RashSya Story

RashSya Story
RashSya~Beraksi



"Sayang kamu mau apa sih sebenarnya"


"Uda kakak diem aja gak usah nglawan"


"Oh kakak tau kamu pengen ya"


"Gak. Retha aja lagi dapet"


"Terus setelah apa yang kamu lakukan padanya saat ini. Sungguh terlalu"


"Sabun dikamar mandi banyak"


"Solo hits"


"Kakak diam jangan banyak gerak. Belum ketemu ini loh"


"Ahhh sayang shhhh. Kau membunuhku perlahan"


"Diam dikit lagi dapat ini loh"


"Sebenarnya apa yang kamu cari sih mami serkan. Jangan bilang kamu nyariin kutu dihutan belantara papi"


"Emang ada kutunya. Gak takut kesangkut apa kan gak lurus jalannya"


"Ahhhh sayang. Kamu benar-benar menyiksaku. Ahhhhh"


"Nah dapat. Ternyata benar kata eneng"


"Eneng ngomong paan sayang"


"Disini ada tanda tersembunyi dan hanya aku yang tau hahahaha"


Arsya langsung menunduk kearah pusakanya bersemayam. Dia ikut melihat apa yang sedari tadi retha cari disekitaran benda pusakanya itu.


"Apa sih sayang yang kamu cari dari tadi. Sampai keris naga saktiku tegak menjulang kamu cuekin aja"


"Ini papi serkan. Coba lihat ini"


Arsya yang sedari tadi berdiri akhirnya duduk dan ikut memeriksa apa yang istrinya cari.


"Hah jadi tahi lalat ini yang kamu cari sayang"


"Iya. Kata markoneng kakak punya tanda disekitaran sini"


"Kok markoneng tau. Apa dia pernah ngintip kakak mandi"


"Bukan ngintip tapi mandiin"


"Hah. Iya kah"


"Kan kakak dari kecil yang mandiin si eneng"


"Oiya lupa kakak. Tapi itu kan pas kecil. Kenapa dia masih inget aja sih"


"Iya bahkan detail loe kak ingetnya"


"Bahaya ini. Rahasia dapur orang dia tau"


Tanpa sadar keris naga sakti arsya sudah kembali tertidur tanpa harus bertempur dengan sabun. Retha langsung menyiapkan air mandi untuk sang suami dan pakaian Arsya.


"Kakak air hangatnya sudah siap. Kakak berendamlah dulu"


"Iya sayang makasih"


Arsya sudah melupakan tentang pusakanya yang tadi sempat disiksa oleh sang istri. Setelah masuk ke kamar mandi, Arsya baru mengingatnya.


"Kok gue lupa ya tadi nyuruh retha nuntasin si naga sakti. Ck ah gara-gara nyebut nama markoneng"


Arsya pun langsung berendam. Lelah sepulang kerja disambut sang istri tercinta berharap meraih kenikmatan bersama. Namun nyatanya semua hanya ilusi.


Sambil menunggu Arsya selesai mandi, Retha berbalas pesan dengan Icha. Sesekali dia terkikik geli membaca pesan dari kakak iparnya itu. Sedang asyik berbalas pesan, kesenangan retha terganggu panggilan masuk dari ulet keket. Retha langsung beranjak menuju balkon agar tidak membangunkan serkan.


"Hallo"


"Loe gak ada otak sekali ya. Gue udah nyuruh loe baik-baik ninggalin arsya. Tapi sampai sekarang loe masih gak ninggalin dia. Apa loe mau gue bongkar rahasia ini didepan publik. Biar semua orang tau kalau ayah kandung dari anak gue itu arsya"


"Maafkan gue kalau buat loe kecewa. Tapi anak gue juga butuh papinya. Dia bahkan masih sangat kecil"


"Gue gak mau tau loe harus segera pergi. Dan bawa anak loe. Karena hanya anak gue yang akan menjadi pewaris keluarga malik"


"Kita kan sama-sama punya anak. Dan kata loe bapaknya sama. Apa gak sebaiknya kita rawat bersama. Dan hidup saling berdampingan"


"Gak. Gue gak mau jadi istri kedua. Pokoknya loe harus pergi secepatnya"


"Usia anak gue tiga tahun dan sangat mirip dengan arsya"


"Tiga tahun. Beneran itu loe yakin"


"Iya memang benar. Dan sudah pasti anak arsya"


"Hellow. Loe lulus tk gak sih. Bisa ngitung angka satu sampe sepuluh gak. Atau jangan-jangan loe buta angka lagi"


"Kurang ajar sekali omongan loe. Gue lebih berpendidikan dibandingkan loe"


"Coba deh loe berhitung yanh bener dulu sebelum berusaha jadi pelakor. Loe bilang kenal dan dekat laki gue sejak kuliah. Dan pacaran selama 2 tahun lamanya. Terus uda sering tidur bareng. Laki gue nyelesain kuliah cuma tiga tahun lamanya dan uda lulus dari kampus itu empat tahun yang lalu. Kalau sekarang loe bilang anak loe usia tiga tahun, gue mikir emang ada ya kecebong hidup dirahim lama banget dan baru sekarang nongol dengan umur yang berbeda sama waktu pembuatan. Cobalah loe itung lagi yang bener. Apa jangan-jangan kalian wikwiknya pake telepati gitu. Kok ajaib banget ya. Tuh anak usianya cuma beda satu tahun sama nikahan gue. Tolong beri gue penjelasan. Pusing gue ngitung hal yang tak pasti"


tut....tut.


Panggilan dimatikan sepihak. Retha langsung tertawa terbahak-bahak. Retha tidak sadar jika arsya mendengar semua perkataan istrinya dengan wanita pengganggu. Awalnya Arsya ingin merebut ponsel istrinya, namun melihat raut wajah retha yang santai bahkan terkadang menutup bibirnya saat menahan tawa, membuat arsya ingin tahu apa yang akan dilakukan retha.


Arsya memeluk retha dari belakang memberikan kecupan dipipi dan puncak kepalanya.


"Istriku hebat. Papi bangga sama mami"


"Loh kakak. Sudah selesai mandinya"


"Sudah dari tadi sayang. Bahkan aku dengar semua pembicaraanmu. Belajar sama siapa seh. Hm"


"Siapalagi disini yang bisa diandalin ngadepin dedemit kayak itu"


"Cuma icha dan eneng. Jadi selama beberapa minggu ini kamu berubah karena mereka"


"Yup"


"Kamu belajar agresif juga sama mereka baby"


"Betul sekali. Karena kata eneng kita gak boleh merasa malu menjadi agresif sama suami sendiri. Malah suami seneng kalau kita inisiatif duluan gitu kak"


"Kali ini kakak setuju sama apa yang diajarkan eneng ke kamu sayang"


"Kakak sekarang tenang aja, aretha yang lemah dulu sudah hilang ditelan bumi. Sekarang adanya aretha yang tangguh. Yang bisa menyingkirkan kerikil kecil pengganggu kita"


"Good girl. Tapi jangan hilangkan sifat manjamu pada kakak. Jadilah istri tangguh tanpa menghilangkan kodratmu sayang. I love you"


"Love you too papi"


"Yuk bobok ndut dah malam"


"Apa gak salah dengar kan aku papi serkan"


"Lah emang papi salah ngomong"


"Nggak cuma kok agak aneh gitu ya. Coba ulang sekali lagi tadi manggil mami apa"


"Gendut kesayangan papinya serkan. Bikin gemes"


"O jadi sekarang manggilnya gendut ya. Iya aku tau aku sekarang gendut. Sana minggir gak usah peluk peluk si gendut ini"


Arsya terbengong mendengar ucapan sang istri. Bahkan retha menghempaskan jauh kedua tangan arsya yang tadinya memeluk tubuh retha mesra.


"Walaupun kamu endut kamu tetap seksi sayang. Dan aku gak masalah dengan perubahan yang ada di diri kamu sayang. Toh yang membuatmu gendut juga aku"


"Terus panggil aja gendut. Terus saja sebut gendut. Iya aku si gendut kenapa emangnya kalau aku gendut"


"Eh gak sayang. Nggak kamu itu gak gendut cuma sedikit berisi. Iya sedikittttt aja kok berisinya. Beneran"


"Malam ini tidur disofa. Dan jatah retha kurangi satu minggu satu kali saja. Titik gak pake koma"


Arsya melemas mendengar ultimatum sang istri hanya karena dia selalu berucap kata gendut. Padahal maksudnya untuk bercanda tidak serius.


"Ingat ya reader. Jangan sekali-sekali ngatain istri kalian gendut, sedikit berisi atau apapun istilahnya kalau kalian masih ingin hidup enak. Karena itu satu kata yang akan merebut kesejahteraan kita. Bahkan bisa merubah istri kita menjadi singa betina ngamuk"


Retha mendengar gumaman pelan sang suami. Langsung berteriak.


"Papiii hukuman ditambah"


"Ampunnn mami"


_______


Arsya belum tau aja apalagi kegilaan yang diajarkan icha dan eneng kepada istri manjanya itu


Oya kemarin ada yang inbox meminta ijin kepada saya menggunakan nama anak-anak dan nama pemeran didalam novel ini untuk calon anak mereka. Monggo saya tidak melarang. Itung-itung ngasih ide calon orangtua untuk memberi nama terbaik bagi calon putra putri mereka.


Happy reading... Jempol ya digoyang jempolnya ayoooo cuzzz