
"Sial banget hidup gue. Kenapa harus ketemu jelmaan dedemit macam jailangkung. Sebel sebel sebel"
Chila berteriak kesal didalam kamarnya. Dia baru saja pulang dari kantor dan langsung melempar tasnya. Kebetulan Arash yang juga baru sampai di rumah melewati kamar Chila dan mendengar teriakan langsung mengetuk pintu kamar sang adik.
"Ada apa honey. Kenapa berteriak"
"Abang bisa gak sih kerjasama di kantor si jailangkung diakhiri"
"Kenapa memangnya honey"
"Semakin menjadi dia bang"
"Maksudnya gimana, Abang gak paham"
"Pokoknya ngeselin bangettttt. Rasanya pengen Chila tendang sampai patah kakinya"
"Ada masalah apalagi sih"
Chila menghela nafasnya. Dan mulai bercerita dia duduk diatas ranjang sedangkan Arash mengambil kursi dan duduk didepannya.
Alkisah.....
Sudah satu Minggu ini Bagas mengerjai Chila. Dia memanfaatkan bakat Chila dengan sangat efektif, saking efektifnya Chila hanya berada dikantor Bagas seharian dan lebih banyak diruangan Bagas.
Ada saja cara Bagas menahan Chila untuk tetap berada disamping dirinya. Bahkan Jimmy hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd bos sekaligus sahabatnya itu.
"Maaf pak Putra saya mau merubah interior ruangan bapak seperti apa lagi ini"
"Pokoknya saya nyaman baru boleh kamu pindah ruangan"
"Tapi pak ini sudah lima kali saya rubah dan semua tetap seperti apa yang saya sarankan. Bapak gak berniat mengerjai saya kan"
"Perasaan kamu saja itu sayang"
"Stop panggil saya sayang pak Putra yang terhormat"
"Baiklah My baby"
"Dasar sinting"
"Jangan marah-marah terus baby. Bikin aku gemes pengen nyium"
"Sabar. Sabar. Ingat Chila yang loe hadapi orang sinting jadi jangan ikut sinting"
Arsyila bergumam pelan namun dia tidak menyadari Bagas sudah berdiri didekatnya dan mendengarkan apa yang baru saja dia katakan.
"Aku sinting karena mencintai kamu sayang"
Chila menengok beruntung masih berjarak jika tidak sudah dipastikan Bagas mencium pelipisnya. Chila yang kaget langsung berlonjak menjauh.
"Awas ya loe macam-macam sama gue. Gue patahin leher loe"
"Baby jangan kasar-kasar gitu dong. Kalem dikit kenapa"
"Dasar jailangkung kampret"
Karena tak tahan dari tadi Bagas yang menggodanya. Chila pun mengingatnya. Bagas bukan marah tapi tertawa mendengar umpatan Chila untunknya.
"Hahaha. Kamu benar-benar menggemaskan sayang"
Saat Chila akan kembali marah, pintu ruangan Bagas diketuk oleh Jimmy. Dia membawakan pesanan Bagas. Chila yang sempat emosi duduk disofa sambil memainkan ponselnya untuk mengatur emosi sesaat.
Tok tok
"Masuk"
"Pak pesanan anda sudah datang"
"Bawa masuk"
Ada tiga orang masuk dan salah satunya adalah Jimmy yang membawa box makanan. Kedua orang yang masuk sebelum Jimmy membawa barang yang cukup besar dan tertutup kertas. Jika dilihat dari bentuknya adalah bingkai foto.
"Tolong letakan hati-hati"
"Baik pak"
Setelah menaruh pesanan Bagas, ketiga orang itu keluar dari ruangan Bagas. Bagas membuka box makanan yang sudah dipesannya melalui Jimmy.
"Makan yuk. Nanti lagi marah-marahnya. Makan dulu marah juga butuh tenaga"
Tanpa menanggapi perkataan Bagas. Chila yang memang sudah lapar langsung mengambil box miliknya. Tak ada kata gengsi untuk Chila. Jika gengsi membuat lapar buat apa gengsi.
Bagas tersenyum melihat Chila makan dengan lahap. Usai makan Bagas mengajak Chila menunaikan kewajiban sebagai seorang umat. Chila yang memang diajari sejak kecil apa kewajiban utamanya sebagai seorang umat, dia pun tak menolak.
"Bentar deh kayaknya ada yang salah deh"
"Apa yang salah baby"
"Ngapain loe nyuruh gue nyium tangan loe"
"Gak ada. Aku juga gak nyuruh kamu nyium tanganku baby. Kamu sendiri yang menyambut dan mencium telapak tanganku baby"
Bagas tersenyum bahagia. Sedangkan Chila langsung memukul jidatnya sendiri.
"Bego kebiasan dirumah loe bawa sih chil"
"Eh baby jangan dipukul jidatnya sini aku cium. Tadi kan harusnya saat kamu nyium tanganku aku nyium jidat kamu. Biar berasa suami istri beneran"
"Ngimpi loe. Dan sorry gue khilaf itu kebiasaan gue kalau sholat dirumah"
"It's oke baby, asal itu hanya denganku saja. Tapi jika sampai ada pria lain yang mendapatkan hal yang sama. Kupastikan tangan itu aku potong"
"Serem amat. Lagian itu hanya kesalahan tanpa gue sengaja. Ngebayangin aja gue gak mau. Gue harus nyuci bibir gue uda gak suci"
"No baby. Biarkan saja sebagai permulaan. Nanti jika tiba saatnya bibir itu akan menciumku secara ikhlas tak hanya ditelapak tangan ini sayang"
Bagas tersenyum menyeringai. Sedangkan chila memperagakan gaya orang muntah didepan Bagas. Bagas tertawa melihat kelakuan Chila itu. Tanpa sengaja Chila menabrak bingkai foto yang masih terbungkus kertas berwarna putih. Kertas itu sedikit terkoyak bagian pinggir. Nampak wajah Bagas disana sedang menunduk.
Bagas yang melihat bingkai itu terkoyak bukannya marah, namun malah semakin menunjukkan isi bingkai tersebut. Hal itu yang membuat Chila mengamuk.
"Ternyata pujaan hatiku ini sudah tidak sabar melihat apa dibalik kertas putih itu"
"Gak gue gak penasaran hanya tidak sengaja saja tadi sedikit menyenggol dan koyak"
"Tak apa baby jika kamu sengaja membukanya. Karena aku tak mau ada yang ditutupi diantara kita"
"Bodo"
Chila cuek hendak berlalu namun mendengar suara kertas disobek membuatnya berbalik karena penasaran.
krek krek
Terpampang sudah foto yang begitu indah dihadapan mereka berdua. Bagas tersenyum puas tapi tidak untuk Chila.
"Bagaimana baby. Ini bagus bukan untuk aku pajang didalam ruangan ini, bahkan aku sudah membuat satu untuk ruang tamu rumah kita dan juga kamar tidur kita"
"Dasar sinting. Loe nantangin gue beneran. Loe hancurin bingkai itu atau gue yang akan hancurin"
"Calm down baby. Ini foto pernikahan kita sayang. Aku tak akan menghancurkannya tapi akan menambah lebih banyak jika kamu berani menghancurkan yang ini. Bahkan aku akan mengirim ke keluarga Malik"
Chila yang sudah sangat emosi. Langsung mendekati Bagas, tanpa aba-aba dia menendang kaki Bagas dari belakang dan membuat Bagas jatuh namun bertumpu pada lututnya. Chila akan menampar Bagas namun tangannya bisa ditangkap oleh Bagas. Bagas menariknya hingga mereka sama-sama terjatuh chila berada didekapan tubuh Bagas. Lebih tepatnya diatas badannya.
"Kamu ternyata sudah tak sabar untuj memelukku sayang. Akupun juga"
Chila yang dari tadi fokus menatap satu tanda luka milik Bagas tepat dijidatnya. Mengingatkannya pada seseorang. Apalagi mata dan tataoan Bagas seperti sangat familiar baginya.
Chila tak menjawab perkataan Bagas, Chila menggunakan kakinya yang sedang berada tepat ditempat terindah untuk melumpuhkan musuh. Chila menekuk kakinya lalu mendorong maju tepat diaset terindah Bagas. Membuat Bagas mengerang kesakitan bukan kenikmatan yang seperti dia impikan.
Bugh
"Aoooo. Baby kenapa kamu menendang junot. Ishhhh"
"Rasakan tuan mesum. Jailakung mesum. Otak kotor. Menyebalkan"
Jimmy yang sudah dari tadi berdiri didekat pintu untuk meminta tanda tangan. Melihat semua adegan chila dan Bagas bahkan mengabadikan dalam bentuk foto dan video. Chila berdiri tanpa memperdulikan kesakitan Chila.
"Sayang kamu mau kemana. Tanggung jawab sembuhin junot. Ishhh"
"Bodo"
Chila berjalan dengan kesalnya sambil membawa tasnya dan melupakan berkas miliknya karena dia sudah sangat emksi dengan Bagas. Namun chila sempat mendengar teriakan Bagas.
"Dasar Preman Pasar awas loe ya"
Chila berhenti sejenak..
"Ikan buntal. Jelas itu nada ikan buntal"
---------
Mau tanya dong bagusnya identitas bagas terbongkar seperti apa. Dan saat arash nikah apa mereka uda saling kenal atau belum ya....boleh kasih masuka....
jangan lupa jempolnya...
Happy Reading