
Setelah berdiskusi dengan keluarganya dan keluarga Annisa, akhirnya disepakati Arash dan Annisa akan menikah saat Annisa libur nanti. Dan dalam waktu dua bulan semua persiapan harus sudah selesai. Arsyila yang akan membantu semua persiapan itu. Dan sampai saat ini Chila masih berkonflik dengan Bagas. Apalagi Bagas menggunakan foto prewed abal-abal dengan Chila di semua akun sosmednya dan mengganti statusnya sudah menikah. Beruntung foto yang digunakan Bagas tidak menampakkan wajah Chila secara jelas. Namun Bagas mengancam Chila jika berani dekat pria lain akan mengganti dengan foto yang lebih menampakkan wajah Chila secara jelas.
Baik keluarga Chila maupun Bagas hanya bisa tersenyum melihat kelakuan dua makhluk yang susah sekali akur. Bahkan Bagas belum mau membuka identitasnya didepan Chila.
"Abang mau pake prewed gak"
"Pake honey tapi nanti Abang prewed di Lombok sama Jogja"
"Ikut ikut... Lombok itu indah Abang"
"Gak gak ntar kamu sabotase kak Icha"
"Nggak Bang. Ayolah pliss"
"Iya tapi jangan bikin ribut loh"
"Nggaklah"
"Kamu sibuk banget gak hari ini honey"
"Gak bang. Cuma mau ke GT Corp aja meeting"
"Bikin acara apalagi mereka"
"Santunan amal bang"
"Kayaknya sering banget ya mereka bikin acara"
"Bikin acaranya Chila suka. Tapi ketemu pimpinannya maless pake bingit"
"Jangan gitu. Inget beda antara benci dan cinta itu tipis. Sekarang benci besok uda cinta loh"
"Chila itu gak benci bang. Cuma kesel aja sama orang itu"
"Hmmm. Yasudah yuk jalan Abang masih ada kerjaan lagi habis ambil cincin"
"Jadi mau ngajakin Chila ini ceritanya"
"Iyalah mau siapa lagi"
"Kenapa gak nunggu sampai kak Icha pulang"
"Kakakmu pulang masih ada agenda seabrek. Lagian ini cincin juga pilihan dia kok. Abang cuma pinjem jari kamu buat ngukur honey"
"Ayolah tapi habis itu anterin ke GT Corp ya bang"
"Syiap tuan putri"
Arash mengajak Chila untuk mengambil cincin pernikahannya dengan Annisa disebuah toko perhiasan milik Mama Ghaydan. Saat akan keluar rumah mereka berpapasan dengan Keynan. Kebetulan memang Keynan ada kerjasama dengan Arash membuat dirinya kembali ke Jakarta.
"Mau kemana kalian"
"Ambil cincin. Loe mau nyariin Retha"
"Iya. Ada titipan dari mami"
"Retha ikut Arsya ke hotel. Bosen katanya"
"Dirumah ada siapa"
"Kosong. Daddy lagi liburan sama mommy ke Malaysia. Opa sama Oma ke Australia jengukin uyut"
"Huh. Ya uda gue ikut kalian aja. Daripada bete sendirian"
"Ya udah ikut aja. Kak key ntar temenin Chila meeting ya"
"Gak bisa chil. Kakak juga ada meeting sama abang loe"
"Huh. Damar gak bisa yang lain sibuk. Terus siapa yang nemenin chila dong"
"Sendiri aja gak berani"
"Ketemu klien yang bikin kesal itu males bingit"
"Sama siapa emangnya"
"Pimpinan GT Corp"
"Hemm. Kayaknya bisa kakak pertimbangkan"
Keynan menatap Arash. Dan arash yang paham langsung mengangguk. Sepertinya mereka sangat suka untuk menggoda Bagas. Keynan pura-pura meminta Arash untuk mengundur waktu meeting.
"Gimana kalau meeting kita diundur Rash"
"Loe mau nemenin adek gue"
"Iya kasian kan kalau sendirian"
"Ya uda gak masalah bisa diatur itu mah"
"Loe ua dengarkan princess. Jadi kakak akan temani kamu meeting hari ini"
"Wah makasih kakak. Terbaik emang"
Mereka berbicara hingga tanpa terasa sudah sampai ditoko milik mami Ghaydan . Saat masuk Keynan merangkul pundak Chila. Sedangkan Arash sudah berjalan lebih dulu sambil berbalas pesan dengan Icha. Toko itu cukup ramai. Tanpa Chila sadari ada sepasang mata memperhatikan dirinya dan Keynan.
Arash langsung menghubungi mami Ghaydan karena memang pesanan dia langsung dibuat oleh maminya Ghaydan sebagai hadiah.
"Assalamu'alaikum mam"
"Waalaikumsalam anak ganteng mami. Mau ambil pesanan"
"Iya mam. Uda siap kan"
"Sudah. Ayo dicek dulu"
Arash berjalan sambil memanggil Chila untuk ikut.
"Honey ayo"
Mami Ghaydan yang melihat Chila langsung memeluknya. Begitu juga Keynan. Mereka memang dekat. Mata tajam itu terus memperhatikan gerakan Chila dan keynan.
"Bagaimana sudah sesuai belum"
"Ini cincin Arash dari perak kan mam"
"Iya pasti itu sayang"
"Ini bagus banget mam. Bentar Arash hubungi Icha dulu biar langsung lihat"
"Iya"
Mami Ghaydan beralih kepada Chila yang sedang melihat kalung. Keynan selalu memberikan masukan jika Chila bertanya bagus tidaknya barang yang sedang dilihatnya.
"Ini bagus. Simple tapi elegan. Cocok sama karakter loe"
Hingga tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang mereka.
"Tapi menurut saya kamu lebih cocok menggunakan kalung bertahta berlian ini nona"
Chila dan keynan langsung menoleh kearah suara dibelakangnya.
"Kok ada jailangkung disini sih. Wah benar-benar jailangkung ini. Tiba-tiba nongol"
Chila bergumam dalam hatinya. Sedangkan Keynan langsung menyalami Bagas. Karena bagaimanapun mereka sedang menjalin kerjasama.
"Wah kebetulan sekali kita bertemu disini pak Putra"
"Mungkin bukan kebetulan semata pak Keynan. Takdirlah yang menuntun saya bertemu masa depan saya disini"
"Oya. Wah kebetulan sekali ya. Boleh suatu saat nanti kami berkenalan dengan istri Anda. Karena menurut berita anda sudah menikah"
Tatapan mata Bagas tak pernah beralih dari Chila. Namun Chila hanya sibuk menatap kalung didepannya tanpa peduli adanya Bagas.
"Pasti saya akan mengenalkan kepada kalian"
"Anda sedang mencari hadiah pak Putra"
"Saya sedang mengambil pesanan untuk Mama saya. Dan sekaligus membelikan hadiah untuk istri saya pak Keynan"
Saat Bagas mengucapkan kata istri sengaja dia tekankan dan dia beralih berdiri tepat disamping telinga Chila. Membuat Chila spontan melotot.
"Wah bahagia sekali perempuan yang menjadi istri Anda pak putra"
"Oh sudah pasti itu pak Keynan"
Chila yang sudah mulai jengah mencoba membakar keadaan. Apalagi posisi Bagas selalu didekat Chila.
"Sayang bagus tidak kalung ini"
"Bagus kok. Mau ambil"
"Pasti"
Bagas langsung mengeluarkan suara bariton nya kembali.
"Maaf untuk satu set perhiasan ini sudah saya beli pak Keynan"
"Waduh sayang sekali. Padahal kamu suka ya sayang. Cari model lain saja sayang"
"Maunya itu"
Arash yang sudah selesai dengan urusannya mendekati sang adik. Begitu juga mami Ghaydan.
"Ada apa honey"
"Chila mau itu tapi udah diambil manusia jailangkung"
"Siapa"
"Tuh"
Chila menunjuk Bagas dengan dagunya. Sedangkan Bagas masih setia terus berdiri disampingnya. Arash tersenyum tipis dan menyalami Bagas.
"Wah kita bertemu sebelum waktu meeting pak Arash"
"Iya pak Putra. Sedang mencari hadiah"
"Iya buat istri kesayangan saya soon"
"Wow sesayang itu"
"Harus. Pak Arash sendiri sedang mencari hadiah"
"Saya mengambil cincin pernikahan"
"Pak Arash akan menikah"
"Insyaallah. Pak Putra datang ya"
"Wah kapan itu. Biar saya menyiapkan jadwal kosong"
"Sekitar satu setengah bulan lagi Pak Putra"
"Pasti saya akan datang pak arash"
"Kalau begitu saya permisi dulu pak Putra"
"Silahkan. Saya juga sudah selesai"
Arash langsung mengajak Chila untuk pulang karena memang dia harus meeting"
"Dek ayo pulang. Abang mau meeting"
"Oke bang. Tapi Chila didrop aja di GT"
Mendengar nama perusahaan miliknya disebut, Bagas baru teringat jika hari ini dia akan meeting dengan Chila. Ide cerdiknya pun muncul tiba-tiba.
"Saya baru ingat kita akan meeting nona. Bagaimana kalau kita berangkat bersama saja nona. Kits satu tujuan bukan"
"Oh terimakasih pak Putra kakak saya masih mau mengantar saya"
Arash pun langsung menjawab. Bersamaan panggilan dari Daffa masuk ke gawainya menanyakan posisinya saat ini.
"Dek benar kata pak Putra. Kali ini kamu bareng pak Putra dulu ya sayang. Daffa sudah menghubungi Abang dan sudah ditunggu. Dan loe key ikut gue. Urgent ini"
"Bang. Kok gitu"
"Pak Putra saya titip adik saya"
Keynan yang awalnya ingin ikut Chila juga merubah rencana karena Arash memang sedang membutuhkan bantuannya jika sudah menatap dengan wajah dingin.
Tanpa mau mendengar lagi celotehan sang adik, Arash dan Keynan sudah berlalu meninggalkan toko perhiasan milik keluarga Ghaydan.
Bagas berbunga-bunga dalam hati karena bisa jalan berdua dengan Chila tanpa Jimmy. Bahkan otaknya sudah memikirkan rencana lainnya.
"Ayo istriku tersayang kita berangkat"
"Gak usah ngigau loe"
"Siapa yang ngigau. Kamu lupa seluruh dunia sudah tau foto pernikahan kita. Walaupun wajah kamu masih aku samarkan sayang"
"Ngimpi"
"Berawal dari mimpi sayang"
"Pala loe peyang"
Sampai diparkiran Bagas membukakan pintu mobil untuk Chila. Seperti biasa Chila akan protes.
"Gue masih punya tangan kali"
"Tapi gue mau mememanjakan istri kesayangan ku ini"
"Huh serah deh"
Perlahan Bagas melajukan mobilnya perlahan meninggalkan toko milik keluarga Ghaydan. Didalam perjalanan ada saja cara Bagas menggoda Chila.
"Mau makan dulu sayang"
"Nggak laper"
"Hmm mau es krim"
"Gak pengen"
"Jutek amat sih. Dosa loh sama suami sendiri"
"Suami dari Hongkong. Halu loe ketinggian"
"Aku gak halu sayang. Kamu memang tercipta hanya untukku seorang"
"Bisa gak sih ngomongnya yang wajar aja. Gue gak mau ya sampai keluarga gue salah paham"
"Mereka pasti akan setuju sayang"
"Stop panggil gue sayang"
"Oke baby"
"Gue bukan bayi"
"Bagi aku kamu adalah bayi besar yang akan selalu aku manjakan dan nantinya aku kelonin"
Bagas memainkan alisnya naik turun sambil tersenyum tipis.
"Mesum"
"Hei kamu saja yang pikirannya negatif sayang"
"Au ah males nanggepin loe"
Chila memilih diam dan memalingkan wajahnya. Sedangkan Bagas sedang senyum-senyum sendiri saking bahagianya bisa satu mobil dengan Chila. Lama kelamaan Chila terpejam karena kelelahan. Bagas mengambil kesempatan itu untuk memfoto tangannya yang menggegam tangan Chila dan mengunggahnya ke media sosial miliknya.
BPutra_G sehari bersamamu sayangku❤😘😘
Unggahan itu langsung mendapat respon para sahabat dan juga keluarga Bagas heboh karena Bagas masih saja menyembunyikan identitas wanita yang selalu bersamanya itu.
Tak terasa perjalanan mereka sudah sampai ke kantor Bagas. Chila yang merasakan mobil terhenti otomatis terbangun. Tanpa kata langsung keluar dari mobil Bagas. Bagas hanya tersenyum.
Ditempat lain Arash sedang meeting bersama kliennya seorang wanita bersama Daffa. Dan kejadian tak terduga pun terjadi. Wanita itu menyatakan cinta kepada Arash didepan umum. Tepatnya di restauran tempat mereka sedang meeting.
"Tolong terima cinta ku ini. Aku sudah lama mencintai kamu semenjak kita pertama bertemu di London. Dan aku yakin kamu jodohku"
"Maafkan saya nona saya sudah akan menikah. Dan saya sendiri tidak merasa pernah bertemu Anda. Saya permisi"
"Aku gak akan menyerah kamu takdirku. Dan harus jadi milikku. Akan dihancurkan siapa saja yang akan memilikimu. Karena kamu hanya milikku"
"Silahkan jika Anda bisa"
Arash berlalu pergi begitu saja. Tanpa menghiraukan wanita itu lagi. Bahkan banyak pasang mata menonton adegan itu. Namun Arash dan Daffa tak peduli.
______
Wah ada yang mau mengganggu neng Icha nih
Jangan lupa jempolnya kakak
Happy Reading