
Pagi ini Retha bangun dengan semangat karena Icha akan mengajarkan dia cara mengalahkan ulet bulu secara elegen. Sudah selama satu minggu ini Icha mengajari Retha bagaimana menjadi wanita yang tegas namun tetap terhormat. Dan setiap pagi ada saja cara mereka untuk keluar rumah agar leluasa icha mengajari aretha.
"Sayang kamu sudah mandi"
"Iya kak. Kenapa"
"Ini kan masih pagi sayang. Mau kemana sih"
"Mau jalan-jalan sama serkan ke taman"
"Ya sudah tunggu sebentar aku akan ikut dengan kalian"
"No. Aku sama icha dan si kembar kok kak"
"Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu keluar bersama kakak ipar. Gak merencanakan sesuatu kan"
"Merencanakan apa. Gak usah curigaan. Aku gak main serong kok"
"Kakak percaya dihati kamu cuma ada kakak. Kakak cuma gak percaya cowok diluar sana gak godain kamu"
"Gak akan ada yang godain. Lihat badannku aja gede kayak balon. Uda gitu gendong anak. Takut mereka buat godain"
"Siapa bilang kamu gendut. Kamu itu seksi sayang"
"Udah ah keburu siang. Panas"
"Yakin papinya serkan gak boleh ikut"
"Gak papi. Papi istirahat aja. Pasti capek kan kerja terus. Mumpung weekend"
"Gak bisa bobok kalau mami gak ngelonin"
"Malu sama serkan"
Retha berjalan mendekati sang suami dan mengecup kedua pipinya sebelum pergi meninggalkan arsya.
"Ngapain malu. Serkan juga paham"
"Sudah mami pergi dulu"
"Iya iya. Jangan lama-lama. Nanti papi nyusul"
"Siap bosque"
Aretha keluar dari kamarnya sambil membawa tas keperluan serkan. Serkan sendiri setelah mandi langsung diambil jay diajak main.
"Aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Kamu sudah sedikit berubah aretha. Semoga perubahanmu ini bisa menjadikan kamu lebih baik"
Arsya berkata pada dirinya sendiri sesaat setelah aretha menutup pintu kamar. Arsya beranjak masuk kedalam toilet untuk membersihkan diri. Saat keluar dari toilet ponsel miliknya berdering.
"*Assalamualaikum pak sutat"
"Waalaikumsalam. Ars gue uda dapat info siapa yang neror retha beberapa bulan ini"
"Alhamdulillah. Siapa orangnya"
"Dia salah satu teman kuliah kamu dulu. Dia suka sama loe sejak pertama ketemu loe"
"Teman kampus gue. Siapa dia ky"
"Serena Wijaya"
"Serena Wijaya. Gue baru dengar nama itu"
"Nanti gue kirim data dia lewat email"
"Oke gue tunggu*"
Setelah menutup panggilannya, Arsya lebih memilih mengerjakan beberapa pekerjaanya yang belum selesai. Agar nanti lebih leluasa bermain dengan Serkan.
Sedangkan ditaman, Retha sedang mendengarkan arahan dari Icha. Eneng yang tau apa masalah majikannya ikut memberi saran. Bahkan siap menjadi tameng buat retha.
"Gini ya kak. Kita ini istri sah. Jangan sampai hak paten ini lepas gitu aja. Mereka mengejar laki kita karena mereka tau jika laki kita bergelimang harta. Satu lagi jangan main perasaan kak. Habisi mereka tanpa pandang bulu"
"Tapi cha terkadang kakak suka gak enak. Karena kita sama-sama permpuan"
Eneng menjawab keraguan aretha.
"Justru karena sesama perempuan kita harus lebih berani. Manusia kayak gitu yang jalan bukan otak atau hatinya tapi nafsunya gede. Neng retha harus bisa hilangkan rasa kasian sama jenis manusia berbahaya itu. Kalau dia main fisik ladeni. Neng retha gak perlu takut. Bagian penghabisan serahkan pada eneng. Biar eneng bikin oncom sekalian"
"Betul kata eneng. Mulai sekarang jangan mudah luluh sama orang. Adakalanya kita memang menggunakan perasaan jika yang kita hadapi orang yang tepat. Tapi untuk orang sejenis kuntilanak gunakanlah kegilaan kita"
"Hmmm kakak harus mulai mencoba saran kamu cha"
"Harus itu"
Aretha mengeluarkan gawainya dari dalam saku. Dia memperlihatkan pesan ancaman yang dikirim dengan nomor berbeda-beda.
"Dasarnya dia pengecut. Kalau dia emang bernyali besar gak akan gonta-ganti nomor. Mulut aja besar nyali gak ada. Tantangin kak"
"Jadi gimana gue harus bales pesan dia ini"
"Isi pesan terakhir kuntilanak itu bilangnya kan dia dan kak arsya pernah menjalin hubungan selama dua tahun waktu kuliah dan beberapa kali beehubungan badan. Icha mah gak percaya. Suami icha kan kembaran kak arsya mereka memiliki karakter dan sifat yang sama jadi gak akan kayak gitu"
"Iya kamu benar cha apalagi keluarga daddy sangat patuh agamanya. Dan harusnya aku mengerti hal itu bukan malah meragukan kak arsya"
"Kakak ragu sama suami kakak sendiri"
"Iya cha. Aku salah. Dia gak akan seperti itu"
"Ya sudah gak usah bahas lagi yang penting kakak sekarang kakak yakin kalau kak arsya bulan lelaki brengsek"
"Bener cha"
"Neng icha. Neng retha saya ada ide buat bikin mati kutu si kuntil anak"
"Apaan neng"
"Neng retha bilang aja gini. Kalau loe pernah tidur berkali-kali sama laki gue. Coba sekarang lie jelaskan ke gue. Terong laki gue segede apa. Terus negro apa albino. Ada tahi lalatnya apa gak"
"Markoneng wah parah loe ah. Tanya-tanya rahasia dapur laki orang. Atau jangan-jangan loe sendiri yang kepo"
"Hahaha sedikit sih. Kan eneng penasaran aja. Dulu dari bayi hingga usia tiga tahun mas kembar eneng yang mandiin jadilah eneng tau ada tanda lahir atau tidak disekitaran terong mereka"
"Iyakah. Jadi kak arsya ada tanda lahirnya gitu neng"
"Seingat eneng mas arsya punya tai lalat didekat telur puyuhnya. Kalau gak ilang loh ya"
"Emang bisa ilang neng"
"Gak tau. Paling cuma ketutup semak belukar. Kayak mie kriting hahaha"
"Hahaha semprul loe neng"
"Benerkan. Emang punya mas arash gak keriting gitu"
"Ya keritinglah. Gue gak sempat ngrebonding hahaha"
"Berasa kayak iklan mie cap burung merak deh neng icha"
"Yang gimana tuh neng"
"Mie burung merak enaknya nyambung terus" (bacanya sambil nyanyi biar berasa)
"Iyalah kan bikin uh bikin ah gimana gitu"
"Stop lama-lama otak aku ikut terkontaminasi kalian"
"Heleh kakak juga nikmatin kan"
"Hehe. Neng kalau bang arash ada tandanya gak"
"Mas arash seingat eneng ada juga tapi lupa letaknya"
"Perlu pembuktian ini"
"Kalian mesum banget"
"Mesum sama suami sendiri gak masalah"
Perbincangan tingkat dewasa itu terhenti kala tukang sayur lewat. Icha dan eneng memanggil tukang sayur. Dan mulai memilih sayuran.
"Neng ini gede banget mantap nih"
"Mau diapain neng"
"Dibakar enak kali ya neng"
"Iya terus dicocolin pake sambel joss"
"Bener banget. Bang minta sekilo donh"
"Iya neng"
"Apalagi ya. Kak retha mau makan apa"
"Hmmm kamu mau masak apa cha"
"Ini pengen dibakar"
"Aku pengen ayam goreng bumbu ungkep aja tapi ada ayam kampung gak"
"Ada tuh seekor. Kakak mau"
"Boleh deh cha"
"Oke"
Setelah membayar belanjaannya mereka kembali kerumah. Kebetulan baby mereka juga sudah bangun dari tidurnya. Sebelum merengek meminta asi, mereka dibawa pulang.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Ini three angels dari mana"
"Taman opa sambil belanja"
"Oh seperti itu. Sini opa pengen gendong baby al sama baby meera. Dari kemarin al sama meera tiap diajak opa nangis terus. Oya serkan dicari uyut arka tuh"
"Emang opa arka uda pulang dad"
"Uda belum lama nyampe yang dicariin squad kecilnya"
"Daddy beneran mau jagaian si kembar"
"Iya kenapa emang"
"Icha mau masak"
"Ya udah sana masak yang enak"
"Sipp daddy. Icha masak yang spesial hari ini tapi harus dimakan ya"
"Pasti"
Icha beranjak ke dapur dan akan memulai memasak. Aretha hanya membantu sebisanya karena dia memang tidak pandai memasak.
"Widih istriku tercinta lagi masak. Masak apa sayang"
"Masak spesial pokoknya. Mas habis olahraga"
"Iya sama arsya"
"Sana mandi dulu"
"Oke my queen mas mandi dulu. Habis itu maen sama si kembar"
Arash sudah berlalu pergi. Icha meneruskan masakannya. Aretha tidak jadi membantu karena serkan menangis.
"Down selesai semua. Tinggal makan"
Icha membereskan semua peralatan yang dipakainya tadi. Dan bersiap memanggil semua orang untuk sarapan. Beruntung persediaan asi untuk si kembar masih ada jadi icha bisa ikut gabung sarapan bersama. Dan si kembar akan diserahkan kepada eneng dan mang toyib.
"Mari sarapan"
"Masak apa ini"
Mereka menatap semua menu diatas meja. Sederhana namun menggiurkan. Setelah melayani pasangan masing-masing mereka langsung menikmati hidangan.
"Icha itu yang panjang besar apaan"
"Ini enak loh dad"
"Kok bentukya gitu amat ya"
"Kenapa emangnya dad"
"Gede berkerut-kerut gitu berasa kayak..."
Semua menatap apa yang ada diatas piring Icha. Bahkan Icha sudah bersiap memutilasinya.
"Namanya terong bakar dad. Kalau dibakar dia mengkerut. Kalau mulus timun namanya"
Arsya dan arka saling panjang. Dan Arash langsung mengatakan sesuatu yang membuat semua pria bergidik ngeri.
"Kok berasa kayak makan si ono ya"
"Huek geli ih"
"Hem lezat apalagi dicocol sambel"
"Icha besok lagi dipotong aja ya masaknya jangan utuhan. Ngilu daddy lihatnya"
"Di potong gak ada seninya dad. Kalau utuh gini kan mantap. Masukin mulut berasa gimana gitu. Apalagi dicocolin pake sambel dulu. Uh ah uh ah. Josss"
"Ichaaaa"
________
Dasar si icha segala terong aja pake uh ah uh ah
Jempol jangan lupa
Happy reading