
"Sayang. Aku keruangan Aruna dulu"
Ghaisan mengecup kening Arumi sebelum meninggalkan ruangan itu. Ghaisan kembali menoleh kearah Arumi. Menatap dengan sendu. Hanya sebentar Ghaisan menatap Arumi dan kembali meninggalkan ruangan itu. Ghaisan berjalan dengan gontai. Nampak para keluarga sedang menangis pilu. Bahkan mama Arumi sudah tak sadarkan diri.
Ghaisan mendekati keluarganya dan mendapatkan pelukan dari sang papa mertua.
"Pah"
"Ghaisan. Aruna tak mau bertahan lagi"
Tangis pilu pak Wijaya membuat pertahanan Ghaisan pun luntur. Ghaisan dan mertuanya saling berpelukan erat. Pak Wijaya mengurai pelukan itu dan membiarkan Ghaisan menemui adik iparnya untuk terakhir kali. Ghaisan berdiri ditepi ranjang Aruna. Dia menatap wajah pucat dihadapannya.
"Dek. Walaupun Abang baru bertemu dengan beberapa bulan ini, bagi abang kamu adalah adik Abang yang kami sayangi. Maafkan Abang bahkan disaat terakhir mu, Abang masih tidak menengokmu. Mungkin kamu sudah tak merasakan sakit lagi dek. Walaupun hati Abang sakit melihatmu kini. Abang doakan kebahagiaan abadi untukmu dek. Dan tolong jangan kamu bawa kakakmu pergi. Mintalah dia kembali"
Mungkin perkataan Ghaisan sangatlah egois. Namun dia tak peduli. Satu orang tersayang sudah pergi untuk selamanya. Jika satu lagi ikut meninggalkan mereka, dunia mereka pasti akan runtuh. Ghaisan masih berdiri disamping ranjang Aruna. Hingga saat teriakan dari luar yang ikut membuatnya panik.
"Ada apa dengan Arumi sus"
"Maaf pak. Dokter sedang memeriksa pasien. Harap tenang dan bersabar"
Ghaisan keluar karena perasaan yang tak tenang. Keluarga kembali panik. Bahkan rasa kehilangan mereka terhadap Aruna belumlah berkurang. Kini mereka kembali tegang menunggu dokter memberikan kabar baik.
"Ada apa pah"
"Arumi Chan"
Ghaisan berlari untuk menerobos kamar Arumi. Ghaisan berdiri mematung dihadapan Arumi. Air mata Ghaisan terus mengalir deras. Sedih dan bahagia, itulah yang Ghaisan rasakan saat ini.
"Arumi. Sayang"
Dokter tersenyum mendekati Ghaisan. Semua pemeriksaan sudah selesai dilakukan.
"Selamat pak. Istri ada sudah sadar"
"Ini nyata kan dok. Bukan mimpi"
"Ini nyata pak Ghaisan. Namun kami sedang memantau kesehatan ibu Arumi"
Ghaisan berjalan mendekati Arumi. Menciumi seluruh wajahnya dan juga telapak tangannya.
"Sayang kamu bangun. Sayang. Arumi"
Arumi tersenyum. Dia mengenalj suara itu. Namun keanehan pun kembali tampak.
"Mas. Ini kamu kan"
"Iya ini aku sayang. Apa kamu lupa padaku"
"Tidak. Aku tidak lupa. Tapi. Tapi kenapa semuanya gelap mas. Apa mati lampu"
Ghaisan kaget mendengar perkataan sang istri. Jelas-jelas ruangan itu sangat terang benderang. Namun bagi Arumi sebaliknya. Ruangan itu sangat gelap gulita. Ghaisan kembali memastikan dengan menggerakkan tangannya dihadapan mata Arumi.
"Mas. Mas dimana. Ini gelap mas. Rumi gak bisa lihat"
Dokter yang masih didalam ruangan itu langsung mendekat dan meminta Ghaisan untuk sedikit menjauh agar bisa memeriksa Arumi.
"Maaf pak. Kami akan memeriksa ibu"
Ghaisan berkelana dengan langkah berat. Tubuhnya menegang. Dia berdiri mematung dibelakang dokter dan perawat. Dokter memeriksa Arumi dengan teliti.
"Pak Ghaisan. Bisa kita bicara sebentar"
Ghaisan mengangguk dan mendekati Arumi untuk berpamitan.
"Sayang aku keluar sebentar. Mama akan menemani kamu"
"Mas. Aku gapapa kan. Tapi kenapa masih gelap"
"Iya sedang mati listrik sekarang sayang"
"Oh gitu. Ya sudah. Tapi jangan lama-lama ya mas"
"Iya. Aku hanya sebentar"
Ghaisan keluar ruangan bersama dokter. Didepan keluarga sudah menanti dengan cemas. Melihat Ghaisan datang bersama dokter. Mereka segera mendekat.
"Abang. Bagaimana Arumi"
"Alhamdulillah Arumi sudah sadar pah"
"Alhamdulillah"
Mereka bahkan langsung sujud syukur. Merasa bahagia karena Arumi sudah bangun. Dokter menjelaskan kondisi Arumi. Rasa bahagia kembali menjadi duka. Ghaisan meminta Naomi dan sang mama menemani Arumi. Sedangkan Ghaisan bersama kedua papanya berjalan mengikuti sang dokter.
Mereka sudah berada didalam ruangan dokter yang selama ini merawat Arumi dan Aruna.
"Dok. Apa istri saya mengalami kebutaan"
"Innalilahi"
Ghaisan kembali terpuruk. Namun baginya tak masalah Arumi buta. Yang terpenting Arumi sudah sadar dari mimpi panjangnya. Syamil mencoba mencari tahu solusi untuk sang menantu.
"Apa bisa disembuhkan dengan Opera dok. Setau saya ada hal semacam itu"
"Memang bisa pak. Tapi pasien harus mendapatkan donor yang sesuai. Itu membutuhkan waktu lama"
Mereka semua terdiam. Bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Itu akan sangat menyulitkan. Pak Wijaya memiliki sebuah ide.
"Dok. Putri saya itu kembar identik. Apakah bisa Aruna menjadi donor darah bagi Arumi"
"Bisa pak. Tapi kami akan melakukan prosedur pemeriksaan terlebih dahulu. Terkadang walaupun mereka memiliki DNA yang sama namun masih saja ada ketidakcocokan"
"Baik dok. Lakukan pemeriksaan segera. Agar kami juga bisa segera memakamkan Aruna"
Pak Wijaya sangat bersemangat saat mendengar ada harapan untuk Arumi sembuh. Mereka sudah meninggalkan ruangan dokter. Ghaisan memegang tangan papa mertuanya.
"Pah. Apa papa yakin akan melakukan ini"
"Insyaallah ini yang terbaik nak. Walaupun Aruna sudah tiada. Jika kornea matanya bisa digunakan Arumi, bagi papa itu akan sangat membahagiakan. Mereka akan menjadi satu"
"Pah. Bagaimana dengan mama"
"Mamamu pasti juga akan setuju. Yang terpenting segera menyelamatkan Arumi nak"
"Terimakasih pah. Terimakasih"
"Ini tugas papa sebagai ayah untuk membahagiakan anak-anaknya. Jadi tak perlu kamu berterimakasih. Setelah ini, semua tanggungjawab Arumi papa serahkan ke kamu"
"Baik pah. Ichan akan menjaga Arumi dengan baik. Sekalipun Arumi tak bisa melihat. Ichan akan menjadi mata baginya sepanjang hidup Ichan pah"
Mereka saling berpelukan. Syamil yang melihat sang putra begitu bangga. Dia tetap bertanggung jawab dengan keputusannya. Bahkan tidak ada niat sekalipun meninggalkan Arumi.
Mereka kembali keruangan Arumi. Syamil menjelaskan apa yang mereka bicarakan dengan dokter kepada anggota keluarga lainnya. Begitupun pak Wijaya. Sang istri memang setuju usulan pak Wijaya. Setidaknya dia masih bisa merasakan kehadiran Aruna dalam diri Arumi.
Dokter telah selesai melakukan pemeriksaan dan menyatakan jika Aruna memiliki kornea yang cocok dengan Arumi. Mereka segera melakukan operasi. Beruntung kondisi fisik Arumi sangat kuat. Dokter bisa melakukan operasi dengan segera.
Hari telah berganti, namun mendung duka masih menyelimuti keluarga Wijaya. Hari ini jenasah Aruna akan dimakamkan. Ghaisan tidak hadir dalam pemakaman karena dia menjaga Arumi dirumah sakit. Operasi sudah dilakukan malam tadi, dan berhasil. Tinggal menunggu hasilnya saat nanti perban Arumi dibuka. Hingga detik ini Arumi belum mengetahui jika Aruna telah tiada.
Mereka semua masih berada diarea pemakaman. Tangis kedua orangtua Aruna sudah tak tertahan saat liang lahat tertutup oleh tanah. Aruna selama ini tidak pernah mau ikut tinggal bersama kedua orangtuanya. Dia memilih untuk mandiri. Dan kini dia kembali kepada orangtuanya. Namun kembali pergi untuk selamanya.
"Mah. Ayo pulang. Kita masih harus menjaga Arumi"
"Iya pah"
Saat akan beranjak meninggalkan makam Aruna, seseorang mendekati keluarga Aruna dan Ghaisan.
"Selamat pagi om tante"
"Pagi. Kamu siapa"
"Saya Sindi om. Teman baik Aruna di negara S"
"Oh. Begitu. Kamu mau bertakziah. Silahkan. Kami sudah selesai. Tolong maafkan Aruna jika memiliki salah ya nak"
"Aruna tidak ada salah om. Sindi kemari juga atas permintaan Aruna sebelum dia kembali ke tanah air"
"Ada apa nak"
Teman Aruna mengeluarkan dua buah amplop berukuran dan berwarna berbeda dari dalam tasnya.
"Ini om. Aruna pernah berkata kepada Sindi. Jika sesuatu nanti terjadi dengan dia saat berada ditanah air atau dimana pun. Sindi harus menyerahkan ini kepada om dan tante"
Bukan hanya keluarga Arumi yang kaget mendengar perkataan itu. Keluarga Ghaisan pun sama. Mereka berfikir jika Aruna memang memiliki firasat akan kepergiaannya kali ini.
"Sindi ikut berduka om. Semoga ini jalan terbaik untuk Aruna dan dia tidak merasakan sakit lagi. Om dan tante yang tabah ya"
"Sebentar. Maksud kamu Aruna tidak merasakan sakit lagi apa nak. Apa Aruna selama ini sakit"
"Om. Bisa membaca semua diamplop itu. Aruna juga membuat video khusus untuk kalian. Maaf Sindi harus segera kembali. Dan tugas Sindi sudah selesai"
Memang berita meninggalnya anak seorang pengusaha ternama seperti pak Wijaya cepat sekali tersebar. Dan sahabat Aruna langsung terbang dari negara S, setelah mendapat berita itu.
Mereka sudah meninggalkan makam dan dalam perjalanan menuju rumah sakit. Pak Wijaya membuka amplop berwarna putih terlebih dahulu. Nama sebuah rumah sakit tertulis besar paling atas. Pak Wijaya kembali menangis melihat hasil pemeriksaan dari sebuah rumah sakit ternama untuk Aruna.
"Kenapa kamu menyembunyikan ini semua nak. Kenapa kamu tidak jujur pada kami arunaaa"
_______
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜kok aku jadi ikut nangis ya....
Jangan lupa jempolnya gaesss
Happy reading