
"Arumi. Siapa nama lengkap kamu"
"Arumi Nasha Razeta pak"
"Tanggal lahir kamu"
"Hah. Tanggal lahir pak"
"Iya berapa tanggal lahir kamu"
"25 Mei pak"
"Rumah kamu dimana"
"Rumah"
"Udah jawab saja"
"Jl. Merpati no 30 pak"
"Oke. Sekarang kamu dengarkan saya baik-baik. Kalau perlu kamu catat apa yang saya katakan"
"Baik pak"
"Nama lengkap saya kamu sudah tau kan. Jadi gak perlu saya sebutkan lagi"
"Tanggal lahir saya 28 Januari 1990. Oya kamu lahir tahun berapa Arumi"
"Saya tahun 1996 pak"
"Lumayanlah 6 tahun. Lagian saya juga gak kelihatan tua ini"
"Hah"
"Saya lanjutkan. Rumah saya di Jl. Anggajaya No 90"
"Oya satu lagi. Saya punya apartemen di Sunrise building. Gedung B lantai 6 nomor kamar 667. Kode masuk tanggal lahir saya. Catat jangan sampai lupa"
"Hah. Oh. Baik pak"
"Dan mulai detik ini kamu adalah pacar saya. Dan sayang gak mau kamu memanggil saya dengan sebutan bapak. Karena saya bukan bapak kamu. Panggil sayang atau Mas. Sepertinya lebih enak di dengar. Bisa dimengerti baby"
"Hahhhh"
Syok itu yang terjadi pada Arumi hari ini. Dia berfikir sesial itukah hari ini. Bagaikan diserbu ratusan lebah yang menyengat tubuhnya, namun tak satupun Arumi rasakan sakitnya.
"Baby. Kenapa malah melamun"
Arumi mengedipkan matanya berulang kali. Kesadarannya perlahan pulih.
"Pak tolong kalau bercanda yang baik pak. Saya gak suka cara bapak bercanda"
Ghaisan menepikan mobil hotel yang dia sewa. Ghaisan melepaskan seatbeltnya dan menghadap kearah Arumi. Sejujurnya ada rasa gugup didalam hati Ghaisan. Namun dia berusaha untuk biasa saja.
"Dengarkan baik-baik sayang. Aku gak main-main. Ini serius. Kalau kamu gak percaya, setelah pulang dari kota ini. Aku akan datang langsung melamar kamu. Bagiamana"
"Pak plis pak. Saya bisa marah juga kalau bapak seperti ini"
"Aku gak bercanda. Aku serius. Apa perlu bukti lain"
"Pa plis. Jantung saya sudah gak sehat ini. Kalau bapak lihatin saya kayak gitu"
"Kamu harus terbiasa dengan tatapanku ini sayang. Ingat jangan panggil bapak. Aku gak suka"
"Terus panggil om gitu"
"Aku belum setua itu sayang. Panggil aku sayang"
"Hah. Pak tolong sadar pak. Bapak kepentok apa sih tadi kok jadi gini"
"Huh. Susah ya ngomong sama kamu. Intinya sekarang kamu pacar saya. Eh bukan kamu calon istri saya. Tidak ada penyangkalan"
Ghaisan melanjutkan perjalanan mereka. Arumi masih belum bisa menerima status dadakan yang baru saja dia sandang. Ghaisan tersenyum melihat tunangan dadakannya itu masih syok.
Tiba di lokasi pembangunan, Ghaisan turun dan membukakan pintu untuk Arumi. Bahkan Ghaisan tersenyum kepada Arumi. Mendapat perlakuan seperti itu, bukan senang namun semakin membuat Arumi terdiam.
"Ayo sayang. Kasian mereka sudah menunggu kita"
Ghaisan berjalan disamping Arumi yang masih tak ada respon. Pikiran dan hati Arumi entah berada dimana. Melihat kedatangan Arumi dan Ghaisan, anggota tim yang sedang menunggu terkejut. Mereka mengira jika hanya Arumi sendiri yang akan datang.
"Selamat siang pak"
"Hmm. Bagaimana. Apa ada kendala"
"Ada sedikit kendala pak"
"Apa kendalanya"
"Pengiriman bahan baku yang terlambat pak. Ini sudah mundur lebih dari satu minggu dari perjanjian"
"Apa terlambat. Bagaimana kerja kalian. Kenapa bisa sampai lama sekali terlambatnya. Jika hanya satu dua hari saya masih maklum. Ini satu Minggu lebih. Dan kalian diam saja"
"Kami sudah mencari supplier lain pak. Dan diusahakan hari ini tiba"
"Kalian yakin"
"Yakin pak"
"Kalian bisa jamin kualitasnya sama dengan supplier sebelumnya"
"Sama pak. Kami sudah pastikan"
"Oke. Saya minta saat barang datang kalian harus memeriksa ulang. Pastikan tidak ada masalah lagi"
"Baik pak"
Ghaisan merasa kepalanya semakin pusing. Dia memang memaksakan tubuhnya untuk bekerja. Arumi sedang memeriksa kembali laporan dari lapangan. Dia tidak begitu memperhatikan Ghaisan.
"Rum. Katanya pak bos sakit"
"Iya. Emang sakit. Itu maksain datang"
"Hmm. Maklum bos jomblo jutek"
"Hahaha loe rum bisa aja"
Ghaisan melihat Arumi begitu dekat dengan salah satu karyawan prianya, dia mendekat dan berdiri tepat dibelakang Arumi. Ghaisan merangkul leher Arumi dari belakang dihadapan semua karyawannya.
"Kamu sedang bicara apa sayang. Happy banget"
Arumi dan karyawan lainnya sama-sama kaget dengan tindakan Ghaisan. Jantung Arumi sudah tak bisa dikendalikan lagi. Ditambah tiba-tiba Ghaisan mencium pelipis Arumi.
"Jangan terlalu dekat dengan karyawan pria sayang. Aku bisa cemburu"
Ghaisan melepaskan pelukannya dan memilih mencari tempat berteduh. Kepalanya sudah sangat pusing. Arumi langsung mendapat beberapa pertanyaan dari teman-temannya.
"Ada berita besar apa ini. Kok kita gak tau"
"Rum. Loe jahat. Jadi selama ini loe kekasih pak bos"
"Bu bukan kak. Gak kayak gitu juga"
"Sumpah rum. Salut buat loe. Bisa menaklukkan hati pak bos"
"Kalian salah paham. Gue bukan kekasih pak bos. Hadehh"
"Udah gak usah malu"
"Lagian kalau emang loe pacar si bos, kita juga setuju kok. Kalian cocok"
"Hemm. Betul sekali. Selamat ya rum"
"Jangan lupa traktirannya rum"
"Ck. Ah kalian tuh ya. Masa lebih percaya pak bos dibandingkan sama gue. Gue bukan pacar pak bos. Beneran deh"
"Cie cie. Gak usah malu"
Ghaisan tiba-tiba roboh diatas kursi tempat dia berteduh. Salah satu pekerja bangunan disana berteriak saat melihat Ghaisan pingsan.
"Mbak. Mas tolong ini ada yang pingsan"
Mereka langsung menoleh. Dan melihat Ghaisan pingsan semua langsung berlari mendekati Ghaisan.
"Pak boss"
Ghaisan dibawa kerumah sakit terdekat. Semua anggota tim juga ikut mengantar Ghaisan kerumah sakit. Ghaisan langsung dibawa keruang gawat darurat. Arumi mengurus semua administrasi rumah sakit.
Ghaisan masih menjalani pemeriksaan oleh dokter. Arumi dan yang lainnya menunggu diluar. Setelah lima belas menit, dokter yang memeriksa keluar dari ruangan.
"Dok bagaimana kondisi bos kami"
"Pasien mengalami kelelahan. Untuk lebih jelasnya kita tunggu hasil laboratorium keluar. Pasien harus menjalani rawat inap. Demamnya terlalu tinggi"
"Baik dok. Tolong berikan kamar VVIP"
"Baik. Tolong untuk administrasi bisa diselesaikan"
"Baik dok"
"Saya permisi. Nanti setelah hasil laboratorium keluar, saya akan kembali memeriksa kondisi pasien"
"Baik dok"
Setelah dokter tersebut pergi, Ghaisan dibawa keluar dari ruang gawat darurat dan dipindahkan ke kamar yang sudah Arumi pesan. Arumi dan teman-temannya mengikuti dari belakang. Ghaisan masih menutup matanya.
"Rum sebaiknya kita kembali ke hotel. Dan bergantian menjaga pak bos"
"Iya benar rum. Sekarang loe yang jaga dulu. Besok kita bisa bergantian"
"Oke. Oya tolong ada yang membawakan baju ganti buat gue dan pak bos. Ini kunci kamar pak bos"
"Oke. Nanti gue sama Tika kesini anterin"
"Oke makasih"
Kini tinggal Arumi sendiri yang berada di ruangan Ghaisan. Sambil menunggu Ghaisan sadar, Arumi memilih mengerjakan laporan lapangan. Ghaisan akhirnya tersadar. Dia berusaha untuk terbangun namun tak mampu. Melihat adanya Arumi disofa sedang fokus dengan laptopnya, Ghaisan pun memanggilnya.
"Sayang"
Arumi masih tak merespon panggilan Ghaisan. Dan Ghaisan kembali memanggil Arumi.
"Arumi. Sayang"
Arumi mendengar namanya, langsung menoleh kearah Ghaisan. Walaupun dalam kondisi lemah, Arumi masih bisa melihat senyuman Ghaisan.
"Bapak memanggil saya"
"Ck. Bapak lagi"
"Eh maaf. Mas panggil saya"
"Iya sayang. Siapa lagi"
"Oh. Ada yang bisa saya bantu"
"Jangan kaku dong sayang"
"Belum biasa"
"Biasakan. Tolong bantuin. Aku mau pipis"
"Hahhhh"
______
Lama-lama bisa jantungan Rumi loh Chan...
Jangan lupa jempolnya gaesss
Happy reading