
Hari ini sesuai janji Arash kepada syami untuk menemuinya dikantor sang paman...setelah minggu lalu batal karena mencari ghaisan yang kabur dari rumah
"Dad...nanti arash ke kantor agak siangan"
"Okay...kapan kalian ujian"
"Dua bulan lagi dad"
"Oya daddy dengar ghaisan dijodohkan"
"Oya...kami belum dengar"
"Daddy juga baru tahu kemarin saat atuk menelpon memberikan kabar ini...dan sepertinya ghaisan tidak setuju...syamil pun ragu...hanya syaqilla yang antusias"
"Hehe...mama qilla selalu seperti itu dad"
"Hahaha..kamu benar ars...memang mamamu satu itu selalu kurang dalam pertimbangan...saat dia salah dalam ambil keputusan nangisnya bisa berminggu - minggu...hahaha"
"Daddy benar sekali...oya apa daddy tau siapa yang dijodohkan dengan ghaisan"
"Atuk belum tau juga dengan siapa...karena memang mereka belum dipertemukan karena permintaan dari pihak wanita yang sedang fokus untuk ujian"
"Hmmm...begitu"
Arash teringat sesuatu yang belum sempat disampaikan kepada orangtuanya tentang rencananya untuk kuliah ke London...kini mereka masih diruang tengah usai menyelesaikan sarapannya
"Dad ada yang ingin arash sampaikan kepada daddy dan mommy...sebenarnya arash ingin opa dan oma juga tau...tapi mereka masih di jerman"
Arsya melirik kearah kembarannya memberi kode agar tidak membicarakan hal itu...namun arash membalas dengan satu kedipan mata seolah berkata agar arsya tidak perlu khawatir
"Apa sepertinya serius sekali"
"Iya anak mommy gak seperti biasanya ini..ada apa bang"
"Hmm...arash...mau minta ijin dad...mom"
"Ijin apa boy"
"Arash ingin melanjutkan kuliah ke london dad"
Jay dan jasmine saling memandang...jay sempat menghembuskan nafasnya dalam...kacamata baca yang tadi bertengger diatas hidung mancungnya dilepaskan oleh jay
"Ada apa boy...kamu tau kan seperti apa oma jika mendengar ini"
"Arash tau dad...tapi ini kesempatan arash untuk belajar dengan uncle Dito...Arash dengar uncle Dito sedang kesulitan mencari asisten...arash ingin membantu sambil belajar dad..mom"
"Abang...daddy setuju saja...bahkan jika bukan karena oma...daddy sudah meminta salah satu dari kalian untuk membantu Dito...tapi ini oma kalian...daddy tidak bisa membantahnya"
"Dad...pliss...biarkan arash untuk ke London...nanti arash akan membujuk oma...asal daddy dan mommy merestui arash terlebih dahulu"
Jasmine ikut berbicara karena melihat raut wajah sang suami yang sedikit kecewa kepada putranya itu...sambil terus menggenggam tangan jay agar tidak terbawa emosi
"Abang...mommy sepertinya kurang yakin dengan alasan kamu itu...sebenarnya ada apa bang"
"Mom...arash serius ingin menuntut ilmu disana...dan belajar dengan uncle Dito...karena arash merasa kemampuan arash tidak sebaik uncle Dito"
Jay langsung menatap tajam kearah putranya itu...dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh arash...karena memang semua anaknya tak pandai berbohong dihadapan kedua orangtuanya
"Jika kamu ingin daddy dan mommy merestui...katakan sejujurnya ada masalah apa...karena kemampuan kamu dalam urusan perusahaan itu diatas Dipta dan Dito bahkan uwak kalian saja mengakui kekalahannya dalam urusan bisnis ...jadi jelas kamu berbohong bang...daddy tidak suka"
Arash hanya bisa diam membisu memikirkan alasan yang logis yang dapat diterima kedua orangtuanya...Arsya ingin sekali mengatakan sebenarnya namun arsya tak mau arash kecewa padanya
"Arsya ada apa sebenarnya....kamu pasti tau kan"
"Maafkan arsya dad...arsya tidak berhak untuk mengatakannya"
"Ada apa dengan kalian ini"
"Dad..plis ijinkan abang ya...abang janji akan menyelesaikan sekolah dalam waktu singkat"
"Daddy tidak tau harus gimana...daddy ingin merestui tapi oma kalian pasti akan marah"
"Baiklah...arash akan meminta ijin dahulu pada oma jika daddy masih keberatan"
Mungkin takdir benar - benar berpihak pada arash...belum sempat arash menghubungi opanya...Alex terlebih dulu menghubungi Jay
"Assalamualaikum dad"
"___"
"Boleh...memangnya ada hal penting apa daddy menghubungiku sepagi ini"
"____"
"Begitukah...terus apa yang bisa jay bantu"
"_____"
Jay mendengarkan penjelasan Alex sambil melirik kearah kedua putranya
"Jay tidak masalah...tapi daddy tau kalau mama melarang kami kesana..bahkan hanya berkunjung pun dilarang...daddy tau itu kan"
"___"
"Oh begitu...syukurlah...baiklah jay akan mengutus arash untuk kesana...kebetulan dia juga ingin kuliah disana"
"____"
"Ya dad...sama - sama..waalaikumsalam"
Jay menyimpan ponselnya kembali di meja...dan menatap semua yang duduk diruang tengah...dan mulai menjelaskan maksud alex menelpon
"Baru saja opa alex menghubungi dan meminta tolong pada daddy"
Jay meminum air putihnya perlahan dan meneruskan perkataannya
"Arash mungkin ini jawaban atas keinginanmu...Allah memudahkan jalan kamu ke london...Opa Alex meminta salah satu dari kalian untuk membantu uncle Dito...karena saat ini uncle Dito sedang sakit dan dirawat dirumah sakit"
"Innalillahi...dad apa sakit Dito begitu parah hingga harus dirawat"
"Menurut daddy Alex...mobil Dito disabotase seseorang beruntung Dito bisa melompat sebelum mobil itu masuk jurang...Dan Dito mengalami patah tulang kaki dan benturan dikepala namun tak begitu parah"
"Syukurlah...setidaknya Dito masih selamat"
"Jadi Arash diijinkan kesana Dad"
"Iya...karena kamu yang paling ingin tinggal disana...dan masalah oma...oma sudah mengijinkan...Opa Alex langsung yang meminta ijin...tapi...."
"Tapi apa dad"
"Oma meminta...jika Dito sudah sehat dan kembali beraktifitas...kamu harus segera kembali kesini tak peduli sekolahmu selesai atau belum...bagaimana"
"Setuju...arash tidak masalah Dad"
"Baiklah...segera urus dari sekarang keperluan kamu selama disana...nanti Daffa akan ikut denganmu"
"Baik dad...terimakasih"
Arash langsung berdiri dan memeluk daddynya yang sedang duduk...dalam pelukan itu jay mengungkapkan kecurigaannya
"Belajar yang benar...daddy masih belum peecaya dengan alasan kamu...jika kamu tak mau jujur...maka daddy sendiri yang akan mencari tahu...dan kamu dilarang membantah"
"Iya arash mengerti"
Arash melepas pelukkannya dan kembali duduk didekat Arsya...tak lama mereka langsung berangkat kesekolah...karena sudah mendekati ujian akhir sekolah...dan mulai hari ini rashsya mulai mengikuti latihan ujian
"Daddy ke kantor dulu...daddy tunggu kamu nanti ditempat meeting bang"
"Iya dad...pulang dari kantor papa syam...arash langsung kesana"
"Dan Arsya jangan lupa jadwal opa hari ini ada rapat dengan kepala cabang"
"Okay dad"
Mereka lalu berpamitan pada orangtuanya...dan berangkat menuju tempat masing - masing...disekolah tampak sepi karena hanya kelas tiga yang masuk untuk mengikuti ujian...si kembar menyelesaikan soal - soal uji coba dengan cepat...dan mereka meninggalkan sekolah lebih dulu
"Ars...loe mau ikut tempat papa syam"
"Gak bang...gue meeting bentar lagi...si iky bisa ceramah ntar kalau gue telat"
"Haha..maklum asisten pak sutat jadi diceramahin terusss"
"Hahaha...iya...abang antar gue dulu ya"
"Iya..abang antar sampai depan aja ya"
"Iya"
Arash membawa mobilnya menuju hotel Arkmel milik opanya yang telah sah milik Arsya...Arash hanya menurunkan Arsya didepan pintu masuk lalu putar balik menuju kantor syamil
Arash sampai dikantor milik atuknya dan langsung memarkirkan mobilnya disamping mobil syamil...arash memang jarang datang dikantor syamil...namun para karyawan sudah tahu jika dia adalah cucu pemilik perusahaan
Di lobby semua memperhatikan arash yang melintas dengan wajah cueknya...saat melintasi ruang tunggu...arash dipanggil seseorang
"Kamu tunggu"
Arash yang tak merasa dipanggil tetap cuek berjalan menuju lift khusus milik CEO
Arash berhenti mendengar namanya dipanggil...lalu dia menoleh kearah suara dibelakangnya...arash sedikit terkejut melihat orang yang memanggilnya...arash berjalam mendekati orang itu
"Assalamualaikum om...apa kabarnya"
"Waalaikumsalam...gak usah sok care kamu"
"Oh baiklah om...maafkan saya"
Asisten syamil yang berada dibelakang orang tersebut mendekati arash ingin memberi salam...namun dicegah arash dengan kode matanya...ia pun urung dan kembali ketempat semula
"Kamu ngapain ke perusahaan ini...nyari kerja"
Arash hanya tersenyum mendengar penuturan orang itu...tanpa berniat menjawabnya dan orang itu meneruskan perkataannya yang selalu menyakitkan bagi yang mendengarnya
"Huh...mana mau perusahaan sebesar ini menerima orang seperti kamu..dilihat dari segi kemampuan kamu pun sudah dipastikan tak layak...kecuali kamu jadi office boy baru saya percaya"
Asisten syamil geram mendengar perkataan orang itu...bahkan sengaja merekam perkataan orang itu untuk ditunjukkan pada atasannya
"Beruntung saya sudah menemukan calon suami yang pantas untuk malika...jika tetap merestui kamu yang ada saya malu...anak Agung Hendrawan tak pantas bersanding dengan anda"
Arash tetap tersenyum dan menghela nafasnya...lalu dia berpamitan itu lebih baik daripada semakin banyak karyawan yang menonton mereka
"Om...saya sudah menuruti keinginan om untuk melepas malika...jadi tidak akan ada masalah jika saya mau bekerja sebagai apapun...salam buat malika om...maaf saya permisi karena sudah ditunggu...assalamualaikum"
Arash meraih tangan ayah malika ingin menyalamai namun ditepisnya...Arash pun tak peduli dia berlalu langsung masuk lift khusus CEO...karena hal itu membuat ayah malika menjadi heran
"Kenapa anak itu berani naik lift khusus itu...bahkan tak ada yang berani mencegahnya...hah sudahlah"
Saat ayah malika berbalik dan memohon diri kepada asisten syamil...sang asisten memberikan peringatan keras karena dia tidak suka sikap tuan agung kepada arash yang notabene salah satu pemilik saham perusahaan syamil
"Kalau begitu saya pamit dulu pak Angga semoga kerjasama kita bisa berjalan dengan lancar"
"Semoga tuan...dan saya ingatkab untuk tidak menilai orang hanya dari penampilan...karena suatu saat anda akan menyesal...selamat siang"
Angga yang jengkel langsung pergi meninggalkan lobby setelah mengantar tamunya itu...ayah malika sempat heran dengan perkataan asisten syamil...bahkan banyak karyawan yang melihatnya mencela arash tadi ikut mengomentari
"Ih bapak itu gak tau apa siapa mas arash"
"Iya....itu kalau tuan syakir tau bisa murka"
"Iya benar sekali"
Karena penasaran ayah malika memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu informasi tentang arash
Diruangan syamil...Arash bertemu atuknya yang kebetulan memang sedang berada dijakarta
"Assalamualaikum atuk...papa"
"Waalaikumsalam...cucuku...mari sini"
Arash mendekat lalu mencium tangan kedua orang yang disayanginya itu...bahkan sang atuk langsung memeluknya erat
"Atuk apa kabar"
"Alhamdulillah sehat...wah cucu atuk semakin menawan saja ini...hahaha..tak kalah dengan atuk ya...hahaha"
"Ayah coba berkata seperti itu didepan bapaknya...yang ada langsung dibantah..hahaha"
"Iya betul sekali...hahaha...oya mana Arsya"
"Arsya ada meeting atuk...arsya juga kan tidak tahu atuk disini"
"Iya memang atuk baru datang pagi tadi bahkan belum sempat bertemu daddy dan mommy kamu"
"Nanti atuk menginap dirumah kan"
"Iya atuk akan menginap dirumah kamu"
"Oya ada masalah apa papa memanggil arash"
Mereka sudah duduk disofa ruangan syamil...sambil duduk santai membahas permasalahan yang sedang terjadi
"Begini rash...kamu kan punya saham disini lumayan besar...dan kebetulan ada perusahaan yang lumayanlah untuk diajak kerjasama pada tender berikutnya..dan papa mau minta pendapat kamu...perusahaan itu berhak atau tidak kita ikut sertakan"
"Apa nama perusahaan itu pa"
"Anugerah properti"
"Anugerah...seperti tak asing...siapa nama pemiliknya"
"Agung Hendrawan"
Arash sempat kaget namun langsung dia netralkan...dia mulai berfikir sebuah cara elegan untuk membuka identitasnya didepan ayah malika
"Kapan mulainya Pah"
"Belum dipastikan..karena ada dua pemegang saham belum memberi keputusan selain kamu tentunya"
"Boleh arash meminta sesuatu sama papa"
"Apa itu"
"Arash akan menyetujui kerjasama ini...asal saat penandatanganan MOU arash sendiri yang akan datang"
"Boleh..papa setuju"
"Atuk pun setuju...biar bagaimanapun usaha ini milikmu juga"
"Iya atuk...dan arash juga mau memberitahu sesuatu mumpung atuk disini"
"Apa itu"
"Arash akan melanjutkan study ke London dan sementara menggantikan uncle Dito disana karena uncle kecelakaan"
"Ya Allah...benarkah...kapan itu terjadi"
Arash menceritakan kondisi Dito pada syamil dan atuk syakir...mereka juga sedih mendengar cerita itu
"Kalau menurut penjadwalan dan jika perijinan lancar penandatanganan MOU akan dilaksanakan satu tahun lagi...kamu kan tau pembangunan kali ini perijinannya yang paling susah"
"Jika seperti itu...tunggu arash kembali saja dari london..haha"
"Hadeh...kamu ini..itukan lama...memang sanggup kuliah dengan waktu yang singkat"
"Oh papa syam meremehkan Arash...lupa siapa arash dan berapa umur arash sekarang"
Syamil menepuk jidatnya diiringi suara tawa atuk syakir
"Astaga lupa...dia anak si tengil"
"Hahaha...kamu melupakan fakta itu syam"
Tak lama arash berpamitan karena Daffa menghubungi untuk segera datang karena ada meeting...Atuk syakir pun ikut dengan arash...Saat berjalan di lobby...mereka tampak mereka sangat akrab bahkan tak seperti kakek dan cucu
"Atuk gak niat gitu nikah lagi"
"Heh anak tengil kamu ngomong ngawur aja"
"Ya gak ngawur...emang atuk gak kedinginan gitu tidur sendiri"
"Ada selimut sama guling kok susah"
"Kan enakan guling hidup"
"Oh...jangan jangan cucu atuk ini uda nak kawin ya"
"Nikah tuk nikah"
"Sama saja itu"
"Bedalah atuk...arti dan katanya saja beda"
"Tapi tujuannya sama arash"
"Uh cepek deh"
"Hahaha"
Sedangkan diruangan syamil...syamil kesal setelah melihat video dari asistennya
"Apa perlu kita batalkan kerjasama ini"
"Tapi ini sudah berjalan tuan...akan susah membatalkan"
"Iya juga...ya sudah kita tetap jalankan...saya jadi paham kenapa arash meminta syarat itu"
----------
Jangan bosan ya...maaf kalau gak greget...
jangan lupa like komen rate dan hadiahnya
happy reading