RashSya Story

RashSya Story
RashSya~ Ohhhhh....



Allahuakbar..allahuakbar..


Alarm ponsel Annisa dan Arash beriringan membangunkan sang pemilik mengingatkan akan tugasnya sebagai seorang umat. Annisa menggeliat sedikit. Dia mendapati tangan sang suami melingkar diatas perutnya bahkan Icha dapat merasakan dagu arash diatas kepalanya.


Icha ingin membangunkan sang suami dan mengajaknya untuk berjamaah. Tangan Icha meraba kearah tubuh sang suami. Dia baru menyadari jika Arash tak mengenakan baju. Sambil masih memejamkan matanya, Icha mengusap dan memukul perlahan tubuh Arash sekenanya.


"Mas bangun yuk. Subuh"


Masih belum ada respon dari sang suami. Icha kembali berusaha membangunkan sang suami. Arash hanya mengeluarkan suara deheman tapi lebih terdengar seperti lenguhan.


"Mas bangun yuk sayang"


"Hehhh. Mmmm"


"Ayo dong sayang keburu habis waktunya"


"Uhhhhhh"


Icha menyadari ada sesuatu yang aneh saat dia mengusap - usap kaki sang suami.


"Apa ini"


"Uhhhhh. Sa yang"


"Mas kenapa ada yang gerak - gerak ini"


"Te rus sa yang"


"Apaan sih mas gak jelas gitu. Ini apa mas . Kenapa dia gerak-gerak"


"Uhhh$


Arash hanya bisa mendesah karena Icha terus mengusap pusakanya. Namun kini tangan Icha berhenti karena si Max mulai menggeliat bangun menunjukkan giginya eh ujungnya.


" Mas diam jangan gerak. Jangan - jangan ada binatang menyelinap masuk"


Annisa mulai bergerak hendak turun dari ranjang. Arash berusaha mencegah sang istri menjauh. Gairahnya sudah meninggi menyelimuti Arash. Akibat ulah sang istri membangunkan Max.


"Sayang mau kemana. Kenapa berhenti"


"Mas diam jangan gerak"


Arash masih terlentang dan menatap sang istri menjauh. Icha membuka pintu kamar dan tak lama kembali membawa stik golf ditangannya. Arash masih belum mengerti maksud sang istri membawa stik golf.


"Sayang kamu mau apa"


"Mas diam aku tadi merasakan ada sesuatu bergerak disana. Takutnya ada binatang berbisa menyelinap masuk"


"Dimana sayang. Biar mas saja yang ngusir"


"Mas diam jangan bergerak. Takutnya dia kabur kalau mas gerak"


Arash diam. Icha mendekat kearahnya. Tangannya kembali meraba area berbahaya, dimana Max tinggal. Max yang sudah tenang kembali terbangun karena sentuhan Icha dari balik selimut.


"Tuh kan masih disini. Mas diam biar icha hajar"


Arash baru sadar apa yang dimaksud oleh Icha. Icha yang sudah bersiap mengayunkan stik golfnya. Arash semakin melotot. Dia bersiap untuk kabur sebelum Max benar-benar dianiaya Icha.


"Hiatttt"


"Jangannnnn. Maxxxx"


Arash langsung bangkit dan melipat kedua kakinya. Dia berjongkok sampil memeluk lututnya. Dan Icha berhasil menjatuhkan stik golf itu berkali-kali diatas kasur. Arash yang melihat ini bergidik ngeri.


"Mati kamu dasar ular gak tau sopan santun. Masuk tanpa permisi. Mati kamu"


Icha membuka selimut yang tadi dipakainya. Namun dia tak menemukan apapun dibalik selimut itu. Arash masih diam.


"Kalau gue gak sadar tadi. Mungkin max sekarang uda gak pernah bisa bangun lagi. Hiii. Maxxx"


Arash berbicara dalam hati sambil masih melihat sang istri yang membuat kamar berserak.


"Sayang kamu nyari apaan sih"


"Ular mas"


"Ular apa"


"Icha juga gak tau ular apa mas. Semoga gak berbisa"


"Memang kamu yakin itu ular sayang. Bukan sesuatu yang akan membuatmu nikmat"


"Mas ada - ada aja deh mana ada ular bikin nikmat"


"Ada. Mau nyoba. Bisa bikin merem melek"


"Iya merem melek habis digigit kena bisa mematikan"


"Bisanya gak buat mati sayang tapi bisa jadi baby"


"Ngaco aja mas ini. Sini bantuin malah ngomong gak jelas"


"Uda pergi tadi ularnya sayang"


"Mas emang lihat"


"Lihat kok. Dia uda lemes ketakutan sama stik golfmu"


"Wah bagus deh kalau gitu. Sholat yuk ma..s"


Icha baru sadar jika Arash tanpa baju dan hanya menggunakan boxer seksi. Hampir seluruh tubuh Arash terekspos jelas. Icha semakin melotot. Bahkan dia menelan ludahnya kasar.


"Kenapa melamun sayang"


Icha masih belum mengalihkan pandangannya dari tubuh Arash. Arash berjalan mendekati sang istri. Icha masih tak bergeming. Perlahan Arash mendekat. Arash mengusap lembut rambut indah sang istri yang terurai bebas.


"Berkedip sayang"


Belum sempat Arash melanjutkan aksinya kembali, ponsel pengingat ibadah Annisa kembali berdering.


"Astaghfirullah. Roti sobek"


Icha meloloskan diri sari sang suami dan berlari masuk ke kamar mandi. Arash tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan sang istri.


"Kamu lucu sekali sayang. Itu baru lihat roti sobek. Kalau kamu sadar apa yang kamu elus dari tadi, apa kamu gak pingsan. Hahaha. Icha icha"


Icha sudah segar dan keluar menggunakan bathrobe saja karena lupa membawa baju. Icha mengambil satu stel pakaiannya dan kembali berlari masuk kamar mandi. Arash yang baru saja memesan sarapan hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.


"Mas beneran tadi lihat ular itu keluar kamar"


"Masih bahas itu lagi sayang"


"Aku takut nanti tiba-tiba datang lagi mas"


"Sayang mas mau tanya"


"Apa mas"


"Tadi pagi kamu membangunkan mas bagaimana caranya"


"Ya biasa mas nepuk nepuk gitu"


"Yakin nepuk nepuk gak yang lain"


"Reka ulang aja gimana"


"Boleh. Mas pengen tahu"


Arash tersenyum smirk. Dia lantas melucuti semua pakaiannya dan hanya tersisa boxer saja. Icha kaget langsung menutup mata.


"Mas. Kok gak tau malu banget sih bugil didepan icha"


"Siapa yang bugil. Lagian istri sendiri ini. Malah pahala mas pamer kayak gini didepan kamu sayang. Kan semua yanga ada pada mas adalah milikmu"


Icha mencoba membuka mata. Walauoun masih grogi. Arash sudah tidur seperti saat pagi tadi.


"Mas ngapain tidur lagi"


"Kan mau reka adegan sayang"


"Oh iya juga ya"


Icha pun ikut berbaring. Namun Arash meminta Icha untuk mengganti pakaiannya.


"Sayang ganti dulu gamis kamu"


"Lah emang kenapa mas"


"Kalau mau reka adegan ya harus disamain dong bajunya"


"Tapi icha cuma bawa satu piyama mas"


"Dilemari udah mas siapin sayang"


"Oke deh"


Icha berjalan membuka lemari dan mencari piama yang dinginkannya. Namun Icha hanya mendapati baju baju haram yang tak pernah disentuhnya. Dia pun menjatuhkan pada satu babydol dengan bahan halus berbentuk rok dengan belahan dada yang lumayan rendah dan tali kecil dipundaknya. Baju itu mengekspos kulit putih Icha. Beruntung ada jubah yang bisa menutupi belahan dadanya. Walaupun jubah itu juga berbahan tipis.


"Mas. Kenapa gak ada piama normal"


Arash kagum melihat istrinya yang nampak seksi. Arash berusaha kuat menahan hasratnya. Agar reka adegan berjalan sesuai keinginannya.


"Kamu cantik banget sayang pake baju itu"


"Tapi ini terlalu seksi dan tipis mas"


"Gapapa sayang. Kan cuma mas yang lihat. Pahala loh nyenengin suami"


Icha pun mendekat. Mereka mulai reka adegannya. Sebenarnya Arash sedang mati-matian menahan max untuk tidak bangun sebelum waktunya.


"Coba gimana tadi bangunin mas"


Icha mulai reka adegan. Dia menepuk pelan paha Arash. Perlahan tepukan itu menjadi usapan lembut. Dan entah sejak kapan tangan Icha beralih dari paha ke tempat dimana max selama ini tidur panjang.


"Ohhhh sayang enak sekali"


"Apanya yang enak mas"


"Terus sayang. Usap dia sayang ohhh"


Icha berbalik menghadap Arash yang ternyata sudah terlentang. Icha menghentikan sejenak usapannya karena merasa ada pergerakan disana. Sama seperti yang dia rasakan tadi.


"Kenapa berhenti sayang"


"Mas bohong sama icha ya"


"Bohong. Emang mas bohong apa"


Suara Arash sudah berubah serak dan berat karena menahan hasratnya yang sebentar lagi benar-benar memuncak.


"Kata mas ular itu sudah pergi. Ini kenoa gerak-gerak lagi"


"Dia sebenarnya gaj pergi sayang. Hanya kembali tidur"


"Tidur. Jadi dia tidur didalam celana mas"


"Iya sayang. Dia tinggal disana selama dua puluh delapan tahun dia tertidur tenang. Dan kamu orang pertama membangunkannya"


Icha yang penasaran langsung membuka selimut yang menutupi tubuh mereka menggunakan satu tangan. Karena tangan satu lagi masih setia diatas ular pusaka Arash.


"Dia di di dalam sini mas"


"Iya sayang. Kamu mau melihatnya"


"Nanti nyembur mas"


"Nggak sayang. Dia belum waktunya mengeluarkan bisanya. Gimana mau lihat gak"


"Hmm boleh deh. Icha penasaran"


"Buka saja sayang"


Icha perlahan menurunkan boxer sang suami. Arash benar-benar tak tahan jika tak mendesah. Namun reaksi Icha membuat Arash tertawa.


"Oohhhhh terong jumbo"


_________


Hahahaha penasaran gak penasaran gak...tunggu ya


Jangan lupa jempolnya


Happy Reading