
"Jangkung"
"Hai pendek. Merindukan diriku"
"Loe ngapain disini Dev"
"Nongkrong. Gak lihat loe"
"Bentar deh. Loe bukan pimpinan disini kan"
"Loe kira"
"Yang bener aja Dev"
"Apakah papan nama ini tidak bisa loe baca dengan jelas"
Tisya membaca papan nama dimeja Devin.
"Devin Pradipta Alfatir. CEO. Alfatir. Oh God. gue lupa inikan Alfatir group yak"
Tisya bergumam pelan membuat Devin tersenyum.
"Gimana pendek sudah jelas"
"Loe kok beda sekarang. Gak kayak dulu. Cungkring"
"Lebih tampan kan"
"Masih aja narsis"
"Nyatanya gitu. Loe juga gak berubah masih pendek aja. Hahaha"
"Hish. Nyebelin banget sih loe dari dulu"
"Nyebelin apa nganenin"
"Gak usah kepedean gitu deh. Oya gimana lamaran gue"
"Sudah gue terima"
"Beneran"
"Iya. Tinggal kapan ke KUAnya"
"Maksud loe"
"Lah kan loe tanya. Gimana lamaran loe. Ya udah gue terima tinggal ijab sahnya aja"
"Lamaran kerja gue Devin"
"Oh kirain lamaran jadi suami loe tis"
"Ck. Dasar nyebelin"
"Emang serius loe mau kerja disini tis"
"Iyalah Dev. Lagian gue juga udah lulus tes pertama"
"Oke. Mulai sekarang loe jadi sekretaris gue"
"Tapi gue gak lamar bagian itu Dev"
"Adanya itu. Mau gak loe"
"Ya sudah deh. Gue terima. Tapi ajarin ya"
"Iya gue ajarin sampai loe bisa jadi istri yang baik hahahaha"
"Apaan sih Dev"
"Loe siap kerja kapan tis"
"Gue manut aja"
"Hari ini bisa"
"Langsung ini"
"Iya. Mau gak"
"Iya deh. Tapi ajarin loh ya"
"Iya gak usah takut"
"Terus apa tugas gue"
"Bentar gue panggilin Teddy"
Devin menghubungi nomor Teddy untuk masuk kedalam ruangannya. Dengan membawa berkas yang akan diserahkan kepada Tisya.
"Oya Ted. Kenalin ini Tisya sekretaris baru kita"
"Hai gue Teddy"
"Tisya kak"
"Hari ini loe pelajari ini pelan-pelan. Sementara loe duduk diruangan gue dulu. Biar gampang gue ngajarin loe"
"Oke"
Teddy menatap Devin dengan sedikit mengangkat alis matanya. Karena merasa sangat aneh dengan sikap bosnya itu. Devin membalas dengan memainkan alisnya dan tersenyum disudut bibirnya. Teddy hanya menghela nafasnya pasrah. Dan kembali keruangan ya.
Tisya duduk disofa sambil membaca berkas yang dibawanya secara perlahan. Jika ada yang tidak dimengerti dia akan mendatangi Devin untuk bertanya. Beruntung hari ini Devin tidak ada meeting. Devin memanfaatkan itu untuk membantu Tisya belajar.
"Oya tis. Loe selama ini kemana sih"
"Gue ikut bokap. Bokap dimutasi ke Kalimantan"
"Terus kenapa bisa balik lagi kesini. Bokap loe dimutasi kesini lagi"
"Nggak Dev. Bokap sudah meninggal dua tahun yang lalu"
"Innalillahi. Maaf ya tis. Gue gak tau"
"Gapapa Dev"
"Om Ramdan sakit apa tis"
"Ayah kecelakaan saat bertugas Dev"
"Jihad tis. Insyaallah Husnul khatimah"
"Aamiin. Gimana kabar mama dini Dev"
"Baik. Main-main kerumah tis. Mama pasti seneng ketemu kamu"
"Iya nanti gue kerumah sama bunda"
Mereka kembali pada pekerjaan masing-masing. Saat suara adzan berkumandang, Devin mengajak Tisya untuk rehat sekaligus makan siang. Melihat Devin berjalan berdua dengan Tisya, membuat semua karyawan terperangah. Apalagi Devin nampak sesekali bercanda kepada Tisya.
"Loe kan tau ini keturunan. Mau ditarik kereta api sekalipun tetap gak akan berubah Dev
Loe aja kenapa punya tubuh tinggi benar"
Memang perbedaan tinggi badan mereka berdua sangatlah mencolok. Devin yang memiliki tinggi badan 183 dan Tisya hanya 160. Sedari dulu Devin selalu memanggil Tisya dengan sebutan pendek.
"Dasar pendek"
"Biar 'ku pendek tapi nyaman dipeluk
Langkahku kecil mau digandeng terus
Biar 'ku pendek tapi paling sayang kamu
Walau mirip miniatur tapi cintaku tak terukur"
"Eyak eyak. Beneran nyaman dipeluk. Mana gue coba"
"Eh awas loe berani meluk gue. Gue aduin bunda biar dijewer lagi"
Saat mereka keluar dari lift, tiba-tiba Devin menggenggam tangan Tisya. Tisya yang kaget langsung mengibaskan tangan Devin.
"Kok dilepas. Katanya digandeng terus"
"Ish apaan sih Dev. Malu dilihatin karyawan lain noh"
"Cuekin aja kali"
"Ntar kalau pada kepo gimana"
"Bilang aja loe calon istri gue"
"Eh mulut asal jeplak aja loe Dev"
"Kan biar loe aman gak dibully"
"Ya gak gitu juga Dev. Loe lupa gue siapa. Pernah loe lihat gue nangis kalau di bully"
"Oiya gue lupa. Biarpun pendek tapi kayak preman. Hahaha"
"Devinn. Nyebelin"
Mereka berjalan berdua menuju masjid disebelah kantor Devin. Teddy yang tadi tak sengaja melihat Devin bercanda dengan Tisya, hanya bisa terbengong.
Usai melakukan ibadah, Devin mengajak Tisya makan di warung tenda seberang jalan. Devin sudah langganan disana. Walaupun ditepi jalan namun rasa dan kebersihan terjamin.
"Loe gak gengsi makan disini Dev"
"Ngapain gengsi. Sama-sama nasi juga. Entar akhirnya masuk ke closet bentuknya sama juga hahahaha"
"Jorok banget loe Dev"
"Mau pesen apa loe tis"
"Samain sama loe aja"
"Masih sama selera loe tis"
"Masih lah"
Devin tersenyum dan memesankan makanan untuk dirinya dan Tisya. Minuman pun juga dipesankan oleh Devin.
"Oya loe udah punya pacar belum tis"
"Kenapa loe tanya gitu"
"Ya kan kalau gue tanya suami, itu gak mungkin didata loe tadi masih belum menikah. Kecuali loe bohongin gue"
"Nggaklah. Gue belum merried dan belum punya pacar. Puas loe"
"Hahaha. Bejo juga loe ya"
"Apaan tuh"
"Betah jomblo. Hahaha"
"Kampret emang loe Dev. Loe sendiri"
"Kalau merried belum. Tapi mantan pacar banyak. Hahahaha"
"Ish mantan aja bangga Dev"
"Biarin yang penting pernah kenal perempuan tis"
"Bekasan dong"
"Enak aja. Gue masih ori ya tis. Walaupun banyak pacar"
"Gak percaya"
"Mau bukti"
"Maksud loe"
"Gimana kalau kita coba bersama tis. Biar loe tau beneran gak gue masih ori apa gak"
"Makin ngaco aja loe Dev"
"Hahahaha. Muka loe kenapa kayak tomat busuk tis"
"Devin sialan loe ah"
Pesanan mereka datang. Saat asyik menyantap makanan, ponsel Tisya berdering. Reza menanyakan keberadaan Tisya. Tisya menceritakan kepada reza jika dia sudah diterima kerja dan langsung bekerja. Reza berjanji akan menjemput saat pulang kerja nanti.
"Oya Dev. Gue kalau dikantor manggil loe bapak ya. Gak enak sama yang lain"
"Terserah loe aja tis. Senyaman loe. Panggil sayang pun juga gapapa"
"Devinn. Berhenti dong godain gue"
"Serius lagi gue gak bohong. Kan kalau loe nikah sama gue ntar memperbaiki keturunan tis. Hahaha"
"Stop Dev. Gue lagi makan entar kesedak"
"Oke oke. Habiskan makanan loe"
Mereka makan dengan khidmat. Banyak karyawan Devin yang makan di warung tenda itu. Saat melihat Devin begitu dekat dengan tisya. Rasa penasaran mereka langsung memuncak.
__________
Hai hai.....balik lagi bang Dev
Jangan lupa jempolnya gaesss
Happy reading