RashSya Story

RashSya Story
Mr Jutek (Ghaisan Story)



Sah


Sah


Terdengar suara teriakan sah dari para keluarga dan tamu undangan. Hari ini hari dimana Ghaisan mengucapkan janji suci didepan penghulu dan papa Arumi. Para tamu undangan masih belum mengetahui kondisi Arumi saat ini. Mereka hanya berbisik-bisik karena tak melihat pengantin wanita.


Papa Arumi dengan ketegaran hatinya datang ke hotel tempat melaksanakan ijab qobul dan resepsi sang putri. Kedua orangtua Ghaisan pun sama. Bahkan Atuk begitu sabar menguatkan sang cucu. Arumi dan Aruna dijaga oleh Azzam dan keluarga Malik lainnya.


Usai ijab qobul, papa Arumi masih berada di lokasi acara untuk menemani sang menantu menerima tamu. Dan kini Ghaisan berdiri diatas pelaminan ditemani kedua orangtuanya dan kedua mertuanya. Ghaisan menjelaskan keberadaan sang mempelai wanita.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarrakattu. Terimakasih saya ucapkan untuk para sahabat dan tamu undangan yang sudah meluangkan waktu untuk menghadiri dan mendoakan saya dan istri saya"


Sekuat hati Ghaisan mencoba untuk tidak menangis. Kedua mamanya sudah menunduk menahan sedih.


"Mungkin kalian bertanya-tanya dimana istri saya. Mengapa tidak ada disisi saya.."


Ghaisan kembali menghela nafasnya. Mengatur emosinya. Dan meminta seseorang memutar video yang sengaja dia ambil beberapa hari yang lalu.


"Istri saya, Arumi Nasha Razeta saat ini sedang berjuang dirumah sakit"


Semua melihat video berisi foto-foto Arumi saat masih sehat dan saat sekarang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ghaisan berusaha menahan emosinya agar tidak meledak. Sedangkan kedua mamanya sudah tak bisa menahan air mata mereka dalam pelukan suami masing-masing. Ghaisan melanjutkan perkataannya.


"Beberapa Minggu yang lalu, Arumi mengalami kecelakaan bersama dengan saudari kembarnya Aruna. Dan kini keduanya sama-sama masih terbaring dirumah sakit. Itulah mengapa Arumi tidak hadir bersama kita saat ini. Huuhh"


"Dikesempatan ini juga, saya mohon doanya untuk kesembuhan istri dan adik ipar saya. Semoga keduanya bisa segera sadar dan pilih seperti sedia kala. Aamiin. Terimakasih saya ucapkan untuk doa yang telah diberikan kepada Istri dan adik ipar saya. Selamat menikmati hidangan yang telah kami siapkan. Assalamualaikum warahmatullahi wabarrakattu"


Ghaisan menutup perkataannya secara asal. Karena dia pastinya sudah tak bisa menahan air mata yang akan keluar jika meneruskan perkataannya. Ghaisan menerima ucapan selamat dan doa dari semua tamu undangan yang hadir. Sejujurnya Ghaisan segera ingin kerumah sakit. Namun dia harus menyelesaikan acara ini.


"Assalamualaikum. Ada apa Zam"


"____"


"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Baik Abang segera kesana"


Azzam menghubungi Arsya yang menghadiri dan menemani Ghaisan. Setelah menantikan panggilannya, Arsya memberitahu Ghaydan dan juga Jay. Arsya segera berangkat kerumah sakit bersama Aretha dan Jay. Sedangkan Ghaydan akan menunggu hingga acara usai baru akan memberitahukan kepada Ghaisan.


Atuk Syakir menangkap kegundahan yang nampak diraut wajah Ghaydan. Bahkan Atuk Syakir mencoba mencari keberadaan Jay namun tak ditemukan. Atuk pun mendekati Ghaydan.


"Atha. Dimana Daddy"


"Daddy kerumah sakit Atuk"


"Ada apa"


Ghaydan langsung menceritakan tentang kondisi saat ini. Tanpa berfikir panjang, Atuk langsung berlari ke arah podium dan membisikan sesuatu kepada Ghaisan dan keluarga diatas podium. Ghaisan berlari kencang tanpa menghiraukan panggilan siapapun. Ghaydan pun menyusul Ghaisan diikuti Mirza dan Rizky. Atuk Syakir membubarkan acara resepsi tersebut.


"Assalamualaikum. Maaf acara hari ini harus ditutup lebih awal. Kami harus segera kerumah sakit. Sekali lagi mohon doakan cucu menantu saya agar semua baik-baik saja. Terimakasih. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarrakattu"


Tamu undangan mulai berbisik menerka apa yang terjadi. Keluarga inti sudah meninggalkan hotel. Semua menuju rumah sakit. Ghaisan diantar oleh Mirza dan Ghaydan.


"Bego. Kenapa gue gak langsung pergi setelah ijab qobul. Mungkin gak akan seperti ini"


"Sabar Chan. Istighfar. Doakan Arumi semoga baik-baik saja"


"Gue udah gak akan bisa jalani ini lagi tha. Gue gak sanggup tha. Gak sanggup"


Tangis Ghaisan pun akhirnya pecah. Mirza yang menemani Ghaisan dikursi penumpang langsung memeluk tubuh Ghaisan untuk menenangkan sahabatnya itu.


"Loe harus kuat Chan. Jangan seperti ini. Doakan Arumi. Dia wanita hebat. Yakin dia akan baik-baik saja Chan"


"Hust gak boleh ngomong gitu. Kita gak bisa mendahului takdir yang maha kuasa. Tetap berdoa yang terbaik Chan"


Mereka sudah sampai dirumah sakit. Ghaisan berlari sekencang mungkin. Mirza mengikuti dari belakang. Ghaisan tak memperdulikan teriakan orang yang tidak sengaja ditabrak olehnya. Didepan ruangan Arumi dan Aruna, keluarga berkumpul. Semua menangis. Azzam berjalan mendekati Ghaisan dan langsung memeluk tubuh abangnya.


"Sabar bang. Ikhlas"


"Gak mungkin kan zam. Semua bohong kan"


"Semua sudah diatur oleh yang maha kuasa bang. Kita hanya menjalani dengan ikhlas"


"Jaga ucapan loe zam. Atau gue hajar loe. Minggir gue mau ketemu istri gue"


"Bang. Tahan emosi loe. Kak Rumi masih diperiksa kembali"


"Minggirrr Azzam"


Ghaisan meneriaki Azzam. Azzam pun melepaskan tangannya dari lengan Ghaisan. Tak peduli perawat melarang dia masuk. Ghaisan tetap menerobos masuk. Dipandangnya wajah istri tercintanya yang masih menutup mata. Dan dokter sedang memacu jantung Arumi agar kembali berdetak.


Ghaisan mematung dan menangis mendengar dan melihat alat pemacu jantung Arumi yang tak nampak irama jantungnya. Ghaisan berjalan perlahan dan melarang dokter melepaskan semua alat bantu Arumi. Ghaisan yakin Arumi akan sadar. Ghaisan menggenggam tangan Arumi dan memasangkan cincin pernikahan mereka.


"Sayang. Sekarang kamu adalah nyonya Ghaisan Mahendra. Aku sudah menepati janjiku untuk tetap menikahinya ditanggal yang kamu mau sayang. Sekarang tepati janjimu untuk kembali pulang dan hidup bersama dengan diriku sayang. Apa kamu mau ingkar janji. Jika iya, aku tidak akan pernah meridhoimu sepanjang hidupku. Kamu pasti tau kan ridho suami adalah ridho Allah. Biarkanlah aku egois, kamu pun tak mau pulang dan tak peduli denganku"


Ghaisan menangis tersedu-sedu sambil memeluk telapak tangan Arumi. Dia menciumi tangan Arumi berkali-kali.


"Oke. Kalau kamu memang gak mau bangun, tunggu aku. Aku akan menyusul mu saat ini juga. Bagaimana"


Ghaisan memang sudah putus asa. Berkali-kali kisah percintaannya selalu gagal. Selaku terluka. Dan Arumi ini adalah titik terendah dihidupnya. Pintu ruangan Arumi terbuka. Azzam datang memberikan sebuah kabar.


"Bang. Kak Aruna meninggal"


Ghaisan menatap Azzam dengan tajam. Bahkan Azzam melihat kearah monitor jantung Arumi yang sudah tak mendeteksi detak jantung Arumi.


"Bang kak Arumi"


"Arumi masih hidup. Jangan berani loe bilang macam-macam"


"Iya maaf bang. Azzam keluar"


Azzam menangis melihat Abang kesayangannya itu. Benar-benar bukan Ghaisan. Azzam keluar tanpa berkata-kata apapun. Ghaisan menangis kembali.


"Apa kamu akan ikut Aruna. Dan meninggalkan suamimu ini"


"Baiklah. Aku juga akan segera mendapat pengganti mu"


"Arumiiii"


Ghaisan berteriak sekencang mungkin. Hingga membuat perawat masuk kedalam ruangan Arumi. Tiba-tiba ada gerakan tak terduga dari tangan Arumi. Namun Ghaisan tak menyadarinya.


"Rumiii. Bangunnnn"


______


Sabar ya gaesss....sedihnya gak lama...nanti Eneng datang menghibur....


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading