
"Wah saya tidak menyangka ada yang mau meminang keponakan saya. Apa anda tidak salah memilih Pak Rizky. Dia bukan wanita baik-baik. Jika anda berkenan, anda bisa menikah dengan putri saya. Dan pasti Anda sudah cukup mengenal putri saya". Rizky hanya tersenyum menanggapi tawaran Om Rudi.
"Wanita seanggun Tifa tidak pantas saya dapatkan Pak Rudi. Dan jika bapak merestui, saya akan menikahi Medina dua Minggu lagi". Tidak ada keraguan sedikitpun dari suara Rizky. Membuat Pak Rudi hanya bisa pasrah menerima pinangan Rizky untuk Medina.
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan pak Rizky. Saya akan merestui. Dan saya akan menentukan mahar yang pantas untuk keponakan saya". Tampak senyum licik dari wajah Pak Rudi.
"Mahar apa yang kamu inginkan Medina". Medina memang berada di samping Ibunda Rizky. Dia memilih diam tak menanggapi apapun ucapan sang Paman.
"Dina hanya ingin mahar yang tidak membebani Kakak saja. Karena sebaik-baiknya wanita adalah yang paling murah maharnya". Rizky dan sang ibu tersenyum menanggapi ucapan Medina. Berbeda dengan paman dan bibinya.
"Ck. Murah. Tidak ada istilah mahar itu murah. Apalagi bagi seorang Pak Rizky, apapun mahar yang kami tentukan pasti akan terpenuhi". Paman dan bibi Medina mencebik saat Medina meminta mahar sewajarnya.
"Lalu apa mahar yang Pak Rudi inginkan untuk saya bisa meminang Medina". Dalam hati Medina ingin sekali melawan sang Paman. Tapi Rizky sudah berpesan agar Medina bisa mengontrol emosinya. Medina memilih diam.
"Saya minta seperangkat perhiasan berlian dan saham dari perusahaan milik Anda Pak Rizky". Rizky tersenyum tipis. Dia sudah bisa menebak apa yang diinginkan Paman Medina. Karena beberapa kali pengajuan dari kerjasama dari Pak Rudi selalu mendapat penolakan.
"Untuk perhiasan saya tidak menjadi masalah. Dan untuk saham yang bapak inginkan, ini bukan pernikahan bisnis. Jadi saya menolak. Karena saya menikah dengan Medina tulus tanpa ada ikatan bisnis". Kembali mendapat penolakan untuk kesekian kalinya, Pak Rudi merasa sangat marah.
"Kalau begitu saya juga tidak akan merestui hubungan kalian. Dan tanpa restu saya, kalian tidak bisa menikah". Pak Rudi puas dengan jawabannya. Namun dia lupa siapa Rizky.
"Tanpa restu Anda, saya masih bisa menikah dengan Medina. Karena saya bisa mengajukan hak perwalian melalui hakim". Rudi terbengong mendengar jawaban Rizky yang cukup mengejutkan.
"Itu tidak akan sah. Alasan apa yang Anda berikan jika saya sebagai wali sah masih hidup". Tak mau kalah Pak Rudi tetap beradu argumen.
"Ini salah satu salinan wasiat dari ayah Medina, yang dititipkan kepada pengacara beliau. Walaupun tanpa ijin bapak, saya masih bisa menikah dengan Medina dengan perwalian hakim. Karena saya masih menghormati bapak dan juga saya harus mengikuti aturan yang sudah ditentukan, jadi saya menemui bapak sebagai Paman kandung Medina". Rizky sengaja hanya memberikan salinan wasiat kepada pak Rudi. Karena Rizky sangat paham bagaimana watak pria tersebut.
Wajah Paman dan bibi Medina berubah menjadi kesal setelah membaca salinan surat wasiat yang dibawa oleh Rizky. Bahkan didalam wasiat itu juga tertera mengenai kepemilikan perusahaan.
"Dan saya akan tetap menikah dengan Medina dua Minggu lagi. Saya berharap kedatangan anda sekeluarga sebagai Paman Medina". Rizky kembali berbicara setelah Pak Rudi selesai membaca salinan wasiat itu.
"Heh. Jika kami tidak sibuk. Walaupun saya tidak menjadi wali anak berandal ini, setidaknya beban saya berkurang. Silahkan bawa pergi sejauh mungkin anak berandal tak tau diri ini". Melihat Paman dan bibi Medina berdiri dari tempat duduknya, Rizky paham jika mereka harus segera meninggalkan rumah itu.
Rizky dan ibunya berpamitan kepada Paman dan bibi Medina begitu juga Medina. Setelah kepergian mereka, paman Medina meluapkan segala kekesalannya.
"Sialan. Kenapa jadi seperti ini. Dan kenapa pengacara itu yg tidak memberitahu mengenai wasiat itu. Akhhh". Melihat sang suami kesal, bibi Medina pun ikut kut kesal.
Dalam perjalanan pulang, Medina tampak diam saja sambil menatap jalanan. Rizky memperhatikan itu dari spion dalam mobilnya.
"Dina kenapa". Medina menoleh tersenyum. Suara dan nada yang tak pernah berubah yang keluar dari mulut Rizky membuat Medina begitu nyaman.
"Tidak apa kak". Medina dan Rizky memang terpaut selisih usia dua tahun. Sejak kecil Medina selalu memanggil Rizky dengan sebutan kakak.
"Nak. Kalau ada sesuatu yang mengganjal pikiran kamu. Jangan disimpan sendiri. Sekarang kamu bisa cerita ke ibu atau Rizky. Seperti dulu saat kamu kecil sering bercerita dengan ibu". Lembut suara ibunda Rizky membuat Medina menangis.
"Loh, kok nangis. Kamu kenapa Dina. Kakak ada salah sama kamu. Atau ibu salah bicara". Rizky menghentikan laju kendaraannya karena melihat Medina menangis.
"Dina yang punya salah sama kalian. Kenapa kalian masih sangat baik dan sayang sama Dina. Padahal beberapa tahun ini Medina selalu saja kasar sama kalian". Medina menangis sesenggukan. Ibu keluar dari mobil dan berpindah ke kursi belakang agar bisa memeluk Medina.
"Nak. Ibu tidak marah ataupun dendam dengan Dina. Begitu juga Iky. Kami sangat paham seperti apa kamu nak. Kami tidak menyalahkan sikap kamu karena kami tau ada sesuatu yang sedang membuat Dina tidak baik-baik saja. Kami mengenal Medina kecil kami. Setiap kami tanpa sengaja melihat sorot mata kamu, kami tau kalau Medina kecil kami masih sama. Hanya saja dia sedang tersesat dan membutuhkan bantuan". Selama ini memang hanya keluarga Rizky yang tidak pernah ikut menghakimi Medina seperti para tetangga lainnya.
"Dina tidak usah takut ya. Suatu hari nanti kebenaran itu akan terungkap. Kami akan selalu ada untuk Dina. Jangan menangis lagi. Kakak gak suka lihat Dina menangis". Ibu Rizky tersenyum mendengar ucapan sang putra kepada calon istrinya. Perlahan Medina menghapus air matanya.
Rizky melanjutkan berjalan dan seolah menjadi supir untuk kedua bidadari tercintanya. Medina tinggal dirumah milik Rizky yang nantinya akan mereka tinggali setelah menikah. Sedangkan Rizky kembali kerumah sang Ibunda.
"Assalamualaikum bang. Minta tolong boleh". *Ucap Rizky kepada seseorang diseberang teleponnya.
"_"
"Bantuin dong bang. Tapi kalau gak merepotkan*"
"_"
Rizky menceritakan apa yang sedang dia alami. Dan meminta bantuan seseorang dan memang dia yang bisa membantu Rizky saat ini.
"Oke makasih kak. Assalamualaikum".
Rizky menutup panggilan teleponnya setelah mendapat kesepakatan dengan orang yang dipanggilnya sebagai kakak. Sebelum beristirahat, Rizky mengirim pesan kepada ustadz yang akan menjadi perantara taarufnya sebelum dia memutuskan menikah dengan Medina. Rizky belum memberikan tanggapan kepada keluarga wanita itu. Dina Rizky akan menyelesaikan semua esok. Dia akan memberitahu alasan kenapa dia membatalkan rencana taarufnya.
"Bismillah satu persatu harus selesai".