RashSya Story

RashSya Story
Devin~CLBK 22



Hari ini jadwal pemeriksaan kandungan Tisya. Devin sudah gelisah sejak semalam. Dia ingin ikut mendampingi sang istri. Namun dia juga takut jika Tisya akan mual. Dan membahayakan janinnya.


Devin mendapat ide agar bisa ikut memeriksakan kandungan Tisya. Hanya dengan Ghaisan, Tisya merasa nyaman. Devin meminjam satu set pakaian Ghaisan dan juga parfum milik Ghaisan. Beruntung postur tubuh mereka sama. Jadi tidak menyulitkan bagi Devin mengenakan pakaian Ghaisan.


Hari ini Devin sengaja mengundur semua jam meetingnya demi melihat kondisi kesehatan istri dan calon buah hatinya. Tisya. akan berangkat terlebih dahulu bersama sang ibu. Devin akan menyusul setelah mengambil pakaian dirumah Ghaisan.


Tisya sudah sampai dirumah sakit. Pihak rumah sakit sudah menyiapkan dokter terbaik untuk memeriksa Tisya. Tisya meminta agar tidak diperlakukan secara spesial. Namun tetap saja pihak rumah sakit tidak mendengarkan itu.


"Bu. Kak Dev jadi kesini"


"Iya nak. Tadi Devin sudah telepon ibu lagi dijalan"


"Kasian kak Dev bu. Tapi Tisya benar-benar gak bisa tahan kalau kak Dev didekat Tisya"


"Iya. Ibu mengerti sayang. Semoga segera berlalu. Kasian juga Devin"


"Iya Bu"


"Tapi ibu benar-benar salut dengan kesabaran Devin. Dia selalu saja ada disetiap kamu meminta apapun. Bahagialah nak. Kamu sudah menemukan pasangan hidupmu yang tepat"


"Alhamdulillah Bu"


Devin sedikit berlari menuju klinik kesehatan ibu dan anak. Devin melihat sudah ada beberapa ibu yang akan memeriksakan kandungan. Ibu melihat kedatangan Devin menggunakan pakaian casual, langsung memberitahu Tisya.


"Sayang itu suami kamu"


Tisya menoleh kearah Devin. Tisya melambaikan tangannya kearah Devin. Dengan keraguan Devin mendekat. Dia hanya takut Tisya mual. Tisya tersenyum beridiri menyambut sang suami.


"Kakak"


"Sayang"


Jarak mereka semakin dekat. Kurang beberapa jengkal lagi mereka berhadapan. Tisya sudah membungkam mulutnya. Menahan mual.


"Sayang. Kamu duduk lagi ya. Aku disini saja"


"Maaf kak"


"Iya sayang. Sekarang kamu duduk lagi aja"


Tisya berbalik dan kembali duduk. Para ibu-ibu lainnya yang melihat interaksi antara Devin dan Tisya menjadi penasaran. Salah satu ibu tersebut memberanikan bertanya kepada ibunda Tisya. Setelah mendapat penjelasan mereka menahan tawa.


"Kasian banget. Mana suaminya tampan gitu"


Salah satu celotehan dari ibu muda yang juga sedang mengantri untuk memeriksakan kandungan.


Devin berdiri sambil memainkan ponsel. Menjawab beberapa pesan dari Teddy asistennya. Beberapa perawat yang lewat akan tersenyum dan mencoba menarik perhatian Devin. Itu membuat Tisya sangat kesal.


Kini giliran Tisya dipanggil. Setelah ibu masuk dengan Tisya, Devin pun menyusul dibelakang. Tisya sedang diperiksa oleh dokter.


"Apa ada keluhan Bu"


"Tidak dok"


"Nanti tolong menambah makanan yang mengandung penambah darah ya Bu. Karena disini tekanan darah ibu tergolong rendah. Tidak baik untuk kesehatan ibu dan calon buah hati"


"Baik dok"


"Ada yang ditanyakan"


"Dok. Apa ada obat buat saya yang bisa menahan mual"


"Masih morning sickness kah Bu"


"Jarang dok. Tapi saya hanya tidak bisa berdekatan dengan suami saya dok. Setiap mencium bau suami saya jarak dua meter saja saya mual dan muntah"


"Hm itu wajar ya Bu. Tapi coba nanti saya kasih obat pencegah mual Bu"


"Baik dok"


Pemeriksaan Tisya sudah selesai. Devin sedang menunggu obat Tisya. Sedangkan Tisya dan ibundanya sedang ke kantin karena Tisya merasa lapar kembali. Devin menyusul mereka setelah mengambil obat.


"Bu"


"Sudah Dev"


"Iya Bu. Sayang masih mual gak"


"Sudah gak kak"


"Pulang kakak antar ya"


"Iya kak"


"Ibu gak makan"


"Masih kenyang. Kamu mau makan Dev"


"Gak Bu. Tadi sudah makan dirumah"


"Masak sendiri sayang"


"Maaf kak"


"Stop sayang. Jangan lagi mengatakan maaf"


"Oh ya kak. Aku mau coba pulang nanti. Tadi kan dokter sudah meresepkan obat anti mual"


"Beneran sayang"


"Iya kak. Tapi ibu ikut ya kak. Biar ada teman"


"Iya sayang. Ibu nanti tidur dirumah kita"


Devin merasa bahagia mendengar kata istrinya akan kembali kerumah mereka. Dia sangat berharap agar Tisya tidak lagi mual. Dia sudah rindu memeluk istrinya. Dengan semangat Devin mengemudikan mobilnya menuju rumah miliknya dan Tisya.


Tiba didepan gerbang, Tisya menurunkan kaca mobil. Mencoba menghirup udara disekitar rumah yang sebenarnya sangat dia rindukan. Sudah hampir dua bulan Tisya tinggal dirumah ibunya. Devin membukakan pintu mobil untuk Tisya dan ibunya.


"Welcome home sayang"


Tisya tersenyum. Dia sama sekali tidak mual setelah meminum obat dari dokter tadi. Bahkan kini Devin benar-benar bisa memeluk tubuh mungil istri yang sangat dia rindukan.


"Kangen sayang. Kangen banget. Jangan pergi lagi ya"


"Aku juga kangen kak. Semoga nanti tidka mual lagi"


Devin berjongkok menyamakan wajahnya didepan perut Tisya yang masih rata. Devin rindu kegiatan ini. Mencium, mengelus dan berbicara kepada sang calon buah hati.


"Assalamualaikum anak papa. Apa kabar nak. Pasti baik kan. Nak jangan menyusahkan mama ya. Kasian. Jangan lagi mengajak mama pergi dari papa sayang. Papa kesepian disini. Malam ini bobok dirumah ya sayang. Papa kangen sama kalian. Love nak. Mam"


Devin mengecup perut Tisya dari balik dress hamilnya. Dan dilanjut mengecup kening Tisya begitu lama. Seolah ungkapan kerinduan yang begitu mendalam.


"Sayang aku mau ke kantor dulu. Ada meeting sebentar lagi. Nanti kalau mau makan apa langsung telepon kakak"


"Iya kak. Hati-hati ya kak"


"Oya sayang. Tidurlah"


"Kakak gak ganti baju dulu"


"Sudah bawa kok sayang. Nanti ganti dikantor saja. Sudah mepet"


"Huh. Tebar pesona"


"Bukan gitu sayang. Beneran nih Teddy sudah telepon terus"


"Ya sudah sana berangkat"


"Ya sayang. Istirahat saja. Jangan mengerjakan pekerjaan rumah sayang.


"Iya kak"


Devin meninggalkan rumah dan menuju kantor. Memang akan ada meeting berkaitan dengan Mall. Kehebohan terjadi dikantor Devin. Kala Devin berjalan cuek menggunakan pakaian casual dan kaca mata hitam. Semua karyanya perempuan benar-benar dibuat terpesona. Namun Devin hanya cuek saja. Dia menuju ruangannya dan mengganti pakaian yang tadi dikenakannya dengan pakaian formal.


Sementara Tisya dirumah tiba-tiba saja merasa tak nyaman. Dia bergegas mencari ibunya.


"Ibu. Ibu"


"Ya nak. Ada apa"


"Ayo kita pulang Bu"


"Loh ini kan rumah kamu sayang"


"Tapi Tisya gak mau tidur disini. Tisya mau tidur diatas kasur Tisya sendiri Bu"


"Loh tapi kamu tadi sudah janji sama Devin mau pulang kesinioh sayang"


"Huahhhhhh. Pokoknya Tisya mau pulang kerumah ibu"


"Oke sayang. Tapi ibu kasih tau Devin dulu"


"Gak usah Bu. Tisya maunya diantar Ghaisan"


"Hah. Ghaisan lagi"


"Pokoknya mau pulang sekarang Bu"


"Iya sayang. Ibu siap-siap bentar"


Ibu membohongi Tisya berkata akan bersiap-siap, Ibu buka bersiap-siap melainkan menghubungi Devin. Buat bagaimanapun Devin masih suami Tisya. Tisya juga sudah menghubungi Ghaisan dan mengatakan maksudnya.


______


jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading