
Setelah pernyataan cintanya pada Chila sudah diterima, kini Bagas sedang mempersiapkan pernikahan mereka yang akan dilaksanakan enam bulan lagi karena menunggu Arash kembali dari Perancis.
Bagas semakin posessif pada Chila yang terkadang membuat Chila kesal. Mereka masih jarang bisa terus bersama, karena pekerjaan masing-masing. Chila memiliki watak dominan Jay. Jika marah harus pandai membujuknya.
"Gas loe hari ini gak lunch sama bini loe kan"
"Gak kayaknya. Dia siang ini juga ada meeting sama klien"
"Ya sudah berarti kita nanti sekalian makan siang"
"Iya"
Bagas menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas untuk meeting. Mereka akan meeting di kafe milik Malika. Dikafe yang sama Chila sudah menyelesaikan meetingnya lima belas menit yang lalu. Kebetulan sekali klien Chila adalah temannya dulu saat di Malaysia bernama Fardhan. Fardhan juga orang Jakarta namun karena pekerjaan Papanya yang suka berpindah membuatnya bisa mengenal Chila.
"Gue gak ngira kita bakalan ketemu lagi Syil"
"Iya. Loe uda netap disini Dhan"
"Iya. Bokap minta mutasi tetap. Nenek gak ada yang jagain"
"Syukurlah gue ada teman gila disini. Hahaha"
"Eh lupa, selamat ya gue uda lihat beritanya. Loe dilamar sama CEO muda ya"
"Iya. Makasih ya. Maaf gue gak ngundang loe karena gue gak tau loe uda disini"
"Sante aja kali Syil kayak sama siapa aja"
Mereka asyik berbincang dan bercanda. Bagas baru sampai dikafe tersebut. Dia belum mengetahui jika Chila juga berada disana. Bagas sedang fokus pada meetingnya begitu juga dengan Jimmy.
"Terimakasih pak bagas. Semoga kerjasama kita lancar"
"Sama-sama pak mahfud"
"Tapi maaf saya harus pulang. Karena istri saya menunggu untuk makan siang"
"Wah pak mahfud family man sekali ya"
"Harus itu pak bagas. Permisi pak. Selamat siang"
"Selamat siang pak"
Bagas dan Jimmy berdiri sebagai penghormatan. Saat hendak duduk kembali mata Bagas melihat seseorang yang begitu dikenalnya melintas.
"Itu kan Dinda sekretaris Chila"
"Iya benar. Berarti bini loe disini juga gas"
Bagas langsung mencoba melihat sekeliling ruangan kafe. Namun didalam ruangan tidak ada. Bagas berjalan menuju outdor. Dan dia menemukan Chila disana sedang bercanda dengan Fardhan.
"Ou ou. Siapa tuh. Kayaknya akrab banget"
Bagas menatap chila dari jarak tak begitu jauh. Bagas hanya ingin tahu kejujuran Chila. Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi Chila.
kring kring
"Eh bentar ya dhan, gue angkat telpon dulu"
"Sante aja"
Chila tetap duduk santai didepan Fardhan yang juga sedang membalas pesan kekasihnya. Chila tersenyum melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
"*Assalamualaikum hon"
"Waalaikumsalam. Lagi dimana beib"
"Dikafe kak Malika"
"Gak jadi meeting"
"Uda selesai tadi. Dan meetingnya juga dikafe yang sama"
"Sudah makan belum beib"
"Sudah baru aja. Kamu udah makan belum hon"
"Baru mau makan. Oya klien kamu cowok apa cewek beib"
"Cowok hon"
"Hmm gitu. Awas gak boleh ganjen"
"Apasih gak jelas amat hon"
"Aku kan khawatir kamu diambil orang"
"Gak usah parnoan"
"Iya iya. Oya mau aku jemput gak beib"
"Hmm kayaknya gak perlu deh hon. Nanti aku bareng temen aja*"
Fardhan meminta ijin pada Chila untuk ke toilet dulu sebentar. Dan suara Fardhan membuat Bagas semakin tidak karuan.
"Syil gue ke toilet dulu"
"Iya gue tungguin disini dhan"
"*Suara siapa itu sayang"
"Oh itu klien sekaligus teman aku hon"
"Kamu diantar dia nanti"
"Iya kebetulan dia searah ketempat pameran hon. Damar nunggu disana"
"Aku jemput kamu sayang. Aku antar"
"Gak usah. Kamu pasti banyak kerjaan hon"
"Gak ada penolakan"
"Ya sudah aku tunggu hon"
"Tunggu aku bentar lagi sampai sayang"
"Iya. Aku tutup ya. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam sayang*"
Bagas meminta Jimmy untuk kembali kekantor menggunakan taksi. Karena dia akan mengantar Chila hari ini. Jimmy merasa dicampakkan oleh sahabat sekaligus bosnya itu.
"Jim loe balik pake taksi ya"
"Dasar bos bucin. Bagi duit"
"Uda kere loe"
Jimmy langsung keluar kafe dan memesan taksi online. Dan Bagas langsung mendekati sang kekasih yang masih bersama temannya itu.
"Loe gak jadi bareng gue Syil"
"Gak dhan. Sorry laki gue mau jemput"
"Widih bos besar penyayang ya. Masih ada waktu buat jemput loe"
"Hmmm begitulah"
Bagas seolah baru datang. Dia mengirim pesan kepada Chila menanyakan keberadaannya. Setelah mendapat balasan, Bagas langsung kesana.
"Beib"
"Eh udah datang. Oya kenalin ini teman aku waktu sekolah di Malaysia"
"Hallo kenalin gue fardhan"
"Bagas tunangan chila"
"Ya udah gue duluan ya syil. Gue masih ada kerjaan dikantor. Jangan lupa weekend besok"
"Iya gue ingat. Ntar loe ingatin gue aja jamnya. Gue suka lupa"
"Gak pernah berubah loe ah syil"
"Hahaha. Apa gunanya ada loe kalau gak bisa jadi alarm gue"
"Sialan loe syil. Ya uda gue cabut. Yuk gas"
"Ya silahkan"
Bagas sudah sangat menahan mendengar percakapan Chila dan Fardhan yang terdengar sangat akrab.
"Yuk hon. Damar uda nungguin"
"Hmm"
Chila masih belum merasa perubahan sang kekasih. Bagas membantu membawakan barang Chila. Dia masih dengan wajah dingin karena kesal. Kini mereka dalam perjalanan menuju tempat acara pameran.
"Kok kamu cepat banget nyampenya hin"
"Biasa aja"
"Meeting dimana"
"Kafe"
"Kafe mana"
"Jauh"
Chila menyimpan ponselnya diatas dashbor dan langsung mengubah duduknya menghadap Bagas.
"Kamu kenapa. Marah sama aku"
"Nggak. Biasa aja"
"Ingat aku bukan cenayang yang bisa tau isi pikiranmu hon"
"Siapa Fardhan"
"Oh cemburu lagi rupanya" batin Chila
"Dia teman aku. Kan uda aku lasih tau tadi hon"
"Teman luar biasa"
"Hem. Maunya gimana"
"Gak kenal sama dia"
"Gak bisa. Kita dekat uda lama. Dia udah kayak kakak aku hon"
"Ingat gak ada pertemanan antara pria dan wanita yang murni berteman beib"
"Tapi itu tidak berlaku pada diriku hon"
"Terus kenapa manggil kamu syil"
"Kan nama aku Arsyila. Dan dia manggil aku syila"
"Syila syila. Dia kira pancasila gitu"
"Kamu kenapa sih hanya karena panggilan kok ngambek gak jelas"
Bagas menepikan mobilnya. Dia tidak ingin menyelesaikan masalah dalam kondisi menyetir.
"Apa gak jelas. Beib dia ngasih panggialn kamu spesial gitu. Masih dibilang aku marah gak jelas"
"Spesial apanya sih. Kayak martabak telor gitu"
"Gak usah bercanda deh beib. Serius ini"
"Aku juga serius hon. Aku di Malaysia memang dipanggil syila. Sedangkan panggilan chila hanya keluarga saja"
"Tapi ya gak usah akrab banget gitu. Sampai bilang. Itulah gunanya loe. Kayak gak anggep aku ada"
"Sebenarnya kamu cemburu dimananya sih hon"
"Semuanya. Aku gak suka kamu dekat sama cowok selain aku dan keluarga"
"Oh gitu. Kamu kan juga sama kalau pas sama klien yang kamu kenal dekat. Suka tebar pesona"
"Eh gak gitu ya beib. Aku biasa aja. Mereka aja yang pengen dekat"
"Sama aja. Kamu juga ngasih kesempatan kan dengan tebar pesona"
"Nggak gitu sayangku. Ini yang harusnya marah tuh aku loh beib. Kok malah kamu yang marah"
"Oh jadi aku gak boleh marah gitu kamu tebar pesona. Dasar jailangkung"
"Bukan gitu beib. Ih kok jadi kebalik gini sih. Kamu maunya gimana sekarang beib"
"Gak usah tebar pesona"
"Oke besok saat aku meeting, aku pake topeng. Puas"
_______
Topeng ikan buntal....
Jangan lupa jempolnya
Happy reading