RashSya Story

RashSya Story
Mr Jutek (Ghaisan Story)



Pak Wijaya kembali ke rumah sakit. Pak Wijaya berniat menemui dokter ahli jantung. Pak Wijaya ingin mengetahui lebih jelas penyakit Aruna. Sedangkan Ghaisan masih menunggu hingga Arumi tersadar.


Pak Wijaya didampingi sang istri serta papa Ghaisan langsung menuju dokter spesialis jantung. Setelah mendapat ijin untuk berkonsultasi, merasa bergegas masuk kedalam ruangan dokter tersebut.


"Selamat siang dok"


"Siang pak. Mari silahkan duduk. Ada yang bisa saya bantu"


"Saya mau meminta tolong dok. Saya mendapatkan surat keterangan dari sebuah rumah sakit mengenai kesehatan putri saya. Saya hanya ingin memperjelas saja mengenai penyakit anak saya"


Pak Wijaya menyerahkan tiga amplop bertuliskan nama sebuah rumah sakit di negara S. Dokter membaca secara seksama. Dokter juga melihat semua hasil foto rontgen jantung Aruna.


"Nona Aruna mengalami kanker jantung pak"


"Apa. Memang ada kanker jantung dok"


"Ada pak. Berawal dari tumor. Bisa jinak bisa ganas. Dan tumor ganas bisa menjadi kanker. Dan itulah yang dialami nona Aruna"


"Innalilahi. Dok, apakah penyakit putri saya ini terjadi baru-baru saja atau sudah lama"


"Bila dilihat dari hasil pemeriksaan dan foto rumah nona Aruna, ini sudah terjadi sejak satu tahun terakhir ini pak. Bisa dilihat semua hasil pemeriksaan nona Aruna"


Dokter menunjukkan foto rontgen pertama Aruna. Disana terlihat adanya benjolan dilapisan pelindung jantung. Dokter juga menjelaskan jika awal penyakit ini memang tidak bisa terdeteksi. Dan menurut pemeriksaan Aruna, penyakit Aruna sudah masuk dalam stadium lanjut.


"Ya Allah pah. Aruna menyimpan ini semua dari kita"


"Iya mah. Anak ini tak pernah berubah. Selalu memendam semua sendiri"


Syamil pun ikut terkejut mendengar penjelasan dokter. Dia tak menyangka jika Aruna benar-benar tangguh dalam menjalani kehidupannya. Setelah mendapat penjelasan dari dokter ahli, mereka berpamitan dan langsung menuju ruangan Arumi.


"Pah mungkin ini yang dimaksud teman Aruna. Aruna kita sudah tidak merasa sakit lagi"


"Iya mah. Bahkan disaat terakhir hidupnya. Kita masih belum menyadari adanya keanehan dari putri kita mah"


Syamil mencoba menenangkan sang besan. Syaqilla pun sama. Dia pun memeluk mama Arumi. Saling menguatkan dan menenangkan. Ghaisan masih belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak ingin Arumi mendengar pembicaraan mereka. Mereka akan mengatakan semua kepada Arumi saat kesehatan Arumi benar-benar sudah pulih total.


.


.


.


Satu Minggu sudah berlalu. Perban Arumi juga sudah dilepas. Arumi masih dalam masa penyesuaian penglihatannya. Arumi mulai bertanya tentang adik kembarnya. Ghaisan selalu beralasan jika Aruna sudah kembali ke negara S. Dan sedang sibuk disana.


"Mas. Aku kangen Runa"


"Iya sayang. Nanti kita jenguk Aruna"


"Tapi semalam Aruna masuk kedalam mimpiku mas. Dia bilang, jangan sedih aku ada dihati dan penglihatan mu. Maksudnya apa ya mas"


"Mungkin Aruna pengen kamu gak terlalu khawatir sama dia sayang. Dia pengen kamu sembuh dulu"


"Iya juga ya mas. Rasanya aku pengen meluk Aruna sekarang"


Ghaisan mencoba mengalihkan pembicaraan mereka agar Arumi bisa melupakan Aruna sejenak saja.


"Sekarang peluk aku dulu saja sayang. Nanti baru peluk Aruna. Gimana"


"Beda dong mas rasanya"


"Ya jelas beda sayang. Tapi kan yang penting sama-sama pelukan. Udah halal ini"


"Eh iya juga ya. Kok Rumi baru sadar kalau mas sudah halalin Rumi. Hahaha"


"Hadeh bahaya ini kalau gak sadar-sadar"


"Kenapa emangnya mas"


"Malam pertamanya semakin lama dong. Hahaha"


"Ih mas kok bahas itu sih"


"Ya gapapa lah. Sudah halal ini gak masalah. Gak ada yang tabu"


"Baru tau Rumi, kalau suami jutek Rumi ini mesum banget"


"Yang dimesumin istri sediri halal sayang"


Mereka terus bercerita hal-hal yang seru. Tak terasa Arumi mengantuk karena pengaruh obat. Saat Arumi tidur, Azzam datang untuk menjenguk kakak iparnya juga membawakan makanan dan pakaian sang Abang.


"Assalamualaikum bang"


"Waalaikumsalam zam. Udah datang loe"


"Iya. Nih makan dulu bang"


"Makasih. Gimana perusahaan"


"Aman terkendali bang"


"Syukurlah"


"Bang. Gue ada kabar mengenai kecelakaan kak Rumi dan kak Runa"


"Mobil kak Runa mengalami rem blong. Dan ada indikasi disengaja"


"Loe yakin zam"


"Ada bukti CCTV. Dan gue sudah dapat orangnya"


"Dimana orang itu"


"Kantor Polisi. Dan loe tau gak bang saat gue tanya apa motifnya, dia bilang dia hanya suruhan. Dan dendam pribadi"


"Dendam pribadi. Apa papa Wijaya punya musuh"


"Gue belum selesai kali bang"


"Oh. Lanjutkan"


"Gue sudah meminta orang buat nyari biang keroknya. Dan Alhamdulillah sudah gue temui"


"Siapa dalangnya zam"


"Thomas Adiguna. Anak pengusaha Negara S. Mantan kekasih Aruna"


"Hah. Kok bisa"


"Thomas dendam dan sakit hati karena Aruna memutuskan secara sepihak. Bahkan Aruna mengatakan dia akan segera menikah dengan orang lain"


"Jadi Runa pakai alasan pernikahan gue dan Rumi buat mutusin Thomas"


"Yap betul bang"


"Orang gila. Gak mikir apa ada dua nyawa disana"


"Faktanya Thomas tidak tahu jika Aruna memiliki saudara kembar"


"Hah. Berapa lama mereka pacaran. Sampai gak tau Aruna punya kembaran"


"Empat tahun. Dan selama itu Aruna selalu menutupi keberadaan Arumi"


"Gue mau ketemu Thomas zam"


"Boleh bang. Besok kita bisa ketemu dia"


"Oh ya, Azzam sudah memberitahu om Wijaya"


"Iya gapapa"


Azzam menemani Ghaisan yang saat ini sedang memeriksa beberapa laporan dan membubuhkan tanda tangan dalam laporan tersebut. Sebelum makan siang, Azzam kembali ke kantor. Azzam saat ini harus bekerja ekstra karena menangani dua perusahaan sekaligus. Beruntung Kumala sangat cakap dalam menjadi asisten Ghaisan.


Seperti janji Azzam, hari ini Ghaisan akan menemui Thomas. Dua hari yang lalu Ghaisan sudah diberitahu fakta tentang Aruna. Ghaisan akan memberitahukan kebenaran itu kepada Thomas. Papa wijaya awalnya akan ikut, namun Ghaisan meminta papa mertuanya untuk menemani Arumi.


Azzam dan Ghaisan sudah tiba dikantor polisi. Setelah mendapat ijin dari petugas yang sedang berjaga, Ghaisan dan Azzam menunggu diruangan yang sudah disediakan. Tak lama Thomas dibawa keluar oleh dua orang petugas.


"Selamat siang tuan Thomas Adiguna. Perkenalkan saya Ghaisan Mahendra"


"Ghaisan Mahendra. Ada urusan apa anda datang kemari. Saya merasa tidak pernah berbuat salah kepada anda"


"Ada. Anda sudah mengusik keluarga saya hingga membuat nyawa adik ipar saya meninggal dunia"


"Apa maksud anda. Saya tidak paham"


Ghaisan menjelaskan secara detail. Thomas diam mematung setelah tahu penyebab Aruna memutuskan hubungan mereka. Ghaisan meletakkan semua bukti akurat tentang penyakit Aruna dihadapan Thomas. Thomas semakin terpuruk. Dia menangis dan terus meneriaki nama Aruna.


"Arunnnnaaaaaa"


"Tak ada lagi yang bisa anda sesali semua sudah terlambat. Tolong doakan Aruna"


Ghaisan hendak pergi meninggalkan ruangan tersebut, namun Thomas mencekal lengan Ghaisan.


"Dimana Aruna dimakamkan"


"Masih dikota ini"


"Bisa bantu saya untuk mendatangi makam Aruna, sebelum saya dideportasi"


"Bisa. Saya akan berusaha meminta ijin kepada petugas agar anda bisa mengunjungi makam Aruna"


"Terimakasih tuan Ghaisan. Terimakasih. Dan maafkan saya. Karena kebodohan saya, anda harus ikut menderita"


"Sudahlah. Semua sudah terjadi. Saya pamit. Selamat siang"


Ghaisan melangkah pergi. Dia sempat menghubungi pengacaranya untuk membantu Thomas, agar bisa berziarah ke makam Aruna


______


Dah ya...takut tisu habis....


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading