RashSya Story

RashSya Story
Mr Jutek (Ghaisan Story)



"Mah. Pah. Ichan mau bicara"


"Apa bang. Sepertinya serius sekali"


"Pah. Satu Minggu ini Ichan sedang melakukan istikarah untuk seseorang"


Syamil dan Syaqilla saling menatap dan meletakkan sendok mereka. Mereka fokus kepada putra pertamanya.


"Abang serius"


"Iya pah"


"Siapa wanita itu bang"


"Ichan belum bisa memberitahu sekarang mah. Ichan meminta doa agar apa yang Ichan hajatkan berjalan lancar"


"Aamiin"


"Bang. Papa gak pernah melarang apapun yang menjadi keinginan kamu. Papa cuma minta satu. Pastikan dia memang memiliki keyakinan yang sama dengan kita"


"Insyaallah pah. Dia wanita Sholehah. Walaupun belum berhijab. Semua butuh proses. Ichan juga tidak mau memaksa"


"Iya bang. Kami sebagai orangtua hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu bang"


"Terus kapan kami bisa mengenalnya bang"


"Nanti setelah Ichan mendapat jawaban dari sholat istikharah mah. Ichan akan meminta kalian untuk melamarnya"


"Bismillah bang"


"Iya pah"


Ghaisan selalu terbuka kepada kedua orangtuanya. Baginya orangtua adalah orang pertama yang harus tau apa yang sedang terjadi pada dirinya. Kecuali masalahnya dengan Malika. Hingga saat ini Ghaisan masih menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi. Ghaisan hanya ingin Malika tetap memiliki rasa dihargai saat tanpa sengaja bertemu dengan keluarganya tanpa sengaja.


"Mama penasaran. Gadis mana yang langsung meluluhkan putra kita ini pah"


"Benar sekali mah. Papah pun penasaran"


"Dia karyawan Ichan pah mah"


"Hah. Yang benar saja bang"


"Benar pah. Memangnya kalau dia karyawan Ichan. Ada masalah"


"Nggak bang. Kami cuma kaget"


"Mungkin ini yang dinamakan cinta karena terbiasa pah. Mereka terbiasa bertemu kan"


"Betul mah. Bagian apa bang"


"Rahasia. Karena Ichan tau. Papa itu kepo orangnya. Pokoknya tunggu satu Minggu ini saja"


"Baiklah. Baiklah. Kami akan bersabar"


"Atuk jangan diberitahu mah"


"Iya. Mama paham bang"


Mereka melanjutkan sarapan sambil berbincang. Kabar yang dibawa Ghaisan pagi ini menumbuhkan semangat baru bagi kedua orangtuanya.


"Gimana kabar anak tuyul pah"


"Bisa gak manggil adik kamu yang normal. Kalau dia anak tuyul, kamu abangnya tuyul. Kalian dibikin satu pabrik. Ingat itu"


"Masih menyebalkan"


"Azzam baik bang. Biasa masih suka bikin kesal Atuk"


"Gapapa, biar Atuk ada hiburan"


"Bulan depan dia pulang kesini bang"


"Ngapain"


"Ini juga rumahnya bang. Dia kangen sama kamu. Masa kamu gak kangen bang"


"Kangen pengen Ichan jitak"


"Oya. Jadi bulan depan ke Jerman"


"Jadi. Ichan udah pesan tiket"


"Berapa lama"


"Seminggu. Kan papa tau. Tuan putri gak mau kalau dijenguk cuma sehari dua hari"


"Azzam pulang kamu pergi bang"


"Hmm. Biarin aja mah. Lagian dia balik bisa gantiin Ichan seminggu"


"Gak pernah mau rugi"


"Jelaslah"


Usai sarapan, Ichan pamit berangkat ke kantor. Begitu juga Syamil. Syamil saat ini fokus pada perusahaan Reyno yang diberikan kepada Syaqilla.


Sesuai apa yang disepakati bersama, Arumi dan Ghaisan tidak saling bertemu. Namun masih boleh memberi perhatian dalam bentuk lain. Sebelum melajukan mobilnya, Ghaisan sempat menghubungi Arumi terlebih dahulu.


Dikantor semenjak berita hubungan Arumi dan Ghaisan tersebar, Arumi sudah tidak bisa menyangkalnya lagi. Apalagi Ghaisan pun tidak membuat penyangkalan apapun. Ghaisan sudah sampai dikantor. Usai memarkirkan mobilnya, Ghaisan berjalan masuk ke dalam perusahaannya.


Tanpa sengaja Ghaisan dan Arumi bertemu didepan lift. Para karyawan lainnya berbisik melihat Arumi dan Ghaisan saling diam. Ghaisan berpindah dari tempat awal berdiri mendekat kearah Arumi. Ghaisan sempat mampir ke sebuah toko kue didekat rumahnya dan membelikan Arumi beberapa kue.


Saat didalam lift, keduanya masih tetap terdiam. Para karyawan lainnya yang merasa canggung. Saat Arumi hampir keluar dari lift karena sudah sampai dilantai tiga, Ghaisan mencekal tangannya. Dia memberikan paper bag yang sedari tadi dia pegang.


"Ini jangan lupa dimakan beib"


Arumi hanya berdehem dan mengangguk. Dia benar-benar malu kepada teman-temannya yang melihat Ghaisan melakukan hal begitu manis. Bahkan Ghaisan sempat tersenyum kepada Arumi. Hal yang tidak pernah bisa dilihat oleh karyawan lain selama ini.


Ghaisan sudah berada diruangannya. Mala hingga saat ini belum bisa menyerahkan surat pengunduran diri Arumi. Dan Arumi tinggal beberapa Minggu lagi berada diperusahaan Ghaisan. Hari ini Mala berniat akan memberikan surat tersebut.


Tok tok


"Masuk"


"Selamat pagi pak"


"Pagi"


"Hari ini bapak akan ada meeting dengan tiga perusahaan. Dan ada satu undangan pernikahan dari RJ grup untuk besok malam"


Mala meletakkan undangan diatas meja Ghaisan. Ghaisan menerima dan membukanya. Sebelum menyerahkan surat pengunduran diri Arumi, Mala menarik nafas dalam.


"Maaf pak. Saya mau menyerahkan surat pengunduran diri untuk bapak setujui"


Ghaisan menatap Mala dalam. Dia kaget ada salah satu karyawannya mengundurkan diri. Dalam hati Ghaisan bertanya masalah apa yang terjadi.


"Siapa yang mengundurkan diri Mala"


"Anu pak. Itu"


"Anu apa. Mana suratnya"


Dengan tangan gemetar Mala menyerahkan surat pengunduran diri dari Arumi.


"Ini pak"


Ghaisan menerima dan langsung membukanya. Dia membaca perlahan surat itu. Saat nama yang tertera didalam surat itu nampak jelas, raut wajah Ghaisan berubah.


"Apa-apaan ini Mala"


"Maaf pak. Sebenarnya surat itu sudah diserahkan kepada saya dari pihak HRD tepat saat bapak akan tugas ke kota J dua Minggu lalu"


"Dan kamu baru memberikannya kepada saya sekarang Mala"


"Maaf pak. Karena saya tidak berani pak"


"Ck. Ahhhh. Panggil Arumi kesini sekarang juga Mala"


"Ba ba baik pak"


Mala cepat berbalik keruangannya dan langsung memanggil Arumi dari telepon ruangannya. Arumi masih belum tahu jika pengunduran dirinya baru diketahui Ghaisan saat ini.


"Mbak ada apa"


"Rum. Kamu cari masalah sama pacar kami sendiri. Saya gak bisa bantu rum"


"Masalah apa sih mbak"


"Sebaiknya kamu buruan masuk rum. Sebelum marah"


"Hah. Serius ini mbak"


"Iya serius. Cepet"


Arumi langsung berjalan mengetuk pintu ruangan Ghaisan. Suara Ghaisan terdengar tak ramah. Arumi berusaha tetap tenang. Dan langsung masuk setelah dipersilahkan Ghaisan.


Ghaisan menatap Arumi dengan tajam. Surat pengunduran diri Arumi masih digenggamnya. Arumi berdiri dihadapan Ghaisan dengan perasaan bingung karena merasa tak melakukan kesalahan.


"Apa ini. Kamu mau main-main sama perasaan saya Arumi"


Arumi menatap surat pengunduran dirinya yang sudah diremas oleh Ghaisan. Arumi kaget. Arumi mengira jika Ghaisan sudah mengetahui tentang pengunduran dirinya. Wajah Ghaisan memerah. Arumi tak berani menatap Ghaisan.


"Jelaskan Arumi. Kenapa kamu mengundurkan diri. Benar ini jawaban kamu untuk ku Arumi"


"Maaf pak. Saya membuat surat pengunduran diri itu satu Minggu sebelum kita berangkat ke kota J. Dan saya tidak tahu jika baru sekarang surat itu bapak ketahui"


"Lalu kenapa kamu ingin menjauh dari saya"


"Pak. Maaf sebelumnya. Saya sudah menyetujui permintaan ayah saya untuk keluar dari perusahaan ini dalam satu Minggu lagi"


"Kenapa. Apa ada masalah dengan kedua orantua kamu"


Ghaisan mulai luluh. Bahkan dia menarik Arumi untuk duduk disofa. Mereka duduk berdampingan.


"Saya belum bisa menjelaskan sekarang pak"


"Kita hanya berdua. Jangan formal"


"Hemm"


"Rumi. Tolong jelaskan ada apa"


"Hmm. Sebaiknya kamu datang kerumah setelah waktu yang kita tentukan. Dan kamu akan mengerti"


"Arumi. Kamu tidak berniat meninggalkan saya pergi kan sebelum semua jelas"


"Nanti kamu akan tahu. Karena aku tak bisa menjelaskan"


"Baiklah. Minggu malam aku akan datang"


"Aku tunggu"


_______


Wah...marah gak ya dakocan setelah tau siapa Arumi..


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading