
Hari ini Atha akan melangsungkan aqiqah untuk putri pertamanya. Dia sudah menyewa penyelenggaraan acara milik keluarga Malik. Karena dia juga anggota klan Malik, jelaslah tak sepeserpun biaya keluar. Atha hanya membayar catering saja.
Pagi hari keluarga Malik dan Septian sudah berkumpul. Keluarga Seila juga sudah hadir. Mereka bermain dengan para anak-anak. Hanya saja Chila dan Bagas tidak bisa hadir. Mereka sedang berada di Paris. Bahkan Ichan juga tidak bisa dihubungi. Semenjak semua keluarga dan sahabatnya mengetahui tentang berakhirnya pertunangan Malika dan Ichan, Ichan seolah menghilang. Dia masih berada di Jerman. Bahkan beberapa kali Afnan meminta Ichan untuk tinggal dirumah keluarga dari mamanya itu, selalu Ichan tolak.
"Serkan sini sama nenek nindi sayang"
Serkan yang sedang berada dalam pangkuan Jasmine langsung memeluk erat tubuh Omanya. Merasa asing kepada mama seila, Serkan semakin sembunyi.
"Serkan sayang. Ini namanya Oma nindi. Oma adek Shaki. Omanya serkan juga. Jangan takut ya sayang"
Serkan menatap manik mata Jasmine saat Jasmine mencoba untuk menjelaskan kepada Serkan tentang siapa nindi. Serkan ya g sudah mulai paham perkataan orang dewasa, langsung mengangguk.
"Sekarang serkan mau ya digendong Oma nindi. Oma mau gendong adik Shaki sebentar sayang"
Serkan mulai mengendorkan pelukannya dan perlahan menggapai tangan mama nindi. Wajah bahagia terpancar dari mama nindi. Awalnya mama nindi sama seperti seila merasa minder berdekatan dengan keluarga Malik. Namun setelah mengenal mereka seperti apa, rasa syukur dia ucapkan. Karena putrinya dikelilingi orang-orang baik. Apalagi keluarga Malik bukanlah keluarga sembarangan.
"Wah wah cucu nin udah mau kenal sama Oma nindi ya"
"Iya nin. Mau digendong Oma nindi nih"
Friska membiasakan serkan memanggilnya nin. Begitu juga dengan si kembar. Rumah Atha kali ini semarak dengan suara anak-anak. Walaupun sudah memiliki buah hati sendiri. Atha tetap menyayangi si kembar dan juga serkan panggilan papi yang dia sematkan untuk si kembar dan ayah untuk serkan tetap dia sebutkan.
Geng sableng juga sudah berkumpul. Hanya saja kali ini shanum tidak diijinkan banyak bergerak. Mereka berkumpul sambil bercanda. Tanpa mereka sadari seorang tamu kejutan datang membuat suasana semakin semarak.
"Gimana kabar Sinchan gaess. Kok ngilang gitu aja"
"Kemarin gue telfon si key. Katanya pernah ketemu Sinchan dikafe. Habis itu gak pernah ketemu lagi. Kenapa jadi aneh gitu sih"
"Iya. Putus cinta malah kabur gak tau kemana rimbanya tuh anak"
Devin dan Atha asyik membahas Ichan, yang membuat Mirza sedikit tak enak hati. Perubahan Ichan juga ada andil dari adiknya Malika. Malika sudah tidak berada di Jakarta lagi, dia memilih mengembangkan usaha di kota lain. Apalagi Mirza sudah mengancam jika Malika masih mengusik Arash, maka Mirza tak segan menyakiti saudara kembarnya itu.
"Kangen gue sama Sinchan"
"Loe kangen sama pasangan gay loe tha. Hahaha"
"Sialan emang loe zha"
"Ehem. Yang kalian gosipin disini kali"
Mereka menengok kearah suara. Atha yang langsung berlari memeluk pasangan double ghai nya itu.
"Sinchan. Loe beneran Sinchan kan"
"Hem. Masa gue memedi sih tha"
"Siapa tau ada siluman malsu jadi loe"
"Kebanyakan nonton Angling dharma loe tua"
"Wah sinchanku pulang gaesss"
"Aduh tha. Lepas napa. Gak bisa nafas ini"
"Kangen gue sama loe Chan. Loe ngilang ditelan dedemit Chan"
"Iya sorry. Gue sibuk"
Atha sudah melepas pelukannya dan mereka saling merangkul mendekat kearah teman-teman lainnya.
"Apa kabar kalian"
"Kami semua baik. Loe gimana Chan. Kenapa gak pernah ngirim kabar ke kita Chan"
"Sorry gaes. Gue ngejar target di Jerman"
"Terus loe bakal balik ke Jerman lagi gak Chan"
"Sementara ini gak. Gue bisa mantau dari sini"
"Akhirnya duo ghai berkumpul kembali"
Karena waktu pengajian akan segera berlangsung, mereka akhirnya bersiap-siap menyambut tamu undangan. Tamu ya g hadir berasal dari warga komplek dan anak panti asuhan. Bagi para emak komplek bisa diajak gabung dengan keluarga Malik adalah kesempatan untuk mencarikan mantu anak-anak mereka.
Pengajian berlangsung selama hampir dua jam. Setelah para tamu undangan pulang, geng sableng masih berkumpul. Beruntung anak-anak mereka sudah tidur siang dengan para Oma mereka yang menunggui sambil bergosip.
"Kita sudah jarang ya bisa ngumpul gini"
"Iya semenjak menikah dan punya anak kita jarang ngumpul. Apalagi Sinchan menghilang digondol falak Jerman"
"Haha bisa aja loe zha. Eh kapan anak loe brojol tha"
"Kalau gak ada yang menghalangi doa brojol insyaallah bulan depan Chan"
"Semoga saja gak ada penghalangnya ya zha"
Eneng yang sudah selesai bekerja memilih bergabung dengan geng sableng begitupun Icha dan Aretha. Seila masih menemani Shaki di kamar.
"Kak Sinchan kapan merried"
"Ntar lah neng nunggu Rizky atau bang Dev dulu"
"Dasar kalian bejo aja"
"Maksudnya bejo apaan Cha"
"Betah jomblo"
"Ya gak gitu juga kali Cha. Kita juga pengen merasakan surga dunia yang kata orang nikmat itu. Ya gak ky"
"Hush gak boleh ngomong gitu gak baik. Dosa ntar kalian"
"Ih pak sutat mah gitu. Kita cuma ngomong gak bayangin kali"
"Emang apa sih yang membuat kalian bejo. Apa tampang kalian gak oke ya"
"Enak aja loe Cha. Tampang kita gak kalah sama laki loe kali"
"Kenapa gak laku-laku. Jangan milih-milih"
"Kita milih yang seiman dan bisa menerima kondisi kita apa adanya cha. Bukan karena harta"
"Maybe"
"Bagaikan nemu uang disaku celana saat nyuci dong kak"
"Bini loe rash kalau bikin istilah ada aja"
"Tapi kalau menurut Eneng beda non Icha"
"Beda gimana neng"
"Walaupun mereka jomblo tapi Jogja"
"Kota maksud loe neng"
"Bukan mas Devin. Tapi jomblo ganteng bersahaja"
"Eyak eyak. Emang pinter loe neng"
"Alah palingan tadi Eneng mau ngomong kalau mereka bertiga itu jin"
"Setan dong Cha"
"Bukan tapi jomblo itu nasib kalian bertiga"
"Wah parah emang bininya Arash kalau ngomong jujur banget. Hahaha"
"Nggak papa jadi jin kali non. Yang penting jonaidi ya kan mamas ganteng-ganteng"
"Istilah apalagi sih neng. Perasaan gue belum lama ninggalin Jakarta kok udah muncul kamus nyleneh lagi"
"Jonaidi. Jomblo Nakal Itunya gedi. Hahaha"
Uhuk. Byur..
Atha yang keselek dan Mirza yang menyemburkan minumannya kearah Ichan.
"Jorok amat sih loe zha"
"Sorry gue kaget sama istilah Eneng. reflek gue"
"Lagian loe tau-tau nya aja neng itu mereka bertiga gedi"
"Taulah mbak shanum"
"Jangan bilang loe ngintip mereka ya"
"Nggaklah. Gak pernah ada kesempatan maksudnya. Hehehe"
"Terus tau dari mana"
"Dari jempol kaki mereka"
"Kok bisa"
"Jadi kalau didesa Eneng melihat ukuran si terong bisa dari jempol kakinya"
"Berati loe selama ini merhatiin jempol kaki kita neng"
"Hehem"
Eneng sambil senyum-senyum malu-maluin dan menaik turunkan alisnya.
"Astaghfirullah Eneng. Kamu gak boleh gitu. Namanya zina mata neng. Dosa"
"Dosa kalau langsung lihat terongnya mas Rizky. Eneng cuma lihat jempolnya tok kok"
"Tapi pikiran kamu langsung kesana kan"
"Dikit sih"
"Tetap aja dosa Eneng. Gak boleh gitu"
"Namanya kan eneng sedang mencari yang terbaik mas Rizky. Jangan sampai nyesal dibelakang"
"Maksudnya gimana"
"Nah coba bayangin kalau jempolnya itu banget pendek terus burik. Nanti turunan Eneng jadi jelek dong"
Secara otomatis mereka semua membayangkan tak terkecuali Rizky. Dan itu menjadi bahan olokan Eneng.
"Acieee mas Rizky ikut bayangin. Dosa masa dosa. Astaghfirullah mas. Gak baik kayak gitu"
"Astaghfirullah ya Allah. loe nebak gue neng"
"Dasar kampret emang eneng. Kamu ngajakin dosa bareng"
"Kalau dosanya terenak mah hayu aja mas Devin"
"Eneng mah masalah perterongan jagonya emang"
"Oh jelas itu menentukan masa depan dan nasib anak Eneng non shanum"
"Loe maunya yang gimana neng"
"Panjang gede mantep pokoknya"
"Bambu kali neng"
"Keras banget itu mah mas ezha. Yang penting goyangannya mantap"
"Tarik sis"
_______
Belum bisa memutuskan mau siapa lagi cerita berikutnya gaess. Othor manut kalian aja
Jangan lupa jempolnya digoyang
Happy reading