RashSya Story

RashSya Story
Ghaydan~Periksa



Sudah hampir satu tahun Atha dan seila menikah. Dan kabar kehamilan Icha membuat seila semakin gusar. Apalagi mami friska selalu saja menanyakan hal tersebut jika ada kesempatan. Mau tak mau seila pun harus segera memeriksakan keadaan dirinya. Dan akan berusaha membujuk sang suami untuk ikut periksa.


"Kak nanti temani aku periksa ya"


"Loh kamu sakit yang"


"Nggak sih kak. Aku cuma mau pastiin saja kalau aku sehat dan tidak ada masalah"


"Maksud kamu gimana sayang"


"Kak. Aku takut jika selama ini aku memiliki masalah kesehatan yang membuatku susah hamil"


"Kok ngomong gitu sih sayang. Belum tentu kamu yang bermasalah sayang. Bisa saja aku yang bermasalah. Tolong jangan sedih sayang"


"Kak mau ya kita periksa sama-sama. Biar hati seila lebih tenang. Mungkin mami akan lebih lega jika sudah melihat hasil pemeriksaan seila"


"Ya sudah sayang. Kapan kita mau periksa"


"Hari ini kak. Kebetulan seila sudah membuat janji dengan dokter tempat seila magang"


"Baiklah sayang. Kakak akan menghubungi Sony untuk mengatur jadwal hari ini. Kakak akan libur"


"Makasih kak"


"Sama-sama sayang"


Mereka kembali menikmati sarapan paginya. Usai sarapan seila membereskan semua peralatan makannya. Tak lupa menyimpan sisa makanan didalam lemari. Agar saat Eneng datang dan lapar, Eneng bisa menghangatkannya kembali.


Mereka sudah siap akan berangkat ke rumah sakit. Karena hari ini Eneng akan datang agak siang, mereka tak menunggu Eneng datang dan langsung berangkat menuju rumah sakit.


Tiba dirumah sakit, semua perawat dan para dokter yang mengenal seila, menatap kearahnya semua. Karena baru sekali ini dengan sangat jelas mereka melihat wajah suami dari dokter muda itu. Seila langsung menuju klinik kesehatan ibu dan anak untuk berkonsultasi.


Sambil menunggu antrian, Atha mengirimkan pesan kepada Sony untuk mengirim berkas penting kerumah. Atha kembali menyimpan ponselnya dan menggenggam tangan seila yang dingin.


"Jangan takut. Kakak selalu ada disisimu sayang"


"Makasih kak"


Perawat yang melihat kemesraan seila, langsung menggoda seilam. Membuat para ibu hamil yang akan memeriksakan diri melihat kearahnya.


"Cie cie dokter seila. Suaminya romantis banget sih. Bikin pengen aja"


"Pengen ya nikah dong nis"


"Sama siapa dok"


"Ya sama cowok dong"


"Ih dokter sukanya gitu deh. Siapa tau suami Bu dokter ada teman nganggur gitu kenalin ke Nissa"


"Besok saya buatkan poster pencarian jodoh atas nama kamu nis. Hahaha"


"Dokter ih"


Sedari tadi Atha hanya menatap wajah sang istri dari samping sambil tersenyum. Dia tidak melihat kearah lain hanya fokus pada seila. Antrian sudah mulai dipanggil. Seila selalu tersenyum saat melihat para ibu hamil silih berganti masuk kedalam ruang periksa.


"Nyonya Seila. Silahkan masuk"


"Ayo sayang nama kamu sudah dipanggil"


"Kak"


"Tenang jangan tegang. Kita berdoa yang terbaik"


Seila masih gugup. Tangannya semakin dingin. Atha tak melepaskan tangan sang istri dan terus menggenggamnya. Didalam ruang peeiksa, seorang dokter pria yang sudah berumur tersenyum kepada seila dan Atha.


"Assalamualaikum dokter Fahmi"


"Waalaikumsalam dokter seila. Ayo silahkan duduk"


"Terimakasih dok"


Setelah Atha dan seila duduk sang dokter memulai sesi tanya jawab ya. Seila yang tegang terus saja menggenggam tangan suaminya.


"Ada apa ini kok tumben membuat janji dengan saya dokter seila"


"Begini dok. Kami sudah menikah hampir satu tahun. Tapi sampai sekarang masih belum ada tanda kehamilan. Setiap saya tes pasti negatif dok"


"Hmmm. Masih satu tahun ini. Banyak diluar sana yang hampir puluhan tahun belum juga diberi rejeki. Tapi memang setiap orang memiliki pemikiran sendiri. Sebaiknya memang kita melakukan pemeriksaan agar tau titik permasalahannya"


"Baik dok. Saya memang ingin memastikan apa yang menjadi kendala selama ini"


"Ini saya mau melakukan USG. Sebelumnya suaminya marah tidak saya menyetujui istri anda. Hahaha"


"Tidak apa dok. Semua juga demi kebaikan bersama"


"Syukurlah. Saya takut nanti ada yang cemburuan hahaha"


Seila dipersilahkan untuk naik keatas brankas dan dibantu seorang perawat, seila sudah siap untuk melakukan pemeriksaan. Atha selalu ada disampingnya dan terus menggenggam tangannya.


"Iya dok"


Dokter Fahmi mulai menjalankan alat USG tersebut. Saat berhenti diarea rahim seila, dahi dokter Fahmi sedikit berkerut.


"Hmmm. Sepertinya kita sudah mengetahui apa yang menjadi masalah"


"Apa dok"


"Ada kista didalam rahim dokter seila"


"Apakah berbahaya dok"


"Tidak. Nanti saya akan berikan obat untuk pengobatan rutin"


"Apa akan lama prosesnya dok"


"Semua dijalani dengan ikhlas saja. Nanti datang lagi satu bulan lagi dokter seila"


"Baik dok"


"Ingat jangan terlalu banyak pikiran. Dan makan makanan bergizi. Olahraga ya dok. Karena berat badannya tidak seimbang"


"Baik dok. Terimakasih"


"Sama-sama"


Seila dan Atha sudah keluar dari ruang pemeriksaan. Seila berusaha untuk tetap tersenyum. Dalam hatinya sangat sedih karena dialah yang memiliki kekurangan. Atau tau jika sang istri merasa sangat bersalah.


"Sayang kita jalan-jalan dulu yuk"


"Mau kemana kak"


"Ke suatu tempat yang indah"


"Ya kak"


Atha melajukan mobilnya menuju kesuatu tempat yang sangat menenangkan. Dia pergi keluar dari hiruk pikuk ibu kota. Perjalanan dua jam mereka tempuh dan sampailah mereka kesebuah desa kecil nan asri.


"Kak ini dimana"


"Kita di Bandung sayang. Aku akan membawamu kerumah kita yang dilembang sayang"


"Kapan kakak belinya"


"Sudah lama sekali sayang. Sedari kuliah dulu. Biasanya aku sewakan untuk liburan sayang"


"Wah baru tau seila. Kakak sudah pandai cari uang dari dulu. Hahaha"


"Hahaha. Kamu memuji apa merendahkan sayang"


"Aku bangga kak bukan memuji atau merendahkan"


Setelah hampir tiga puluh menit mereka telah sampai tempat dimana Atha maksudkan. Pemandangan hijau membentang indah mengelilingi rumah Atha. Atha disambut oleh penjaga rumahnya yang selama ini dia bayar untuk merawat rumahnya itu.


"Den Atha"


"Mang usep apa kabar"


"Baik den. Aden kesini kok gak ngabarin duku. Untung rumah sedang tidak disewa den"


"Iya tadi lagi kepikiran dijalan mang. Oya kenalkan ini seila istri saya"


"Cantik sekali. Dan sesuai dengan keinginan aden selama ini"


"Terimakasih mang"


"Masuk yuk sayang"


Seila merangkul pinggang seila dan membawanya masuk. Mang usep memberikan kunci kepada Atha dan berlalu pulang memberitahu sang istri tentang kedatangan majikannya.


"Kak ini cantik sekali. Nyaman dan tenang"


"Kamu suka sayang"


"Iya kak"


"Ya sudah kita istirahat dulu nanti sore kita jalan-jalan disekitar sini"


"Ya kak"


Atha membawa seila ke kamar. Dia memeluk erat seila agar tertidur nyenyak. Saat seila sudah terlelap, Atha mengambil gawainya dan memberi kabar kepada maminya dan mama mertuanya tentang kondisi seila. Friska merasa bersalah karena selama ini dia yang selalu menanyakan tentang cucu.


________


jangan lupa jempolnya


Happy reading