RashSya Story

RashSya Story
CPS~Rizky Story



"Pak Adi tolong jelaskan, mengapa anda berani membawa perempuan kedalam ruangan tertutup dan terkunci". Rizky mulai menanyai orang yang dipercaya oleh Arsya.


"Maaf. Pak Rizky. Dia keponakan saya". Jawab pak Adi dengan gugup.


"Istri bapak sekalipun tidak saya benarkan berada didalam ruangan tertutup dan terkunci saat anda bekerja. Apalagi ini hanya keponakan". Rizky kembali menegaskan aturan kantor.


"Maaf pak. Saya gak akan mengulanginya lagi". Jawab pak Adi tertunduk.


Memang usia Rizky dan Adi tak terpaut jauh. Namun diperusahaan Rizky adalah tangan kanan sekaligus keluarga Malik yang sangat disegani. Rizky terkenal dengan sikap ramah dan tegasnya. Jika itu melanggar aturan kantor terutama menyangkut agama, dia tidak segan menegur dan memberikan sangsi.


"Kali ini saya maafkan. Tapi kalau sampai terulang. Saya akan memberikan sangsi kepada anda". Tegas Rizky kepada Adi.


"Baik pak". Jawab Adi.


"Tolong berikan saya laporan dua Minggu terakhir". Rizky kembali fokus pada pekerjaannya.


"Baik pak. Saya siapkan dahulu". Pak Adi segera menyiapkan apa yang diminta oleh Rizky.


Rizky fokus memeriksa laporan pembangunan. Terdengar suara adzan dari masjid terdekat. Rizky menutup laporannya dan beranjak untuk menunaikan panggilan sang pencipta. Tak lupa Rizky mengunci pintu ruangannya. Dokumen penting sangat berbahaya jika dia tinggalkan dalam keadaan pintu tak terkunci.


"Semua. Tinggalkan pekerjaan dan mari kita semua kemasjid bagi pegawai pria yang beragama muslim". Rizky berdiri dihadapan para pegawai dengan menyingkap lengan kemejanya.


Beberapa karyawan wanita tak bisa mengalihkan pandangannya dari makhluk ciptaan Tuhan paling istimewa itu. Rizky tak memperdulikan dan Rizky tak pernah menatap perempuan manapun kecuali ibunya dan keluarga Malik.


"Baik pak". Para karyawan pria yang seiman berjalan mengiringi Rizky.


Masjid yang mereka tuju berada diseberang jalan. Rizky berbincang dengan para karyawan. Saat tidak dalam jam kerja Rizky akan menempatkan diri sebagai teman bagi karyawannya. Bahkan dia tidak mau diapnggil dengan sebutan bapak oleh pegawai yang lebih tua.


Pelataran masjid tertutup oleh tenda-tenda penjual makanan. Dan memang tak jauh dari masjid tersebut terdapat wisata alam yang indah. Rizky terdiam saat melihat sosok yang dikenalnya. Rizky berdiri memastikan. Lima menit kemudian dia kembali berjalan menuju masjid.


"Apa mungkin. Ah pasti hanya mirip". Batin Rizky berkata tentang sosok yang baru saja dilihatnya.


Rizky tidak ingin berprasangka buruk yang nantinya akan merugikan banyak orang. Rizky memasuki masjid bersama dengan para karyawannya. Sedangkan disalah satu warung tenda tersebut, Adi sedang menemui seseorang.


"Maaf ya sayang. Aku gak tau kalau utusan bos datang". Adi berbicara kepada perempuan yang bersamanya tadi.


"Iya gapapa kok beib. Tapi kenapa harus takut sama utusan bos sih". Tanya perempuan itu.


"Dia bukan utusan biasa sayang. Dia juga anak pemilik utama Malik Group". Jelas Adi.


"Oh gitu". Jawab perempuan tadi.


Ponsel Adi berdering. Tertera nama sang istri dilayar ponsel tersebut. Adi meminta perempuan dihadapannya untuk tidak bersuara.


"Diam dulu ya sayang. Tika nelfon aku". Adi berucap sambil memperlihatkan layar ponselnya.


"Oke. Santai aja". Perempuan itu sudah sangat paham dengan maksud Adi.


Adi mengangkat ponselnya dan berbicara dengan nada lembut. Seolah dia tak melakukan kesalahan apapun. Usai menutup panggilan dari sang istri, Adi melanjutkan kencannya dengan wanita lain.


Rizky kembali kekantor usai melaksanakan sholat. Rizky menyantap makan siang bekal dari sang ibu. Sudah menjadi kebiasaan Rizky, saat makan siang dia akan melakukan bpenggilan video kepada sang ibunda dan mereka akan makan siang bersama namun ditempat berbeda.


Hari sudah menjelang sore. Pekerjaan Rizky belum semua usai. Karena dia tidak sembarangan dalam bekerja. Rizky sangat teliti sehingga tidak ada celah bagi karyawannya untuk melakukan korupsi. Rizky melihat arloji ditangannya, dan dia bergegas mengemasi semua berkas dan memasukkan kedalam tas kerjanya. Rizky tidak pernah lembur dikantor kecuali itu bersama Arsya.


"Sudah waktunya pulang. Kalian bisa pulang". Perintah Rizky kepada karyawannya.


"Baik. Terimakasih pak". Kompak para karyawan menjawab.


Rizky keluar dan berjalan menuju parkiran mobil. Entah kebetulan semata atau memang itu suatu petunjuk bagi Rizky. Mobil Rizky berada tepat dihadapan mobil Adi. Awalnya Rizky tak memperdulikan siapa dihadapannya dan bermaksud segera pergi. Namun niat Rizky terhenti karena melihat perempuan yang tiba-tiba masuk kedalam mobil Adi dan mereka berci**uman. Rizky yang kaget sempat melihat sekilas dan langsung mengalihkan pandangannya.


Rizky memilih segera melajukkan kendaraannya dan sengaja membunyikan klakson agar dua manusia yang sedang berbuat tak pantas itu segera sadar. Dalam perjalanan Rizky kembali teringat dengan sosok gadis yang dilihatnya tadi.


"Mataku salah mungkin". Rizky berusaha meyakinkan dirinya.


"Assalamualaikum. Mau pulang sekarang bang". Sapa Rizky saat sudah masuk ruangan Arsya.


""Waalaikumsalam. Bentar lagi. Gimana keadaan disana". Jawab Arsya.


"Masih dalam pemeriksaan bang. Insyaallah malam ini selesai". Jawab Rizky.


"Jangan terlalu fokus dengan pekerjaan Ky. Pikirin juga pendamping loe. Jadi mau khitbah cewek itu". Arsya berbicara sebagai kakak bukan sebagai pimpinan kepada Rizky.


"Masih belum pasti bang. Ibu meminta Iky mengkhitbah anak temannya". Jelas Rizky jujur.


"Apa loe gak cerita tentang gadis itu sama ibu". Tanya Arsya penasaran.


"Sudah bang. Dan gue meminta waktu untuk mengambil keputusan. Gue masih istikharah bang". Jelas Rizky.


"Bagus. Jangan salah ambil keputusan. Dimata loe baik. Belum tentu itu baik bagi Allah". Ucap Arsya.


"Iya bang. Doakan semoga segera dapat jawaban". Pinta Rizky kepada Arsya.


"Aamiin". Jawab Arsya.


Arsya dan Rizky berjalan beriringan menuju lobby. Mereka akan kembali kerumah masing-masing. Namun keduanya memilih mampir ke masjid didekat perusahaan untuk melaksanakan sholat Maghrib karena adzan sudah berkumandang.


Dengan sepeda motornya, Rizky membelah jalanan yang begitu rame. Rizky berhenti saat melihat penjual martabak telur kesukaan sang ibunda.


"Sudah lama aku gak beliin ibu martabak. Semoga ibu senang aku bawakan ini". Gumam Rizky pelan sambil berjalan menuju penjual martabak.


Rizky memesan martabak istimewa kesukaan sang ibu. Sambil menunggu Rizky mengamati padatnya jalan. Pandangan matanya tertuju pada seorang bocah kecil yang berjalan menjajakan keripik. Rizky memanggil bocah itu.


"Dek. Sini". Panggil Rizky.


"Abang mau beli keripik saya". Tanya bocah itu antusias.


"Iya. Berapa harganya". Rizky mengambil satu bungkus keripik.


"Satunya sepuluh ribu bang". Jawab bocah itu.


"Ya sudah bungkus saja semua buat Abang". Pinta Rizky dengan senyuman hangat.


"Beneran bang. Abang mau borong keripik ini semua". Bocah itu merasa tak percaya dengan ucapan Rizky.


"Iya. Bener. Sini Abang bantuin bungkus". Rizky tersenyum dan mengusap pucuk kepala bocah tadi untuk meyakinkan.


"Alhamdulillah. Makasih bang". Teriak girang bocah itu.


Rizky membantu bocah itu mengemasi keripik tadi. Dari belakang badan Rizky ada suara perempuan mengoloknya.


"Heh. Sok borong. Gaji gak seberapa sok baik loe". Ucap orang itu.


Rizky menengok kearah suara. Dan dia melihat siapa orang tersebut. Dengan senyum dia menjawab ucapan orang tersebut.


"Medina. Alhamdulillah ada rezeki lebih untuk adik ini. Kamu mau keripik Medina". Rizky menjawab dan menyodorkan keripik kepada Medina.


Tak ada jawaban dari Medina. Medina pergi begitu saja dengan seorang pria yang masih muda. Rizky hanya tersenyum melihatnya. Dan dia meneruskan mengemasi kerupuk dan membayar martabak.


______


Jangan asal ambil kesimpulan ya gess. entar nyesel loh😂😂😂


Maaf gak bisa rajin up. Masih dibatasi dalam pekerjaan online...


Jangan lupa jempolnya gaess