RashSya Story

RashSya Story
RashSya~ New Born 2



Arash berjaga kembali karena Icha sudah sering kontraksi. Arash ingin Icha dibawa kerumah sakit namun Icha menolak dia gak ingin terlalu lama menunggu dirumah sakit. Apalagi jika anak pertama pembukaan lengkap ada yang harus nunggu dua belas jam lamanya. Icha takut jenuh jika berada di rumah sakit.


"Mas"


"Iya sayang. Kerasa lagi ya"


"Haus mas"


"Oke bentar ya, mas ambilkan"


Arash keluar kamar dan mengambil ait minum di meja makan. Kamar mereka sudah dipindah semenjak kejadian kontraksi Icha waktu itu.


"Ini sayang minum dulu"


"Makasih mas"


Icha meneguk air dalam gelas itu hingga tandas. Arash memijat kaki sang istri agar relax.


"Mas belum tidur dari tadi"


"Udah kok sayang. Tadi sempat tidur bentar"


"Mas pasti lelah sekarang. Istirahat saja"


"Mas gapapa. Kamu bobok lagi ya sayang. Biar ada tenaga nanti"


"Mas boleh Icha ngomong sesuatu"


"Apa sayang"


"Icha minta maaf karena belum menjadi istri yang baik buat mas. Icha gak tau apakah perjuangan icha untuk si kembar nantinya akan seperti apa. Icha minta jika Allah tidak mengijinkan icha merawat mereka, icha minta mas jaga mereka dengan baik. Carilah penggantiku yang bisa menerima mereka dan mereka suka. Jangan sedih lama-lama ya"


"Mas gak pernah ngijinin kamu ninggalin mas dan si kembar sayang. Mas gak akan pernah ridho jika itu terjadi. Mas yakin kamu bisa sayang. Kita akan membesarkan mereka bersama. Mendidik mereka bersama hingga nanti mereka memiliki adik kembali"


Arash langsung memeluk Icha. Dia langsung menangis begitupun icha. Perjuangan melahirkan seorang ibu adalah perjuangan hidup dan mati. Nyawa dipertaruhkan untuk buah hatinya.


Menjelang subuh Icha kembali kontraksi. Kebetulan Jasmine sudah dalam perjalanan kembali ke tanah air setelah tau icha kontraksi.


"Mas. Ish allahhuakbar. M ma mas ish"


Icha menepuk pipi sang suami. Arash yang tak sengaja tertidur langsung membuka matanya.


"Sayang sabar. Mas cuci muka dulu. Kita kerumah sakit"


Sambil memegang ponsel arash langsung mencuci mukanya. Tak ingin kejadian waktu itu kembali terulang, Arash selalu tidur dengan pakaian lebih layak. Arash menghubungi mang toyib untuk menyiapkan mobil.


"Sayang ayo pelan - pelan saja"


"Uhhh allahhuakbar. Ya Allah seperti inikah rasanya"


Setiap kontraksi datang Icha hanya bisa menggenggam erat lengan sang suami. Menahan serangan hebat dari si kembar yang ingin segera melihat dunia.


"Sabar sayang. Tarik nafas biar rileks ya"


Setelah serangan itu hilang, Icha dituntun perlahan. Ibu dan kakak icha juga sudah terbangun karena mang toyib tanpa sengaja menekan klakson saking gugupnya.


"Rash sudah sering banget ya kontraksinya"


"Iya kayaknya A'. Kita segera kerumah sakit saja"


"Kalau icha kontraksi setiap lima atau sepuluh menit sekali, kemungkinan kuta tidak akan sampai kerumah sakit tepat waktu"


"Ya sudah gapapa kita cari klinik terdekat juga gapapa A' yang penting selamatkan mereka dulu"


"Iya. Ayo Aa' bantu"


Ibu Icha dan Arash menemani Icha dijok belakang. Alif menemani mang toyib. Tiba - tiba Icha kembali berteriak lebih kencang.


"Mas kayaknya ada yang lekuar ini. Allahhuakbar"


"A' gimana ini klinik masih lumayan jauh"


"Coba kamu lepas underwear icha. Takutnya bayi kamu gak sabar mau kelur"


"Baik A'"


Arash mengangkat sedikit daster Icha dan menarik underwear sang istri. Ternya sudah banyak darah di underwear itu.


"Sayang sabar bentar lagi kita sampe klinik ya. Jangan lahir dimobil ya"


"Aku tuh gak kuat mas. Sabar sabar. Kamu gak rasain jadi aku. Bikin aja bisanya. Ibuu"


"Hush icha gak boleh ngomong gitu sama suaminya. Sabar ya nak"


"Sakit bu"


"Iya sabar"


Entah apa yang terjadi mobil yang dikendarai mang toyib tiba-tiba saja mogok. Mereka semakin panik apalagi mobil itu berhenti didepan pintu masuk pemakaman umum dan dibawah pohon beringin besar.


"Ya allah kenapa lagi ini"


"Mamang cek dulu bentar mas"


"Iya cepetan"


"Mas. Sakit ini"


"Iya sayang sabar. Kita berdoa saja ya mobilnya segera jalan"


Mang toyib lupa mengecek mobil itu. Karena jarang dipake. Tiba-tiba datang orang berjubah putih mendekati mobil arash apalagi terdengar teriakan dari dalam mobil Arash.


"Astagfirullah"


"Maaf jika saya mengagetkan. Sepertinya istri anda akan melahirkan"


"Benar pak. Kami mau ke klinik tapi mobil kami macet"


"Sebaiknya kalian kerumah saya saja. Lebih dekat. Takut kalau bayi kalian sudah mau lahir"


"Memang ada apa dirumah bapak"


"Anak saya biasa menolong persalinan warga sini"


"Ya baiklah pak. Saya juga gak sanggup lihat istri saya kesakitan seperti ini"


"Sebentar nak saya ambilkan tandu dirumah"


Bapak itu berlari kembali kerumahnya. Arash tak begitu memperhatikan. Dia hanya fokus pada Icha. Mang toyib meminta bantuan supir rumah tapi pasti akan lama sampainya.


"Mas supir baru berangkat dari rumah"


"Lama mang. Tadi ada yang nawari lahiran dirumahnya"


"Dukun beranak mas"


"Entahlah yang penting istri dan anakku selamat"


Icha terus merintih kesakitan. Tak lama bapak itu datang dengan membawa tandu sambil berlari serta membawa satu orang laki-laki muda bersamanya.


"Mas ayo pindahkan istri anda ke tandu dan ini selimutnya"


"Ya pak"


Arash dibantu alif perlahan memindahkan tubuh Icha ke tandu dan menyelimuti tubuh icha dengan selimut yang dibawa bapak tadi. Icha ditandu oleh bapak berjubah putih dan seorang pria muda yang hanya menggunakan kaos polos putoh dan kain sarung.


Mang toyib tetap menunggu supir datang di mobil. Sedangka arash dan keluarga icha mengikuti kemana icha dibawa. Mereka masuk kedalam gang yang lumayan lebar namun berdampingan dengan makam yang berbaris rapi.


Tak lama mereka sampai didepan sebuah rumah sederhana namun disampingnya terdapat bangunan lain yang menyerupai klinik bersalin. Bahkan ruangan itu juga bersih dan rapi.


"Ayo cepat bawa masuk. Saya akan periksa sudah pembukaan berapa. Suaminya bisa ikut masuk"


Arash terus mendampingi Icha. Bidan tersebut langsung memeriksa icha dari bawah. Arash tak begitu memperhatikan dia terus menyemangati sang istri.


"Sudah pembukaan sembilan ini pak. Sebentar lagi akan lahir. Air ketuban masih belum pecah"


"Kira-kira berapa lama lagi ya bu"


"Gak lama pak kalau dilihat dari frekuensi kontraksi ibu. Setengah jam lagi saya periksa atau jika ibu merasakan ada air merembes keluar langsung bilang. Tolong jangan mengejan ya bu. Biar jalan lahirnya tidak bengkak"


Bidan itu keluar mempersiapkan semua keperluan persalinan Icha. Baru berjalan lima belas menit arash berteriak jika ada air keluar banyak sekali.


Bidan itu langsung bersiap-siap dibawah icha. Karena ketuban Icha sudah pecah. Arash diarahkan untuk membantu Icha saat mengejan dengan sedikit mendudukan tubuh icha agar mempermudah persalinan.


Oek oek oek


"Alhamdulillah satu bayi lahir selamat dan tampan sekali"


"Dia lelaki bu"


"Benar bapak. Apa selama ini diusg tidak terlihat. Kenapa sepertinya bapak tetkejut"


"Selama ini jika diperiksa hanya perempuan terus hasilnya bu"


"Wah anak pintar ya memberi kejutan sang ayah"


Selang lima menit Icha kembali kontraksi. Dan kali ini lebih mudah daripada anak pertama tadi.


Oek oek oek


"Selamat pak bu anak keduanya cantik sekali"


"Alhamdulillah. Jadi mereka kembar sepasang ya bu"


"Iya selamat ya pak. Sekali gol dapat sepasang"


Arash hanya tersenyum simpul. Bidan kembali berkata jika icha terasa kontraksi kembali, icha harus kembali mengejan untuk mengeluarkan ari-ari si kembar.


Proses persalinan sudah selesai. Bayi mereka sedang dibersihkan dan diberi suntikan pertama serta ditimbang dan diukur tinggi badannya oleh salah satu asisten bidan. Dan Icha sedang dijahit ditemani arash.


"Terimakasih sayang kamu memang bunda yang hebat. Tetimakasih sudah memberiku dua anugerah sekaligus. I love so much Annisa Syauqi Malik"


"Love too abah"


Icha diperiksa oleh bidan tekanan darah pasca melahirkan dan juga memberikan suntikan oksitosin dipaha untuk mencegah pendarahan usai melahirkan. Si kembar lalu dibawa kepada icha untuk melakukan IMD secara bersamaan. Arash mengazani sang putera terlebih dahulu sebelum diberikan pada Icha. Setelah itu bergantian dengan sang putri. Kini keduanya sedang menikmati sumber makanan pertamanya yang dulu hanya untuk Arash.


"Mas anak kita unik ya"


"Unik kenapa sayang"


"Kalau difilm judulnya kan beranak dalam kubur. Lah mereka berojol disamping kubur"


"Hush ngasal aja kamu sayang"


_____


Ini anaknya kasih nama siapa ya.....


Jangan lupa jempolnya


Happy reading