RashSya Story

RashSya Story
Mr Jutek (Ghaisan Story)



"Apaaa. Dirumah sakit mana"


"___"


"Baiklah saya segera kesana"


Pak Wijaya yang saat ini berada dikantor, langsung panik begitu menerima kabar dari rumah sakit. Bahkan beliau tanpa meninggalkan pesan apapun kepada sang asisten. Pikirannya hanya tertuju kepada kedua putri kembarnya. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, pak Wijaya teringat untuk menghubungi sang istri.


"Hallo mah. Mama segera kerumah sakit Medika utama. Rumi dan Runa kecelakaan"


"___"


Dengan kecepatan penuh pak Wijaya mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Hampir tiga puluh menit lamanya, pak Wijaya baru tiba dirumah sakit. Dan bergegas mencari tahu keberadaan kedua putrinya.


"Selamat siang sus. Mau tanya pasien atas nama Arumi Razeta dan Aruna Razeta yang mengalami kecelakaan siang ini. Berada diruangan apa sus"


"Sebentar pak. Kami periksa data pasien dahulu"


Pak Wijaya masih menunggu perawat mencari informasi ruangan kedua putrinya.


"Nona Arumi dan nona Aruna masih ditangani diruang gawat darurat pak"


"Terimakasih sus"


Tanpa menanyakan arah ruangan, pak Wijaya langsung saja berlari mencari ruangan gawat darurat. Sambil menengok kekanan dan ke kekiri, pak Wijaya terus berlari mencari ruangan. Dia begitu khawatir hingga menerobos masuk ruangan gawat darurat dan mendapatkan pengusiran secara halus dari perawat yang sedang berjaga.


"Maaf pak. Bapak bisa menunggu didepan"


"Saya mau ketemu putri saya sus"


"Iya pak kami paham. Tapi kami mohon bapak untuk menunggu dulu didepan. Karena pasien sedang ditangani dokter"


Pak Wijaya mengalah dan dengan gontai berjalan menuju ruang tunggu didepan unit gawat darurat. Ponsel pak Wijaya berdering. Nama sang istri tertera dilayar ponsel miliknya.


"Ya mah. Papa didepan ruang gawat darurat mah"


Pak Wijaya terus berdoa agar kedua putrinya selamat. Mama Arumi nampak berlari mendekati sang suami dan langsung memeluknya. Mereka pun menangis bersama.


"Kenapa bisa kecelakaan pah"


"Papa sendiri tidak tahu mah. Tadi papa juga kaget waktu pihak rumah sakit menghubungi papa"


"Tadi pagi mama sudah bilang ke mereka untuk tinggal dirumah saja. Agar semua diurus oleh WO. Tapi Arumi ngotot ingin pergi sendiri"


"Mungkin ini sudah takdirnya mah. Kita harus ikhlas"


"Iya pah"


Mereka menunggu dokter yang masih memeriksa kedua putrinya. Mereka hanya bisa berdoa agar semua baik-baik saja.


Diperusahaan, Ghaisan pun merasa tak tenang. Arumi memang sudah Tidka bekerja diperusahaan miliknya lagi. Mereka sedang mempersiapkan acara pernikahan. Kurang dari dua bulan mereka akan menikah. Azzam membantu Ghaisan diperusahaan dan juga menjalankan perusahaan miliknya dari jauh.


Melihat sang Abang berjalan mondar-mandir gelisah, Azzam mulai bertanya. Karena Ghaisan memang tidak fokus dalam bekerja hati ini.


"Bang. Duduk aja kenapa sih. Gak capek apa jalan terus"


"Hem"


"Abang. Kalau kangen tinggal telpon aja kok susah"


"Masalahnya ponselnya mati dari dua jam yang lalu zam"


"Ya udah Abang datang ke kantor kak Rumi atau rumahnya. Gak usah dibikin susah deh"


"Hem. Tadi gue udah telpon ke perusahaan. Mereka bilang Arumi hari ini ijin. Dan gue telpon kerumah, mama bilang baru keluar sama Runa"


"Ya udah ditunggu aja kali bang. Mungkin baterainya habis jadi ponselnya mati"


"Semoga. Tapi hati gue benar-benar gak tenang zam"


"Gak usah baper"


"Hem"


Saat Ghaisan akan duduk, tiba-tiba bingkai foto yang berisi foto dirinya dan Arumi saat acara pertunangan terjatuh dan pecah.


Prang


Kompak Azzam dan Ghaisan kaget mendengar suara bingkai foto yang pecah. Ghaisan yang masih sok diam menatap kearah kaca yang sudah berserakan. Sedangkan Azzam langsung mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu anak buah keluarga Mahendra untuk mencari tahu keberadaan Arumi.


"Hallo. Cepat cari tahu dimana keberadaan calon kakak ipar saya"


"__"


Ghaisan berjalan perlahan mendekati bingkai yang berserakan. Memungut satu persatu pecahan kaca. Azzam berjalan keluar untuk memanggil Kumala untuk membersihkan ruangan Ghaisan. Kumala sempat diam melihat Ghaisan yang tertegun menatap foto yang sudah hancur.


"Pak. Biar saya saja yang membersihkan"


Ghaisan tetap terdiam dan hanya berdiri. Dia tetap menatap bingkai yang masih berserakan. Ponsel Ghaisan dan Azzam bersamaan berdering. Ghaisan melihat nama ayah mertuanya menghubunginya.


"Assalamualaikum pah"


"__"


"Innalilahi"


Azzam sudah lebih dahulu menutup panggilannya dan langsung memeluk sang Abang. Dia berusaha menenangkan Ghaisan. Ponsel Ghaisan masih digenggam erat.


"Bang sabar. Sebaiknya kita segera ke rumah sakit"


Ghaisan tak merespon. Dia hanya mengikuti Azzam yang menuntunnya. Azzam meminta Kumala untuk menunda semua meeting Ghaisan. Mereka bergegas menuju rumah sakit tempat Arumi dirawat. Ghaisan masih saja tertegun. Azzam mengemudi sambil menghubungi kedua orangtuanya.


Setibanya diparkiran rumah sakit, Ghaisan berlari tanpa menunggu mobil terparkir dengan baik. Ghaisan langsung menuju ruang gawat darurat. Pikirannya hanya tertuju pada Arumi. Tiba didepan ruang gawat darurat, nampak kedua orangtua Arumi masih duduk disana.


"Mah. Pah"


"Ghaisan"


"Arumi..."


"Masih diperiksa dokter nak"


"Apa yang terjadi pah"


"Papa sendiri belum tahu nak"


Azzam kembali meminta anak buahnya untuk mencari tahu mengenai kecelakaan yang menimpa Arumi dan Aruna. Hanya berselang satu jam, kedua orangtua Ghaisan sudah berada dirumah sakit. Dokter masih sibuk memeriksa dan belum juga keluar dari ruangan gawat darurat.


Tiga jam lamanya dokter baru keluar dari ruangan gawat darurat. Papa Arumi dan Ghaisan langsung berdiri menanyakan kondisi kedua putrinya.


"Keluarga saudara Arumi dan Aruna"


"Kami dok. Bagaimana kondisi kedua putri saya"


"Kami sudah berusaha maksimal. Namun luka nona Arumi lebih parah dibandingkan nona Aruna. Benturan di kepala nona Arumi membuatnya mengalami koma"


"Innalilahi"


"Sedangkan nona Aruna masih dalam observasi kami. Lukanya nona Aruna cukup dalam dibagian dada. Mengarah ke jantungnya"


"Ya Allah. Cobaan apalagi ini"


Mama Arumi seketika pingsan dan ditolong oleh Azzam. Papa Syamil pun mencoba menenangkan calon besannya. Ghaisan benar-benar berusaha untuk menerima ini semua sebagai kenyataan, namun pikirannya menolak itu. Ghaisan berfikir ini hanyalah mimpi.


Arumi dan Aruna dipindahkan ke ruangan ICU. Keduanya masih setia memejamkan mata mereka. Ghaisan setia mengikuti kemana arah para perawat membawa Arumi pergi. Tubuh Ghaisan memang ada disamping Arumi, namun tidak jiwanya. Arumi sudah dibawa masuk kedalam ruang ICU begitu juga Aruna. Mereka menunggu didepan ruangan khusus itu.


"Bang. Loe harus kuat. Loe harus bisa mendampingi kak Rumi hingga sehat"


"Zam. Apa salah gue sih. Apa gue gak berhak bahagia. Kenapa kisah cinta gue semua seperti ini akhirnya zam"


"Bang. Ini belum berakhir. Kak Rumi masih ada bang. Abang harus berusaha membuat kak Rumi sembuh"


Ghaisan menangis dihadapan adik laki-lakinya. Sambil menunduk, Ghaisan meluapkan semua rasa pedihnya. Luka hatinya.


"Bang. Percayalah, loe orang yang kuat. Loe istimewa bang. Karena Allah sudah memilih loe untuk menjalani ini, berati loe memang mampu bang"


_______


Mulai ya ini...jangan marah...dari awal sudah dibilang ini sedikit berbeda....


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading