
"Selamat pagi pak Ghaisan. Hari ini ada meeting dengan Wijaya grup"
"Hmm"
"Dan ini berkas yang harus bapak tanda tangani"
Mala meletakkan beberapa tumpukan map dihadapan Ghaisan. Setiap pagi Mala sudah menyiapkan apa yang diperlukan Ghaisan selama di kantor. Bahkan Mala selalu datang lebih pagi daripada karyawan lain. Ghaisan termasuk pimpinan yang tegas dan selalu meminta para karyawan bekerja dengan teliti. Tidak harus sempurna. Namun tetap tidak boleh salah.
"Nanti siang bapak akan makan siang dikantor atau diluar"
"Rapat dengan Wijaya grup dimana"
"Dikantor kita pak"
"Ya sudah. Kamu pesankan makan siang sekalian. Laporan pengeluaran kerjasama Wijaya grup, sudah disiapkan"
"Sudah pak. Bapak bisa memeriksanya"
"Hmm"
"Ada yang bapak butuhkan lagi"
"Tidak"
"Baiklah. Saya permisi pak"
Mala berbalik kembali keruangannya. Ebagai sekretaris sekaligus asisten Ghaisan, Mala dituntun untuk kerja cekatan. Dengan gaji yang diberikan Ghaisan kepadanya, menurut Mala itu sebanding dengan apa yang dikerjakannya selama ini. Sebenarnya Ghaisan juga tidak pernah pelit kepada karyawan. Hanya saja sifat jutek Ghaisan yang terkadang membuat para karyawan takut berhadapan langsung.
"Mala. Divisi keuangan tolong diingatkan untuk mengikuti meeting ini"
"Sudah pak. Nanti akan ada Arumi dan Andi yang akan presentasi"
"Hmm"
Ghaisan berjalan menuju ruang rapat diikuti Mala. Saat tiba didepan lift, tiba-tiba saja seseorang menimpa tubuh Ghaisan.
"Aaaakhhh"
"Rumi"
Brukkk
Tubuh Ghaisan tertimpa oleh tubuh Arumi. Ghaisan menatap Arumi dengan tatapan tak bersahabat. Arumi berusaha untuk bangun dari atas tubuh Ghaisan. Namun sialnya rambut Arumi menyangkut disalah satu kancing jas Ghaisan.
"Aduh. Maaf pak. Maaf. Rumi gak sengaja"
"Akh"
Arumi kembali berteriak karena rambutnya masih tersangkut. Rumi berjongkok sambil menunggu Ghaisan untuk berdiri. Melihat rambut Arumi menyantap disalah satu kancing jas miliknya. Tanpa berkata apapun Ghaisan langsung meminta Mala mengambil gunting.
"Ambilkan saya gunting"
"Baik pak"
Mala berlari kembali keruangannya mengambil gunting. Ghaisan memilih untuk berjongkok agar seimbang dengan Arumi. Jika dia berdiri, akan nampak Arumi sedang menempel pada perutnya.
"Ini gunting yang bapak minta"
Ghaisan langsung memotong rambut Arumi tanpa melihat dahulu letak rambut yang tersangkut. Alhasil satu sisi rambut Arumi terlihat sedikit jomplang.
"Rambut gue. Dasar singa jomblo. Nyebelin banget"
Arumi nampak kesal dan hanya bisa mengumpat dalam hati saja. Ghaisan kembali berjalan menuju ruang meeting. Arumi pun mengikuti rombongan itu.
Arumi tidak mengetahui jika klien mereka kali ini adalah papanya sendiri. Proyek dengan Wijaya grup sebenarnya dikerjakan oleh salah satu rekan Arumi yang belum lama dipecat oleh Ghaisan karena ketahuan hampir korupsi.
"Selamat siang pak Wijaya. Apa kabar"
"Selamat siang pak Ghaisan. Alhamdulillah baik. Bagaimana dengan bapak"
"Alhamdulillah. Selalu baik juga. Mari silahkan duduk pak"
"Terimakasih"
Arumi melotot karena kaget yang dihadapannya adalah papanya sendiri. Arumi memberi kode agar papanya tidak mengenalinya. Pak Wijaya hanya menghela nafas pelan saja.
"Sebaiknya kita mulai meeting ini. Tolong bagian perencanaan. Saya ingin mendengar progres kerjasama ini sampai dimana"
"Baik pak"
Salah satu perwakilan divisi perencanaan berdiri mempresentasikan sejauh mana kerjasama kedua perusahaan sekarang sedang berlangsung.
Setelah divisi perencanaan selesai, Ghaisan meminta laporan anggaran yang masih tersedia. Dan Arumi saat ini sedang membacakan laporannya. Harusnya Andi yang akan membacanya, namun hari ini Andi ijin karena sakit dan digantikan anggota lain.
"Bagiamana pak Wijaya"
"Bagus. Sepertinya kerjasama kita sangat lancar"
"Saya rasa memang demikian"
"Sekarang kita atur waktu untuk meninjau lapangan saja. Bagaimana pak Ghaisan"
"Boleh pak. Nanti saya akan meminta sekretaris saya untuk mengatur jadwal kunjungan dan segera memberi kabar kepada pak Wijaya"
"Baik. Saya tunggu kabarnya segera"
Karena dirasa meeting sudah cukup lancar, papa Arumi berpamitan untuk kembali ke kantor. Arumi bisa bernafas lega karena sang papa sudah tidak ada dihadapannya lagi.
Ghaisan sengaja turun ke lobby mengantarkan pak Wijaya. Sebenarnya Ghaisan ingin menghilangkan sedikit kejenuhannya didalam ruangan. Dan berjalan diarea lobby sedikit merubah moodnya. Saat akan kembali ke ruangannya, Ghaisan meluhat kurir pengantar makanan. Dengan penuh keyakinan dia mengambil kotak makan tersebut. Ghaisan berfikir itu miliknya. Karena Mala biasa memesan dari restoran tersebut.
Arumi baru saja turun ke lobby setelah membereskan berkasnya. Sang papa memesankan makan siang untuknya dan sudah dikirim ke perusahaan. Kini Arumi sedang berada di resepsionis menanyakan pesanannya.
"Ada mbak. Ini"
"Makasih ya mbak"
"Sama-sama. Kiriman dari pacarnya ya mbak Rumi"
"Tau aja mbaknya nih. Ini kiriman dari cinta pertama dan terakhir Rumi"
"Cie. Cie sweetnya"
"Dah ah. Rumi balik ke ruangan dulu"
Arumi tersenyum bahagia dengan membawa bekal yang dikirim oleh sang papah. Sedangkan diruangan lain, si bos singa sedang mengamuk.
"Kumalaaaa"
"Iya pak"
"Kamu sudah bosan kerja dengan saya"
"Tidak pak"
"Ini apa Kumala. Kamu kan tau saya alergi kacang tanah. Kenapa kamu pesankan saya sate ayam Kumala"
"Saya tidak memainkan sate ayam untuk bapak"
"Kalau ini bukan pesanan kamu. Terus siapa yang pesan Kumala. Dikantor ini tidak ada yang memesan makanan dari restoran ini kan"
"Maaf pak. Saya akan mencari tahu. Apa bapak mau dipesankan makanan lainnya"
"Ck. Kamu menghilangkan selera makan saya Kumala. Saya mau keluar"
"Ba. Baik pak"
"Kamu bereskan makanan itu. Jangan sampai ada bau kacang disana"
"Baik pak"
Ghaisan mengambil kunci mobilnya. Dia memilih untuk makan siang di luar. Sama seperti Ghaisan, Arumi pun kaget saat membuka makananya. Karena Arumi alergi seafood. Sedangkan makanan itu penuh dengan seafood.
"Apa ini pesanan papa. Papa kan tau gue gak bisa makan seafood. Jangan-jangan kurirnya slash kirim"
Arumi membuka tas yang tadi berisi kotak makan siangnya. Disana terdapat nota pemesanan makanan. Dan tertera nama pemesan makanan tersebut.
"Disini cuma bertuliskan Mahendra Corp saja. Tidak ada nama pemesan dan buat siapa"
Karena Arumi tidak ingin sang pemilik makanan kelaparan, Arumi berniat mengembalikan kepada pemiliknya. Arumi memilih bertanya kepada resepsionis.
"Mbak. Disini yang sering pesan makan siang dari restoran ini, siapa ya mbak"
"Pak bos mbak Rumi. Kalau kita-kita mana sanggup bayarnya. Restoran high class. Kenapa memangnya mbak"
"Apa pak bos sudah ambil pesanannya"
"Sudah. Malahan sebelum mbak Rumi tadi"
" Oh gitu"
"Kenapa mbak Rumi"
"Sepertinya pak bos salah ambil pesanan deh mbak. Yang saya bawa kemungkinan punya pak bos"
Orang yang Arumi bicarakan sudah berdiri tepat dibelakang Arumi. Sang resepsionis hanya bisa menunduk saja tidak berani menjawab atau mengangkat kepala.
"Oh jadi kamu yang ambil makanan saya"
Arumi menoleh ke belakang. Arumi kaget melihat orang yang selalu berusaha dia hindari kini tepat berada dibelakangnya.
"Maaf pak. Saya gak sengaja. Ini saya kembalikan"
"Saya suruh makan sisaan kamu gitu"
"Ini masih utuh pak. Belum saya makan. Kita bisa saling bertukar. Karena kemungkinan makan siang saya terambil bapak"
"Kamu makan saja. Saya sudah gak mood. Dan makanan kamu sudah saya buang"
Ghaisan kembali berbalik menuju pintu keluar. Dia sempat terhenti kala mendengar percakapan Arumi dengan resepsionis.
"Mbak. Ini buat mbak saja"
"Tapi kan itu punya mbak Rumi"
"Rumi alergi seafood mbak. Jadi daripada dibuang buat mbak saja"
"Wah makasih mbak. Besok-besok kalau pacarnya mau kirim makanan, suruh kasih nama mbak biar gak tertukar"
"Oke mbak. Arumi mau ke kantin dulu. Lapar"
"Hahaha. Okey mbak"
Arumi berjalan menuju kantin kantor yang terletak disamping gedung. Dia sudah sangat lapar. Ghaisan juga sudah memasuki mobilnya. Saat melintas didepan kantin, dia melihat Arumi duduk ditepi jendela.
"Dasar gadis ceroboh"
_________
jangan lupa jempolnya gaesss
Happy reading