RashSya Story

RashSya Story
Devin~CLBK 17



Adakah yang kangen Devin...maaf ya keasyikan sama eneng...Hari ini usahakan untuk devin..


************


"Sepertinya malam ini kita pindah saja sayang"


"Kemana kak"


"Ketempat yang gak ada hamanya"


Mendengar Devin menyebut kata hama dengan menatap wajah Icha dan Arash, sontak membuat Icha kesal.


"Emang loe ya bang, makhluk menyebalkan. Seenaknya ngatain kita hama"


"Emang loe hama Cha. Pengganggu kesenangan orang"


Arash langsung merangkul Icha dari belakang. Dengan sengaja mengarahkan wajah Icha ke belakang dan mengecup bibir Icha sedikit lama.


"Dia itu mau gini sayang tapi gak bisa"


"Mau lagi dong yah. Gak berasa"


Icha dan Arash sengaja membuat Devin panas.


"Dengan senang hati Buna"


Perlahan Arash memutar tubuh Icha Agara menghadap kearahnya. Bahkan posisi mereka saat ini menyamping hingga Devin dan Tisya bisa melihat dengan jelas apa yang akan dilakukan pasangan somplak itu. Devin pun menantang Arash. Karena Devin tau Arash bukanlah orang yang nekad memperlihatkan sesuatu yang tidak pantas.


"Kayak loe berani aja rash"


Arash tak menggubris perkataan Devin. Perlahan dia memiringkan wajahnya begitu juga Icha. Gerakan mereka benar-benar slow motion. Devin sengaja terus menatap Arash. Karena dia yakin Arash akan berhenti sebelum kedua benda kenyal itu beradu. Sedangkan Tisya berusaha bersembunyi didalam dekapan Devin.


"Kak. Pergi aja yuk. Gak enak lihat mereka"


"Biarkan saja sayang. Sepupuku itu gak akan senekad itu kok. Lihat saja sebentar lagi juga gagal"


Dengan menyilangkan kedua tangan didepan dada, Devin menatap tajam ke arah Arash dan Icha. Tisya hanya menutup mulutnya dengan telapak tangan. Dan. Arash benar-benar me***t bibir mungil Icha. Mereka tanpa canggung ataupun malu melakukan itu dihadapan Devin dan Tisya.


Devin benar terkejut melihat perubahan sikap Arash itu. Saking kesalnya, Devin melepas salah satu sandalnya dan langsung dilempar kearah Arash.


"Aduh"


"Rasain. Tukang pamer"


"Sirik aja loe Jamil"


"Gue Devin bukan Jamil. Ayo sayang kita pergi saja dari sini"


"Hilih. Si Jamil gak kuat menghadapi kenyataan. Hahaha"


"Arash tuh bini loe tuh"


"Cantik"


Arash langsung membawa Icha kedalam pelukannya. Dia juga tertawa sambil mendekap erat Icha. Tisya yang baru pertama melihat dan mendengar tawa Arash yang menggelegar sedikit terkejut. Devin menyadari sikap istrinya yang sedikit terkejut.


"Jangan kaget sayang. Dia diluar kayak tembok aslinya bobrok. Itu belum tiga per empat ya kamu lihat sayang. Yuk pindah dari sini"


Icha masih saja jahil kepada pasangan pengantin baru itu. Arash hanya memperhatikan sambil menyandarkan badannya ditepi pembatas balkon sambil memeluk tubuh Icha.


"Mau pindah kemana. Takut amat sih diganggu. Santai aja kita gak akan ganggu kok"


"Gak yakin gue"


"Heh kita mah lebih dulu ngrasain bang"


"Diem loe. Ayo sayang pergi"


"Mau kemana sih. Emang mau pergi jalan kaki"


Arash memperlihatkan kunci mobil Devin yang sengaja dia sembunyikan.


"Woy balikin kunci mobil gue"


"Tidak semudah itu Jamil"


"Rash gak asyik loe ah. Sini balikin"


"Daripada ngributin kunci mobil. Mending Abang masuk terus jangan lupa warming up dulu biar lemessss"


"Icha. Nyebelin banget sumpah"


"Dah sono masuk. Apa perlu kita kasih tutorial bang. Hahahaha"


Icha menarik tangan Arash masuk kedalam kamar mereka saat Devin berniat melompat kearah balkon kamarnya. Mereka menutup dan mengunci pintu kamar mereka.


"Woy kampret keluar kalian. Kalau gak gue bakalan gedor terus nih pintu"


Tisya langsung memanggil Devin untuk kembali ke kamarnya. Tisya gak enak juga dengan tamu yang lain.


"Kak. Sudah. Ayo balik kamar saja"


"Tapi yang"


"Udah gapapa. Gak pindah juga gak masalah kok"


"Mereka itu bakalan jahil lagi sayang"


"Sini deh kak. Aku ada ide"


Devin kembali melompat kearah balkon kamarnya sendiri. Memang dihotel ini setiap dua kamar memiliki balkon yang tergabung hanya berbatas tembok pendek.


"Apa sayang"


Tisya membisikkan sesuatu kepada Devin. Devin langsung tersenyum mendengar ide istri tercintanya itu.


"Oke. Ayo kita gerak cepat sebelum mereka sadar rencana kita sayang"


Devin kembali ke kamar dan menghubungi seseorang. Setelah mendapat kesepakatan dengan orang yang harus aja Devin hubungi. Devin dan Tisya tertawa bersama.


"Nikmati keisengan kalian"


.


.


.


Arash dan Icha tertawa melihat Devin yang terus berteriak. Melihat wajah Devin kesal saat melihat dia berci***an mesra dengan Icha, sangat membuat Arash puas. Didalam kamar Arash, sudah ada saudara lainnya. Mereka memang sengaja akan mengganggu malam pertama Devin.


"Kapan kita gerak nih"


"Bentar lagi aja. Mereka juga baru saja masuk. Gak mungkin langsung gas"


"Ya sudah. Chan loe keluar lihat kondisi"


"Ck. Kenapa gue sih Ars"


"Ya karena loe jomblo. Hahaha"


"Sialan loe Tha"


"Udah sono Chan. Loe kan badannya ramping. Gampang lompat-lompat"


"Loe kira gue kodok"


Ghaisan pun berjalan dengan langkah malasnya. Perlahan dia membuka pintu balkon agar Devin tidak mendengar. Ichan melompat perlahan ke balkon Devin. Sambil mengendap, Ichan mencuri dengar.


"Auhhhhhh"


Ghaisan langsung melotot mendengar suara aneh dari dalam kamar Devin. Dia sudah menggenggam sesuatu untuk dilempar kearah pintu balkon Arash. Mendapat tanda dari Ichan. Mereka langsung bergegas beraksi.


"Loe yakin Chan. Udah mulai mereka"


"Dengar aja sono. Gue malas"


Ghaisan memilih menutup telinganya dengan headset. Ghaydan dan Mirza maju mencari dengar.


"Gilaaaaa. Auhhhhhh"


Mirza dan Atha menutup bibir mereka agar tidak tertawa mendengar suara Devin didalam kamar. Entah sedang apa mereka didalam.


"Gila bang Dave. Yuk jalanin"


"Oke guys. Sorry bang"


Arash melempari jendela kamar Devin dengan kerikil kecil. Mirza bertugas membuat suara menyeramkan. Dan Atha menepuk pelan jendela agar ada getaran seolah angin.


Penghuni didalam kamar tersebut sudah menyadari ada yang salah. Namun dia tetap tenang saja. Kembali suara-suara aneh terdengar. Kali ini ada aroma menyan dan bunga kantil.


"Aduh apa kamar ini berhantu"


Pikir orang yang berada didalam kamar. Dia menghentikan sejenak kegiatannya. Mengambil apa saja yang berada didalam kamar tersebut. Perlahan dia mendekati pintu balkon. Mengintip sedikit dari balik tirai. Dengan tekad kuat dia memberanikan diri membuka pintu balkon tersebut.


"Huahhhhhh. Bugh bugh bugh"


"Ampun woy sakit bang. Aduh sakit"


Melihat Mirza dipukuli menggunakan tongkat, semua mendekat untuk menolong. Betapa terkejutnya mereka melihat orang yang berada didalam kamar Devin.


"Teddy. Loe ngapain disini"


"Pak Arsya. Hmm disuruh pak Devin"


"Jadi kabur beneran dia"


Tak lama Devin melakukan panggilan video kepada sahabatnya itu.


"Gimana hadiah dari gue. Spektakuler kan"


"Kampret emang loe bang. Bengep muka gue"


"Kapok. Makanya jangan usil. Kalian lupa gue siapa"


"Loe dimana bang"


"Indehoy sama bini. Bye"


Devin mematikan panggilannya. Arash langsung menatap Teddy meminta penjelasan.


"Jelaskan"


"Tadi pak Devin menelpon saya. Kebetulan memang saya belum kembali ke apartemen. Pak Devin meminta saya menempati kamar ini. Katanya ada setannya Bu Tisya takut. Saya sebenarnya juga takut. Tapi ancaman pak Devin lebih menakutkan. Jadi saya setuju. Pak Devin kembali ke apartemen miliknya menggunakan mobil saya pak Arash"


"Terus suara aneh tadi apaan"


"Hmmm. Itu saya lagi nonton film drama Korea pak Ghaisan. Karena takut jadi saya kencengin volumenya"


"Bos sama anak buah sama saja. Dah bubar gagal son gagal maning"


Ghaydan mendekati Teddy sebelum kembali ke kamarnya.


"Bilang sama bang Dave. Suruh transfer uang buat Opera plastik. Muka gue loe buat bengep semua gini"


"Maaf pak Atha. Nanti saya sampaikan"


_______


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy Reading