
"Ingat kata-kata gue Vin. Loe gak bakalan bisa merried kalau gak sama gue. Camkan itu"
Kata-kata keramat itu selalu terngiang di kepala Devin Pradipta Alfatir. Kisah percintaannya selalu kandas hingga usianya yang sudah terbilang cukup untuk membina rumah tangga dia masih melajang. Devin sendiri bingung apa yang salah pada dirinya. Secara materi tidak diragukan. Dia penerus Alfatir. Untuk wajah. Samalah dengan aktor China Xu Kei Cheng.
"Kita putus saja Dev. Aku gak yakin hubungan kita akan baik-baik saja nantinya. Sebelum kita melangkah lebih serius lagi. Lebih baik kita akhiri sekarang"
"Kenapa Cinta. Apa salahku. Apa aku menyakiti kamu selama ini"
"Tidak. Kamu tidak pernah menyakitiku Dev. Kamu bahkan terlalu baik padaku. Itu membuatku jenuh Dev. Dan maaf selama ini aku selingkuh"
"Apa. Kamu bohong kan Cinta. Aku gak percaya kamu selingkuh"
"Aku jujur Dev. Sudah hampir enam bulan aku selingkuh"
"Siapa pria itu. Apa lebihnya dia dibandingkan dengan diriku Cinta"
"Dia teman satu kantorku. Dia memang tak memiliki harta yang banyak. Tapi dia tau apa yang ku mau. Dan kamu tak bisa memberikan itu"
"Apa yang tidak bisa aku berikan padamu"
"Waktu dan sentuhan"
"Sentuhan. Jangan kamu bilang jika kamu bersamanya sudah melalui hubungan diatas kewajaran Cinta"
"Aku tau batasnya. Tapi setidaknya dia tahu apa yang aku butuhkan disaat aku sedih dan butuh dukungan. Bukan hanya sekedar perkataan yang menenangkan"
"Pelukan. Itukah yang kamu mau"
"Ya. Selama kita berpacaran. Tanganku pun selalu kamu singkirkan jika aku memegang tanganmu. Kita berjalan seperti orang biasa bukan pasangan kekasih"
"Maaf Cinta. Aku takut jika aku menyentuhmu aku akan bertindak berlebihan. Sedangkan kita belum halal"
"Kamu terlalu kolod. Lebih baik kamu jangan berpacaran jika berfikir seperti itu. Aku pergi. Kita putus. Dan jangan lagi hubungi aku"
Devin hanya diam menunduk menatap gelas dihadapannya. Dia bukannya menyesal diputuskan. Dia hanya bingung. Harus bagaimana mencari pasangan.
"Ini sudah yang ke seratus dua puluh. Dan gue diputusin lagi. Huh"
Selalu saja ada alasan para wanita memutuskan Devin. Ada yang berkata Devin terlalu pelit dan juga Devin terlalu kaku. Setiap putus Devin selalu menghitung urutan mereka. Hingga Devin lelah tidak mau lagi mencari kekasih. Dia hanya menunggu takdir mempertemukan jodohnya.
"Bang kenapa tuh muka"
"Biasa ky"
"Diputusin lagi bang"
"Seperti itu"
"Hahaha. Mau sampai kapan sih bang gini melulu. Gak malu apa sama si kembar dan ghaydan yang sudah beranak"
"Pengen sih gitu. Tapi belum ada yang nyantol"
"Mau gue cariin calon bang"
"Hm ntarlah ky. Gue mau menenangkan diri dulu. Gue pengen nikmatin masa jomblo"
"Ya udahlah lagian gue sama Ichan juga belum merried kok. Ada kawanlah. Hahaha"
"Hahaha iya bener. Loe tumben ke kantor gue, ada apa ky"
"Biasa bos besar minta antar berkas ini buat loe bang"
"Mana coba gue lihat"
Rizky memberikan beberapa dokumen dari Arsya untuk Devin. Mereka memang ada beberapa kerjasama. Tak jarang Devin juga mengunjungi kantor si kembar. Bahkan para karyawan si kembar semua selalu mencoba mencari perhatian pria tampan itu.
Hari-hari Devin memang dihabiskan untuk bekerja dan juga bermain game. Dia menghilangkan jenuh dengan bermain game online. Setelah Bintang mewariskan perusahaan Alfatir untuk dirinya, Devin melanjutkan dan membuatnya semakin berkembang. Devin memiliki sepasang adik. Adik lelakinya masih duduk di bangku kuliah bernama Alea Inara Alfatir dan Adik lelakinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Bernama Danish Pradipta Alfatir.
Alea sering menjadi pasangan Devin setiap menghadiri acara. Dia tidak pernah membawa kekasihnya menghadiri acara resmi. Karena selalu menjaga nama baik keluarga. Identitas Alea sendiri disamarkan. Bukan bermaksud buruk hanya melindungi seorang princess berharga dikeluarga Pradipta Alfatir.
Setiap Devin membawa Alea, mereka selalu mengira itu adalah pasangan Devin. Dengan demikian Devin terbebas dari serangan para wanita yang ingin mengejarnya. Sikap Devin yang seperti itu membuat para kekasihnya marah. Karena mereka merasa tak dianggap oleh Devin.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Sudah pulang bang"
"Sudah mah"
"Mandi dulu sana. Nanti kita makan malam bersama"
"Papa sudah pulang mah"
"Sudah sejak sore tadi bang"
"Adek kemana mah"
"Adek-adek kamu ada dikamar mereka"
"Ya sudah Dev mandi dulu mah"
"Iya bang"
Begitulah Devin setiap pulang kerja. Dia selalu mengabsen satu persatu keluarganya. Jika salah satu dari mereka belum ada dirumah, Devin langsung mencari tahu keberadaan mereka. Terutama adek-adek kesayangannya.
"Lea panggil Abang buat makan malam sayang"
"Emang Abang udah pulang mah"
"Udah dari tadi"
"Oh kirain Lea Abang lembur lagi"
"Nggak sayang. Sudah sana kamu panggil"
"Baik mah"
tok tok
"Abang"
"Ya dek. Masuk aja"
Ale membuka pintu kamar abangnya. Dia melihat sang Abang sedang merebahkan tubuhnya diatas ranjang sambil memainkan ponsel. Alea langsung naik keatas ranjang Devin dan duduk disampingnya.
"Ayo turun makan bareng"
"Oh udah mau makan ya. Ya udah yuk"
"Abang kok mukanya sedih gitu. Putus lagi"
"Yah begitulah"
"Kenapa lagi alasannya"
"Gak pernah disentuh"
"Jablay banget sih. Harusnya bersyukur gak disentuh sembarangan. Eh malah diputusin. Tapi Alhamdulillah Lea kan gak suka sama kak Cinta"
"Udahlah gak usah bahas lagi. Kita makan yuk. Abang laper banget"
"Ya udah yuk"
Devin merangkul pundak Alea dan mereka berjalan menuju ruang makan sambil bercanda. Bintang dan Andini tersenyum melihat anak-anak mereka yang sangat akur.
"Bang malam ini kita main yuk"
"Boleh. Berapa ronde"
"Tiga kayak biasanya"
"Besok kamu kesiangan dek sekolahnya"
"Besok Danish libur bang"
"Besok belum weekend Danish dan bukan tanggal merah"
"Besok guru disekolah danish ada rapat persiapan olimpiade sains bang"
"Oh gitu. Kamu ikut"
"Iya Danish ikut"
"Kenapa gak belajar malah ngajak war"
"Refreshing lah bang bentaran. Sebelum Danish kembali makan buku"
"Hahaha. Kamu nish. Ya sudah tapi sekali ini aja ya. Besok fokus lagi belajarnya"
"Asyiap bos"
Mereka menikmati makan malam dengan kehangatan. Bintang dan Andini lebih banyak menyimak dibandingkan ikut berbicara jika ada Devin dirumah.
"Dev. Ayah mau ngomong bentar"
"Ya yah"
"Ikut ayah bentar ke ruang kerja"
"Baik yah"
Devin mengikuti Bintang masuk kedalam ruangan kerjanya. Ruangan yang cukup luas dengan perpustakaan pribadi didalamnya.
"Dev berapa usia kamu sekarang nak"
"Dua puluh sembilan yah"
"Terus kapan kamu mengenalkan calon istri kepada ayah"
"Nanti yah. Devin belum nemu yang cocok"
"Kamu gak mencari gimana mau ketemu"
"Nyari sih sering. Tapi selalu kandas"
"Huh. Apa perlu ayah carikan"
"Jangan dulu yah"
"Ya sudah ayah akan memberimu waktu dua bulan. Dalam waktu dua bulan kamu belum mendapat jodoh. Ayah akan menantikan untuk kamu. Dan kamu tidak boleh menolak"
"Baik ayah"
"Ya sudah temani Danish bermain. Sepertinya dia merindukan kamu"
"Ya ayah"
Devin Pradipta Alfatir
_________
Othor lanjut bang Dev aja ya....
Jangan lupa jempolnya gaesss
Happy reading