedudukan.
"Bang Alif. Uda lama"
"Woy pengantin baru. Gue kira honeymoon"
"Belum jadi bang. Nanti nunggu habis nikahan Juna. Abang ikut ke Jerman kan"
"Waduh Abang malah gak tau Ars"
"Paling bang Arash lupa ngasih tau. Oya ada apa ini tumben nyempetin datang kesini"
"Ada sedikit masalah Ars dan keluarga loe harus tau sebelum ada berita tak baik tentang kami nantinya"
"Apa itu bang. Sepertinya sedikit berat ya"
"Ya lumayan Ars"
"Ya udah nunggu Daddy bentaran. Tadi masih meeting"
"Iya gapapa lagian Abang libur hari ini"
Arsya dan Alif mengobrol berbagai macam hal. Arsya sangat kagum dengan wawasan luas. Jay akhirnya pulang. Mereka makan siang. Arash mengabari jika sudah sampai Jakarta namun masih terjebak macet.
"Alif ada apa. Mommy bilang ada hal penting yang ingin kamu sampaikan nak"
"Iya Dad. Ini menyangkut Annisa dan juga meninggalnya ayah kami"
"Ceritakan nak"
Alif menceritakan secara detail. Semua keluarga Malik kaget dan masih mencerna setiap perkataan alif.
"Alif sengaja langsung kesini sebelum Icha sampai. Karena Alif belum tau bagaimana caranya mengajak Icha menemui orang itu dan menyelesaikan semuanya"
"Hmm menurut Daddy lebih baik Arash yang membujuk. Alif dimana keluarga anak itu saat ini"
"Kami sendiri tidak tau dad. Mereka menghilang setelah kejadian itu. Kami hanya bisa pasrah"
"Jay cari tau keluarga itu sekarang juga. Kita selesaikan sampai tuntas"
"Siapa nama orangtua anak itu alif"
"Leonardo Joseph Daddy"
"Pekerjaan terakhir dan nama istrinya"
"Setau Alif dia dimutasi dari kantor yang sama dengan ayah PT Karya Manunggal. Nama istrinya Chrity Munandar"
"Tunggu sebentar, Daddy akan menghubungi seseorang"
Jay berjalan masuk kedalam ruang kerjanya mengambil ponselnya. Sambil berjalan mendekat keruang keluarga Jay sambil berbicara.
"Hmm. Kamu urus orang itu. Dan jika sudah bertemu, bawa mereka langsung ke Jakarta"
Jay menutup panggilannya. Dan menjelaskan kepada Alif dan keluarga lainnya.
"Daddy sudah meminta orang mencarinya. Sekarang sebaiknya kita siapkan diri untuk berbicara kepada Annisa"
Mereka mengangguk setuju. Alif berpamitan kembali kerumah sakit karena ibunya pasti belum makan. Dan dia tidak ingin bertemu Annisa dirumah keluarga Malik. Jasmine membawakan bekal makan siang untuk Ibunda Annisa. Dan mereka berjanji akan menyusul ke rumah sakit setelah memberitahu Arash.
Lima belas menit setelah Alif meninggalkan rumah Arash. Arash dan Annisa tiba dikediaman Malik. Semua menyambut Annisa dan Arash dengan ceria. Arash dan Annisa langsung makan siang karena sudah melaksanakan sholat dijalan. Usai makan siang Jay langsung meminta Arash menemuinya diruang kerja. Jay menceritakan semua yang diceritakan Alif. Arash kaget dan tak menyangka masalah cukup rumit.
"Arash akan mencoba berbicara kepada Annisa dad. Kapan Daddy akan ke rumah sakit"
"Sekarang juga bang. Anak buah Daddy juga sudah menemukan kedua orangtua anak itu"
"Yasudah nanti Arash menyusul membawa annisa dad"
Jay dan Arash keluar dari ruang kerja. Jay bersiap bersama Jasmine dan kedua orangtuanya untuk pergi kerumah sakit. Sedangkan Annisa sedang beristirahat dikamar tamu bawah. Arash naik ke lantai atas dan membereskan barang-barang yang dibawanya tadi. Setelah selesai dan sudah berganti pakaian, Arash menemui Annisa.
"Sayang kamu tidur gak"
Annisa langsung membuka pintu kamarnya. Dengan senyum menemui Arash.
"Gak bang. Ada apa"
"Jalan yuk. Abang ajak kamu ketempat yang bagus"
"Emang Abang gak lelah"
"Gaklah kalau jalan sama kamu sayang"
Arash mengajak Annisa keluar rumah dan membawanya menuju sebuah danau tempat favoritnya. Kini danau itu semakin indah. Arash menggandeng tangan Annisa dan mereka duduk di kursi dekat danau. Disana sudah ramai dengan penjual makanan.
"Indah sekali bang"
"Ini tempat favorit kami jika sedang suntuk"
"Kami"
"Abang, Arsya dan Ghaydan. Jika terlalu banyak tekanan kami akan berdiam disini sambil melihat ikan-ikan yang berenang. Bahkan setiap pagi disini banyak kupu-kupu berterbangan"
"Wow jadi penasaran"
"Nanti kapan-kapan Abang ajak kamu melihat kupu-kupu itu sayang"
Mereka duduk sambil melihat orang bermain layang-layang dan ikan-ikan berenang dalam kolam yang sangat jernih. Arash mencoba menceritakan masa lalunya.
"Ditempat ini juga Abang pernah merasakan sakit yang begitu dalam oleh seseorang"
Annisa menatap Arash penasaran. Arash hanya menatap lurus dengan wajah serius. Tanpa menunggu Icha bertanya. Arash melanjutkan perkataanya.
"Abang pernah memiliki kekasih saat SMA. Sebenarnya kami baik-baik saja. Walaupun awalnya Mommy sering mengingatkan untuk berfikir ulang. Namun abang tetap mencoba menjalin hubungan. Abang tidak pernah menampakkan jati diri Abang karena ingin mengetahui seperti apa respon keluarganya. Dan keluarganya tidak menyukaiku Abang karena menganggap Abang orang miskin. Dia berulang kali meminta Abang membuka jati diri Abang, tapi Abang menolak. Entah mengapa Abang sendiri merasa enggan mereka tau dengan mudah siapa Abang. Kami akhirnya berpisah karena kedua orangtuanya telah menjodohkan dengan seseorang. Awalnya Abang kecewa. Namun Abang mencoba berfikir logis. Dia mungkin bukan jodoh Abang. Abang bukan tidak mau memperjuangkan dia. Tapi setelah abang tau niat keluarganya membuat tekad Abang untuk menjauh semakin kuat. Dia langsung membenci abang karena merasa Abang tak pernah mencintai dia. Abang hanya diam. Dan Abang terkejut saat tau siapa pria yang dijodohkan dengannya. Ghaisan sepupu Abang sendiri. Awalnya Ghaisan menerima perjodohan itu hanya agar kami bisa bersatu kembali. Tapi Abang menolak, Abang meminta Ghaisan menjaga dia dengan baik. Abang ikhlas jika dia bersama Ichan. Abang pun terus berusaha untuk move on dan itu butuh waktu cukup lama. Dan sampai Abang bertemu kamu. Mengobati dan menggantikan posisinya dihati Abang"
Annisa hanya diam mendengarkan. Setalah Arash tak lagi bersuara, Icha langsung mengutarakan apa yang dipikirkan sedari tadi.
"Malika kah"
"Iya Malika"
"Sebenarnya sejak awal Icha sudah curiga jika Kak Malika dan Abang pernah ada hubungan. Karena setiap kali kita sedang bercanda dan disana ada Kak Malika tatapannya seperti tak senang dengan icha. Terakhir saat acara pernikahan bang Arsya, Kak Malika mendekati Icha dan berbisik saat kita akan pergi dari gedung itu. Dia bilang, kamu beruntung mendapatkan kasih sayang yang sebenarnya dari Arash. Jaga dia sayangi dia"
Arash mengerutkan dahinya. Karena Icha baru bercerita hal itu sekarang. Bukan langsung setelah Malika berbisik.
"Apa dia melukai kamu sayang"
"Tidak bang. Hanya saja saat itu Icha lupa untuk menceritakan kepada Abang dan bertanya ada apa dengan kalian dulu"
"Sekarang abang sudah menceritakan semua masalalu Abang. Dan apa kamu bersedia menceritakan masalalu kamu sayang"
Annisa menerawang jauh ke depan. Bahkan tatapannya kosong. Raut wajah Icha berubah menjadi sendu. Arash mencoba menggenggam tangan Icha agar tenang.
"Belum siap. Hmm"
"Siap atau tidak Icha akan tetap mengatakannya"
Arash masih diam menatap lekat kearah Icha yang menunduk. Bahkan ada tetes airmata jatuh tepat mengenai telapak tangan Arash.
"Alexander Leon. Kami berteman semenjak dia pindah ke kota ini bersama kedua orangtuanya. Icha dan Adam merasa iba karena tak ada satu anakpun mendekati dia. Awalnya kami berteman baik seperti biasa. Kami sekolah bersama bermain bersama. Ayahnya merantau mencari pekerjaan disini dari kampung. Ayah membantu memasukkan ayah Alex ke perusahaan yang sama dengan ayah. Semua berjalan baik-baik saja. Kedua orangtua kami juga begitu. Namun semua berubah saat Alex mengatakan didepan ayah ingin melamar Icha. Ayah langsung menolak karena perbedaan agama. Alex terus mencari cara agar ayah merestuinya melamar Icha. Saking kesalnya, Ayah berbohong jika Icha sudah dijodohkan. Alex kecewa. Dia menghilang cukup lama. Keluarganya marah dan menyalahkan kami. Kami hanya bisa diam. Hampir dua bulan Alex menghilang. Namun setiap hari ayah mendapat surat ancaman jika tidak merestui Alex melamar Icha. Icha kira hanya Alex yang selalu meneror Icha. Tapi ternyata ayah Alex sangat iri dengan ayah. Ayah Alex menjebak ayah seolah ayah korupsi. Banyak karyawan bahkan atasan ayah tak percaya akan hal itu. Mereka menyelidiki lebih dalam masalah itu. Ayah diliburkan dahulu sampai menemukan bukti kuat. Selama ayah libur, Alex terus berusaha mencari cara mendekati ayah, tapi ayah tidak goyah. Dan sore itu ayah mendapat kabar jika ayah tidak bersalah hanya difitnah. Ayah pergi ke kantor dengan mobil. Saat akan masuk mobil ayah sempat melihat Alex berlari menjauhi mobil Ayah. Ayah tidak curiga dan langsung pergi mengendari mobil. Hingga tengah malam tidak ada kabar dari ayah. Ibu meminta Aa mencari ayah. Belum sempat Aa pergi, polisi datang kerumah memberi kabar jika ayah kecelakaan dan saat itu sudah berada dirumah sakit. Kami semua pergi kesana. Betapa terkejutnya kami melihat ayah penuh luka. Kami hanya bisa berdoa ayah selamat dengan luka yang cukup parah. Sayangnya Allah lebih menyayangi ayah. Tepat adzan subuh ayah berpulang. Dan seminggu setelahnya kami mendapat kabar jika kecelakaan ayah disengaja. Dan pada saat ditempat kejadian ada seorang pemuda menggunakan sepeda motor sengaja menyalip ayah dengan kecepatan tinggi. Ayah yang kaget reflek banting setir ke kiri namun naas mobil menabrak truk yang dengan kencang dan pemuda itu juga tertabrak mobil dari arah berlawanan. Kami yang penasaran siapa orang itu langsung menuju rumah sakit. Karena pemuda itu juga koma. Saat tiba dirumah sakit kami terkejut melihat Alex terbaring disana. Icha syok tak tau harus berbuat apa. Ternyata ancaman Alex benar-benar terjadi. Dia mengatakan akan membunuh ayah jika tak kunjung direstui. Kedua orangtua Alex tak terima dengan kondisi anaknya dan berniat melaporkan kami pada polisi. Sebelum mereka melapor, polisi lebih dulu menangkap ayah Alex karena kasus korupsi. Sedangkan mamanya meninggalkan keduanya dan kembali ke kampung. Karena ibu kasian, ibu merawat alex hingga saat ini"
Arash masih menatap lekat Annisa yang menahan sesak karena mengenang kisah lamanya. Arash langsung mengutarakan permintaan Alif.
"Sayang apa kamu masih dendam dengan Alex"
"Sakit itu masih ada jika aku melihatnya. Sudah kucoba mengikhlaskan namun entah mengapa begitu sulit"
"Berusaha sayang. Dan apa kamu bersedia menemui Alex saat ini"
"Untuk apa bang"
"Abang ingin tahu saja seperti apa Alex itu"
"Sebenarnya icha tak pernah ingin menemuinya kembali bang"
"Temui dan selesaikan semuanya sayang agar tak ada lagi yang mengganjal di hati. Dengan begitu kamu akan lebih mudah memaafkan"
Annisa masih diam berfikir. Dia pun juga tak mau terlalu lama memendam masalah ini. Dia ingin lepas dari beban ini. Perlahan icha mengangguk menyetujui permintaan Arash.
Arash membawa Annisa ke rumah sakit. Disana keluarga Arash dan Annisa sudah menunggu kedatangan keduanya. Annisa melihat kearah Arash karena bingung mereka berada disana semuanya. Arash mengangguk pertanda mereka sudah tau.
Annisa mendekat kearah ibunya dan kakaknya lalu memeluk mereka karena sudah lama mereka berpisah.
"Apa kabar sayang"
"Baik ibu. Ibu sehat kan"
"Alhamdulillah seperti kamu lihat"
"Alhamdulillah"
"Icha dengarkan ibu tolong tenang dan jangan menyela. Alex sudah sadar dua ingin menemui kamu nak"
"Apa. Kenapa bisa dia bangun. Kenapa bukan ayah yang bangun. Kenapa dia tidak mati saja"
Icha lepas kontrol dan berteriak histeris. Bahkan icha hampir kabur. Beruntung Arash menangkapnya dan berusaha menenangkannya. Jasmine memeluk Annisa dan membantu menenangkan.
"Takdir yang Allah berikan kepada Icha itu sangat indah sayang. Jadi mommy harap kamu bisa menerima takdir itu dengan baik. Mommy tau Icha anak baik. Icha bukan pendendam. Temui dia sayang dan selesaikan urusan diantara kalian. Dan ikhlaskan kepergian ayah kamu nak. Disini sudah ada Daddy yang sudah menjadi ayah kamu juga sayang. Kami juga menyayangi Annisa"
Annisa menangis begitu pilu. Arash berusaha agar Annisa bisa menyelesaikan beban perasaannya itu agar dia tenang.
"Sayang coba kamu temui dulu, Abang akan bersama kamu sayang. Ikhlaskan semaunya sayang"
Icha dituntun Arash masuk kedalam ruang rawat Alex. Alex yang melihat kedatangan Icha, langsung tersenyum sumringah. Jika tubuhnya tidak lemas bisa dipastikan Alex akan berlari memeluknya.
"Icha aku merindukan kamu baby. Kenapa kamu tidak menemaniku saat pertama kali mata ku terbuka baby"
Annisa masih saja diam dan tak ada niat mendekat kearah Alex. Alex menatap tak suka kepada Arash yang menggenggam tangan Annisa.
"Baby ke marilah. Apa kamu tidak merindukan aku"
Arash masih melindungi Annisa. Dan berbisik kepada Annisa agar bersuara memperjelas semua keadaan. Annisa mencengkram erat tangan Arash meminta kekuatan.
"Alex stop panggil gue baby. Gue bukan kekasih loe. Dan asal loe tau gue masih sangat beci sama loe. Bahkan mungkin seumur hidup gue gak akan maafin loe Lex. Loe uda sengaja bikin ayah meninggal Lex. Ingat itu Lex. Dan satu lagi. Disamping gue adalah tunangan gue dia lebih baik daripada kamu"
"Tunangan untuk saat ini. Tunggu aku bisa bangun akan kuhabisi pria itu. Kamu hanya akan menjadi milikku baby. Dia akan mati seperti ayah Fitra yang tak mau merestui kita"
"Dasar gila. Hentikan obsesimu itu alex. Stop akhiri permainan gilamu itu lex. Jika loe sayang sama gue, harusnya loe biarin gue bahagia"
"Kamu hanya bisa bahagia sama aku baby bukan dengan dia. Kamu tetap milikku bukan milik dia"
"Abang sebaiknya kita keluar Icha gak mau berurusan lagi dengan pria gila ini"
"Sayang keluarlah dulu. Abang akan berbicara dengan dia"
"Tapi dia seperti psikopat bang"
"Jangan khawatir Abang bisa jaga diri"
Annisa beranjak pergi. Arash mendekat keranjang Alex. Perlahan Arash duduk di kursi samping ranjang, walaupun tak begitu dekat.
"Mau apa loe. Kalau loe mau minta gue jauhin annisa itu tidak akan pernah terjadi"
"Ancaman loe ke gue itu gak ada artinya. Loe pikir hanya loe yang bisa berubah jadi psikopat. Gue bahkan lebih dari itu"
"Apa maksud loe. Loe gak akan pernah bisa mengalahkan seorang Alexander Leon"
"Seorang anak koruptor yang tak tau balas budi. Seorang anak dari wanita perayu lelaki lain demi harta. Rela meninggalkan anaknya yang koma dan suaminya yang dipenjara demi uang. Apa kamu kira yang merawat kamu selama ini suster atau ibu kamu itu. Bukan tapi ibu Annisa dan Alif. Bahkan Alif rela memotong gajinya tiap bulan demi biaya perawatan loe. Dan sekarang dengan bangga loe ngomong sebagai pembunuh orang yang merawat loe selama ini. Apa selam koma urat malu loe tertinggal dialam bawah sadar sampai berani mengancam Annisa kembali. Coba loe pikir jika tidak ada ibu Annisa siapa yang merawat loe. Jika bukan karena bang Alif siapa yang akan biayai loe yang ada loe uda disuntik mati daripada merepotkan dan gak ada yang bayarin. Apakah Samapi situ loe udah paham. Dan apa masih ada keberanian buat loe mengancam Annisa dan keluarganya. Pikirkan baik-baik. Dan jangan coba-coba mencari Annisa lagi. Segeralah sembuh dan temui kedua orang tuamu yang sama tak tau dirinya itu. Pergi jauh dari kehidupan Icha. Atau kamu akan habis ditangan Arash Malik"
Arash beranjak pergi meninggalkan ruangan Alex yang masih diam termenung. Dia tak menyangka kedua orangtuanya begitu tega. Dan betapa malunya dia kepada keluarga icha.
________
Ini part terpanjang. Yang minta ikan buntal nanti akan muncul lagi. Konsen dulu sama bang Arash
Jangan lupa jempolnya
Happy Reading