RashSya Story

RashSya Story
Mr Jutek (Ghaisan Story)



"Gaesss. Gue mau ngasih undangan ini buat kalian. Wajib datang"


Ghaisan meletakkan undangan pertunangannya dengan Arumi ditengah meja. Undangan tersebut sudah tertera nama masing-masing temannya. Satu per satu mereka membuka undangan tersebut. Terkejut adalah reaksi pertama yang mereka tampakkan. Kecuali si kembar Rashsya.


"Akhirnya Sinchan dapat jodoh"


"Tapi bener perempuan kan Chan. Siapa tau dakocan betina"


Ghaydan dan Devin orang pertama yang meledek Ghaisan. Sedangkan Rizky tersenyum melihat undangan pertunangan Ghaisan. Ghaisan pun menggodanya.


"Pak sutat. Maaf gue gak ada maksud nglangkahin. Tapi emang niat duluin. Hahahaha"


"Santai saja. Jodoh sudah diatur kok"


Jawaban dari Rizky begitu santai. Arash pun tanpa sengaja keceplosan mengenai Rizky. Dan membuat semua menjadi kepo.


"Halah. Tinggal tunggu jawaban aja tuh pak sutat"


"Hah. Jadi pak sutat lagi menanti sebuah jawaban"


"Siapa. Siapa gadis itu"


Ghaisan dan Ghaydan penasaran dengan wanita yang telah merebut hati seorang Rizky. Rizky hanya tersenyum tak ada niat menjawab siapa gadis itu. Rizky memberi jawaban yang membuat mereka berhenti bertanya.


"Belum pasti. Tidak elok melewati takdir Allah"


Dan hanya Rizky yang bisa membungkam rasa kepo teman-temannya itu. Mereka akhirnya kembali pada topik Ghaisan yang akan bertunangan Sabtu esok di hotel milik Arsya. Yang awalnya Ghaisan ingin menggunakan hotel Arash. Namun pada tanggal yang sama ballroom dan area outdoor sudah disewa oleh oranglain sebelum Ghaisan meminta ijin menggunakan hotel Arash.


"Kenal dimana Chan"


"Dikantor"


"Anak buah loe. Yang mana"


Ghaydan orang paling antusias dengan verita pertunangan Ghaisan. Mereka memang sangat dekat sedari kecil. Julukan mereka hingga saat ini masih sama. Duo Gha-i.


"Loe gak kenal. Gak usah kepo"


"Ih pelitnya. Ingat sebelum gue merried, loe itu cinta mati gue. Hahaha"


"Bukannya loe yang cinta mati sama gue tha"


Perdebatan duo Gha-i adalah hiburan bagi teman-teman mereka. Mereka memang jarang berkumpul. Apalagi Shanum yang sekarang lebih suka berkumpul dengan para kaum hawa keluarga Malik. Hari ini Mirza tidak bisa datang diperkumpulan sahabatnya. Dia sedang mengantarkan Cheryl pulang. Namun Ghaisan sudah memberikan undangan pertunangannya kepada Mirza dan Malika.


"Chan loe ngundang mantan gak"


Lagi-lagi jiwa kepo Ghaydan muncul. Ghaisan santai saja menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Karena bagi Ghaisan masalalu tetaplah masalalu tidak ada yang perlu diulang.


"Undanglah tha. Kita semua kan teman"


"Gak takut tuh mantan mengacau"


"Gak usah suudzon tha"


"Ck. Takut aja dia ngulah"


"Gak akan"


Hari menjelang sore, mereka pun kembali kerumah masing-masing. Sebelum pulang Ghaisan mendapat pesan dari sang mama agar menjemputnya di Masjid dekat tempat tinggal mereka. Syaqilla selalu mengikuti pengajian rutin setiap Minggu.


Ghaisan sudah sampai dimasjid yang dimaksud sang mama. Dan bertepatan dengan adzan Maghrib. Ghaisan turun dan melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu sambil menunggu sang mama.


Syaqilla menunggu Ghaisan diteras masjid usai shalat Maghrib. Ghaisan sebelumnya memang sudah mengirim pesan jika dia akan shalat terlebih dahulu. Beberapa teman pengajian Syaqilla juga sedang menunggu jemputan. Termasuk seorang ustadzah muda.


"Masih menunggu jemputan suami Bu Syaqilla"


"Oh tidak Bu Rahmat. Saya menunggu putra saya. Kebetulan sedang sholat didalam"


"Wah sudah lama saya tidak bertemu putra ibu. Apa kabarnya"


"Alhamdulillah baik. Dia memang sedang sibuk saja"


Ghaisan keluar dari masjid dan menghampiri sang mama yang sedang mengobrol. Melihat kedatangan Ghaisan, para ibu-ibu tadi langsung tersenyum karena pesona seorang Ghaisan.


"Assalamualaikum. Mah"


Ghaisan mencium tangan mamanya. Dan hanya tersenyum sambil mengangguk kepada ibu-ibu lainnya.


"Waalaikumsalam. Sudah selesai bang"


"Sudah. Mama sudah siap pulang"


Salah satu teman Syaqilla sempat mengucapkan sesuatu yang membuat Ghaisan dan ustadzah muda didekat mereka saling menatap walaupun sesaat.


"Wah. Anak ibu Syaqilla tampan sekali. Kalau belum ada jodoh, cocok itu sama ustadzah Muna"


Ghaisan tak bereaksi apapun. Syaqilla langsung menjawab perkataan teman pengajiannya tersebut.


"Alhamdulillah. Ghaisan akan segera menikah"


Ibu lainnya ikut berkomentar senang mendengar jawaban Syaqilla dengan wajah penuh bahagia.


"Alhamdulillah. Jangan lupa kami diundang loh Bu Syaqilla"


"Insyaallah. Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Ghaisan membawakan tas milik mamanya dan merangkul pundaknya agar tidak terjatuh. Pemandangan yang membuat iri semua mata yang melihat. Dalam perjalanan pulang, Syaqilla mengungkap sebuah rahasia.


"Bang"


"Apa mah"


"Tahu tidak. Dulu mama sempat kepikiran menjodohkan kamu sama ustadzah Muna"


"Hah. Kok bisa mah"


"Iya. Mama kan kenal ustadzah Muna sudah cukup lama. Dan pikir mama daripada kamu dijodohkan oleh Atuk dengan wanita yang belum begitu kita kenal, lebih baik dengan Muna"


"Ih mama, suka mutusin sendiri"


"Hahaha. Habisnya kamu kelamaan sih bang cari jodohnya. Beruntung sekarang sudah ada Arumi, coba kalau belum. Mama paksa sama Muna"


"Hem"


"Oya bang. Adek kamu sudah pulang belum"


"Tadi Ichan pergi, Azzam masih belum pulang mah. Emang kemana tuh anak"


"Pamitnya mau ketemu camer. Mumpung sama-sama di Indonesia. Kan gadis incaran dia juga disini"


"Dasar bocil. Sebenarnya Ichan penasaran mah. Seperti apa wajah Nabila itu. Sampai-sampai tuh bocil ngebet banget"


"Mama juga belum pernah ketemu bang. Lihat fotonya saja belum pernah juga"


"Tapi kata Atuk besok keluarga Datuk Hamid jadi tamu undangan juga dipertunangan Ichan"


"Iya, mama tahu bang"


"Tapi ada yang Ichan takuti deh mah"


"Apa bang"


"Nanti pas tunangan Ichan, jangan-jangan tuh bocil juga minta dilamarin sekalian si Nabila"


"Hahahaha. Bisa jadi bang. Kamu kan tahu sifat adik bontot kamu itu"


"Huh. Persiapan aja mah. Jangan sampai dia membuat ulah yang berujung malu"


"Nanti mama akan bicarakan kepada papa kamu dulu bang"


Tak lama mereka sampai dirumah. Dan benar saja mobil Azzam belum nampak kembali. Hanya ada mobil Syamil terparkir di garasi rumah. Syaqilla dan Ghaisan turun dan langsung masuk kedalam rumah. Rumah nampak sepi, karena Syamil sedang istirahat didalam kamarnya.


Ghaisan pun masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat sebentar sambil menunggu makan malam. Dia tak lupa mengabari Arumi.


Pagi menjelang. Rutinitas Ghaisan pun berjalan seperti biasa. Hari ini Ghaisan akan membagikan undangan pertunangannya kepada seluruh karyawan. Dan hari ini juga Arumi terakhir berada dikantor Ghaisan. Ghaisan sudah menyetujui pengunduran diri Arumi setela mendengar penjelasan dari papa Wijaya dan Arumi sendiri alasan pengunduran dirinya.


Awalnya memang Ghaisan sempat khawatir jika Arumi akan menggunakan kemampuan dan ilmu yang dia dapat diperusahaannya untuk melawan perusahaannya. Namun karena kerjasama yang terjalin baik selama ini dengan tuan Wijaya ditambah mereka akan menjadi satu keluarga, kekhawatiran itu pun lenyap sudah.


Undangan sudah tersebar di seluruh karyawan Ghaisan. Semua menjadi heboh karena besar itu. Mereka memang sudah tau jika Arumi adalah kekasih Ghaisan. Mereka tak mengira jika Ghaisan dan Arumi akan melangsungkan pertunangan dalam waktu dekat.


_______


Aku balik...Makasih atas doanya...bocil sudah kembali aktif


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading