
"Arash saya dan kamu itu sudah dijodohkan oleh kakek dan Papa saya. Dan saya gak terima kamu bertunangan dengan wanita lain, karena saya adalah calon istri kamu"
"Saya tidak mengenal anda nona. Saya hanya tau anda anak magang disini tidak lebih"
"Rash batalin pertunangan kamu itu. Atau aku akan lapor ke papa dan Papa akan mengatakan kepada Tuan Syakir. Aku yakin kakekmu itu tidak akan setuju kamu memilih gadis tak sederajat dengan keluarga kamu"
"Silahkan. Apa perlu saya sendiri yang akan menelpon atuk saya untuk Anda"
Jay yang kebetulan ada diruangan arash sengaja diam karena sedang melakukan panggilan video kepada Ayah mertuanya yang sedang berada di Bandung. Atuk Syakir pun juga tak suka sikap perempuan itu
Sedangkan di lobby Annisa datang bersama Jasmine. Seluruh kantor tau jika Arash sudah bertunangan namun tidak diberitahukan identitas calon istri Arash. Jasmine dab Annisa langsung naik lift menuju ruangan Arash. Saat akan mengetuk pintu ruangan Arash, mereka mendengar suara perempuan berteriak kepada Arash
"Ada orang gila ya mom masuk kantor"
"Masa ada orang gila bisa masuk kantor tanpa security tau nak"
"Yah orang gila sekarang itu gaul mom. Ngalahin orang waras"
"Kamu itu Cha"
Mereka masih mencoba mendengar aoa yang sedang terjadi
"Beneran mom Abang uda dijodohin"
"Nggak itu hoak. Kami tidak sedikit itu"
"Icha paham sekarang dia siapa"
"Siapa emangnya Cha"
"Kuntilanak kesiangan mom.Biar Icha yang ngatasi mom. Nanti kalau Icha gak sanggup bantuin ya mom"
Jasmine hanya mengangguk kaku. Dia belum mengerti apa yang akan dilakukan oleh menantunya itu. Annisa langsung masuk ruangan Arash tanpa mengetuk pintu
"Jadi benar yang dia bilang bang"
Arash, Jay dan Daffa kaget melihat Icha tiba-tiba datang bahkan di pelupuk matanya sudah menggenang air mata
"Sayang, Mas bisa jelaskan. Jangan salah sangka"
Perempuan yang sedari tadi marah pada Arash langsung menatap Annisa dengan sinis
"Kenalkan gue Nafisa Nazar. Putri pengusaha ternama dari Nazaruddin Group dan gue calon istri Arash yang sesungguhnya. Asal loe tau kita dijodohkan sejak kecil"
"Benarkah. Dan mengapa daddy tidak pernah bilang ke Icha tentang ini. Hiks hiks Icha terluka sungguh terluka"
Jay gelagapan diberi pertanyaan oleh Icha. Sedangkan Jasmine masih membaca situasi.
"Sayang Daddy saja tidak tau ada hal semacam itu. Daddy juga tidak mengenal anak perempuan ini"
"Lalu darimana kakak bisa berkata jika kalian dijodohkan"
"Tanyalah pada tuan Syakir. Dia yang merencanakan ini"
"Atuk yang mengatur ini Mas"
"Mas gak tau sayang. Sungguh mas saja bingung"
"Kemarin Atuk yang meminang Icha untuk mas Arash. Sekarang ada perempuan lain yang mengaku dipinang Atuk untuk kamu juga mas. Kita belum nikah loh mas, apa Atuk sudah mengatur kamu untuk poligami"
Daffa menahan tawanya. Jasmine sudah mengerti apa yang sedang Annisa lakukan dan dia sudah siap memainkan peranannya
"Sayang gak gitu. Mas gak kepikiran poligami sama sekali nggak. Mas gak kenal siapa dia. Mas hanya tau dia anak magang disini, itu saja"
Arash sedikit frustasi dan berusaha memegang tangan Annisa namun ditepis oleh Annisa
"Lepas mas gak usah pegang tangan Icha. Icha tak mau"
"Sayang tolong percaya sama mas. Dan jangan coba-coba meninggalkan mas"
"Kak, mas Arash gak mau pisah sama Icha dan mas Arash gak kenal sama kakak. Apa kakak yakin jika Arash yang ini yang dijodohkan kepada kakak bukan arash yang lainnya"
"Hei loe kira gue bego apa gak tau mana calon suami gue. Gue gak peduli dia gak mau ninggalin loe. Karena gue bisa buat dia lupa sama loe nantinya"
Annisa menengok kearah Jasmine dan mengedipkan mata. Jasmine yang sudah paham langsung mengangguk. Kelakuan icha dan Jasmine itu bisa dilihat oleh Daffa
"Jadi kalian lagi main telenovela. Oke gue akan dengan senang hati menontonnya"
"Mom. Hiks hiks Icha harus gimana mom. Masa Icha akan menjanda sebelum menikah"
"Sayang anak mommy sini peluk mommy"
Annisa langsung memeluk tubuh mommy Arash. Mereka pura-pura sesenggukan. Dan Jay paling tidak suka istrinya menangis. Si raja singa pasti mengamuk.
"Sabar ya sayang. Mommy selalu ada disamping kamu nak. Walaupun nanti bukan sama Abang, kamu bisa sama bang Devin atau Ghaydan mereka sama-sama anak mommy kok"
Arash yang gak terima mommynya menjodohkan annisa dengan sahabat dan sepupunya itu.
"Gak annisa cuma boleh nikah sama Arash gak ada yang lainnya"
"Kalau kamu mau Icha nikah sama kamu bang, kenapa kamu gak bisa ngambil keputusan sekarang juga. Apa harus nunggu Icha beneran pergi baru sadar"
"Mom arash kan uda ngomong cuma icha seorang yang ada dihati Arash dan calon istri Arash"
"Stop mom, gak ada yang seperti itu. Sayang kamu percaya sama mas kan"
Arash mencoba kembali mendekati Annisa namun dipukul oleh Jasmine. Jay pun marah"
"Berhenti. Daddy tidak suka mommy menangis. Dan kamu arash kalau masih membuat Annisa menangis jangan harap daddy memaafkan kamu"
Kemarahan Jay membuat semua orang membeku. Annisa dan Jasmine sama-sama tersenyum tipis. Karena memancing kemarahan sang raja singa adalah tujuan mereka
"Arash segera putuskan hubungan kerjasama dengan Nazaruddin Group. Karena ini tidak sehat. Dan kamu adalah perempuan muda yang cerdas dan cantik. Tapi sayang kecerdasan dan kecantikan kamu itu hanyalah pajangan saja tapi jiwa kamu murahan. Pergi kamu dari sini"
"Om saya gak terima diperlakukan seperti ini. Harusnya gadis miskin itu yang pergi dari sini dan dari hidup Arash"
Icha langsung berbalik dan menatap tajam kearah Nafisa
"Saya memang miskin namun saya tidak pernah berbuat sesuatu yang merendahkan martabat seorang wanita. Saya bisa saja menyerahkan mas Arash ke kakak, tapi apa kakak tidak takut jika hukum karma itu berlaku. Dan apa kakak bisa menjamin jika kakak bisa setia kepada Arash hingga maut memisahkan. Karena saya yakin itu tidak akan terjadi. Ibarat kucing kakak adalah kucing garong kelaparan sekali melihat tikus got melintas langsung disantap. Maaf saya tidak akan memberikan mas Arash kepada kakak. Karena saya tau sandiwara kakak ini sebagai tembok menutupi kebenaran yang ada. Huh dandanan uda kayak tembok berjalan mau gebet muka tembok juga. Ingat kakak tembok ketemu tembok yang ada engap"
"Gue gak pernah masalah sama sikap Arash. Karena gue yakin dia akan menerima gue nantinya"
"Dasar kuntilanak anak kesiangan"
"Apa loe bilang"
"Kuntilanak anak kesiangan. Kenapa bisa begitu, coba ngaca deh tuh maskara dlewer kemana-mana"
Memang maskara Nafisa sedikit belepotan karena aksi menangis sesaatnya
"Gue gak peduli. Balikin Arash ke gue"
"Jadi kakak memilih menjadi pelakor gitu. Ck ck sayang banget gelar luar negeri cuma jadi pelakor. Gak malu gitu"
"Buat apa malu toh hanya kalian yang ada disini"
"Yakin sekali kakak. Coba kakak lihat disudut kanan ada kamera. Disana juga ada kamera. Bahkan diatas kakak ada kamera. Dan kamera itu bisa merekam suara. Bagaimana kak Nafisa yang cantik, jika Anda tidak kuat silahkan lambaikan tangan, saya akan langsung mengantar Anda keluar"
"Kalian.."
"Kenapa dengan kami. Asal kakak tau karma seorang pelakor itu tujuh turunan loh. Gak takut. Dan jangan kakak kira saya gadis yang lemah"
Tanpa banyak bicara Nafisa langsung putar balik dan meninggalkan ruangan Arash.
"Huh akhirnya minggat juga tuh kuntilanak kesiangan. Seenak hatinya aja minta-minta kanebo kering dibalikin. Kan Icha gak minjem kanebo kering. Kayak barang aja"
Daffa yang sedari tadi menahan tawa, langsung meledakkan tawanya itu
"Kanebo..kanebo. Hahaha"
Sedangkan Jay yang masih kesal karena Jasmine menangis tadi, berusaha menenangkan pikirannya
"Daddy gak suka ada yang berani membuat kamu menangis sayang"
"Daddy lebay ah"
Annisa langsung mendekati Jasmine dan memeluknya sambil tertawa
"Mommy makasih ya. Sukses untuk kita"
"Jelas sayang. Mommy suka gaya kamu. Libas habis kuntilanak kesiangan jangan kasih kendor"
"Jelas itu mom"
Jay dan Arash saling pandang dan sama-sama mengedikkan bahunya. Jay mendekati Jasmine mencoba bertanya
"Ada apa ini. Bukannya kalian tadi menangis sekarang girang banget"
Daffa melihat Jasmine dan Annisa saling tersenyum, dia langsung menjawab apa yang membuat penasaran Arash dan Jay
"Dad mereka itu drama Queen. Air mata buaya"
"What's. Mom"
"Yes honey. Jangan dikira kami akan mengalah dengan pelakor"
"Kamu membuatku takut dengan air matamu sayang. Tunggu hukumanmu"
Daffa dan Arash kompak mengejek Daddy-nya itu
"Dasar bucin akut"
Arash mendekati Annisa dan berkata pelan namun masih bisa didengar orang-orang didalam ruangan itu
"Sayang jadi itu sebuah drama ya. Hebat sekali ya bisa membuat jantung mas hampir berhenti. Mas bangga kamu mempertahankan mas dengan caramu sendiri sayang. Walaupun kata-kata mu itu sangat amazing ya. Selamat datang di keluarga penuh drama"
________
Maaf ya masih sibuk jadi hanya sedikit upnya
Jangan lupa jempolnya kakak
Happy Reading