
"Ghibran"
"Ghibran"
"Kemana tuh anak. Kebiasaan kalau uda dapat buku baru lupa sama dunia lainnya"
"Mommy kenapa marah-marah sayang"
"Anak kamu tuh dipanggilin dari tadi gak nyaut"
"Anak aku anak kamu juga loh ya. Biarin aja. Ntar kalau lapar juga keluar sendiri dia"
Bagas sudah memeluk chila dari belakang sambil menciumi leher sang istri karena rambut chila diikat asal keatas. Mereka memiliki maid yang hanya membersihkan rumah saja dan tidak tinggal.
"Stop honey. Nanti ghibran lihat"
"Nggak akan. Daddy kangen. Oya lupa. Mommy masih terus minum pil pencegah kehamilan kan"
"Kenapa memangnya"
"Cuma mastiin aja. Daddy masih takut mommy hamil lagi"
"Sayang jujur aku sudah gak meminum obat itu lagi"
"Sejak kapan"
Nada bicara bagas berubah menjadi dingin. Bagas masih trauma dengan kejadian saat chila mengandung dan melahirkan ghibran. Itu yang membuat bagas belum ingin chila hamil kembali.
"Sudah dari bulan lalu"
"Kenapa memutuskan sendiri. Mommy selalu mengabaikan permintaan daddy"
Bagas yang kesal langsung meninggalksn chila. Dia masuk ke kamar. Chila tau jika sang suami kecewa. Namun dia juga ingin ghibran memiliki seorang adik. Apalagi usia ghibran sudah enam tahun.
"Huh ngambek lagi. Dasar bayi besar"
Chila menyusul sang suami ke kamarnya. Bagas duduk disofa sambil menatap kearah keluar jendela. Bayangan apa yang dialami chila kala itu terlintas dalam pikirannya.
"Sayang"
Bagas masih tak bergeming. Chila sudah duduk dibelakangnya dan mendekap erat tubuhnya. Bagas benar-benar masih kecewa karena tanpa seijinnya chila mengambil keputusan dengan resiko tinggi.
"Jangan marah. Aku melakukan ini juga untuk keluarga kita. Kasian ghibran selalu kesepian"
"Setidaknya kamu bicara dulu denganku. Bukan langsung memutuskan"
"Iya aku salah. Maaf ya"
"Aku bukannya tak ingin memiliki anak lagi. Tapi kejadian waktu itu masih membuatku trauma sayang"
"Aku gapapa sayang. Setiap kehamilan memilki kondisi berbeda dengan resiko berbeda juga. Yakin kali ini aku gapapa. Lagian aku juga belum ngecek uda ada hasil apa belum"
"Aku masih belum siap sayang. Bayangan kamu menutup mata kala itu begitu menyakitkan. Please beri aku waktu sayang"
"Tapi aku sudah melepas obat itu sayang. Bisa saja dia sudah hadir saat ini tanpa kita sadari. Apa kamu juga akan membuangnya"
"Jika itu yang terbaik"
"Tapi aku tidak mau. Bahkan resiko membuangnya lebih berbahaya sayang"
"Tolong tolong. Aku benar-benar belum siap"
"Huh. Percayalah setiap anugerah pasti membawa kisahnya sendiri. Aku minta kamu jangan seperti ini. Sudah enam tahun lamanya sayang"
"Aku gak mau kehilangan kamu sayang. Gak mau. Cukup satu kali itu kamu menutup mata kamu. Cukup satu kali itu kamu tertidur seolah tak ingin membukanya kembali. Hancur aku sayang melihatmu tak berdaya seperti itu"
"Hmmm sudah jangan lagi dikenang. Sekarang kita jalani apa yang dihadapan kita saat ini. Itu semua adalah kecelakaan sayang. Jangan lagi kamu kenang"
"Tolong beri aku waktu sayang"
"Baiklah. Tapi aku minta jangan memutuskan sesuatu yang sangat dimurkai sang pencipta"
Chila didekap erat dalam pelukan bagas. Bagas masih teringat bagaimana beratnya masa kehamilan chila saat itu. Yang mereka kira semua baik-baik saja ternyata tidak. Bahkan chila merelakan nyawanya demi ghibran.
Saat awal kehamilan chila tak mengalami kendala apapun. Bahkan semua baik-baik saja. Tragedi siang itu membuat jay dan bagas murka. Awal dari semua ketakutan bagas dimulai.
Chila selalu datang ke kantor bagas untuk mengantar makan siang. Biasanya bagas akan menjemput chila di lobby kantornya. Namun hari itu bagas masih ada meeting dan jimmy sedang keluar kantor. Chila dengan perutnya yang sudah besar berjalan perlahan.
Seorang pegawai wanita menawari mengantarkan chila ke ruangan bagas, namun chila menolaknya. Petaka datang saat chila hendak masuk lift khusus. Seorang wanita yang entah datang dari mana langsung menyerang chila. Dia memaki bahkan tak segan tangannya melayang.
Bukan chila tak bisa melawan. Namun dia menjaga kandungannya. Wanita itu terus menyerang chila. Para pegawai membantu chila agar tak terjatuh. Namun wanita itu sangat kuat.
"Dasar wanita pengganggu. Jika bukan karena kamu bagas sudah menjadi milikku. Kau tak pabtas ada disini. Kau harusnya mati bersama anak dalam kandungan kamu itu. Pergi kamu jauh dari kehidupan bagas"
Chila didorong kuat hingga kakinya tak bisa menopang tubuhnya. Bersamaan dengan jatuhnya chila yang membentur dinding, Bagas datang dengan amarahnya.
"Sayanggggggg"
Bagas berlari langsung membopong chila. Darah dikepala dan kakinya deras mengucur. Dunia bagas langsung menggelap. Disaat itu jay juga berada disana. Melihat putrinya seperti itu jay sangat murka. Bagas sudah membawa chila keeumah sakit. Jay langsung mengeluarkan kemurkaannya.
"Dasar ja***la**ng. Berani kau menyentuh putriku. Berani kau membuatnya tak berdaya. Kau pikir kau siapa"
Perempuan itu terdiam tak berdaya berhadapan dengan orang yang begitu diselimuti kabut amarah. Namun dengan sisa keberanian yang ada wanita itu menantang seorang zaydan malik.
"Harusnya anda yang tau diri tuan. Putri brengsek anda yang merebut bagas dari saya. Saya yang lebih pantas bersama bagas. Anak ada adalah seorang perebut"
Plak plak
Tamparan keras dilayangkan jay pada perempuan itu. Jay tak peduli dia seorang wanita. Siapa saja yang mengusik keluarganya akan mendapat balasan menyakitkan.
"Apa hak anda menghancurkan keluarga saya. Bahkan keluarga saya lebih berkuasa dibanding anda"
"Berucaplah sesuka hatimu nona. Dan silahkan hadap pembalasan seorang zaydan malik"
Bukan jay yang menjawab namun Daffa. Wanita itu mencoba mengingat nama yang tak asing baginya. Daffa langsung mengambil ponsel menghubungi seseorang.
"Bekukan semua aset Denandro grup. Tarik semua investasi detik ini juga"
Mendengar nama keluarganya disebut perempuan itu diam memantung. Daffa berlalu pergi. Security sudah menahan wanita yang ternyata seorang model ternama bernama Alesha Denandro. Dia juga teman sekolah bagas.
Dirumah sakit chila langsung dilarikan kedalam ruang operasi. Bayi dalam kandungannya harus diselamatkan. Walaupun usia kandungannya saar itu masih tujuh bulan, dokter tetap akan mengambil tindakan menyelematkan keduanya.
Bagas dan Jay menunggu dengan gelisah. Bahkan jay tak berani memberitahu jasmine tentang kondisi chila saat ini. Dua jam lamanya operasi berlangsung. Karena chila menjalani dua operasi sekaligus.
Setelah mengeluarkan bayinya, dokter harus mengatasi pembekuan darah pada otak chila karena benturan yang keras. Beruntung bayi bagas sehat. Hanya karena umurnya yang belum cukup, membuat putranya harus dirawat dalam ruangan khusus.
Selesai menjalani operasi, bukan hal yang mudah bagi bagas melewati hari-hari berikutnya. Dokter mengatakan shock yang dialami oleh chila yang membuat chila enggan membuka mata. Chila koma. Bagas sangat terpukul. Dia bahkan tinggal dirumah sakit memantau putranya dan juga istrinya.
Kondisi tak baik ini mau tak mau jay kabarkan kepada keluarganya. Bukan hanya jasmine kedua saudara kembarnya sedih dan marah. Bagas terus berada disisi chila berusaha membuat sang istri bangun.
"Ini sudah satu minggu sayang kamu tetap tak ingin bangun. Apa kamu bahagia seperti ini"
"Huh ya sudah tidur saja terus. Aku mau cari mama baru buat baby"
Masih tak ada respon dari chila. Dalam hati bagas sudah sangat frustasi namun sekuat tenaga dia menahan agar tidak ada air mata menetes.
Pagi itu tepat dua minggu sudah chila memejamkan mata. Dokter anak memberi kabar jika putranya sudah bisa diajak pulang. Bagas bahagia sekaligus sedih. Dia berharap saat putranya sehat chila juga sehat dan mereka bisa kembali bersama. Namun kenyataan tak swindah harapan.
Bagas meminta ijin membawa putranya bertemu dengan mommynya. Mungkin dengan kedatangan sang putra membuat chila semangat berjuang untuk kembali sadar.
"Mommy assalamualaikum. Aku datang jengukin mommy loh. Lihat deh aku tampan loh mom kayak daddy"
Bagas membawa sang putra mendekati chila. Bagas bahkan menaruh tubuh bayi itu didekat kepala chila. Mungkin ikatan batin mereka yang sangat kuat memnuat sang baby menangus kencang sekali. Karena suara tangis itulah membawa chila kembali ke alam sadarnya.
Melihat chila membuka matanya, membuat bagas bahagia. Dia langsung meminta dokter memeriksa kondisi chila. Semenjak kejadian itu bagas seperti takut jika chila hamil lagi. Padahal semua kejadian itu bukan berasal dari chila namun ulah orang lain. Bagas tetap tak mau mengerti.
.
.
.
"Mommy. Ghibran ingin tinggal bersama opa"
Usai makan malam ghibran mengungkapkan keinginannya untuk kesekian kali.
"Kenapa son"
"Ghibran ingin disana. Ghibran tak suka disini"
"Ada masalah apa son"
"Ghibran ingin bersama Kakak Al dan abang Serkan bermain bola. Ghibran disini selalu sendiri. Ghibran minta adek daddy tak membolehkan"
"Tapi kita sudah janji tidak akan membahas tentang adik boy"
"Itu dulu. Tapi sekarang ghibran kesepian. Ghibran tak suka berteman dengan orang disini. Ghibran tak suka mereka selalu menghina ghibran"
"Apa yang mereka katakan"
"Mulut ghibran bau sampah"
"Huh daddy kan selalu bilang usai makan jengkol dan petai gosok gigimu dan berkumur dengan cairan pembersih mulut boy"
"Tapi ghibran tak suka cairan pembersih mulut itu daddy. Jika ghibran kembali ke rumah opa, setidaknya hal seperti ini biasa buat mereka. Apalagi kak meera juga suka dengan jengkol dan petai"
"Hmmm. Ya sudah nanti daddy pikirkan lagi son"
"Jangan hanya dipikirkan dad tapi juga dibuktikan"
Ghibran beranjak dari sofa dan langsung masuk kamar. Berkutat dengan tumpulan buku. Ghibran memang hobi membaca.
"Mom ke kamar yuk"
"Ngapain"
"Ubi kayu kangen nih mau masuk gua"
"Males. Nanti suruh minum obat lagi"
"Setelah daddy pikir. Sebaiknya memang kita mencobanya lagi. Mungkin dengan begitu rasa takutku akan hilang"
"Yakin dad"
"Sangat yakin. Makanya yuk. Udah nahan dari tadi ini"
Bagas langsung mengangkat tubuh sang istri. Mereka akan melakukan pertempuran sengit dan panjang malam ini.
"Ubi kayu ayo kita berjuang"
_______
Sengaja dibahas satu persatu cucu opa jay. Nanti juga akan ada bebera part tambahan tentang yang lainnya. Sudah hampir diujung ya.....
Jangan lupa jempol
Happy reading