
Sembilan bulan sudah usia kandungan Tisya. Segala suka suka saat kehamilan benar-benar dia nikmati. Beruntung Devin begitu sabar menghadapi kelakuan anehnya. Kini mereka tinggal menunggu kelahiran penerus keluarga Alfatir. Menurut prediksi dokter anak Devin berjenis kelamin perempuan.
Baik Devin maupun Tisya tak mempersilahkan itu semua. Yang penting anak mereka sehat dan tak kurang suatu apapun. Mama Devin dan juga ibunda Tisya bergantian menginap dirumah Devin begitu juga papa Devin. Mereka benar-benar tak mau ketinggalan momen penting kelahiran cucu pertama mereka.
Devin dan Tisya masih berdebat masalah warna pakain calon anak mereka. Devin meminta agar diberi warna natural saja. Namun Tisya meminta warna merah muda dan ungu. Sesuai warna perempuan.
"Kak cantik warna ungunya"
"Sayang. Sebaiknya kita tunggu dulu sampai dia lahir. Entah kenapa kakak gak yakin dia cewek"
"Kan hasil USG selalu bilang cewek kak"
"USG itu alat yang diciptakan manusia sayang. Sedangkan baby kita langsung snag pencipta. Dan tidak ada yang bisa melewati ketentuannya"
"Iya juga sih kak. Ya sudah beli dikit dulu saja kak. Warna natural. Nanti kita beli lagi saja"
"Nah itu baru benar"
Bukan hanya Tisya, Devin memang masih sangat takut menghadapi persalinan nanti. Walaupun orangtua mereka sudah menasehati jika semua wanita pasti akan merasakan apa yang menjadi kodratnya. Dan sebagai suami tugas kita adalah menyemangati. Menemani dan selalu siap kapanpun jika dibutuhkan.
Devin tidak bisa mengambil cuti menjelang kelahiran anak pertama mereka. Devin kesal tidak bisa menemani sang istri melewati proses menuju persalinan. Namun dia juga harus profesional dengan tanggungjawab yang sedang diemban oleh Devin.
"Sayang maaf kakak harus kerja"
"Gapapa kak. Disini ada mama, papa sama ibu yang menemaniku"
"Pokoknya kalau sudah berasa jangan ditahan sayang. Langsung panggil mama atau ibu. Jangan lupa telepon kakak segera"
"Iya papa sayang"
"Ck. Kalau bukan karena masalah proyek baru ini. Kakak pasti lebih memilih dirumah sayang"
"Sudah kak. Aku akan baik-baik saja. Kakak sekarang berangkat saja. Jangan khawatir ada nenek dan kakek si dedek dirumah"
"Ya sayang. Kakak berangkat. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Pah mah. Titip Tisya. Kalau ada apa-apa langsung telepon Devin"
"Iya bang"
"Hati-hati bang"
Devin berangkat dengan perasaan tak tenang. Karena memang hari ini tanggal perkiraan Tisya akan melahirkan. Dia ingin ada disamping sang istri. Namun jadwal meeting ini juga sudah dimundurkan beberapa kali. Dan kali ini sudah tidak bisa lagi ditunda.
Seperti biasa. Jika Devin sudah berangkat kerja, Tisya akan berjalan-jalan ditaman rumah sambil berjemur. Kali ini Bintang menemani sang menantu berjemur ditaman belakang.
"Belum berasa mulas kak"
"Belum pah"
"Hm. Cucu opa jangan membuat susah mama ya. Keluarlah segera sayang. Kami sangat menantikan kamu"
"Iya opa"
Keluarga Devin sudah terbiasa memanggil Tisya dengan sebutan kakak. Bahkan Bintang memperlakukan Tisya seperti dia memperlakukan Lea anak kandungnya tanpa ada perbedaan.
"Papa gak ngantor"
"Nggak kak. Papa mau jadi opa siaga"
"Hahaha. Opa keren"
"Iyalah. Opa kan masih muda"
"Percaya. Haha. Hsssh"
Tiba-tiba perut Tisya berasa mulas. Namun hanya sebentar saja lalu menghilang. Tisya pernah mengalami ini beberapa hari yang lalu. Dan itu dinamakan kontraksi palsu.
"Kenapa kak. Sudah mulas. Mau ke dokter"
"Gak usah pah. Sudah gak lagi kok. Tisya jalan lagi aja"
"Kamu yakin"
"Iya pah"
"Ya sudah ayo papa gandeng. Kita jalan bersama"
"Yuk pah"
Tisya melingkar kan tangannya didalam lengan Bintang. Mereka berjalan pelan-pelan memutar taman. Dan Tisya kembali kontraksi.
"Mulas kak. Duduk dulu kak. Sebentar papa ambilkan minum"
Bintang berlari mengambil air minum dan memberikan kepada Tisya. Dan Tisya sudah kembali normal.
.
.
Dikantor Devin juga tidak bisa mengikuti meeting dengan baik. Karena tiba-tiba saja Devin berasa sangat mulas. Berkali-kali ke toilet tapi tidak terjadi apa-apa. Devin mulas setiap lima belas menit sekali. Hingga membuat sang asisten bingung.
"Bos. Apa anda diare"
"Gak ada yang keluar Ted. Tapi perut gue mules banget ini. Auhhh"
"Bentar saya carikan minyak angin. Mungkin bos masuk angin"
"Hmm"
Devin yang tak tahan dengan rasa mulas yang begitu kuat hanya bisa berguling-guling diatas sofa ruangannya. Beruntung meeting sudah selesai. Mereka juga memaklumi kondisi Devin.
"Bos ini minyaknya"
"Makasih Ted"
Devin mengoles minyak tersebut diperutnya. Namun perutnya kembali mulas dan kali ini lebih kuat lagi.
"Auhhh Ted. Sakit banget perut gue"
"Bos saya panggilkan dokter saja ya"
Devin sudah tidak bisa menjawab pertanyaan Teddy. Dia hanya berteriak merasakan perutnya yang begitu menyiksa.
Disaat Devin sedang meratapi rasa mulas yang benar-benar menyiksa, Tisya sudah dibawa kerumah sakit karena ketubannya sudah pecah. Karena terlalu fokus dengan Tisya. Baik orangtua Devin maupun Tisya lupa memberi kabar kepada Devin.
"Pah Devin pah. Telepon dia"
"Oh iya lupa mah"
Bintang langsung menelpon putranya. Namun yang menerima adalah Teddy. Dan Teddy menjelaskan kondisi Devin saat ini. Namun Teddy tetap akan membawa Devin ke rumah sakit.
"Bos kita akan kerumah sakit. Nyonya mau melahirkan"
"Yang bener Ted"
"Iya bos. Baru saja bos besar menghubungi saya"
"Buruan Ted. Loe yang nyetir Ted. Gue gak kuat"
"Baik bos"
Teddy memapah Devin. Karena kondisi Devin juga sudah sangat lemah bahkan wajahnya pun memucat. Teddy membawa mobil dengan kecepatan penuh. Beruntung jalanan tidak padat.
Setiba dirumah sakit, terpaksa Devin menggunakan kursi roda. Karena memang dia sudah lemah. Awalnya seorang perawat menawarkan agar Devin diperiksa terlebih dahulu, namun Devin menolak. Baginya sekarang adalah Tisya.
Bintang yang melihat kedatangan sang putra dengan kursi roda, langsung menghampiri. Begitu juga mamanya. Sedangkan Tisya dijaga oleh ibunya. Karena menurut dokter Tisya baru pembukaan tiga. Dan proses masih panjang.
"Gimana Tisya pah"
"Masih pembukaan tiga bang. Bang kamu kenapa"
"Gak tau pah. Tadi sampai kantor langsung mulas banget pah. Tapi tiap ke toilet gak kenapa-kenapa"
"Bang sebelum kamu menemani Tisya sebaiknya kamu diperiksa dulu saja"
"Tapi ijinkan Devin ketemu Tisya dulu lah"
"Ya sudah kamu masuk dulu"
Devin diantar oleh Teddy masuk menemui istrinya. Tisya kaget melihat kondisi Devin. Dan meminta Devin memeriksakan dirinya terlebih dahulu. Karena menurut dokter proses pembukaan itu masih panjang, Devin pun memutuskan untuk melakukan pemeriksaan
Dokter memutuskan Devin untuk di infus karena kekurangan cairan. Dan tidak ditemukan penyakit berbahaya dalam tubuh Devin. Semua normal. Mereka baru paham apa yang terjadi dengan Devin saat Tisya mengalami kontraksi. Dan Devin ikut mulas.
"Ternyata cucu opa ini gak mau mamanya menderita sendiri. Dia juga ingin melihat papanya menderita. Anak pintar. Hahaha"
_____
Tersiksa kan ya bang...
Jangan lupa jempolnya
Happy Reading