RashSya Story

RashSya Story
Ghaydan~ Pindah



Dua bulan sudah pernikahan Atha dan seila berjalan. Dan sampai detik ini mereka masih belum diberi kepercayaan mendapatkan momongan. Bagi mereka dan kedua keluarga tak masalah, pernikahan mereka juga masih sangat baru. Anggap saja mereka masih diberi waktu untuk saling mengenal.


Mulai bulan depan seila sudah memulai program koasnya. Selain karena permainan Atha yang mengubah peraturan kampus tanpa sepengetahuan seila, seila sendiri berniat mencari tempat magang yang masih satu kota dengan sang suami. Seila menjadi koas dirumah sakit milik Bagas dan dibawah bimbingan Dafina adik Daffa.


"Sayang kamu dimana"


Atha yang baru saja pulang dari masjid untuk melaksanakan sholat subuh, sedang mencari keberadaan sang istri yang tidak berada didalam kamar.


"Bentar kak"


Seila menyahut dari dalam kamar mandi. Seila keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang menunduk sambil membawa sesuatu ditangannya.


"Kenapa murung hm"


"Negatif lagi kak"


"Oalah kirain kenapa. Sudah gak usah dipikirin sayang. Kita jalani saja dulu"


"Tapi kak. Seila gak enak sama mami"


"Udah gak usah pedulikan mami. Mami emang gitu orangnya"


"Kak. Kalau.."


"Kalau apa"


"Kalau misalnya seila gak bisa ngasih anak gimana kak"


"Memangnya kamu Tuhan sayang"


"Bukan kak"


"Ya sudah. Jangan mendahului apapun yang sudah digariskan sayang"


"Iya kak. Maafin seila"


"Sudah. Gak ada yang salah kok minta maaf. Jalan-jalan yuk"


"Kemana kak"


"Lari pagi aja ditaman komplek"


"Yuk"


"Ya udah ganti baju dulu"


"Okeh bos"


Atha bahagia melihat seila bisa tersenyum kembali. Namun Atha juga tahu jika seila masih memendam rasa kecewa pada dirinya sendiri didalam hati.


"Yuk kak udah siap"


"Ayo sayangku. Kita cari oksigen baru buat stok"


"Stok apaan kak"


"Stok saat nanti kita beradu bibir sayang"


"Ih kakak apaan sih"


Atha merangkul pundak sang istri dan keluar dari kamarnya. Saat akan berjalan menuju pintu keluar, mereka berpapasan dengan Friska.


"Hei sayang kalian mau kemana"


"Jalan pagi mam"


"Wah bagus itu. Ya sudah sana keburu panas"


"Mami mau pesen sesuatu gak"


"Hmmm gak kayaknya bang"


"Ya sudah kalau gitu kita pergi dulu"


"Oya kalian sarapan dirumah gak"


"Gak kayaknya mam. Atha mau sarapan ditaman komplek aja"


"Jangan sembarang pilih makanan loh bang. Gak baik buat seila. Mami kan pengen cepet-cepet punya cucu"


"Mamm"


"Iya-iya mami cuma ngingetin aja kok"


"Udah kita pergi dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Atha melihat seila kembali termenung mendengar ucapan sang mami. Atha sedang mencari cara agar mood sang istri kembali lagi. Sedangkan friska sedang ngedumel sendiri.


"Apa salahnya sih diingetin. Lagian juga kan buat kebaikan. Apa salah kalau mami pengen punya cucu cepet. Menyebalkan"


Tian yang akan mengambil air minum mendengar sang istri marah-marah sendiri, langsung mencoba bertanya.


"Si Abang itu loh Pi, mami cuma mau ngingetin jangan jajan sembarangan biar kita cepet punya cucu. Eh si Abang malah kesel. Mami gak salah kan Pi"


"Emang gak salah. Tapi kita juga harus jaga perasaan seila juga mi. Mereka belum lama menikah. Biarkan mereka saling mengenal dulu"


"Tapi kan mami pengen kayak temen-temen Pi kemana-mana main sama cucu Pi"


"Mi, papi cuma mau ingetin. Jangan terlalu menekan mereka. Papi gak mau kehilangan Atha lagi mam"


"Iya pi. Maafkan mami"


Mereka sarapan berdua, karena Galang sedang penelitian diluar kota. Tian sudah cukup terluka saat kehilangan sosok anak sulungnya yang lebih nyaman hidup bersama keluarga sahabatnya sendiri.


Ditaman seila masih sedikit murung mengingat ucapan mami mertuanya. Atha paham apa yang dirasakan oleh sang istri. Dia sedang mencari cara untuk mengembalikan mood sang istri.


"Tau gak sayang, kemarin kakak jalan-jalan ketemu ayam mati gara-gara kebanyakan bengong"


"Garing amat sih kak"


"Biarin garing yang penting kamu senyum sayang"


"Kak"


"Sayang besok kita pindah rumah ya"


"Kenapa emangnya kak"


"Ya gak kenapa-kenapa. Kakak sudah lama punya rumah sendiri dan gak ada yang nempatin. Males tinggal sendirian sayang. Sekarangnya udah ada istri jadi ada yang nemenin"


"Tapi papi sama mami gimana kak"


"Ya gak gimana-gimana sayang. Nanti kakak yang bilang ke mereka. Kakak kan pengen juga hidup berdua dengan istri. Merasakan pelayanan istri secara total. Kamu mau kan sayang"


"Insyaallah seila mau kak. Seila kan istri kakak, kemanapun kakak pergi akan seila ikuti"


"Terimakasih sayang"


"Iya kak"


"Semoga dengan pindahnya kita bisa membuat hatimu bahagia sayang. Setidaknya mami gak terlalu menekan kamu untuk segera punya cucu sayang"


Atha berbicara didalam hatinya sambil mengusap lembut kepala sang istri yang tertutup rapat oleh hijab.


Pulang dari taman, Atha meminta seila untuk mandi lebih dulu. Sedangkan Atha menemui kedua orangtuanya ditaman belakang.


"Mam, pap. Atha mau bicara bentar boleh"


"Duduklah bang. Mau bicara apa"


"Atha mau minta ijin mam,pap"


"Ijin apa"


"Besok Atha akan membawa seila pindah ke rumah milik Atha sendiri"


"Loh kenapa harus pindah sih bang. Disini juga gapapa kok"


"Atha ingin mandiri mam. Dan yang paling penting Atha ingin menjaga perasaan seila"


"Maksud kamu apa bang"


"Mami pasti tau maksud Atha. Atha gak mau seila tertekan dengan pertanyaan konyol mami"


"Itu tidak konyol bang. Dimana-mana orangtua pasti berharap mendapatkan cucu dari anaknya yang sudah menikah. Apa kamu tidak menginginkan hal itu bang"


"Atha memang mengharapkan itu. Tapi semua tergantung dari sang pemberi nyawa. Atha juga tak begitu memaksakan seila. Kami masih baru saja menikah mam. Jadi lebih baik Atha mandiri daripada istri Atha yang tersakiti. Atha tahu pasti seperti apa mami"


"Bang..."


"Stop. Papi setuju sama kamu bang. Kamu sudah menjadi kepala rumah tangga dan kewajiban kamu menjaga istri dan keutuhan rumah tangga kalian. Papi ridho kamu pindah besok"


"Terimakasih Pi. Atha ke kamar dulu"


Friska kesal mendapat bantahan dari putranya. Bahkan suaminya juga mendukung sang putra.


"Papi kenapa mengijinkan mereka pindah sih. Kita gak bisa memantau mereka nantinya"


"Mam cukup. Apa mami lupa peringatan papi tadi pagi. Papi gak mau dengar lagi mami memaksakan kehendak mami sendiri dan nanti akhirnya bukan hanya anak kita yang pergi tapi juga bisa menghancurkan rumah tangga mereka"


"Pi. Mami cuma ingin yang terbaik untuk mereka Pi"


"Mi gak semua yang menurut kita baik, itu baik untuk mereka mam. Ingat jangan kembali ke kesalahan yang sama mam"


Tian pergi meninggalkan sang istri yang duduk termenung ditaman belakang. Selama ini memang Friska selalu memaksakan kehendaknya untuk anak-anak dan suaminya. Terkadang mereka menuruti hanya agar Friska tidak kecewa. Namun karena sifatnya itu pernah membuat Atha pergi dan tak mau kembali kepada mereka dalam waktu yang lama.


_____


**Jadi Ghaydan ini ceritanya sedikit berbeda dengan si kembar ya gaesss. Dan konfliknya pun berbeda. Tetap ikuti terus yaaa...


Jangan lupa jempolnya


Happy reading**