
"Maaf pak Ghaisan"
"Ada apa Mal"
"Ini pak proposal permintaan kerjasama dari Kusuma Grup"
Ichan meletakkan penanya dan menatap sang sekretaris. Yang sudah mulai gemetar.
"Mala. Kamu kerja jadi sekretaris saya berapa lama"
"Ti. Tiga tahun pak"
"Apa selama tiga tahun kemampuan kamu sudah menurun drastis Mala"
"Maaf atas kesalahan saya pak"
"Kamu tau apa yang harus kamu lakukan Kumala"
"Baik pak. Segera saya lakukan. Tapi maaf pak. Wijaya grup atas rekomendasi dari tuan besar"
"Ck. Kumalaaaa"
"Baik-baik pak"
Kumala langsung bergegas keluar dari ruangan Ghaisan. Menjadi sekretaris Ghaisan selama tiga tahun, tidaklah mudah. Ghaisan yang sangat dingin dan jutek, setiap perkataannya pun mutlak. Tak boleh ada bantahan.
Kumala adalah sekretaris ketiga Ghaisan. Setelah dua sekretaris sebelumnya mengundurkan diri karena tak sanggup dengan sikap Ghaisan.
"Ganteng-ganteng jutek amat. Pantes jomblo"
Begitulah Kumala, jika sedang kesal dengan tingkah Ghaisan. Mungkin Kumala juga akan menyerah, andai saja dia tidak memiliki tanggung jawab kepada putri semata wayangnya. Sang suami sudah meninggal karena kecelakaan.
"Kumalaaaa"
Teriakan Ghaisan dari dalam ruangan memecahkan konsentrasinya yang sedang menyusun jadwal Ghaisan esok hari.
"Kenapa lagi tuh singa jomblo. Teriak melulu kayak Tarzan"
Kumala berjalan menuju ruangan Ghaisan. Setelah mengetuk pintu, dia masuk kedalam ruangan itu. Terlihat wajah Ghaisan sudah sangat menakutkan.
"Apa ini Kumala. Laporan macam apa ini"
Ghaisan melemparkan map berwarna biru kehadapan Kumala. Map itu milik bagian keuangan yang harus saja direvisi untuk keempat kalinya.
"Maaf pak"
"Panggil orang yang membuat laporan itu. Bisa kerja tidak dia. Macam anak TK saja membuat laporan"
"Baik pak"
Kumala membawa laporan tersebut keruangannya. Dia mencoba memeriksa kembali laporan tersebut. Beberapa coretan pena berwarna merah terlihat jelas disana. Kumala mencoba menghitung kembali. Memang ternyata ada kesalahan dalam hitungan.
"Cari mati aja nih anak. Gak kapok apa setiap saat kena semprot macan jomblo"
Kumala langsung menghubungi bagian keuangan. Dan meminta salah seorang staf yang telah membuat laporan tersebut datang ke kantor Ghaisan.
"Selamat siang mbak Mala. Kenapa saya dipanggil lagi"
"Siang. Kamu itu ya langganan cari perkara dengan bos. Lihat laporan kamu yang Minggu lalu kena hadang lagi nih"
"Ya Allah. Apalagi salahnya. Sudah empat kali direvisi ini"
"Makanya kalau menghitung diulang dan diperhatikan lagi Arumi. Sudah tau punya bos galaknya minta ampun masih saja kamu ngulah"
"Coba mana saya lihat mbak laporan yang salah"
Kumala menyerahkan map biru tadi. Arumi membuka perhalaman dan kembali memeriksanya. Kaget dan kesal menjadi satu. Bagaimana tidak. Semua angka yang diganti oleh Ghaisan, adalah angka hasil hitungan pertamanya.
"Mbak. Ini kan hasil hitungan pertamaku kemarin"
"Masa. Apa kamu yakin"
"Yakin mbak. Saya masih simpan semua salinan laporan ini"
"Ya sudah coba kamu ambil, dan bawa kesini saja Rumi. Kamu jelaskan sama si bos"
"Baik mbak. Rumi balik ruangan dulu. Rumi masih nyimpan file ini kok"
"Sana buruan. Mumpung tuh singa belum ngamuk"
"Ya mbak"
Arumi mencoba berlari menuju ruangannya. Saat didepan lift, Arumi terjatuh. Lututnya terluka. Beberapa karyawan yang melihat langsung menolong Arumi. Salah satunya Andi. Teman satu divisi Arumi yang merupakan mantan kekasih Arumi.
"Loe gapapa kan rum"
"Makasih kak sudah nolong Rumi. Tapi maaf. Rumi buru-buru"
Arumi selalu menghindari Andi. Arumi tak mau kembali mengulang masa lalu. Baginya yang berlalu sudah berlalu. Saat ini Andi hanyalah teman satu divisinya tak lebih. Walaupun Andi selalu saja mencari. Ara agar bisa kembali dengan Arumi, namun Arumi selalu berhasil mengelak.
"Kamu tumben lari-lari rum. Ada apa"
"Gapapa kak. Maaf. Arumi duluan"
Arumi langsung masuk kedalam lift yang akan mbawanya turun ke lantai tiga. Dimana letak ruangan bagian keuangan berada. Arumi bergegas membuka file dalam komputernya.
"Dimana ya. Gue ingat benar itu file disini"
Saat sedang asik mencari data, Arumi tak menyadari jika lututnya mengeluarkan darah. Beruntung Arumi menggunakan stelan kerja berupa celana panjang.
"Ketemu. Dasar bos galak. Jangan harap kali ini bapak bisa menang debat dengan Arumi"
Arumi mencetak ulang laporan tersebut. Sebelum kembali membawanya keruangan Ghaisan, Arumi mencoba mencocokan dengan laporan yang baru saja Ghaisan koreksi.
"Beres. Saatnya menghadapi bos singa jomblo"
Arumi melangkah dengan penuh percaya diri. Namun rasa pedih dilututnya, baru dia rasakan. Dengan sedikit terpincang-pincang Arumi tetap menuju kandang singa jomblo.
"Mbak Mala"
"Huh, untung loe buruan datang rum. Lima menit lagi pasti tuh singa udah teriak. Gimana beres belum"
"Sudah mbak. Ini lihat saja mbak"
Mala mengambil laporan Arumi yang terbaru. Dan mencoba memeriksanya sebelum dibawa menghadap si singa jomblo.
"Iya loe bener rum. Kayaknya emang si bos perlu dibawa kedokter mata ini rum"
"Hihihi awas loh mbak Mala. Kalau nanti dengar bisa berabe"
"Ya udah yuk"
Mala sempat melihat kaki Arumi yang terpincang-pincang. Dan ada tanda basah dilutut Arumi.
"Rum kenapa kaki loe"
"Oh. Tadi gak sengaja nubruk tong sampah dekat lift mbak"
"Huh. Kapan sih loe gak ceroboh rum"
"Hehehe. Mbak Mala bisa aja"
Arumi berjalan dibelakang Mala. Sebelum masuk ke kandang singa, mereka menarik nafas sedalam mungkin. Setelah siap, Mala mengetuk pintu ruangan Ghaisan.
tok tok
"Masuk"
"Permisi pak. Ini Arumi staff bagian keuangan yang bapak minta untuk datang"
"Hmm. Sepertinya jarak antara ruangan saya dengan bagian keuangan membutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai"
"Maaf pak. Arumi tadi sempat terjatuh didepan lift"
Mala berusaha mencari alasan yang logis. Jika Mala mengatakan Arumi mengambil data revisi terlebih dahulu. Bisa dipastikan si singa akan semakin mengamuk.
"Mala kembali keruangan kamu"
"Baik pak"
Mala berbalik. Dan memberi ucapan semangat kepada Arumi tanpa bersuara. Arumi membalas dengan agukan kepala. Ghaisan kembali memeriksa laporan Arumi.
"Berapa usia kamu"
"Saya pak"
"Siapa lagi. Memang ada orang lain disini selain kamu"
"Maaf pak. Saya Dua puluh lima tahun"
"Dua puluh lima tahun. Kelakuan kayak bocah. Masih suka jatuh"
Mata Arumi langsung melotot mendengar cemoohan Ghaisan yang begitu merdu.
"Kamu tahu dimana letak kesalahan laporan kamu"
"Tahu pak"
"Apa kamu tidak lulus TK. Sehingga berhitung saja salah"
"Maaf pak. Tapi itu sudah sesuai dengan arahan bapak"
"Jadi maksud kamu, saya yang salah"
"Tidak pak"
Melihat jarak Arumi yang begitu jauh, Ghaisan meminta Arumi mendekat. Arumi berjalan dengan tertunduk dan terpincang-pincang. Ghaisan tersenyum mengejek namun tanpa diketahui Arumi.
"Apa saya sangat menakutkan. Hingga kamu berdiri begitu jauh"
"Maaf pak. Saya jaga jarak aman. Huft"
"Apaaa. Kamu maju sini"
"Iya pak. Iya pak maaf"
Arumi sudah berada tepat dihadapan Ghaisan. Ghaisan memutar laporan Arumi. Dan menunjukkan letak kesalahannya.
"Kamu lihat ini. Jika seperti ini. Saya bisa bangkrut"
"Ini juga. Masa berhitung seperti ini kamu tidak bisa. Apa perlu saya kembalikan kamu ke TK lagi"
"Maaf pak. Tidak perlu"
"Kalau tidak perlu, mana tanggungjawab kamu"
"Saya sudah memperbaikinya pak. Ada dilampiran belakang"
Ghaisan kembali memutar laporan tersebut mengarah kepadanya. Dan melihat laporan yang dimaksud Arumi.
"Ini benar. Kenapa tadi bisa salah"
Arumi sedikit bergumam. Namun ternyata pendengaran Ghaisan sangatlah tajam.
"Mata bapak saja yang minus. Laporan itu pertama kali gue bikin. Baru sadar pak"
"Kamu bilang apa"
"Tidak pak. Saya tidak mengatakan apa-apa"
"Telinga saya tidak tuli. Berani kamu mengumpat saya"
"Saya gak berani pak. Sungguh"
"Ya sudah. Kamu kembali keruangan. Laporan ini saya terima"
"Terimakasih pak. Saya permisi"
"Hmm"
Ghaisan kembali melihat cara jalan Arumi. Lalu Ghaisan mengingatkan suatu hal pada Arumi.
"Jalan pakai mata. Jangan sampai ada berita. Karyawan Mahendra Corp menjadi korban dikantornya sendiri"
"Baik pak"
Mr. Jutek....
______
Si dakocan mencari cinta nih gaesss...
Jangan lupa jempolnya gaesss
Happy reading