
"Kenapa suntuk bro"
"Lagi banyak kerjaan aja tha"
"Kerjaan dipikirin. Jodoh kagak loe pikirin Chan"
"Berisik amat loe tha"
"Biarkan saja dia seperti tha. Mungkin masih terkenang masa lalu"
"Gak lah ars. Gak ada dalam kamus gue mengenang masa lalu"
"Kata Mirza, kalian sudah bertemu"
"Hmm"
"Wah. Berita besar nih"
"Loss udah"
"Hmm. Oya mumpung kita ngumpul. Ada yang mau gue omongin ke kalian"
"Sepertinya berita besar"
"Hmm. Selama ini gue gak bermaksud menyembunyikan ini semua. Tapi karena rasa kecewa dan sakit hati gue, terpaksa semua gue tutupi. Awalnya gue berfikir. Selama masalah ini tidak menyangkut nama keluarga gue, gue gak masalah. Tapi setelah gue pikir. Kalau gue tetap bungkam nanti akan ada masanya masalah ini terungkap. Dan gue gak mau terlibat lagi"
"Apa sih chan. Bikin gue deg deg an aja"
"Malika sudah memiliki seorang anak"
"Whattt"
Atha langsung terkejut. Begitu juga dengan si kembar. Mereka menatap Ghaisan dengan tatapan yang sangat tajam. Dalam sorot mata itu ada tersirat ketidak percayaan dari mereka.
"Kalian pasti tidak akan percaya. Tapi ini fakta yang harus kalian tau. Sebenarnya gue sengaja mengajak Malika ke Jerman waktu itu juga karena masalah ini"
"Siapa pelakunya"
"Reza Admaja"
"Reza Admaja. Loe gak salah kan Chan"
"Hm. Lebih baik gue cerita detailnya ke kalian saja. Agar kalian bisa mencerna semuanya dan menyimpulkan sendiri"
Flashback on
"*Sayang kamu dimana"
"Hmm. Aku lagi pergi beib. Ada apa"
"Hm. Gak kirain dirumah. Aku mau mampir"
"Aku lagi keluar bentar sama bang Mirza"
"Oh ya sudah*"
Ghaisan yang sedang menatap Malika dari jauh sedang bersama seorang pria yang sangat dia kenal. Mereka duduk berhadapan disebuah restoran. Kedua orang tersebut tidak menyadari keberadaan Ghaisan karena Ghaisan menggunakan hoddie.
Ghaisan sengaja duduk membelakangi mereka. Ghaisan penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan hingga Malika berani berbohong.
"Loe serius kan za bisa bantu gue"
"Serius. Gue gak akan bohong"
"Loe yakin ini akan berhasil. Karena Arash gak akan mudah terjebak"
"Gue kenal Arash. Kalau gue yang nyuruh datang pasti datang"
"Oke. Gue percaya. Terus kapan kita jalanin rencana kita"
"Sabtu besok"
"Oke. Loe kasih tau tempatnya ke gue"
"Beres"
Malika tersenyum senang. Rencananya untuk kembali bersama Arash akan segera terwujud.
"Loe tuh aneh deh Mal. Bukannya tunangan loe juga dari keluarga Malik. Ngapain masih ngejar Arash"
"Karena gue gak bisa move on. Gue itu cuma pura-pura aja sama Ghaisan. Biar gampang gitu dekat sama Arash"
"Dasar cewek aneh"
Ghaisan memilih untuk pergi dari restoran tersebut. Ghaisan sudah menyusun rencana akan menyadap ponsel Malika besok saat bertemu.
Seperti rencana Ghaisan, siang ini sengaja dia datang ke kafe Malika untuk menjalankan rencananya. Dengan sikap seperti biasanya, Ghaisan datang dengan senyum menawan.
"Sayang"
"Hai beib. Kirain gak jadi datang"
"Jadi dong. Kan udah janji mau lunch bareng"
"Mau lunch disini apa keluar"
"Disini aja deh. Udah lama aku gak merasakan masakan kamu sayang"
"Ah baiklah. Tunggu sebentar lagi ya. Satu laporan lagi"
"Oke"
Ghaisan duduk disofa ruangan Malika. Dia mengirimkan pesan kepada anak buahnya untuk memasang alat penyadap dimobil Malika.
"Beres. Makan apa kita beib"
"Apa aja. Yang penting kamu yang masak"
"Okey. Tunggu bentar ya"
"Hmm"
Setelah semua selesai, Ghaisan kembali bersikap biasa saja. Walaupun dalam hati dia sudah sangat muak. Namun demi membongkar rencana jahat Malika. Mau tak mau dia harus bersikap biasa saja.
Selama dua hari Ghaisan berhasil memperoleh informasi tentang apa yang akan direncanakan oleh Malika dan Reza. Betapa terkejutnya Ghaisan saat sebuah pesan masuk dari layanan belanja online. Malika memesan obat perangsang dosis tinggi.
"Gila. Dasar j****ng. Sialan. Oke gue ikuti permainan loe. Tapi jangan salahkan gue kalau loe akan lebih terluka lagi nantinya"
Sabtu pun tiba. Seperti janji Reza, dia akan menentukan dimana akan bertemu. Sebuah mini bar didalam hotel milik keluarga Reza. Ghaisan kembali menyamar untuk melihat apa yang akan mereka lakukan. Seingat Ghaisan, Reza menjanjikan akan membawa Arash untuk Malika. Namun setau Ghaisan Arash saat ini sedang berada di Jogja bersama Icha. Dan Arash sudah berangkat dari kemarin siang.
Ghaisan makin curiga dengan gelagat Reza. Saat Malika berulang kali menanyakan keberadaan Arash. Dan Reza akhirnya berkata jika Arash meminta bertemu disebuah kamar hotel. Malika yang bodoh pun mengikuti semua perkataan Reza.
Ghaisan mengikuti Reza dan meminta anak buahnya mengikuti Malika. Agar Ghaisan tau dimana kamar Malika. Reza memasukan obat perangsang dalam minuman dan makanan Malika serta meminta office boy membawakan makanan tersebut ke kamar Malika.
Ghaisan semakin marah. Ingin rasanya dia mencegah pelayan tadi, namun rasa sakitnya mendominasi. Rasa cintanya dibalas dengan begitu menyakitkan. Bahkan mereka sudah merencanakan pernikahan. Namun semua dikhianati oleh Malika.
Ghaisan mengikuti Reza dan melihat Reza masuk kedalam kamar dimana Malika berada. Dengan obat perangsang itu Ghaisan sudah tau apa yang akan terjadi. Sebelum Reza masuk kedalam kamar tersebut, Ghaisan sempat mendengar perkataan Reza.
"Maaf Malika, hanya dengan cara ini loe bisa gue miliki. Gue gak akan rela loe menjadi milik keluarga Malik. Gue sudah lama mencintai kamu Malika. Maaf sayang kalau gue jahat"
Ghaisan memilih meninggalkan hotel. Dan menunggu didepan hotel. Hampir empat jam Ghaisan menunggu namun Malika belum juga muncul. Hingga adzan subuh berkumandang, nampak Malika keluar dengan jalan tertatih dan menunduk. Dia dipapah oleh Reza. Ghaisan tetap mengikuti mereka hingga didepan gerbang rumah Malika.
Malika turun dan mengamuk kepada Reza. Semua Ghaisan melihat hingga mereka berpisah dan Ghaisan memilih pulang. Selama beberapa hari Malika tidak menghubungi Ghaisan. Dan Ghaisan juga tidak peduli. Dia sedang memikirkan rencana untuk mengakhiri hubungan mereka.
Dua bulan lamanya hubungan Malika dan Ghaisan tak ada kejelasan. Dan akhirnya Ghaisan memilih pergi ke Jerman. Pagi itu, Ghaisan sengaja datang ke kafe tanpa sepengetahuan Malika. Dia langsung menuju ruangan Malika.
Terdengar suara isak tangis dari dalam ruangan. Ghaisan sengaja diam berdiri mengamati Malika yang memukul perutnya. Karena sudah tak tahan lagi, akhirnya Ghaisan bersuara.
"Anak itu tidak salah. Jangan kamu lukai"
"Ghaisan"
"Tidak usah kaget. Gue sudah tau semuanya. Sebaiknya loe kasih tau ayah kandung anak itu"
"Anak apa. Kamu ngomong apa sih beib"
"Tolong mal. Gak usah kebanyakan drama. Jangan loe pikir gue akan selalu bisa loe bohongin. Tidak. Loe bermain dengan orang yang salah Malika Ayesha Putri"
Wajah Malika berubah pias, saat semua bukti rekaman suara Malika dan Reza, Ghaisan putar. Malika hanya bisa menangis. Menyesal pun juga sudah tak bisa.
"Kita akhiri semua kebohongan ini mal. Kita putus"
"Chan. Gak Chan. Gue butuh loe Chan"
"Loe gak butuh gue mal. Loe hanya memanfaatkan gue. Gue udah muak mal"
"Chan please"
"Loe sebaiknya kabari Reza jika loe hamil"
"Gak Chan. Gak mau. Gue mau aborsi saja"
"Gila loe mal. Dosa zina loe aja belum tentu diampuni. Sekarang loe mau bunuh dia. Dasar gak waras"
"Gue emang gak waras Chan. Semua karena loe. Kenapa loe mau tunangan sama gue. Gue cuma cinta sama Arash"
"Heh. Dasar perempuan gak waras. Intinya kita putus"
"Loe berani mutusin gue, gue bakalan bunuh diri"
Ghaisan gak peduli tetap meninggalkan ruangan Malika, hingga teriakan karyawan Malika membuatnya berhenti. Malika benar-benar merobek pergelangan tangannya dengan pisau.
Ghaisan membawa Malika ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Selama menunggui Malika sadar, Ghaisan mencari tahu keberadaan Reza. Dan Reza sedang berada di Jerman.
"Kebetulan sekali"
Setelah Malika sembuh, Ghaisan mengatakan. akan membawa Malika ke Jerman. Namun tidak ada satupun yang tahu jika dia dan Malika sedang berpura-pura bahagia. Dan dijerman sengaja Ghaisan memesan apartemen berbeda dengan Malika. Dan Ghaisan mencari tahu dimana Reza berada.
Namun Malika lebih dulu menemukan keberadaan Reza. Dan Malika memilih kabur menjauhi Reza. Apalagi Malika melihat Ghaisan sedang berbicara dengan Reza dikafe bawah apartemen mereka. Beruntung Malika memiliki teman yang tinggal di Jerman. Malika memilih kabur kesana.
Reza yang mengetahui Malika hamil, juga tidak mau langsung bertanggung jawab. Reza sempat menghilang. Hingga Ghaisan harus kembali karena pernikahan sahabatnya. Dan mau tak mau Malika harus ikut. Dan diaturlah rencana agar Malika kembali lebih dulu. Beruntung perut Malika bisa ditutupi. Hanya badannya saja nampak lebih berisi.
Sejak Ghaisan mengumumkan perpisahannya dengan Malika. Malika memilih meninggalkan kota. Dan berpindah kesebuah desa dimana kedua orangtuanya berasal. Hingga dia melahirkan seorang putri cantik.
Dan Ghaisan pula orang pertama yang tak sengaja bertemu Malika dan putrinya. Saat itu Ghaisan harus menghadiri acara pernikahan teman lamanya. Ghaisan tidak mengetahui jika Malika tinggal didesa yang sama dengan temannya. Dari situlah awal mula Ghaisan mengenal putri Malika yang awalnya Ghaisan dikira ayahnya.
flashback off
"Gila ini gila. Berati sekarang anak itu berusia sepuluh tahun dong"
"Kurang lebih"
"Reza bagaimana"
"Terakhir kali gue dengar dia mau menikahi Malika. Namun Malika tidak mau. Bahkan sampai sekarang Malika tidak pernah menemukan Reza dengan putrinya"
"Huh. Rumit"
"Sudahlah itu urusan mereka. Kita cukup tau dan diam saja"
"Hmm"
"Semoga loe segera dapat ganti yang lebih baik Chan"
"Aamiin"
"Tuga bulan. Ingat dakocan tiga bulan"
"Kampret emang kalian"
_______
Malika usai ya gaessss...part sedihnya nanti..
Jangan lupa jempolnya
Happy reading