
Hari ini adalah hari dimana Rizky akan mengucapkan janji suci pernikahan dengan Medina. Rizky dan Medina mengadakan acara sederhana saja. Dengan menggunakan wali hakim, pernikahan mereka berjalan dengan lancar. Paman dan bibi Medina ikut hadir dalam acara tersebut.
Sebelum hari bahagia ini berlangsung, Rizky telah menyelesaikan urusan sebelumnya. Dia sudah menjelaskan kepada ustadz yang menjadi perantara taarufnya tentang alasan mengapa dia membatalkan ta'aruf itu dan memilih menikah dengan gadis lain. Rizky mengatakan apa alasan sesungguhnya dengan bukti-bukti yang dia dapat.
Ustadz tersebut segera menyetujui pembatalan ta'aruf tersebut karena beliau juga kecewa dengan salah satu muridnya yang dijodohkan kepada Rizky. Usai sudah permasalahan ta'aruf. Rizky segera memberi kabar baik kepada keluarga Malik.
"Daddy, mami. Rizky akan menikah dua sepuluh hari lagi". Jay yang mendengar perkataan Rizky merasa terkejut. Karena putra angkatnya ini tidak pernah ada pembahasan mengenai hal ini sebelumnya.
"Kok tiba-tiba. Bahkan kamu belum pernah mengenalkan calon kamu ke ayah sama Buna. Ada apa nak". Jay dan Jasmin masih tampak bingung dengan kondisi ini.
"Rizky mengenalnya dari kecil Dad. Dan Kami bertemu belum lama". Rizky mencoba menjelaskan secara perlahan.
"Apa dia gadis yang ingin kamu ta'aruf nak. Karena mami sempat dengar cerita dari Arsya. Jika kamu akan menjalankan ta'aruf ". Jasmine bertanya dengan lembut. Rizky tersenyum sebelum menjawab.
"Bukan mam. Ini bukan gadis itu. Dan Rizky juga sudah membatalkan ta'aruf Rizky karena hal lain bukan karena Rizky ingin menikahi teman kecil Rizky". Jay dan Jasmine mulai paham dengan maksud pembicaraan ini.
"Jika memang itu yang terbaik, kami akan merestui nak. Apa kamu akan menggunakan hotel untuk acara kalian. Biar Daddy persiapkan". Walaupun anak angkat, Jay dan Jasmine, tapi tak pernah ada perbedaan sikap mereka kepada Rizky dan si kembar.
"Tidak Daddy. Rizky akan memikah secara sederhana saja dikediaman ibu". Jay dan Jasmine terkejut dengan jawaban Rizky.
"Tidak, tidak. Daddy tidak ijinkan. Kamu akan menikah dengan acara sama seperti abang-abangmu. Kami akan mempersiapkan dengan segera". Jay tetap pada pendiriannya begitupun Jasmine.
"Nak. Kamu memiliki perusahaan yang cukup terkenal juga. Kenapa untuk acara istimewa seperti ini hanya diselenggarakan secara sederhana. Mami paham kamu suka kesederhanaan, tapi setidaknya untuk acara istimewa kamu ini usahakan spesial". Jasmine ikut menasehati Rizky.
"Daddy, mami. Terimakasih atas kasih sayang kalian. Kalian bahkan tak pernah membedakan Iky dengan Abang. Sebenarnya Iky juga ingin membuat acara istimewa. Namun ada hal yang menjadi alasan Iky melakukan hal ini". Jay menghela nafas setelah mendengar penjelasan dari Rizky. Jay paham dengan sifat anak angkatnya itu. Ada sesuatu yang Rizky sembunyikan.
"Tidakkah kamu meminta bantuan Daddy. Apa kamu menganggap Daddy sudah sangat tua hingga kamu tak lagi membutuhkan bantuan Daddy". Rizky terkekeh mendengar keluhan Jay.
"Nanti akan Iky ceritakan kepada Daddy. Dan Iky juga sudah meminta bantuan Kakakdan Abang untuk masalah ini". Jay mengangguk paham. Dia hanya bisa pasrah dengan keputusan Rizky. Setidaknya Rizky masih melibatkan kedua kakak kembarnya.
"Ya baiklah. Daddy paham. Oya sampai lupa. Kapan kamu melamar gadis itu. Daddy akan datang untuk mendampingi anak Daddy ini". Jay kembali antusias. Rizky pun tersenyum melihat ekspresi sang Daddy yang tiba-tiba berubah ceria.
"Kalau lamaran resmi insyaallah dua hari lagi Daddy. Makanya Iky kemari untuk meminta Daddy dan mami menemani Rizky dan ibu melamar Medina secara resmi". Jay dan Jasmine tersenyum mendengar permintaan yang sudah lama ingin mereka dengar dari mulut putra angkatnya itu.
"Mami dan Daddy akan menemani kamu melamar calon menantu kami. Tapi dengan satu syarat". Jasmine tersenyum licik dan itu membuat Rizky hanya bisa pasrah.
"Semua persiapan lamaran, mami yang menyiapkan. Barang-barang yang dibutuhkan untuk lamaran juga mami yang siapkan. Ah satu lagi. Perhiasan dan mas kawin itu juga dari Daddy dan mami". Rizky melotot mendengar itu. Saat Rizky akan menolak, Jay lebih dulu menyela perkataan Rizky.
"Tidak ada penolakan. Mami sepertinya lupa. Gaun pengantin anak kita juga harus disiapkan dengan matang. Daddy gak mau tingkat ketampanan anak Daddy berkurang". Jasmine mengangguk antusias. Dan lagi Jasmine kembali bersuara.
"Eits, catering juga Dad. Jangan lupa itu". Rizky hanya diam karena kedua orangtuanya sibuk menyiapkan semuanya. Sedangkan dia hanya bisa mendengarkan tanpa boleh membantah.
"Oke kita sudah sepakat ya. Rizky hanya perlu menyiapkan mental saja. Dan jangan lupa memberitahu ibu. Besok mami juga akan kerumah kamu memberitahu ibu". Jasmine sangat antusias untuk persiapan lamaran dan pernikahan Rizky.
Karena tujuannya bertemu kedua orangtua angkatnya sudah tercapai, Rizky segera kembali ke kantor. Karena Rizky mengunjunginya kediaman keluarga Malik sebelum dia berangkat ke kantor.
Medina masih terkejut dengan keadaan saat ini. Bertahun-tahun dia berjuang dengan hujatan dan kebencian dari keluarga dan tetangga, bahkan tak pernah terbayangkan dibenaknya akan memiliki pasangan. Kini hanya menghitung hari statusnya akan berubah. Medina masih tak menyangka jika bisa mendapatkan jodoh seperti Rizky.
Setelah Medina tinggal dirumah milik Rizky, tak sekalipun dia pergi keluar. Medina ditemani seorang asisten rumah tangga. Rizky hanya sesekali mampir saja. Bahkan ponsel Medina dipegang oleh Rizky. Medina menggunakan ponsel pemberian Rizky.
"Assalamualaikum". Terdengar suara salam memasuki ruang tamu dan memecah lamunan Medina.
"Waalaikumsalam. Kakak sudah pulang". Rizky datang dengan membawa sesuatu. Tak lupa senyum manisnya.
"Sudah. Tadi kakak ada meeting diluar dan sekalian saja pulang. Kamu belum makan kan. Ini kakak bawakan udang saos padang kesukaan kamu". Rizky membawa bungkusan itu ke ruang makan dan menaruh diatas meja makan.
Medina mengikuti langkah Rizky dibelakangnya. Rizky kembali melangkah menuju dapur untuk mengambil nasi dan piring. Karena hari masih sore, asisten rumah tangga yang menemani Medina belum memasak sayur atau lauk. Hanya ada nasi saja saat ini.
"Bu Ijah belum masak". Tanya Rizky sambil menyiapkan nasi dalam piring.
"Hari ini Dina sedang tidak ingin makan kak. Jadi Dina minta Bu ijah untuk membeli makanan untuk dirinya saja". Jelas Medina kepada Rizky. Medina duduk dikursi meja makan sambil mengamati Rizky yang sibuk menyiapkan makanan.
"Orang sedih juga butuh energi. Jadi Dina harus tetap makan. Ayo kita makan. Jangan sampai Dina sakit". Perhatian Rizky masih sama seperti dulu tak ada perubahan.
"Terimakasih kak. Kakak selalu ada buat Dina. Kakak tidak pernah berubah dari dulu. Dina malu karena pernah menyakiti kakak. Maafkan Dina kak. Maaf". Medina tiba-tiba menangis karena sikap Rizky yang selalu baik terhadapnya.
"Lupakan yang sudah lalu. Ayo kita mulai cerira baru kita. Jangan menatap kebelakang jika itu hanya membuat luka. Tetaplah menjadi Dina yang kakak sayang". Medina tersenyum mendengar ucapan Rizky.