RashSya Story

RashSya Story
Mr Jutek (Ghaisan Story)



Ghaisan membawa Arumi menemui orangtuanya. Bisa saja Ghaisan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan Aruna. Namun Ghaisan ingin Arumi mendengar cerita itu dari kedua orangtuanya sendiri. Bahkan hingga saat ini, Ghaisan belum mengetahui perihal hadiah yang dititipkan Aruna untuk Arumi.


"Assalamualaikum pah. Mah"


"Waalaikumsalam. Rumi. Ichan. Kalian kesini"


"Maaf pah. Ichan gak ngabarin dulu"


"Gapapa nak. Untung kami belum jadi pergi"


"Papa ada acara"


"Iya. Acara teman sekolah dulu. Sini duduk"


"Ya pah"


Ghaisan menuntun Arumi duduk. Arumi masih dalam kondisi sedih. Dia bahkan belum sepenuhnya sadar jika sudah berada dirumah orangtuanya. Ghaisan memberi kode kepada mertuanya. Dan mama Arumi langsung memeluk sang putri. Barulah Arumi tersadar dan kembali menangis.


"Sudah kak. Jangan ditangisi. Adek sudah bahagia. Sudah tidak sakit lagi. Kita doakan saja yang terbaik kak"


"Mah. Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Aruna bisa pergi"


"Kak. Runa sebenarnya memang sudah sakit dan dia tidak ingin kita mengetahuinya"


"Sakit apa pah"


"Kanker jantung kak"


"Kanker jantung"


"Iya kak"


Pak Wijaya menceritakan awal mula sakitnya Aruna. Bahkan semua bukti pemeriksaan Aruna ditunjukkan kepada Arumi. Arumi tak bisa berhenti menangis. Dan hal yang paling membuatnya lebih sedih, saat pak Wijaya mengatakan jika kornea milik Aruna saat ini berada di mata Arumi.


"Kenapa kalian baru cerita sekarang"


"Kami mengkhawatirkan keadaan kamu kak. Jadi kami memilih untuk mengatakan saat kondisi kakak sudah membaik"


"Arunaaa"


Ghaisan memeluk tubuh Arumi agar tenang. Arumi menangis dalam dekapan sang suami. Sang mama pun ikut menangis.


"Kak. Aruna memiliki sesuatu yang harus kamu terima dan buka sendiri. Sebentar papa ambilkan"


Pak Wijaya kembali ke kamarnya mengambil barang titipan terakhir dari Aruna. Pak Wijaya kembali dengan membawa sebuah amplop besar berwarna coklat.


"Ini kak. Papa sama sekali belum membukanya"


Arumi menerima amplop tersebut dan perlahan dibuka dibantu oleh Ghaisan. Beberapa surat penting nampak didalamnya. Dan sepucuk surat untuk Arumi. Dengan isi sangat singkat.


Happy wedding kakakku. Akhirnya menemukan tambatan hati yang tepat. Aku gak bisa ngasih apa-apa. Ini hadiah buat kalian. Bahagia selalu. Jangan menangis lagi. Aku sudah bahagia


Tak hanya Arumi, bahkan kedua orangtuanya ikut menangis. Didalam amplop tersebut ada beberapa tabungan Aruni yang dialihkan kepada kedua orangtuanya dan sebuah usaha yang diberikan kepada Arumi juga paket honeymoon.


Ghaisan memutuskan untuk menginap dirumah mertuanya. Arumi masih ingin mengenang Aruna. Ghaisan tak mempersalahkan itu. Yang terpenting saat ini adalah kondisi sang istri. Arumi meminta Ghaisan menemaninya menempati kamar Aruna. Bau khas Aruna masih tersisa disana.


"Mas. Apa aku salah jika merasa kecelakaan kita ini disengaja"


"Memangnya kenapa sayang"


"Karena aku merasa aneh mas. Aku ingat benar kalau waktu itu mobil Runa baik-baik saja. Walaupun jarang dipakai tapi papa merawat dengan baik. Kita berangkat ke butik saja Tidka ada masalah. Balik juga gak masalah. Tapi memang agak aneh pas balik dari Mall. Mobil mulai agak aneh"


"Aneh gimana sayang"


"Rem blong mas"


"Sebenarnya memang kecelakaan kalian disengaja"


"Benarkah. Sudah ketangkap belum mas pelakunya"


"Sudah sayang"


"Siapa mas"


"Thomas mantan Aruna"


"Thomas. Memang Aruna memiliki kekasih"


"Kami semua baru tahu setelah kecelakaan kalian. Dan setelah Aruna tiada kami baru bisa melihat wajah Thomas. Papa dan mama juga kaget mengetahui jika Aruna memiliki kekasih"


"Terus sekarang orangnya dimana mas"


"Sudah diusir kembali ke negara asalnya sayang"


"Kenapa dia tega dengan kami. Terutama Aruna"


"Karena salah paham sayang"


Ghaisan menceritakan tentang Thomas dan Aruna sesuai apa yang dia dengar dari Thomas. Arumi mendengar cerita sang suami nampak wajah kecewa, marah dan sedih. Arumi pun juga kecewa dengan cara Aruna. Mengapa dia tidak pernah terus terang kepada keluarganya.


Malam kian larut. Arumi baru bisa terpejam saat waktu hampir subuh. Ghaisan setia menemani. Ghaisan pun sempat mengirim pesan kepada Kumala. Esok Ghaisan tidak akan ke kantor karena masih menjaga Arumi. Ghaisan meminta Kumala memindah jadwal meetingnya.


Usai sholat subuh, Arumi masih belum mau keluar dari kamar Aruna. Dia membuka kembali album kenangan mereka saat kecil. Ghaisan membawakan segelas susu dan sepiring roti untuk Arumi sarapan.


"Makan dulu sayang"


"Makasih mas"


"Lihat apa sih"


"Lihat foto aku sama Runa saat kecil mas"


Ghaisan ikut melihat dan sesekali menjahili Arumi dengan membandingkan wajahnya saat kecil dan saat ini. Arumi mulai bisa tertawa mendengar kekonyolan sang suami. Itu sudah membuat hati Ghaisan sangat bahagia.


"Sayang. Sekarang kita harus kembalienatao masa depan kita yang baru. Doakan Aruna. Dia masih ada dihati kita sayang. Jangan lagi ditangisi. Kasihan jika terus ditangisi"


"Iya mas. Aruna sekarang sudah gak sakit lagi. Dasar adik nakal. Tidak berubah sama sekali. Sedari kecil Aruna memang tidak suka membuat khawatir keluarga. Apapun dipendam sendiri"


"Hahaha. Ya mas harus peka dong"


"Peka itu juga butuh waktu sayang. Kadang udah peka pun masih salah. Pokoknya omong apapun itu"


"Oke. Akan Rumi usahakan"


"Terimakasih istriku"


"Ya mas"


Perlahan Ghaisan membawa keluar Arumi dari dalam kamar Aruna. Ghaisan akan mencoba mengalihkan secara perlahan pikiran Arumi agar tak terlarut dalam kesedihan yang mendalam.


"Jalan-jalan yuk"


"Kemana mas"


"Maunya kemana"


"Pantai"


"Oke. Jalan yuk. Pamit papa mama dulu"


"Yuk"


Ghaisan menuntun Arumi dan mereka berpamitan kepada kedua orangtuanya. Ghaisan sempat menawarkan kepada kedua mertuanya untuk ikut. Namun papa Wijaya harus ke kantor. Di perjalanan Ghaisan sempat mengirim pesan kepada Arash. Ghaisan meminta ijin kepada Arash untuk menggunakan salah satu kamar resort miliknya. Dan Arash tidak keberatan.


Mereka sudah berangkat menuju resor Arash. Karena diresort Arash juga terdapat pantai yang indah. Arumi belum pernah kesana. Begitu sampai Arumi sempat kebingungan.


"Loh kok ke resort mas. Katanya ke pantai"


"Mau check in sayang"


Ghaisan kembali menggoda sang istri. Arumi menampakkan wajah kebingungan.


"Mas jangan usil dong"


"Beneran. Udah yuk masuk"


"Pantainya mana mas"


"Ada dibelakang"


"Beneran mas. Gak bohong kan"


"Beneran sayang. Udah yuk"


Ghaisan masuk kedalam resort langsung disambut sang manager. Arumi kembali kebingungan. Karena melihat karyawan resort begitu menghormati Ghaisan.


"Selamat siang pak Ghaisan"


"Siang pak Rizal. Arash sudah memberitahu bapak kalau saya akan kesini"


"Sudah bapak. Dan kamar yang bapak minta sudah kami siapkan"


"Terimakasih pak Rizal"


"Sama-sama pak Ghaisan. Mari saya antarkan"


"Baik. Terimakasih"


Ghaisan menggandeng tangan Arumi mengikuti langkah kaki sang manager resort. Sebuah kamar yang langsung menghadap view laut terpampang dihadapan mereka. Arumi tak berhenti menganggumi keindahan itu.


"Mas indah sekali"


"Suka"


"Banget"


"Alhamdulillah. Kita istirahat dulu. Nanti baru main ke pantai kalau udah gak terlalu panas"


"Tapi mas. Rumi penasaran deh. Kok kayaknya mereka semua kenal mas"


"Jelas kenal. Kamu mau tahu ini resort punya siapa"


"Siapa mas"


"Arash Syauqi Malik. Sepupu mas"


"Benarkah"


"Hemm"


"Hebat banget ya. Muda, tampan, sukses lagi. Idaman banget itu"


"Ehem. Ehem. Yang dihadapan kamu juga gak kalah sama Arash kali sayang"


"Ah iya. Lupa bos jutek sekaligus suami Rumi ini tak kalah hebat"


"Awas aja berani muji pria lain dihadapan mas. Mas hukum kamu"


"Awww. Gak takut Rumi"


"Ck. Jangan mancing. Nyesel entar"


"Hahahaha"


________


Mendekati akhir cerita Ghaisan ya gaess


Happy reading


jangan lupa jempolnya gaesss