RashSya Story

RashSya Story
Ghaydan~Teman Lama



Semenjak mendapat kabar mengenai menantunya, Friska berusaha yang terbaik. Dia sudah tidak mempermasalahkan tentang cucu lagi. Dia juga sangat memperhatikan kondisi mental sang menantu.


Setiap bulan Friska memang memiliki agenda untuk bertemu para teman lamanya. Dan hari ini mereka berkumpul disebuah kafe yang cukup ternama dikalangan orang berduit. Saat didalam kafe tersebut, Friska bertemu dengan teman sekaligus tetangganya saat tinggal di Surabaya dulu.


"Loh bukannya kamu Mayang"


"Friska apa kabar. Lama ya gak ketemu"


"Alhamdulillah baik. Kamu apa kabar may"


"Seperti yang kamu lihat. Aku baik saja. Oya apa kabar dengan suami dan anak kamu"


"Mereka baik. Anak kamu siapa namanya aku lupa"


"Ya ampun belum jadi uti udah pikun kamu Friska. Ayu namanya. Masa udah dilupakan mentang-mentang gak jadi besanan"


"Ah kamu bisa aja may. Beneran aku lupa. Lagian kita gak ketemu saat ayu masih kecil"


"Kan usianya gak jauh beda sama anakmu si Atha"


"Haha iya. Bagaimana kabarnya Ayu. Sudah merried belum"


"Huh dia masih sibuk sama kerja. Sampai sekarang susah banget kalau disuruh cari jodoh. Kalau anak kamu gimana"


"Alhamdulillah Atha sudah menikah tinggal Galang"


"Atha kapan merriednya kok aku gak dengar kabar"


"Satu tahun yang lalu. Maaf aku emang gak undang teman di Surabaya. Kasian kan kalau harus kesini"


"Ck. Alasan kamu aja Friska. Berati udah dapat cucu kan"


"Lagi proses. Doakan saja"


"Hah. Bahagianya yang sedang menanti cucu. Anakku boro-boro. Aku jodohin dia ngambek"


"Ya sudah sabar saja. Nanti juga ada jodohnya. Ayu kerja dimana"


"Akuntan di perusahaan ZM. Katanya perusahaan ternama ya. Aku gak begitu paham"


"ZM group"


"Iya. Kamu tau Friska"


"Iya tau. Itu perusahaan ternama. Di kantor yang mana may. Karena setau aku ZM itu kantornya banyak"


"Hotel barunya itu loh yang ada rumah sakitnya. Se, se apa ya kemarin"


"Arse hotel bukan"


"Iya itu. Maklum aku baru beberapa bulan pindah kesini"


"Kamu menetap disini may"


"Iya fris. Kasian ayu disini sendirian. Kan kamu tau semenjak suamiku meninggal dulu, cuma ayu yang aku punya"


"Sabar ya. Oya kamu lagi nunggu siapa tadi may"


"Aku nunggu Ayu. Tadi janjian buat makan siang bareng. Kamu sendiri"


"Bias ketemu teman-teman saja. Wah berarti aku bisa ketemu Ayu dong. Udah lama banget gak ketemu dia"


"Iya. Ayu pasti juga senang ketemu kamu fris"


Friska dan Mayang melanjutkan obrolannya sambil menunggu Ayu datang. Friska tidak tahu jika Atha juga berada dikafe yang sama sedang meeting bersama Bagas dan Keynan. Mereka membahas kerjasama pembangunan rumah sakit untuk Seila.


"Key kapan loe merried. Jangan bilang loe masih ngejar Daffina"


"Nah tuh loe tau tha. Kenapa tanya lagi"


"Udahlah key. Cari yang lain aja dulu"


"Gak maulah. Gue mau cari yang jelas aja"


"Emang kak Daffina jelas mau sama loe bang"


"Sialan loe gas. Mentang udah laku"


"Jelaslah. Emang situ jones melulu"


Keynan hanya memutar bola matanya malas menanggapi perkataan Bagas yang tak akan ada habisnya. Sedangkan Atha sedang membalas pesan dari sang istri yang menanyakan keberadaannya saat ini.


.


.


.


Dimeja Friska, Ayu sudah datang. Friska kagum melihat seorang perempuan muda nan cantik yang dulu saat kecil sering dia asuh. Dan sangat dekat dengan Atha.


"Tante kaget lihat kamu cantik banget sayang"


"Makasih tante. Apa kabar Tante"


"Alhamdulillah baik sayang. Kamu apa kabar"


"Baik juga. Tante kesini sendiri. Atau memang janjian sama bunda"


"Oh gak. Kebetulan tante ada acara dengan teman-teman, terus gak sengaja ketemu bunda kamu. Ya udah deh kita ngobrol sambil nungguin kamu datang. Kan tante juga kangen kamu sayang"


"Ayu juga tante. Udah berapa tahun kita gak bertemu tan"


"Lebih dari sepuluh tahun deh sayang. Terakhir tante ninggalin Surabaya kamu masih kelas sembilan kan. Terus dua tahun lalu tante ke Surabaya lagi. Tapi gak ketemu kita"


"Iya lama banget ya tan. Oya kabar Atha bagaimana tan"


"Atha baik. Baik banget malah"


"Syukurlah. Boleh gak kalau ayu minta nomor ponsel Atha tan. Buat silaturahmi lagi aja"


"Hm boleh. Boleh kok sayang. Bentar"


Friska lupa jika ponselnya kehabisan baterai. Tadi niatnya tadi langsung pulang setelah selesai acara. Tapi karena bertemu Mayang secara tiba-tiba, Friska lupa akan niatnya yang ingin segera pulang.


"Aduh maaf sayang. Ponsel tante mati ternyata. Semalam lupa diisi. Sampai pagi tadi"


"Hmmm. Gini saja, kamu tulis di kertas nomor kamu, nanti tante kirimi nomornya atha"


"Makasih tante"


Ayu sangat antusias mendengar akan segera mendapatkan nomor Atha. Teman lamanya.


"Ini tan"


"Iya sayang. Nanti tante kirim"


Atha yang sudah selesai dengan urusannya, kini sedang berjalan bersama Keynan dan Bagas keluar dari ruangan VIP. Saat Bagas sedang menatap kearah keluar, Bagas melihat Friska.


"Bang Atha, itu bukannya mami Abang ya"


Atha melihat kearah Bagas tunjuk. Dan menganggukkan kepalanya. Lalu mereka bertiga bersama menghampiri Friska.


"Mami"


"Loh bang. Kok disini juga"


"Habis meeting sama mereka berdua mam. Mami sendiri"


"Tadi ngumpul sama temen-temen bang. Eh kalian berdua apa kabar"


"Hai mam. Key kangen"


"Key. Kamu kapan datang dari Jerman nak"


"Udah semingguan mam"


Mendengar Keynan sudah berada di Jakarta selama satu Minggu, Friska yang kesal langsung menjewer telinganya.


"Dasar anak nakal. Lupa sama maminya. Lupa sama papi juga hah"


"Ampun mam. Sakit telinga key mam. Maaf belum ada waktu. Key dibuat sibuk sama si ghay"


"Alasan"


Setelah melepaskan tangannya dari telinga Keynan, Friska beralih pada Bagas yang sangat santai melihat key dianiaya. Bahkan Bagas dan Atha tak menampakkan senyum mereka sama sekali.


"Bagas. Bukannya kamu ada di Perancis bantuin papa kamu sama Arash"


"Balik bentar mam. Calon nyonya ngambek"


"Huh romantisnya. Baru diambekin langsung balik ke Jakarta"


Semua interaksi Friska dengan tiga pemuda tampan, tidak luput dari pandangan Ayu. Bahkan Ayu sudah bisa menduga jika salah satu dari mereka adalah Atha.


"Ya Allah mami sampai lupa. Bang masih ingat Tante Mayang yang tinggal didepan rumah kita di Surabaya"


"Hmmm. Kenapa emangnya mam"


"Ini Tante Mayang Abang"


"Ya Allah tante maaf Atha gak mengenali tante. Tante apa kabar"


"Alhamdulillah baik. Kamu tampan sekali sekarang"


"Tante bisa saja"


"Dan ini ayu bang. Ingat gak teman masa kecil kamu"


"Ayu. Si anak cengeng yang hobinya ngupil"


"Ah loe tha. Jangan buka aib gue dong. Itu kan masa lalu"


"Haha maaf. Maaf. Apa kabar loe yu"


"Gue baik tha. Lama gak ketemu loe masih sama ya"


"Ya bedalah. Dulu masih imut-imut. Sekarang kan udah tua"


"Bisa aja loe tha. Oya gue minta nomor loe boleh"


"Boleh. Mana ponsel loe"


"Ini"


Atha mengetikkan beberapa digit angka dilayar ponsel ayu. Dan mengembalikan kepada pemiliknya setelah selesai.


"Ini udah"


"Makasih tha"


"Mam, kita masih ada urusan. Mami mau bareng gak"


"Eh bareng bang. Baterai mami habis. Anterin ke kantor papi aja"


"Ya udah ayok"


"May aku duluan ya. Mumpung ada tumpangan gratis"


"Iya fris. Hati-hati. Kapan-kapan kita ketemu lagi"


"Tante pamit ya yu"


"Ya Tante"


Atha hanya berpamitan sekilas. Sedangkan Bagas dan Keynan mengangguk kecil tanpa senyuman. Mereka berjalan dibelakang Atha yang sedang digelayuti manja oleh sang mami.


"Atha ganteng banget ya yu"


"Iya Bun. Kayaknya udah sukses banget"


"Iya kata Friska dia CEO diperusahaan milik kakeknya. Kurang apa coba yu. Muda, tampan, kaya lagi"


________


Hai gaeessss sehat selalu ya...


Jangan lupa jempolnya


Happy reading