
"Ayah hari ini buna gak masuk kerja dulu ya"
"Buna kenapa. Kok lemes"
"Sok gak tau. Aku begini juga karena siapa. Lagi enak-enaknya mimpi digangguin"
"Siapa suruh gak tanggung jawab. Bisa bangunin harus mau nidurin dong"
"Tau ah"
"Sayangnya akuh. Ini max gak kamu kasih baju. Gak takut dia nanti masuk angin"
"Tadi kayaknya uda aku kasih yang warna pink deh"
"Nggak sekalian yang berenda-renda sayang"
"Boleh tuh lucu kali max dipakein baju berenda-renda ada pitanya"
"Iya habis itu aku ganti nama Rashi"
"Boleh-boleh"
Arash membuka pintu lemari yang menyimpan pakaian dalam. Sesuatu membuat arash penasaran. Karena dia tau betul seperti apa istrinya.
"Buna. Buna belum kedatangan polisi merah ya"
"Masa sih. Bentar buna lihat jadwal"
"Ini roti terbang buna masih utuh. Dan kayaknya bulan ini buna gak nitip ke ayah roti terbang"
"Ya Allah. Yah ini kalau jadi gimana"
"Beneran. Alhamdulillah setelah penentian yang lama. Kecebongnya berhasil"
"Yakin banget sih. Di tes aja belum"
"Ya udah sana dicek buna. Masih ada gak alatnya"
"Bentar kayaknya dilaci masih nyimpen"
Icha membuka laci dalam lemari yang biasa dia gunakan untuk menyimpan barang-barang penting miliknya.
"Yah udah habis yah"
"Ya uda ayah beliin bentar. Buna istirahat aja"
Arash langsung keluar kamar dengan sedikit terburu. Ditangga dia bertemu Almeer.
"Ayah mau kemana"
"Mau ke apotek al"
"Buna mana kok gak kelihatan"
"Buna istirahat dikamar"
"Buna sakit"
"Buk.."
Belum selesai menjawab, almeer langsung berlari kekamr orangtuanya. Tanpa mengetuk pintu,almeer langsung saja menerobos masuk.
"Buna. Buna sakit. Mana yang sakit buna. Bilang sama al. Kenapa bisa sakit buna"
"Al sayang. Buna gapapa. Buna cuma lelah saja"
"Buna sini al pijitin. Buna gak noleh sakit nanti al gak ada yang nganter ke sekolah. Huaaah bun buna sembuh dong"
"He jagoan kok nangis hahaha"
"Jagoan juga manusia buna. Punya hati punya rasa"
"Udah jangan nangis buna gapapa kok. Al kok belum berangkat sekolah"
"Al gak mau sekolah. Al mau jaga buna"
"Buna gak suka kalau anak buna bolos sekolah. Dan seingat buna sore nanti kamu ada les kan"
"Sehari saja gak masuk gak bikin al bodoh buna. Buna lupa anak buna jenius"
"Tau buna. Tapi gak ada gunanya jenius kalau perilakunya tidak baik"
"Sekali buna plisss"
"No. Kalau al gak mau sekolah, buna ngambek gak mau ngomong sama al"
"Huaaaaahh gak mau. Buna jangan ngambek. Al gak mau buna ngambek. Hancur hati al"
"Lebay"
Arash yang baru saja pulang dari apotek hanya tepuk jidat mendengar ucapan anak lelakinya itu.
"Al sudah ditunggu kak meera sama abang serkan dibawah"
"Iya ayah"
"Ya sudah sana berangkat al"
"Buna al berangkat dulu. Buna jangan marah lagi sama al. Al gak akan tenang kalau buna marah"
"Iya buna gak marah. Sekolah yang rajin ya"
"Love buna. Jangan sakit"
"Love too son"
Setelah berpamitan kepada kedua orangtuanya al melangkah keluar. Namun kembali lagi masuk ke kamar orangtuanya.
"Bener nih ikhlas al sekolah"
"Ikhlas boy"
"Ya udah"
Arash dan icha saling menatap lalu sama-sama mwngakat bahunya. Belum genap dua menit almeer kembali masuk kedalam kamar orangtuanya.
"Yakin kan ini. Gak nyesel almeer tinggal"
Dengan geram Icha pun berteriak. Almeerpun lari hingga tanpa sengaja bertabrakan dengan opanya.
"Almeer Raize minggat kamu sekarang juga"
Bruk
"Astaghfirullah opa kenapa berdiri disnini sih. Mau gantiin tiang rumah"
"Dasar cucu tengil. Bukannya nolongin malah nyalahin"
"Opa kan uda gede, tua lagi. Kalau jatuh bangun sendiri bisa kan. Al uda telat ini. Assalamualaikum ya ahli surga"
"Al kamu doain opa cepet meninggal"
"Semua yang hidup pasti mati opa. Love u opa"
Almeer menjawab sambil berlari kencang. Jay yang kesal terus menggerutu karena ulah cucunya itu.
"Dasar cucu sontoloyo. Kenapa bentukannya jadi kayak gini sih"
"Kenapa ngomel aja jay. Kenapa megangi bemper kamu. Takut apa tuh bemper tepos"
"Sakit ini pah gara-gara si al"
"Kenapa lagi tuh anak"
"Lari dari atas langsung nubruk aja. Dah gitu ditinggalin tanpa ditolong"
"Hahaha. Sebenarnya papa heran. Papa kira anak-anak si kembar gak oleng. Ini lebih dari ambyar. Ancurrr"
"Walaupun ancur otak mereka tak tertandingi"
"Cerdas dan licik"
"Betul sekali. Ini ngomong-ngomong si anak songong belum kelihatan buntutnya"
"Kamu jay kalau buntutnya dilihatin terus dicaplok sama eneng bisa bahaya"
"Pah. Kenapa jay merasa papa semakin tua semakin mesum ya"
"Biasa aja. Mungkin lebih tepatnya semakin tua semakin merunduk kayak padi"
"Iyalah merunduk. Mana mungkin bisa tegak lagi uda uzur"
"Kampret emang kamu jay"
Tak lama Arash turun dan mengatakan akan mentraktir makan malam keluarga. Dia akan mengumumkan berita bahagia.
Disekolah seperti biasa si kembar dan Serkan adalah idola. Jika serkan nampak jual mahal kepada wanita, Al sebaliknya dia sangat ramah.
"Al kamu sore nanti les kan. Gue mau nitip absen"
"Gak bang. Al mau pulang cepat, buna sakit"
"Apa buna sakit. Kok kakak gak tau"
"Gimana kakak mau tau. Tiap pagi pegangnya cuma ponsel. Hai gaesss ketemu lagi sama meera yang kayak semut item"
"Dasar adek kampret"
"Kalau gue kampret loe gak ada bedanya. Ingat kita satu pabrik dan satu bahan baku"
"Hahaha bener tuh kata al. Loe tuh punya darah yang sama kayak al. Cuma abang heran aja harusnya sifat cuek itu ke al. Tapi kalian terbalik al lemes loe kulkas"
"Kalau kata al sih.Waktu pembagian watak malaikatnya agak ngantuk bang jadi ketuker"
"Sa ae loe kampret"
Ada beberapa siswa perempuan membawa snack dan hadiah untuk Al dan Serkan. Dan hanya Al yang selalu menanggapi ramah mereka. Lebih tepatnya lemes.
"Hai Al. Hai kak Serkan"
"Hai cantik. Wah mimpi apa gue semalam ketemu wanita secantik loe"
Memang mereka masih sekolah dasar, namun mereka terkena efek anak jaman now. Kecil-kecil pandai bermain kata.
"Ah al bisa aja"
"Beneran gue mah. Loe itu cantik. Gak mungkin gue ngomong loe ganteng hahaha"
"Receh amat"
"Jijik gue"
Meera dan Serkan mencibir Al yang merayu para siswi itu. Bahkan keduanya tak menggubris kelakuan Almeer.
"Eits jangan pegang-pegang. Kita bukan muhrim haram hukumnya"
Al selalu menolak disentuh perempuan kecuali keluarganya. Dia pandai merayu namun tak mudah disentuh.
"Lah itu loe nempel-nempel sama meera"
"Bedalah. Dia kembaran gue. Dari biji bunga matahari kita uda barengan"
"Lebay"
"Cepek deh"
Kembali serkan dan meera mencibir sambil membaca buku. Cueknya Serkan dan Meera juga menjadi daya tarik tersendiri.
"Al ini buat loe. Ini buatan gue sendiri"
"Ah makasih. Kalau aku tebak ini coklat ya"
"Kok loe tau sih"
"Sudah tercium bau manis. Kayak senyuman kamu"
"Huek"
"Huek"
Serkan dan Meera pura-pura muntah bersama mendengar gombalan receh Almeer yang malah membuat para siswi meleleh.
"Dasar cowok modal gombal"
____
Masih belum tau akan ada cerita tiga saudara ini atau tidak. Tapi berterimakasih yang sudah mau memberi dukungan kapada karya receh ini. Maaf mungkin tak sesuai harapan.
Jangan lupa jempol
Happy reading