
"Jadi seperti ini kelakuan kamu beib...kalau aku gak disini"
"Gak ya...kamu sok tau beib"
"Oh aku sok tau...terus tadi itu apa...didepan gerbang sekolah dengan senyum sok imut langsung masuk mobil cowok lain"
Shanum langsung melotot mendengar perkataan dari sang kekasih yang terbakar cemburu
"Kok kamu tau sih Ay..jangan jangan kamu spy ya atau stlaker"
"Gak ada kerjaan banget sih stlaker orang yang pernah mikirin perasaan aku"
"Kok gitu Ay...kamu gak tau apa kalau aku selalu kangen sama kamu Ay...gimana tersiksanya aku tanpa kamu disini Ay"
Jangan lupakan queen of dramanya RashSya n the gank gaess...mode on..Mirza yang menatap sang kekasih berbicara seperti itu ada sedikit rasa bersalah..namun dia harus menepis karena mode marahnya sedang on
"Huh gombal banget ya jadi cewek"
Shanum sempat kaget mendengar sang kekasih berkata demikian dengan ketusnya bahkan tak menatapnya
"Wah rayuan pertama gagal maning gagal maning gaess...loncat plan b...jangan bilang gue shanum kalau gak bisa meredakan marahmu sayangku"
Shanum berkata dalam hati sambil mengganti rencanya untuk mendapatkan maaf dari mirza
"Ya sudah kalau kamu menganggap aku seperti itu...asal kamu tau aku gak pernah khianatin kamu sedetik pun Ay...takut karma aku tuh"
"Heh...sok takut karma...siapa ya yang tadi senyum girang sambil loncat loncat dibeliin es cream sama kakak edwinnya"
Mirza sengaja menekankan nama edwin dengan nada sindiran dan masih saja cuek pada shanum walaupun tangannya masih mau shanum genggam
"Kok bisa tau sih..ups"
Tanpa sengaja shanum malah keceplosan...mirza semakin ngambek dan beranjak dari duduknya menuju kolam renang didepannya
"Hareudang euy...hareudang"
"Fanas fanas fanas"
"Ngadem sambil berendem enak nih"
"Kuylah"
Rombongan geng somplak kembali mengganggu shanum dan mirza...bahkan tanpa sungkan langsung membuka kaos mereka hanya mengenakan celana pendek mereka langsung masuk kolam...tanpa memperdulikan keberadaan mirza duduk ditepi kolam
Byur....byur...byur
"Woy kampret basah baju gue ege"
"Hahaha...sorry gue kira patung tadi"
"Mana ada patung ganteng kayak gue"
"Bisa aja ayah varo pesen spesial gitu"
"Tau ah gelap"
"Makanya diterangin biar gak gelap za"
Dasarnya mereka sudah somplak..suasana itu tegang itu berubah drastis..Ghaydan memulai
"Eta terangkanlah...eta terangkanlah"
Disambung devin...
"Jiwa yang berkabut langkah penuh dosa"
Dan si kembar mengulangi syair itu dan mereka menyanyi bersama didalam kolam sambil berjoged meliuk liukan tubuh mereka didalam air...shanum yang jengkel akan kelakuan shabatnya langsung mendekati mereka sambil berkacak pinggang
"Kalian itu kenapa sih merusuh saja...apa kalian bahagia kalau gue jomblo lagi"
Kompak mereka menjawab....
"Bahagiaaaaa...."
"Kalian jahat...kalian gak setia kawan"
Devin menjawab perkataan shanum dengan santainya sambil main air
"Loe yang gak setia kawan...lie lihat diantara kita siapa yang punya pacar sendiri...loe kan"
Shanum langsung kicep...mirza masih santai bermain air dengan kakunya sambil mendengarkan perdebatan mereka tanpa ingin menjawab setiap peryataan sahabatnya itu
"Bener juga ya...kenapa gue jadi ege"
"Emang loe ege"
"Terus mau kalian apa...gue putus sama Ezha gitu"
"Kita gak ngomong ya...bukan kita ya..hahaha"
Ghaisan langsung menjawab pertanyaan shanum...dan beranjak ke tepi kolam menikmati minuman yang telah disiapkan oleh pembantu shanum
"Wah ngajak war tuh si dakocan Zha"
"Jabanin Zha"
"Lanjut kuy...jangan kalah zha"
Kini gerombolan somplak menjadi kompor untuk ghaisan dan mirza...shanum hanya bisa geleng - geleng dengan sifat nomaden sahabatnya itu...mirza sedikit terpancing...dia sedang butuh pelampiasan saat ini...mirza berdiri mendekati shanum dan berbisik...lalu beralih pada ghaisan
"Kamu itu udah salah gak mau minta maaf malah ngeles terus Ay...kalau kamu berani mutusin aku...hari ini juga aku buntingin kamu Ay"
Fyuh
Badan shanum auto menegang mendapat serangan dadakan...dia baru tersadar saat mirza meniup wajahnya yang sudah memerah
"Apaan sih zha...gak usah ambek gitu..canda aja"
"Loe bilang janda...mau loe apa...nyuruh gue pisah sama shanum...loe gak suka dua jadi cewek gue hah"
Ghaisan yang kaget dengan bentakan mirza langsung menatap kearah sahabatnya yang sudah tampak marah itu...ghaisan pun berdiri
"Zha..gue canda aja beneran...gue gak ada maksud gitu...zha jangan gini dong"
Mirza berjalan mendekati ghaisan dengan wajah garangnya...sedangkan yang lain hanya tertawa melihat adegan itu
"Loe bilang canda...gue gak suka cara loe chan...loe nyuruh shanum pisah dari gue...seenteng itu candaan loe"
"Zha pliss...loe lagi panas ini...jangan emosi gini zha...woy kampret bantuin napa"
Devin menjawab
"Siapa berbuat dia yang bertanggung jawab...hajar Zha gak usah kasih ampun"
Mirza tersenyum menyeringai...shanum yang tak tega dengan sahabatnya langsung memeluk tubuh mirza dari belakang mencegah agar tak terjadi perkelahian
"Sayang sudah jangan diteruskan...sinchan hanya bercanda jangan dianggap serius....aku minta maaf Ay....aku yang salah...sudah ya"
"Ok gue gak akan ngajak gelud loe chan...tapi ada syaratnya..."
"Apapun itu gue turutin...asal loe gak minta nikah sama gue aja"
"Gue gak doyan pisang lumutan loe"
"Serah deh..loe mau ngomong apa..asal kita damai"
"Okay...damai...tunggu syarat dari gue"
Saat mirza akan berbalik membalas pelukan sang kekasih yang amat dirindukan...varo datang sambil berteriak
"Lepasin putri ayah...berani sekali kamu memeluknya"
Varo langsung menjewer kuping mirza...
"Aduhh sakit yah.."
"Makanya jangan clamitan"
"Mirza gak clamitan yah...shanum yang meluk mirza"
"Benarkah"
Shanum mengangguk dengan wajah imutnya agar sang ayah tak murka
"Kamu mau ayah kawinin apa"
Bukan shanum yang menjawab tapi mirza lah yang menjawab dengan antusias
"Mau yah..mau banget malahan"
"Iya sana kawin sama si embek"
"Yah ayah kirain"
"Ngarep loe ketinggian Zha...haha"
Olokan dari ghaydan mendapat hadiah lemparan krikil dari mirza...dan ghaydan semakin mengolok dengan menjulurkan lidahnya
"Gak kena wle...wle...gak kena"
Karena waktu sudah semakin siang...mereka berkumpul makan siang bersama di saung belakang rumah dengan pemandangan sawah dan empang milik varo
"Pemandangan yang tak pernah didapat kalau lagi di jakarta"
"Iya menenangkan banget"
"Inilah suasana yang sangat gue rindu saat gue udah penat dengan rutinitas yang membosankan"
"Iya loe bener banget Rash"
Dikesempatan ini juga mirza ingin meminta maaf atas sikap keluarganya yang menyakiti hati arash
"Rash gue mau minta maaf ya atas kejadian waktu itu...keluarga gue sangat keterlaluan...gue malu Rash"
Arash tersenyum menanggapi perminta maafan mirza yang mewakili keluarganya
"Zha sans aja...gue gak masalah mungkin malika bukan jodoh gue...gue gapapa...asal malika bahagia gue sudah senang"
"Gue juga aslinya kecewa sama keluarga gue sendiri Rash"
"Gak usah loe pikirin Zha...oya loe tau siapa yang dijodohin sama malika"
"Gue juga belum tau rash...nanti saat liburan mereka baru dipertemukan..tapi gue sempat dengar kalau dia anak tunggal dan keluarganya dari malaysia"
"Oh ya sudah gapapa...sampaikan salam gue ke malika...gue juga minta maaf kalau gue mengecewakan dia"
"Apa loe gak ada keinginan buat ketemu adek gue"
"Nanti saja kalau dia sudah tenang"
"Ok lah...gue setuju"
Mereka meneruskan makan siang mereka...dengan bercanda dan tawa lepas mereka melupakan semua beban yang sedang mereka rasakan
"Semoga kita bisa selamanya seperti ini...siapapun nanti jodoh kita jangan peenah kita saling membenci...dimanapun kita nanti tinggal kita harus tetap saling berhubungan"
"Loe benar Ars....kita adalah saudara...saling menolong saling membantu....apapun yang terjadi persaudaraan kita abadi"
Mereka saling merangkul dan kembali tertawa...walaupun diantara mereka tidak ada aliran darah yang sama namun mereka tetap komitmen manjadi saudara