
Setelah kejadian video viral itu mereda, semua kembali normal. Sudah hampir tiga bulan atha tidak berkumpul dengan sahabatnya. Mereka sekarang berada dikafe ayesha milik malika. Namun tanpa Malika dan Ghaisan yang sedang berada di jerman.
Seperti biasa jika sudah berkumpul hanya ada kegilaan. Mereka akan menjadi diri mereka yang apa adanya. Mereka memanfaatkan waktu berkumpul sebelum arash berangkat ke paris. Sedangkan arsya memang tidak datang karena sedang menjadi hot daddy bagi serkan.
"Wuih pengantin baru mukanya bersinar terus cuy"
"Iya semalam gue habis ganti lampu neon jadi bersinar"
"Loe kata tuh muka neon box"
"Oya tha, tuh video piral kenapa loe hapus sih. Padahal kalian serasi loh hahaha"
"Suek emang loe zha. Emak gue uda kayak kereta listrik merepet dari pagi sampe malam. Bengeng nih telinga"
"Kok bisa sih ada tuh video. Apa jangan-jangan selama ini kalian beneran ihirr"
"Gue tampol juga mulut loe zha. Gue normal gak seperti yang kalian pikirin"
"Apa buktinya kalau loe normal"
"Mau lihat monas gue bangun loe"
"Ogah emang gue apaan. Kalau lihat hutan rimba gue mah mau"
"Terus nasib asisten loe gimana tha"
"Dia sampe diruwat sama emaknya bang dave hahaha. Kemarin pas malam jumat kliwon"
"Sampe segitunya. Bukannya yang kayak gitu gak boleh ya di agama kita mas"
Icha yang merasa baru tau ada hal semacam itu merasa penasaran. Walaupun ada sedikit darah jawa mengalir dalam tubuhnya, namun icha belum pernah bertemu hal seperti itu.
"Gini sayang. Kalau dalam hal agama mas sendiri masih gamang ya. Boleh dilakukan jika tidak melanggar syariat sayang. Tapi kalau kasusnya sony itu karena adat. Ya kita harus menghargai adat mereka sayang"
"Terus caranya gimana tuh ruwatannya mas"
"Tanya atha aja yang. Mas gak tau juga"
"Gimana tuh kak ghay"
"Cha gak enak amat sih panggilan loe ke gue"
"Ya dienakin aja kenapa sih kak. Uda jawab pertanyaan icha malah mengalihkan topik"
"Yang gue lihat sih. Rambut si sony dipitong terus dia dimandiin gitu. Si rambut dikubur. Yang paling gue gak srek ada sesajen gitu"
"Oh gitu. Terus kak ghay juga ikutan diruwat"
"Gak lah. Gue gak mau. Emaknya sony langsung gercep mau nyariin bini haha"
"Loe tha suka banget asisten loe menderita"
"Loe sendiri kapan tha"
"Ntaran lah. Gue masih pengen sendiri dulu. Lagian bang dave aja masih jomblo. Masa gue yang muda nglangkahin yang tua"
"Gak usah bawa-bawa gue napa tha"
"Kita itu sama bang. Sama-sama jomblo tapi berkualitas"
"Iyain ajalah"
"Oya gue ke toilet dulu. Mau ikut gak loe zha"
"Ngapain loe ngajak laki gue ghay"
"Ya sapa tau dia juga mau langsung pembuktian gitu"
"Kayaknya nih anak harus dicariin jodoh sebelum tuh timun dimutilasi ke thailand jadi gua selarong"
"Amit amit. Nyebut zha nyebut. Gue gak serendah itu kali. Dah ah gak tahan gue"
Atha berlari menuju toilet menuntaskan hasrat terpendamnya. Usai dari toilet atha kembali beegabung dengan para sahabatnya. Mereka kembali bercanda. Saat adzan berkumandang mereka langsung bergegas mencari masjid terdekat. Kewajiban sebagai seorang hamba tak pernah mereka tinggalkan.
"Gue balik dulu ya. Mami uda telpon minta jemput nih"
"Ya uda gue juga mau jalan ma bini dulu"
"Yang udah sah mah beda. Capek timggal check in. Ya gak rash"
"Pengen loe. Gue bilangin papi kalau loe pingin"
"Gak ntar aja rash. Gue lagi ngejar hilal gue"
"Sok loe. Kayak hilal loe uda kelihatan aja"
"Kita tunggu tanggal mainnya bro. Bakal gue kasih undangan pernikahan ke kalian"
"Kapan emangnya"
"Nah kapannya itu belum tau hahaha"
"Kampret emang loe tha"
"Da da bye bye. Jangan rindu ya. Karena rindu itu berat"
"Gak akan"
Atha pergi meninggalkan kafe ayesha menjemput sang ratu yang sedang perawatan disebuah salon kecantikan milik sahabatnya. Dengan santai atha melajukan kendaraannya. Menikmati weekendnya dalam kejombloan.
"Ealah tha truk aja gandengan loe kapan mau dapat gandengan"
Atha bermonolog sendiri saat melihat sebuah truk didepannya dengan tulisan unik dibagian belakang. Tak lupa dia mutar musik dangdut kesukaannya. Setelah lima belas menit membelah jalanan yang cukup lengang, atha sampai disebuah salon kecantikan dan juga klinik khusus muslimah.
"Hallo kanjeng mami. Pangeran sudah didepan"
"__"
"Okay bosque"
Setelah memberikan kabar pada maminya atha memilih duduk dikursi tunggu salon itu yang berada diluar ruangan namun sejuk karena ditumbuhi tanaman yang rindang. Saat asyik melihat disekitaran salon itu, atha melihat penjual cilok. Dia memutuskan membeli cilok itu karena maminya masih melakukan perawatan.
"Bang ciloknya sepuluh ribu pedas"
"Ya mas"
Sambil menunggu atha berdiri disamping gerobak sambil berbincang dengan penjual cilok yang sudah cukup berumur.
"Lumayan mas sudah lima tahunan"
"Sebelum jualan dulu kerja apa pak"
"Kerja dibangunan mas. Karena fisik bapak yang sudah tak sekuat dulu, makanya bapak cari pekerjaan lain"
"Berapa anak bapak"
"Tujuh mas"
"Alhamdulillah ya pak. Semoga rejeki bapak makin lancar"
"Makasih mas"
Atha membayar cilok itu tanpa meminta kembalian. Dan berlalu pergi. Saking asyiknya dengan ciloknya atha tanpa sengaja menabrak seseorang.
Bugh
"Astaghfirullah"
"Aduh. Maaf mbk maaf saya gak lihat"
Gadis itu mendongak melihat siapa yang menabraknya baru saja. Dan keduanya sama-sama kaget.
"Loeh mas imam"
"Eh kamu yang waktu itu kan"
"Hehehe masih ingat aja mas"
"Kamu juga masih ingat aja"
"Mas tinggal didekat sini"
"Nggak. Cuma jajan cilok nih"
"Kesini cuma buat jajan"
"Haha gak juga. Sekalian jemput mami lagi nyalon"
"Oh. Gitu"
"Oya kamu tinggal didekat sini"
"Hmmm iya mas gak jauh"
"Oya kita malah belum kenalan ya"
"Hem iya"
"Saya Atha"
"Saya Seila"
"Seila. Kok bisa kebetulan sama sih namanya. Hanya berbeda penampilan saja"
"Ya sudah saya ke sana dulu takut mami uda selesai"
"Ya mas. Saya juga mau pulang. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Sekali lagi maaf"
Gadis itu hanya mengangguk tersenyum. Dia pergi melanjutkan langkahnya. Atha pun sama. Karena sang mami pasti akan berpidato jika dia terlalu lama menunggu.
"Kamu dari mana sih bang"
"Laper beli ini mam. Mami udah selesai"
"Sudah. Oya ini kenalin tante nindi sahabat mami"
"Oh halo tante. Saya atha"
"Ini anak kamu yang kedua fris"
"Gak jeng dia anak pertama aku"
"Katanya namanya ghaydan. Kok ini atha"
"Iya namanya Ghaydan Attallah Septian. Kita biasa manggilnya atha"
"Oalah. Jadi ini yang mau dijodohkan sama seila. Benar-benar tampan"
"Tante bisa saja"
"Oya kamu kesininya telat bang. Seila baru saja pulang kerumahnya"
"Oh ya. Kok atha gak lihat ya mam"
"Mungkin dia lewat jalan lain"
"Oh gitu. Mami pulang yuk"
"Ya sudah ayok. Jeng aku pamit dulu ya"
"Iya makasih loh jeng uda mampir. Kapan-kapan kita jalan bareng jeng".
"Iya atur aja pokoknya jeng"
"Tante atha pamit dulu"
"Iya calon mantu hati-hati ya"
"Calon mantu"
Atha hanya bisa bergumam pelan takut menyinggung perasaan sahabat maminya juga maminya sendiri. Kini atha sedang perjalanan pulang kerumah. Maminya tak henti-hentinya memuji Seila. Sang calin mantu idaman. Sedangkan atha mendengarkan namun pikirannya berada pada gadis yang ditemuinya tadi.
"Kapan bisa bertemu lagi"
_____
Eh mas atha sudah kesemsem...
Jangan lupa jempolll
Happy reading