
"Benarkah...jadi gadis itu bisa melunakan hati cucu kesayanganku...saya tak masalah dia dari keluarga mana yang pasti seiman"
"Benar tuan...anak perempuan ini sangat taat beragama bahkan seorang hafizah...namun sifat konyolnya yang membuat bang Arash nyaman...dan satu lagi anak perempuan ini memiliki sifat seperti kak Jasmine"
"Itu bagus sekali..sifat Arash perpaduan kedua orangtuanya berbeda dengan Arsya yang lebih dominan kepada Daddy-nya...atur waktu saya akan kembali ke tanah air"
"Baik tuan Syakir"
Ali kaki tangan ayah Jasmine melaporkan hubungan Arash dengan Annisa ...selama ini Atuk Arash ini selalu khawatir jika Arash masih memendam rasa kepada Malika yang sekarang sudah bertunangan dengan Ghaisan... setelah mendapat kabar dari Ali...Tuan Syakir sangat bahagia dan ingin segera bertemu Annisa
"Maaf tuan Syakir ada sedikit gangguan"
"Apa"
"Ini tuan"
Tuan Syakir membaca file pemberian Ali...dia hanya mengangguk...baginya itu hanya masalah kecil dan bisa diselesaikan dengan mudah
"Biarkan saja dulu...kita lihat sejauh mana dia akan terus mengganggu kehidupan cucuku...dan aku percaya cucuku akan bisa mengatasi ini dengan mudah"
"Baik tuan"
Sedangkan di kantor Arash sedang dilakukan acara pelepasan anak magang...hari ini hari terakhir Icha dan Aditya menjadi asisten Daffa dan Arash...namun mereka berdua menjadi salah satu siswa magang yang beruntung...karena mereka bisa langsung beekrja di ZM Group tanpa seleksi karena sudah memegang rekomendasi dari Arash dan disetujui oleh Jay
Setelah upacara perpisahan siang ini mereka menikmati makan gratis di kantin kantor untuk terakhir kali...Icha sudah menyiapkan hadiah kenangan untuk Daffa dan Arash begitu juga Aditya...Aditya dan Annisa kembali keruangannya untuk menyerahkan hadiah kenangan dan berpamitan secara langsung
"Pak Daffa dan pak bos...Icha minta maaf ya selalu membuat masalah selama disini...Icha minta maaf kalau ada perkataan ataupun perbuatan Icha yang membuat kalian jengkel dan kesal...tolong dimaafin ya biar Icha gak kualat sama orang yang lebih tua"
Daffa menahan tawa mendengar Arash dikatakan tua...sedang Arash hanya menatap dingin kearah annisa tanpa berucap apapun
Annisa menghela nafas dan menyerahkan kenang-kenangan untuk Arash secara langsung
"Pak bos jangan lihat dari harganya ya...karena pasti pak bos kaget kalau tau harganya hehe...yang penting Icha ikhlas ngasi kenangan ini...siapa tau pak bos kangen gitu sama Icha bisa lihat kenangan-kenangan dari Icha"
Icha terdiam dan masih menunduk sedangkan Arash membolak-balik hadiah Icha
"Sebenarnya gak perlu seperti ini Cha...lagian kita juga gak pisah jauh Ka ..Kamu masih bisa kesini bantu-bantu Daffa...tapi makasih ya saya terima hadiah kamu...satu hal lagi saya gak akan kangen kamu Icha...tapi takutnya kebalikannya...dan jangan sampai kebawa mimpi"
"Aduh jangan sampai lagi deh pak bos..cukup Icha ngimpiin bapak sekali saja...itu uda bikin Icha shock sampe takut buat tidur lagi...karena dimimpi Icha pak bos senyum manis banget jadi Icha kaget...biasanya kan gak gitu"
Arash menatap Icha intens sedangkan Daffa dan Aditya sudah terbahak-bahak karena ulah mulut Icha yang kembali loss remnya
"Ya Allah kenapa mulutku kambuh disaat yang tidak tepat"
Sambil tersenyum tips Arash melihat kedua tangannya didepan dada lalu menatap Annisa tajam
"Jadi menurut kamu kalau mimpi ketemu saya itu sama halnya mimpi ketemu gendruwo gitu"
"Bukan gedruwo bapak...gendruwo dibaca-bacain kabur...Lah kalau bapak harus dibacain apa coba biar kabur"
"Oh gitu ya...berarti saya lebih seram dari gendruwo Icha"
"Iya bapak pinter banget sih... sebenarnya hak serem asal bapak gak senyum aja"
"Apakah senyum saya mematikan sampai kamu takut"
"Senyum bapak mengandung sianida...yang gak kuat langsung koit"
Icha melotot karena baru sadar dari tadi dijebak Arash... sedangkan Daffa sudah kram perut saking tidak tahannya Daffa melengkungkan badannya diatas sofa sambil tertawa...sedangkan Aditya berjongkok didepan mereka
"Ya Allah kalian ini tuh cocok sumpah..yang satu kayak papan gilasan baju dan satunya punya mulut slebornya banget gak pake rem... Hahaha...gak kuat gue Rash"
Icha hanya nyengir saja melihat Arash yang masih kesal karena dikatakan memiliki senyum yang lebih buruk dari gendruwo
"Aduh pak jangan natap gitu dosa loh zina mata"
"Sudah tau zina mata kenapa kamu natap saya balik"
"Eh iya juga ya...ya sudah saya tutup mata aja biar gak banyak dosa"
Arash menggelengkan kepalanya melihat kelakuan absurd Icha...Arash lalu berpindah pada Aditya
"Kamu juga mau ngasi hadiah Dit"
"Iya pak... walaupun tidak seberapa semoga bisa menjadi kenangan"
"Terimakasih ya saya terima hadiahnya..dan untuk kalian berdua jangan lupa kantor ini terbuka lebar untuk kalian kapanpun ingin bekerja disini"
Tak lama pintu ruangan Arash diketuk...setelah dipersilahkan masuk nampak Tiffany datang dengan dandanan cetar membahana bahkan bajunya pun sekseh
"Ada keperluan apa"
Sebelum Tiffany menjawab dia melirik kearah Annisa dan Aditya yang duduk disofa dengan santainya
"Hmm saya mau pamitan dengan kak Arash"
"Kak"
"Iya gapapa kan saya panggil kakakbiar lebih dekat"
"Tapi saya tidak suka dan tolong jaga kesopanan ini kantor bukan tempat fashion show"
"Tapi kak...Eh pak saya kesini juga atas perintah Papa untuk kita saling mengenal"
"Katakan pada Papa kamu hari ini juga Investasi ZM Group ditarik dari perwita nusantara"
"Kok gitu sih salah saya apa"
Arash mengambil semua bukti penindasan yang dilakukan Tiffany kepada sesama anak magang dan karyawan bagian pantry..bahkan screenshoot chat Group juga Arash perlihatkan
"Sudah cukup membuktikan belum nona... sekarang silahkan keluar dari kantor saya sebelum perusahaan milik keluarga kamu yang saya hancurkan"
Tiffany langsung pergi tanpa berpamitan sambil menangis...Arash sengaja tidak mengeluarkan Tiffany saat magang demi menjaga nama baik perusahaan
"Ih Pak jangan galak-galak kasian kan Mak Lampir uda dandan full face malah dibentak-bentak...lagian ya gak masalah bapak sama dia... sama-sama muka tembok bedanya tembok yang ini datar dan tembok yang itu dempulan"
Arash menatap jengah kepada Annisa yang lagi-lagi menghinanya
"Ya ampun maaf pak Icha gak maksud kayak gitu sumpah...swer tak kewer-kewer deh..demi babang Jungkook deh"
"Eleh setampan apa sih si jongkok itu sampai kamu tersepona banget"
"Terpesona bapak... lagian namanya Jungkook bukan jongkok"
"What ever mau jongkok..jungkir...jumpalitan yang jelas halu kamu ketinggian Icha...dia aja gak kenal kamu kok"
"Iya iya yang tenar digemari para wanita dari bayi hingga manula kecuali Icha seorang karena uda punya bang Jungkook...yang habis dipanggil..Kakak..ulih-uluh gumusnya...jadi kayak lagu deh"
"Apaan Cha coba nyanyiin saya pengen dengar"
Daffa meminta Annisa menyanyikannya sedangkan Arash dalam mode waspada
"Icha itu 1112 ma si Oneng gesreknya dan perasaan gue bilang...ini akan menyedihkan"
"Siap pak Daffa..Kak Adit musik..."
Icha bernyanyi dan Adit memukul meja sebagai alat musik..Icha menyanyi dengan wajah datar
"Burung Kaka tua hinggap di..."
Daffa langsung menyaut sebelum icha meneruskan
"Celana"
"Loh kok celana sih pak Daffa...kan harusnya dijendela...kalau dicelana mah burung kakak Arash...ups"
Icha langsung berdiri kabur sambil berteriak sebelum Arash murka
"Icha pamit gaes.. assalamu'alaikum ingat jangan rindu Icha karena Icha berat"
Daffa kembali terbahak-bahak sedangkan Aditya sudah menyusul Icha...Arash yang sedari tadi geram akhirnya berteriak
"Annisa Maharani awas kamu ya"
_____
Si Icha ketularan virus si Eneng kayaknya
jempolnya oey.
happy Reading