
Satu Minggu sudah Ghaisan memperpanjang masa tugasnya. Begitu juga dengan timnya. Ghaisan memang menutupi kebenaran tentang sakitnya dengan alasan pekerjaan yang belum usai. Ghaisan dirawat selama satu Minggu dan Arumi adalah perawat pribadinya. Selama satu Minggu banyak kejadian yang membuat mereka perlahan saling mengenal.
"Mas. Bisa gak jangan panggil sa yang"
"Kenapa. Kamu kan calon istri ku"
"Ck. Belum juga disetujui. Sudah mengklaim saja"
"Kan aku bilang tidak ada penolakan"
"Hm. Tapi kalau besok balik ke kantor. Sebaiknya seperti biasa saja ya"
"Maksudnya"
"Ya biasa. Aku bawahan kamu dan kamu tetap bos jutek. Yang nyebelin"
"Oh tidak bisa. Kamu ngomong gitu biar para karyawan pria gampang dekati kamu kan. Jangan pernah bermimpi kamu sayang"
"Plis deh. Aku gak enakan sama teman-teman kantor"
"Dienakin aja"
"Huh. Dasar jutek. Nyebelin"
"Jutek nanti juga cinta"
"Entahlah. Biarkan waktu yang menjawab"
"Ikuti alurnya. Cinta pasti menemukan jalannya"
"Huhhhh"
Besok Ghaisan sudah diijinkan pulang. Mereka sudah memesan tiket pesawat. Setelah keluar dari rumah sakit, Ghaisan memutuskan langsung kembali kekotanya. Arumi kembali ke hotel untuk mengemasi barang-barang yang masih tertinggal. Dan mengurus check out mereka.
"Pak. Bapak gak ngabarin keluarga bapak"
Tidak ada jawaban dari Ghaisan. Ghaisan sedang asyik dengan ponselnya. Bukan tidak mendengar, dia tidak mau me jawab jika Arumi memanggil dengan sebutan selain yang diinginkannya.
"Pak. Gak budek kan"
Ghaisan masih saja enggan menjawab. Dia hanya melirik sedikit. Arumi yang sedang membereskan pakaian Ghaisan, kesal tak mendapat jawaban dari Ghaisan.
"Mas. Gak dengar apa aku tanya"
"Apa sayang"
"Nah kan bisa jawab. Dari tadi kenapa gak jawab"
"Oh tadi kamu ngajak ngomong aku sayang"
"Nggak. Ngajakin ngomong cicak. Tuh diatas kamu"
"Emang cicak bisa ngomong beib"
"Bisa. Baru aja jawab omonganku"
"Yang jawab aku beib. Bukan cicak"
"Oh kirain cicak"
"Galak amat"
"Hmmm. Gak ngabarin orang rumah"
"Udah. Mama lagi ke Malaysia sama papa. Jengukin Azzam"
"Azzam.."
"Adikku sayang. Lupa ngasih tau namanya kemarin ya. Maaf"
"Ouh. Kenapa adik kamu di Malaysia mas"
"Azzam sendiri yang mau. Diantara semua cucu Atuk, Hanya Azzam yang bersedia melanjutkan bisnis Atuk di Malaysia"
"Oh begitu"
"Oya. Aku masih punya satu adik lagi. Namanya Naomi. Dia tinggal bersama Oma dan Opa di Jerman"
"Iya aku sudah pernah dengar dari mbak Mala"
"Nanti waktu aku melamar kamu, akan aku kenalkan kedua tuyul menyebalkan itu"
"Kayak dirinya gak nyebelin aja"
Arumi bergumam pelan. Namun masih bisa didengar oleh Ghaisan.
"Aku dengar sayang"
"Kan punya telinga pastilah dengar"
Tiba-tiba Arumi terdiam saat mengemasi beberapa pakaian kotor Ghaisan. Dia diam sejenak sebelum melanjutkan. Ghaisan yang melihat Arumi sedikit nmematung, mencoba bertanya.
"Ada apa sayang"
"Hmmm. Itu anu..."
"Underwear kamu"
"Kenapa emang underwear aku"
"Aku gak biasa beresin underwear cowok kali. Beresin sendiri ya"
"Kamu tega. Aku kan masih lemes sayang. Lagian udah pernah lihat isinya aja. Itu cuma bungkusnya yang kamu pegang sayang. Latihan dong"
"Haruskah"
"Ya haruslah. Besok kalau udah merried. Kan kamu juga yang ngurusin semua kebutuhan ku sayang"
"Tapi kan itu besok bukan sekarang"
"Sama saja. Latihan dulu"
"Huhhhh. Sabar Rumi sabar"
Akhirnya dengan sangat terpaksa Arumi bisa menyelesaikan pekerjaannya merapikan pakaian kotor Ghaisan selama dirumah sakit. Awalnya Arumi ingin membawa ketempat binatu. Namun dia tidak begitu mengenal kota ini. Dan Arumi memilih membawa pulang semua pakaian kotor miliknya dan Ghaisan.
Sedangkan domator pusat, Mala yang sedang membaca surat pengunduran diri Arumi. Sedang dilanda kegalauan. Mala memperkirakan ini akan sangat sulit bagi Arumi.
"Anak ini. Selalu saja berani membuat si bisa ngamuk"
"Gimana caranya gue ngasih surat ini ke bos"
"Ah Rumi. Loe kalau mau mati sendiri aja kenapa harus ngajakin gue sih"
Mala sedikit frustasi memikirkan solusi menyerahkan surat pengunduran diri Arumi. Bahkan Ghaisan sempat mengatakan kepada Mala, akan menempatkan Arumi sebagai asisten kedua setelah dirinya saat pulang dari kota J nanti.
Disaat Mala sedang pusing memikirkan cara menyerahkan surat pengunduran diri Arumi kepada Ghaisan, pesan yang sangat mengejutkan masuk kedalam ponsel Mala. Pesan itu berasal dari salah satu anggota tim yang ikut bersama Ghaisan ke kota J.
"Apaaa. Yang benar saja ini"
Mala sampai tak sadar sudah menjatuhkan beberapa laporan yang baru saja dia susun. Berita heboh itu selanjutnya menyebar ke seluruh karyawan.
"Arumiiii. Benar-benar yah ni anak. Kalau kayak gini gue makin susah. Ahhh Arumi"
Karyawan di seluruh kantor Ghaisan pun juga sama kagetnya. Mereka tak menyangka jika Arumi adalah kekasih bos mereka. Dua teman dekat Arumi pun sama.
"Arumi nikung gue. Ah Rumi nyebelin banget deh. Jadi pacar bos tapi diam aja. Kan gue yang malu selama ini suka godain bos. Ahhhh mau taruh dimana muka gue"
"Iya ih. Rumi nyebelin. Ini kalau gak disebar sama Dino, mungkin sampai kapanpun rahasia besar ini gak akan pernah terungkap. Dasar Rumi"
Berbeda dengan dua teman dekat Arumi. Dua pria yang masih memiliki hati untuk Arumi, benar-benar tak menyangka kalau wanita yang ingin mereka dapatkan ternyata milik bis mereka.
"Pantas dia nolak gue waktu itu. Jadi dia kekasih bos"
Berita itu benar-benar heboh. Mereka menduga jika selama ini Arumi sudah menjalin hubungan dengan Ghaisan. Padahal kenyataannya, Arumi menjadi kekasih Ghaisan karena paksaan.
Dirumah sakit, Ghaisan benar-benar menggunakan waktu dengan baik. Dia mencoba membangun kedekatan dengan Arumi secara perlahan.
"Rumi. Jika satu Minggu lagi aku melamar kamu, apa kamu siap"
"Hah. Secepat itu"
"Untuk apa menunggu lagi. Lagian umur kamu juga sudah memadai"
"Pak. Eh mas. Apa tidak terlalu cepat. Bahkan kita belum saling mengenal"
"Bagi saya sudah cukup satu Minggu ini meyakinkan perasaan ini untuk menikahi kamu"
"Memangnya apa yang membuatmu yakin mas, kalau aku memang pilihan kamu"
"Ketulusan. Kamu begitu tulus dan sabar saat merawatku"
"Tapi kita mungkin belum ada perasaan satu sama lain"
"Perasaan bisa kita pupuk secara perlahan. Lagian aku sudah tidak mencari pacar lagi"
"Jujur, aku takut jika keputusan kita yang tergesa-gesa ini, berujung kita mengenakan"
"Hmm. Begini saja. Kita sama-sama sholat istikharah. Selama satu Minggu ini kita meminta jawaban kepada sang pemilik hati ini. Bagaimana"
"Baiklah Rumi terima. Tapi jika dalam satu Minggu ternyata jawabannya kita tidak berjodoh, aku harap kita bisa saling ikhlas"
"Baik. Aku setuju. Apapun hasilnya satu Minggu nanti, kita akan sama-sama ikhlas. Bagiamana"
"Ya. Dan sebaiknya kita tidak saling bertemu selama satu Minggu ini"
"Baiklah. Tapi aku minta kamu tidak mencoba untuk dekat dengan pria lain. Sampai kita saling memberi jawaban"
"Baiklah"
_______
Jeng jeng akankah mereka berjodoh....
Jangan lupa jempolnya gaesss
Happy reading