
"Aduh Arash kemana ini. Apa masih tidur"
"Nggak kok tadi uda Chila cek abang uda bangun"
"Terus kemana. Kita harus berangkat ini"
"Biar Juna yang nyari Bun"
Arjuna kebelakang mencari sang sepupu. Namun tetap tak diketemukan. Arjuna langsung ke kamar atas. Dia ingat jika dikamar sikembar ada ruangan baca yang gak semua orang tau.
"Gue yakin loe disini Rash"
Perlahan Arjuna menggeser salah satu pintu lemari bajunya. Setelah berhasil terbuka, Arjuna masuk kedalam ruangan rahasian Arash.
"Sudah gue tebak loe disini"
"Bang"
"Ayo kita harus segera berangkat"
"Bang. Aku gugup"
"Anggap aja loe lagi mau presentasi proyek besar. Tarik nafas biar tenang"
"Huh. Masih gugup bang"
"Tenang. Santai. Gue pernah ngrasain kok"
"Iya bang"
Mereka melangkah keluar kamar Arash dan bergabung dengan keluarga yang lain. Mereka akan menuju kediaman Icha. Akad nikah dilaksanakan disana. Dan pesta digelar diballroom hotel milik Arash.
"Boy jangan tegang gitu. Tegangnya nanti malam aja"
"Paan sih dad gak jelas"
"Ingat jangan salah sebut nama. Dan jangan sampai ngulang. Kalau kamu sampai ngulang, gak ada malam pertama"
"Hish siapa yang nikah siapa yang ngancem"
"Biarin aja. Makanya konsen"
"Berisik dad. Mending tadi mang toyib yang jadi supir arash. Daripada daddy berisik terus"
"Eh kamu itu harusnya bangga disupirin sama sultan"
"Mana ada sultan naik mobil. Yang ada naik kereta kencana"
"Sultan sekarang naiknya mobil keles"
"Udah ah daddy diam. Arash mau tenang"
"Dasar anak songong"
"Idih gak nyadar dirinya sendiri lebih songong"
Arash mencoba memejamkan matanya sejenak. Dari semalam dia memang tidak bisa tidur. Jay sengaja ingin menjadi supir sang anak karena ingin menghibur arash agar tidak grogi.
Tiba mereka dikediaman Annisa. Pihak keluarga sudah menyambut keluarga Malik. Kedatangan keluarga Malik menjadi pusat perhatian warga sekitar. Bukan hanya karena wajah rupawan mereka, namun mereka datang menggunakan mobil mewah.
"Mari silahkan masuk. Pak penghulu sebentar lagi sampai baru dijemput"
"Terimakasih"
Keluarga Malik sudah masuk. Acara telah dimulai. Icha yang masih berada dikamarnya, merasa begitu cemas.
"Rul, gue gugup banget"
"Tarik nafas Cha. Berdoa semoga lancar"
"Awas kalau dia sampe ngulang ijab qobul. Gak ada belah duren"
"Emang loe tega lihat laki loe nahan nafsu"
"Tega aja. Salah sendiri pake salah nyebut"
"Makanya doain biar gak salah ucap"
"Gue uda dari tadi berdoa kali Rul"
Tak lama terdengar suara penghulu mengucapkan kata ijab kepada Arash. Dan Arash menyambut dengan lantang tanpa salah.
"Ananda Arash Syauqi Malik bin Zaydan Malik Alfatir saya nikahkan dan kawinkan kamu kepada adik kandung saya Annisa Maharani Safitrah binti Alm. Yuraidal Safitra dengan mas kawin satu set perhiasan berlian dibayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Annisa Maharani Safitra binti Alm Yuraidal Safitra dengan mas kawin tersebut tunai"
"Sah. Yes sah"
Semua menatap kearah suara dibelakang Jasmine yang sedang berdiri sambil berlonjak.
"Benerkan Eneng yang ngomong kalau sah"
Semua yang diruangan itu kompak mengangguk termasuk sang penghulu.
"Ya sudah lanjut biar cepat belah duren"
"Eneng"
"Ups keceplosan Nona muda. Sorry"
Semua tertawa mendengar ocehan Eneng. Penghulu meminta agar pengantin wanita dihadirkan didalam ruangan. Annisa dijemput sang Ibu dan Jasmine.
"Assalamualaikum sayang"
"Waalaikumsalam mommy"
Seketika Annisa meneteskan air mata bahagianya. Tak menyangka takdir begitu baik kepadanya. Memang benar dibalik rasa sedih akan berganti dengan bahagia.
"Selamat datang dikeluarga Malik. Kamu sudah hafal kami seperti apa. Dan mommy harap icha lebih sabar dalam menjalani awal hubungan baru ini"
"Iya mom. Doakan Icha selalu"
"Yuk keluar sudah ditunggu sama suami kamu sayang"
Annisa diapit oleh ibu dan ibu mertuanya. Mereka berjalan menuju ruang tamu. Semua mata memandang takjub kepada sang pengantin wanita. Bahkan Arash tersenyum saat melihat kedatangan sang istri.
"Pengantinnya sudah datang. Kita selesaikan surat-suratnya dulu ya"
Annisa dan Arash menandatangani buku nikah mereka. Lalu saling memasangkan cincin kawin. Icha menciun tangan Arash takzim dan Arash mencium kening Icha sambil mengucapkan doa.
“Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.”
Mereka melanjutkan dengan sungkeman kepada orangtua. Suasana berubah menjadi haru. Pesan yang disampaikan oleh para orangtua membuat mereka meneteskan air mata.
Usai ijab qobul, mereka makan besama terlebih dahulu. Karena setelah acara ramah tamah itu mereka langsung menuju hotel untuk acara resepsi. Pengantin akan berganti gaun dihotel.
Rombongan pengantin masih menjadi pusat perhatian. Kali ini Arash sendiri membawa mobil pengantin. Dengan atap terbuka. Mobil sporr mewah miliknya itu dihias untuk dijadikan mobil pengantin.
"Aku bahagia sayang. Akhirnya kamu sudah halal untukku"
"Iya mas. Akupun sama"
"Tau gak mas sempat grogi takut salah ucap. Tapi alhamdulillah semua lancar"
"Asal mas tau aja, tadi icha sempat bilang kalau mas sampai salah ngucap ijab qobul, jangan harap ada acara belah duren malam pertama"
Arash melirik sang istri dengan wajah kaget bercampur geli. Karena Icha bisa berbicara sangat vulgar. Icha menyadari kesalahannya.
"Ops mulut kumat gak ada remnya"
"Tapi mas suka keceplosan kamu kali ini sayang. Jadi mau main berapa ronde nanti malam"
Arash menggoda Icha dengan memainkan alisnya.
"Apa sih icha masih polos. Gak paham"
"Ya sudah nanti mas polosin aja sekalian"
"Sorry Sorry Sorry Sorry
Naega naega naega meonjeo
Nege nege nege ppajyeo
Ppajyeo ppajyeo beoryeo baby
Shawty Shawty Shawty Shawty
Nuni busyeo busyeo busyeo
Sumi makhyeo makhyeo makhyeo
Naega michyeo michyeo baby"
Icha malah bernyanyi lagu super junior boyband favoritnya sambil berjoged ria. Arash tau sang istri mengalihkan pembicaraan hanya bisa tertawa.
Mereka sudah sampai dihotel. Saat melewati lobby mata Arash tertuju dengan sebuah mini banner bergambar boyband. Perasaan Arash menjadi tak tenang. Dia mencoba bertanya kepada manager hotel tentang kerumunan ornag yang membawa mini poster tersebut.
"Ada apa kok rame sekali pak"
"Iya pak Arash, kebetulan lantai tiga disewa untuk grup boyband korea. Mereka akan menjadi tamu pengisi acara ulangtahun sebuah perusahaan televisi swasta"
"Oh begitu. Terimakasih infomya pak"
Annisa sempat mendengar jika ada grup band korea dihotel milik sang suami.
"Mas icha boleh ketemu mereka kan. Pengen foto"
"No"
"Mas. Ayolah foto aja"
"No sayang. Kamu kalau uda ketemu mereka mas dilupakan"
"Nggaklah mana lupa. Paling amnesia sesaat aja"
"Tuhkan. Big no"
"Ayolah. Imbalannya empat ronde. Ops"
"Ah beneran ya"
"Aduh mulut pliss deh"
"Gak boleh ingkar janji"
"Hehehe. Diskon aja deh"
"Gak ada. Deal empat ronde"
"Nanti Icha bisa pingsan dong mas"
"Masa sih. Pernah apa"
"Amit-amit. Gaklah jangan sampe"
"Kok tau bisa pingsan"
"Baca dinovel"
"Dijalanin aja dulu dan lihat hasilnya"
"Tolong hamba ya Allah"
Sang pemgantin baru sudah sampai diruang rias. Mereka akan beristirahat dulu selama dua jam. Namun mereka tidak ditinggal sendiri. Ada para perias yang menemani dan mempersiapkan pakaian mereka nanti.
Sedangkan di lobby Bagas juga sudah sampai. Dia memang belum bertemu Chila. Saat akad nikah, Bagas tidak bisa datang karena mempersiapkan kejutan.
"Ars pokoknya loe harus ikut. Waktu nikahan loe Arash aja nyanyi sama Icha. Masa loe gak mau bales gitu"
"Tapi gak kayak gitu juga kali Tha. Gue gak bisa"
"Terus loe maunya gimana"
"Gue ada rencana yang lebih hot"
"Apaan"
"Sini pada kumpul"
Arsya membisikkan sesuatu kepada kaean-kawannya. Dan mereka setuju. Ity sebagai hadiah untuk Arash dan Icha. Tapi rencana Bagas tetap seperti semula. Tapi Arsya tetap tak mau ikut.
"Deal"
_________
Hadiah kondangannya jangan lupa ya....
jempol jangan ketinggalan.
Happy Reading