
Setelah melamar secara resmi, baik seila maupun ghaydan kembali menjalani aktivitas mereka dengan status baru. Seila yang masih berstatus pelajar masih disibukan dengan kegiatan kampus. Seila sedang menyusun skripsi.
Seila hanya terkadang saja saja ke kampus. Semua persiapan pernikahan mereka serahkan kepada kedua orangtua mereka dan juga wedding organizer milik chila. Seila akan kekampus pagi ini untuk bimbingan dan juga mencari buku referensi
"Assalamualaikum kak"
"Waalaikumsalam bee. Kamu hari ini jadi ke kampus"
"Jadi kak. Kenapa emangnya"
"Mau kakak antar"
"Kayaknya gak usah deh kak. Nanti sama karina aja berangkatnya"
"Ya sudah kalau gitu. Nanti pulang jam berapa"
"Belum tau. Seila mau cari buku juga"
"Nanti kalau mau pulang kabari ya. Kita hari ini fiiting gaun bee"
"Ya kak. Tapi karina ikut ya"
"Iya sayang. Nanti kakak jemput. Ya sudah kakak ke kantor dulu. Kamu hati-hati berangkatnya"
"Iya kak. Kakak juga hati-hati. Semangat kerjanya"
"Assalamualaikum bee"
"Waalaikumsalam kak"
Usai menghubungi seila, atha bersiap ke kantor. Dia ingin menyelesaikan semua tugasnya agar bisa libur panjang setelah menikah nanti
"Pagi mam,pap"
"Pagi bang. Tumben agak siangan bang"
"Iya atha ada meeting diluar mam jadi sekalian"
"Oya bang nanti jangan lupa ke butik mama jojo"
"Iya mam. Tadi atha juga sudah ngasi kabar seila kok"
"Akhirnya pap anak kita pecah telur juga"
Galang yang baru ikut bergabung langsung duduk mengambil piring untuk ikut sarapan bersama. Namun dia sempat menyahuti perkataan maminya.
"Telur siapa mam yang pecah"
"Abangmu tuh"
"Telur abang pecah. Kok bisa bang. Bahaya itu. Bakalan susah berkembanh biak nanti"
"Ngawur amat loe lang. Telur ayam noh makan"
"Kirain"
Mereka kembali menikmati sarapan paginya. Atha yang sudah selesai makan langsung berpamitan kepada kedua orangtuanya. Atha ingin menemui Arsya dan berencana untuk melakukan kerjasama membangun rumah sakit. Arsya dan Arash memang mewarisi bisnis dibidang kesehatan dari Atuk Syakir.
Atha ingin membangun rumah sakit untuk seila. Agar dia tidak perlu bekerja untuk oranglain. Cukup mengurusi dirinya dan keluarga kecilnya serta sesekali memeriksa rumah sakit milik sendiri. Atha sudah sampai di hotel milik arsya. Dan langsung masuk ke ruangan kerja Arsya.
"Assalamuaikum"
"Waalaikumsalam. Tumben pagi bener loe kesini"
"Gue tau loe orang super sibuk. Kalau gue gak pagi kesini, pasti loe uda kabur gak ada ditempat"
"Gimana. Butuh bantuan apa"
"Ini loe baca dulu. Uda gue susun secara rinci"
Atha menyerahkan proposal kerjasama kepada arsya. Walaupun mereka dekat sedari kecil, untuk urusan bisnis mereka selalu profesional tidak ada istilah keluarga atau sahabat. Semua harus jelas.
"Loe ternyata memang udah merencanakan semua ya tha sampe sedetail ini"
"Iya. Itu kado buat bini gue nanti ars"
"Gue suka gaya loe tha. Oke gue setuj buat bantuin loe"
"Beneran"
"Hmm. Apa gue pernah main-main"
"Thanks bro. Loe emang terbaik"
"Mau dimulai kapan ini"
"Secepatnya aja gimana"
"Kalau saran gue setelah loe ijab qobul. Jelas dia memang sudah pasti istri loe. Ya cuma sebagai pencegahan aja. Loe kan tau jodoh. Kematian itu rahasia ilahi"
"Okay itu emang yang terbaik. Thanks ars"
"Sama-sama. Tapi sebaiknya loe hubungi bang keynan masalah konstruksi. Atau lanhsung opa adrian"
"Iya nanti gue bakal hubungi mereka. Ya uda gue balik dulu ars"
"Hmm"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Atha meninggalkan hotel Arkmel. Saat dijalan sony menghubungi jika atha harus menemui kliennya di sebuah kafe. Atha langsung meluncur ke kafe tersebut. Baru dia sadari jika kafe itu berada didekat kampus seila.
"Selamat siang pak Adi. Maaf saya terlambat"
"Siang pak atha. Oh tidak. Anda tidak terlambat. Saya yang minta maaf karana dadakan"
"Iya tidak mengapa pak adi. Bagaimana kalau kita langsung saja"
"Iya sebaiknya memang begitu pak atha. Saya juga harus segera ke bandara"
Mereka membicarakan rencana kerjasama untuk pemgembangan bisnis mereka. Cukup lama mereka meeting. Perhatian atha sempat teralih karena melihat seseorang yang dia sayangi masuk ke dalam kafe tersebut.
"Bagaimana pak atha"
"Kalau menurut saya pak. Kita harusnya melakukan beberapa renovasi dulu. Mengganti suasana lama menjadi baru. Agar lebih banyak peminat. Dan juga memikirkan beberapa ide baru yang fresh"
"Iya itu boleh. Kalau begitu sepulang saya dari singapura kita bahas kembali"
"Baik pak adi. Saya tunggu"
Setelah kliennya berpamitan, atha masih duduk didalam kafe tersebut sambil memperhatikan seseorang yang sedang bersama teman-temannya. Atha mengambil ponselnya dan menghubungi orang tersebut.
"Assalamualaikum bee. Lagi apa"
Tak lama pesannya langsung dibalas oleh orang yang disayangnya itu.
"Waalaikumsalam kak. Lagi di kafe depan kampus kak sama teman-teman"
"Cowok apa cewek"
"Campuran kak. Kakak lagi apa"
"Lagi memandangi ciptaan indah sang pencipta. Tapi sayang yang mandangi gak cuma aku"
"Maksudnya kak"
"Gapapa. Lima menit lagi aku sampai bee"
"Iya kak. Aku tunggu. Hati-hati"
"Kamu sudah dihatiku kok tenang aja bee"
"Apaan sih kak"
"Cie-cie merona"
Seila menahan tawanya sambil menunduk. Atha yang melihat seila tersipu karena rayuannya, membuatnya tersenyum. Atha berjalan mendekati meja seila. Setelah membalas pesan tetakhir seila, atha langsung berdiri mendekati seila.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Maaf ganggu ya"
"Oh gak kok bang"
"Gapapa kali yang ganggu ganteng ini"
"Abang nyari siapa"
Atha berbicara tetap menatap seila bukan lawan bicaranya. Semua teman seila melongo termasuk dua pria disana. Salah satu pria itu wajahnya berubah datar dan terlihat rahangnya mengeras setelah tau jika seilalah yang di maksud atha.
"Siapa memangnya calon istrinya bang"
"Seila Athabina"
"Apa. Sel beneran dia calon suami loe"
"Loe kok gak pernah cerita sel punya laki bening banget gini"
"Sel kapan kalian tunangannya kok gak undang-undang sih"
Seila tersenyum tersipu. Dia ingin memberi kejutan kepada para temannya dengan membagi undangan pernikahan. Namun karena atha memperkenalkan diri sebagai calon suami, mau tak mau seila membuka rahasianya.
"Iya kenalkan ini kak atha tunangan gue"
"Haj beneran toh. Sejak kapan"
"Dua minggu yang lalu gue tunangan. Maaf gak ngundang"
"Ish jahat gak ingat teman"
"Maaf. Acaranya cuma buat keluarga. Tapi besok waktu gue merried gue undang kok"
"Kapan merriednya"
"Insyaallah bulan depan"
"Hah. Gila cepat banget sel. Loe gak ada apa-apa kan"
"Alhamdulillah aman saja. Kalian jangan lupa datang. Undangan menyusul. Ya uda gue balik dulu ya"
"Saya pamit ya. Maaf seilanya saya bawa. Assalamualaikum"
"Waalakumsalam. Hati-hati sel"
Atha mengajak seila ke butik untuk fitting gaun pengantin. Sepeninggal atha dan seila semua temannya ribut.
"Gue gak yangka seila diam-diam uda ada yang punya. Gio loe gak sakit hatikan"
"Apaan sih. Gue mau balik"
Giorgino teman seila sedari putih abu. Pria keturunan amerika itu memang memiliki rasa terhadap seila. Dia peenah mengungkapkan perasaannya kepada seila. Dan seila selalu menolaknya karena dia tidak ingin berpacaran. Gio menunggu hingga mereka lulus kuliah nanti dan langsung melamar seila.
Gio tidak pernah mendengar jika seila memiliki hubungan dengan seorang pria manapun. Gio juga cukup dekat dengan keluarga seila. Berita ini bukan hanya membuatnya terkejut tapi juga luka yang tak berbekas.
"Gue harus cari tau kebenarannya sel. Gue gak rela sel loe sama pria lain"
"Selagi ijab qobul belum terucap, gue masih ada kesempatan. Gue gak akan menyerah sel"
"Karina ya karina pasti tau"
Gio berbicara pada dirinya sendiri didalam mobil saat perjalanan menuju rumah karina sahabat seila.
Giorgino Abraham Akbar
____
Dueng ujian sebelum pernikahan nihh...
jangan lupa jempol...Oya othor mau kasih bocoran dikit sekaligus tes pasar nih..Tapi ini bukan Ceo ya...
****""*"""""""""*********
"Kawin kawin minggu depan eneng kawin. Kawin tidur ada yang nemenin. Kawin kawin status di ktp jadi kawin. Kawin"
"Kowan kawin. Nikah dulu baru kawin neng"
"Sama aja kali mak. Ujung-ujungnya juga kawin"
"Emang kamu mau kawin sama siapa neng"
"Babang minho dong mak"
"Oalah neng besok kalau tidur nungging ya. Jangan rungkel melulu"
"Kenapa emangnya mak"
"Biar otak loe beneran dikit"
"Ah emak suka gitu deh. Eneng pengen kawin mak"
"Sama siapa neng. Emang ada yang mau sama eneng"
Adik eneng yang bernama surti langsung menyahut dati arah dapur.
"Sama mang kosep aja teh. Dia kaya raya"
"Iya kaya raya. Bini seabrek tapi apa loe tega ti teteh nikah sama dia"
"Kenapa emangnya teh. Kan gak perlu susah-susah cari duit"
"Bukan itu titi sayang. Ini masalah kepuasan batin"
"Maksudnya gimana teh"
"Coba loe bayangin. Umur teteh masih sua puluh taun. Masih gress. Segel utuh. Bemper bohay. Gunung kembar montok. loe lihat montok kan"
Eneng memajukan dadanya sambil berkacak pinggang. Disambut anggukan oleh adik dan emaknya.
"Nah teteh suruh nikah sama mang kosep umur tujuh puluh lima. Onderdil uda karatan semua. Buat bangun aja butuh obat. Ya kalau habis minum obat langsung bangun, kalau dia koid. Ntar teteh jadi jendes perawan. Gak lucu kan"
"Itu mah gampang neng emak punya solusi jitu"
"Paan mak"
"Loe pas lagi asyek-asyek onderdil mang kosep loe ganti timun aja. Itu jos"
"Iya yang ada eneng bukan nyebut nama laki eneng pas ke enakan tapi. Ah tim mun huh timun ahhhh"
Emak dan surti melihat eneng memeragakan dengan menggeliat geluat bak cacing kepanasan.
"Astaghfirulah anak gue kesurupan. Surtiiii ambil air cepat"
"Iya mak"
Surti ke dapur mengambil air dalam ember tanpa melihat jika air itu bekas cucian piring. Potongan bawang dan cabe masih mengambang.
Byurrrrrr
"Nyebut neng nyebut gusti"
Neng diam sebentar. Tak lama eneng kembali berteriak kepedasan dan kepanasan.
"Aduh panas mak. Pedas mak. Panas ampun panas"
Emak yang mengira setan ditubuh eneng kepanasan, emak mengambil air putih dan dibeei doa lalu disemburkan ke wajah eneng.
Pyuhh
"Nah kan sembuh. Dasar setan gelo. Kapok gak loe. Minggat loe dari tubuh eneng"
"Mak tadi emak uda sikat gigi belum"
"Iya emak lupa dari kemarin mak belum sikat gigi neng"
"Akhhhh mati gue"
Eneng langsung kembali jatuh seolah pingsan sambil kejang-kejang. Emak mendekat lalu membacakan syahadat.
"Ashaduallailla ha illallah. Waashaduanna muhammadarrasulullah"
"Emak ikhlas neng. Ikhlas. Selamat jalan neng"
Surti yang baru masuk dari luar mendengar ibunya bersyahadat dan membelai tubuh kakaknya ikut histeris.
"Teteh. Jangan pergi dulu teh. Teteh tega sama titi. Titi gak ikhlas teh"
"Berisik amat sih kalian. Teteh mau mandi bau jigong emak nih"
Eneng langsung pergi ke kamar mandi dibelakang rumah untuk membersihkan diri.
Secuil kisah markoneng yang jauh dari kata sempurna. Dan bukan cerita pembantu biasa.....coming soon