
"Mang toyib, antarin al ke kantor ayah"
"Iya mas"
"Loe mau ngapain al ke kantor ayah"
"Al pengen beli seblak depan kantor ayah kakak"
"Ide bagus tuh. Kakak juga mau. Abang mau gak"
"Ada gak seblak yang gak pake cabe"
"Seblak gak pake cabe bagai makan sayur tanpa garam. Hambarrrr"
"Kan kalian tau abang gak bisa makan cabe"
"Sama cabe aja takut bang"
"Biarin"
Mereka sudah sampai dikantor Arash. Ketiganya masuk ke kantor dan langsung menuju kantor arash.
"Al kita langsung masuk aja"
"Iyalah. Kan buna dirumah"
"Iya juga"
Tok tok tok
"Masuk"
"Assallamualaikum"
"Waalaikumsalam. Hai gaess tumben mampir kesini. Pasti ada udang dibalik kerupuk ini mah"
"Hehe tau aja ayah"
"Mau apa hayo"
"Bagi duit dong yah buat jajan"
"Emang uang jajan kalian habis"
"Masih sih. Tapi kan ini diluar sekolah"
"Terus beda gitu disekolah sama nggak"
"Ya bedalah. Kan itu uang jajan sekolah. Ini uang jajan diluar sekolah"
"Huh. Males ayah debat sama kamu al. Mau beli apa"
"Seblak depan kantor ayah"
"Ya udah sana. Mau nyuruh pegawai ayah atau beli sendiri"
"Boleh mang toyib aja"
"Ini uangnya"
Almeer langsung mengambil uang berwarna merah itu. Dia langsung turun ke lobby untuk menemui mang toyib.
"Mamang ayo kita beli seblak"
"Mas al nunggu sini aja biar mamang yang beli"
"Gak ah. Al mau ikut"
Al mengambil topi didalam mobil dan kacamata hitam. Al memang selalu memperhatikan penampilannya. Sesampainya dikafe yang dimaksud Al langsung memesan seblak yang diinginkan.
Sedangkan dikantor Arash, Meera dan Serkan asyik membaca novel dan bermain game.
"Al mana sih lama banget"
"Iya. Pasti ni anak lagi godain para pegawai ayah"
Arash yang sedang sibuk memasukan data. Mendengar percakapan serkan dan meera menjadi penasaran.
"Dasar adek loe itu meer hobi kok gombalin cewek-cewek. Giliran disentuh dikit langsung kabur. Haha"
"Apa adek kamu seperti itu kak"
"Iya memag seperti itu ayah. Dia itu rajanya gombal"
"Baru tau ayah. Ayah pikir dia hanya menjadi perayu dirumah saja"
"Asal uncle tau. Al itu terkenal bermulut manis. Tapi giliran dipegang tangannya langsung nyariin meera. Nempel ke meera atau serkan"
"Hahaha. Phobia wanita kah"
"Gak tau juga uncle"
"Hai eperibody. Nungguin yaaa"
"Loe kemana aja sih al lama amat"
"Al gak kemana-mana kok. Sante aja bang"
"Terus kenapa lama banget. Laper ini"
"Biasa jumpa fans"
"Jumpa fans sok amat loe al"
"Udah gak usah ribut mau makan gak inu. Kalau gak al makan sendiri"
"Dasar si kunyuk. Kita yang nungguin kelaparan mau diembat semua"
Arash hanya tersenyum melihat ketiganya ribut. Dia sempat berfikir memang si kembar memiliki sifat berbeda dengan dirinya saat kecil. Mungkin hanya sifat dan tengil yang mirip dengannya.
"Oya nanti malam ayah mau ngajak kalian dinner diluar"
"Tumben. Ada acara apa emangnya uncle"
"Nanti kalian akan tau. Jadi habis ini kita pulang"
"Oke bos"
Usai menghabiskan seblak, mereka kembali kerumah bersama dengan arash. Arash lebih memilih pulang menggunakan mobil yang digunakan untuk anak-anak mereka. Dan selalu ketiganya akan bernyanyi bahkan berjoged jika mendengarkan musik dangndut.
Malam menjelang usai melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang hamba, mereka bersiap untuk makan malam direstauran yang sudah dipesan oleh araah.
"Widiw malam ini ada pesta apa sih yah. Tumben kesini"
"Ada deh. Kepo banget"
"Ayah gitu deh"
Mereka sudah sampai ke resturan seafood favorit keluarga Malik. Arash meminta mereka untuk makan terlebih dahulu sebelum mengumumkan kabar bahagia.
Mereka makan dengan nyaman tanpa satu pun bersuara. Itulah aturan pertama dikeluarga Malik. Al telah menyelesaikan makannya telebih dahulu. Dia meminta ijin ketoilet. Ini adalah kebiasaan lain seorang Almeer Malik. Dan hanya keluarga yang tahu.
"Semoga toiletnya gak ada orang. Semoga sepi. Kalau gak harga diri gue ancur"
Almeer melihat kekanan dan ke kiri memastikan ada oranglain atau tidak. Setiap bilik dia periksa. Setelah aman, dia bisa leluasa untuk menggunkan toilet ini.
Brutttt bretttt bretttt
"Hah lega. Semoga gak ada yang masuk dulu. Tapi gak bau banget kok"
Al berjalan pelan keluar toilet dan bergabung dengan keluarganya. Serkan dan Meera langsung berbisik menanyainya karena ada salah satu pengunjung mengeluh.
"Gila gue ke toilet bau ******. Itu satu ruangan baunya ampun banget. Bahkan cicak ada yang sampai mati tiga biji karena kebauan. Uda disemprot pewangi tetap gak hilang. Sumpah siapa yang lempar bom beracun kesana"
"Al itu pasti loe kan"
"He hem. Napa emangnya"
"Siapa lagi coba mer kalau bukan si al"
"Emang salah apa kentut. Lagian gue kentut ditoilet"
"Kentutnya gak salah. Tapi kentut loe itu limited banget. Baunya bisa bikin cicak mati. Dah gitu efeknya lama banget"
"Mau gimana lagi. Orang ganteng mah beda"
"Ganteng-ganteng raja kentut"
Akhirnya tiba waktunya arash mengunumkan sebuah pengumuman penting dan bahagia.
"Jadi malam ini Arash sengaja mengajak makan diluar karena. Arash ada berita bahagia"
Arash menjeda sebentar dan tersenyum sambil menggenggam tangan sang istri.
"Alhamdulillah Buna kalian saat ini sedang hamil. Dan kalian berdua akan segera mendapat adek"
Semua mengucap syukur mendengar berita bahagia dari Arash. Mereka memberi selamat dengan perkataan yang membuat ketiga anak cerdas itu berdikir sangat jauh.
"Alhamdulillah jadi opa lagi. Beehasil juga kecebong kamu netes rash"
"Iya bang. Selamat ya. Gue juga pengen punya lagi. Tapi masih belum rezeki"
"Gue doain semoga loe juga segera dapat lagi ars. Berusahalah lebih giat"
"Aamiin bang. Pasti itu. Semoga kecebong gue juga berhasil hahaha"
"Uyut bahagia dengan bertambahnya calon keluarga baru. Semoga selalu sehat sampai dia melihat dunia nanti. Aamiin"
"Aamiin"
Ketiga anak sultan itu hanya diam tanpa ada yang mengeluarkan suara. Mereka saling berpandangan. Tiba-tiba wajah mereka sendu. Kini ketiganya suda didalam mobil yang dikendarai Arsya.
"Kenapa papi perhatikan kalian diam saja. Ada apa hem"
"Kami gapapa kok pi"
"Gak biasanya kalian anteng"
"Capek kali uncle kalau bertingkah mulu"
"Hmm ya sudah kalau memang tidak apa-apa"
Sesampainya dirumah, ketiganya langsung masuk ke kamar Almeer. Mereka mengungkapkan apa yang menjadi pikiran mereka.
"Apa yang kita pikirkan mungkinkah sama"
"Kecebong"
"Iya kamu bener al"
"Berarti bapak kita adalah.."
"Kodok"
"Jadi selama ini kita berasal dari berudu"
"Iya mungkin meera. Tapi kita juga gak tau bapak kita yang mana"
"Kalau menurut al, bapak kita ada disekitar kita juga bang, kak"
"Bener bener banget kamu al"
"Eh kalian ingat gak sih. Waktu dikolam ikan ada kodok gede"
"Iya ingat bang. Dan opa ngajakin ngomong tuh kodok"
"Eh bener bang. Al ingat apa yang opa bilang waktu itu. Opa bilang masih betah kamu disini. Gak ada niatan pindah. Gitu bang"
"Apa itu jangan-jangan bapak kita. Dan kita bertiga satu bapak kodok"
Mereka berpelukan seperti film boneka lima warna itu
"Oh saudaraku kita harus temukan ayah kita"
"Iya bang. Dan harus kita rawat"
"Betul bang. Meera juga gak mau jadi anak durhaka"
"Besok pagi-pagi kita ketempat ayah berada. Semoga ayah belum pergi"
"Iya semoga"
Mereka berpelukan dan memutuskan tidur bersama al dikamar al. Mereka lupa jika al memiliki gas beracun.
Breeetttttt
"Meera kamu bau sesuatu"
Mereka saling pandang dan langsung melihat kearah tersangka yang sudah terlelap.
"Almeeeerrrrrr"
Setelah berteriak tak lama gas itu kelyar namun tak bersuara kencang.
Busssshhh
"Gila bisa mati gue disini"
"Gue balik kekamar gue aja"
"Ganteng sih ganteng tapi kentutnya bikin mampus"
Meera dan Serkan keluar kamar Almeer dengan sedikit sesak nafas. Mereka menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Arash yang melintas sehabis mengambil air minum langsung menanyai mereka.
"Kalian kenapa"
"Oksigen hosh ok si gen"
"Kalian sesak nafas. Bentar ayah panggilkan dokter"
"Jangan om. Hosh hosh. Kami hanya perlu udara"
"Kalian habis ngapain sih. Kok sampai kayak gini"
"Kena bom asap ayah"
"Dimana. Biar ayah suruh para pengawal berjaga takut ada musuh yang tidak suka dengan kita"
"Bukan uncle"
"Terus"
"Ayo ikut meera"
Arash mengikuti putrinya. Meera membuka pintu kamar Al namun meera memalingkan wajahnya.
"Kok kamar al kak"
"Masuklah ayah. Semoga kembali dengan selamat"
Arash masuk dan meera menutup pintunya dan berlari mendekati serkan. Mereka berhitung bersama.
"Satu"
"Dua"
"Tiga"
Jederrrr
"Hah hah hah. Oksigen ayah butuh oksigen"
"Tuh kan ayah baru merasakan"
"Gas milik almeer langsung melumpuhkan segala syaraf tubuh"
Meera dan serkan kembali ke kamarnya begitu juga Jay. Jay masih pusing dan mual karena menghirup gas milik almeer.
"Ayah kenapa"
"Keracunan bun"
"Ayah makan apa memangnya. Kita kan tadi makanannya sama"
"Bukan karena makanan buna"
"Terus"
"Gua beracun milik almeer"
"Hah. Maksudnya gimana buna gak ngerti"
"Buna tau sendiri pangeran kita itu unik. Termasuk senjata mematikan miliknya. Gas beracun"
"Ayah dikentutin al"
"Iya"
"Hahaha kok bisa"
"Ayah masuk kamar dia. Belum juga lima menit dua kali jebret dia bun. Untung tenaga ayah masih tersisa untuk keluar kamar dia. Kalau tidak. Gak tau deh"
"Haha. Lebaya ayah"
"Ayah heran deh bun. Almeer ganteng, cerdas juga tapi kelakuannya ampun. Suka gombalin cewek-cewek. Dan senjata rahasianya itu loh bikin gak kuat. Nurun siapa coba"
"Jelaslah perpaduan kita berdua. Masih meragukan saja ya"
"Gak bun. Gak akan ragu ayah. Cuma penasaran aja. Kok beda gitu"
"Disyukuri ayah masih diberi almeer"
"Iya bun"
Malam hening menyelimuti seluruh penghuni kediaman Malik. Hanya satu kamar yang terus saja melakukan peperangan.
Bruttt brettt bruttt
Bisa jadi si pemilik kamar itu bukan hanya tidur namun pingsan karena gas beracun yang dihirupnya. Bisa jadi ke olengan otaknya juga karena terlalu banyak menghirup gas mematikan itu.
Suara adzan berkumandang membangunkan seluruh isi jagad raya. Bahkan semua pria di keluarga Malik sudah berada di masjid kompleks. Selepas dari masjid Serkan dan Almeer menjalankan rencananya. Diikuti Meera
"Abang cari ujung sana. Al disini. Kakak sebelah sana ya"
"Okey"
"Okey"
Mereka langsung berjongkok disisi kolam ikan itu dan sama-sama memanggil ayah dan papi.
"Ayah. Ayah dimana keluarlah"
"Papi. Ini anak papi. Ayo papi keluarlah"
"Ayah meera mau ketemu ayah"
Mereka mengelilingi kolam dan terus memanggil seperti itu. Eneng yang melihat mereka bertiga langsung mendekat.
"Mas al. Mbk meera sama mas serkan nyari apa"
"Ayah"
"Papi"
"Lah emang den kembar lagi jadi kodok apa kok nyari dikolam ikan"
"Iya eneng. Memang ayah kami kodok"
"Papi serkan juga kodok eneng"
"Hapah. Kenapa bisa begitu. Siapa pelakunya mas, mbak. Siapa yang membuat den kembar seperti ini. Tega sekali sungguh tega"
Si kembar dan Serkan hanya manggut-manggut sambil menunduk. Mereka tak melihat jika eneng sudah menangis dan berlari masuk ke dapur. Eneng menemui Retha dan Icha yang sedang berada di dapur.
"Hiks neng icha. Neng retha yang sabar ya. Eneng gak nyangka ada yang tega berbuat seperti ini kepada suami-suami eneng. Eneng janji kalau eneng tau siapa pelakunya bakalan eneng kebiri. Eneng bejeg bejeg sampe gak berbentuk. Sabar ya. Eneng selalu bersama kalian"
"Kamu ngomong apaan sih neng gak jelas banget"
"Iya icha gak mudeng. Ngapain nyebut-nyebut suami kita juga"
"Apa kalian belum mengetahui hal ini"
"Apaan neng"
"Den kembar dikutuk jadi kodok bangkong huahhhh"
"Heh siapa yang ngomong kayak gitu"
"Mas serkan dan si kembar sekarang sedang dipinggir kolam mencari ayah dan papinya. Maafkan mulut eneng yang keceplosan. Eneng kira kalian sudah tau"
"Ini ada yang gak bener ini kak"
"Iya kamu benar cha. Harus kita lihat mereka sebelum parah"
Eneng masih diam menangis di meja makan. Sedangkan aretha dan icha mencari anak-anak mereka. Arash dan Arsya melewati dapur menuju taman belakang untuk berolahraga kecil.
"Loe kenapa markoneng"
"Sedih mas"
"Sedih kenapa"
"Mas kembar dikutuk jadi kodok. Eneng sedih. Gak bisa lagi melihat ketampanan mas kembar huahhha"
"Obat loe habis neng"
"Eneng lagi sedih gak usah gangguin. Lagian kalian siapa sih kok mukanya sama kaya mas kembar"
"Siluman kodok"
"Apaaaaa. Sil silum man ko ko ko"
"Kopi neng yag pahit. Dah ah pusing pala gue ngomong sama loe"
Arash dan arsya langsug ke taman. Dan pandangan matanya tertuju kepada keluarga kecil mereka yang sedang ditepi kolam.
"Kenapa mereka"
"Gak tau bang. Kita samperin aja"
Mereka mendekati kearah kolam terdengar suara Icha sedang menasehati sang putra dan menenangkan putrinya yang sedang menangis.
"Kenapa kalian gak jujur pada kita"
"Jujur apa sayang. Memang buna pernah berbohong pada kalian"
"Dimana ayah kami sekarang"
"Papi serkan juga dimana"
"Ayah kalian ada didalam nak"
"Iya papi juga didalam"
"Kalian bohong"
"Kok gitu. Memang mereka kemana"
"Mereka ada dikolam ini"
"Ngapain. Emang ayah kalian ikan sapu-sapu"
"Papi serkan juga didalam kolam ini"
"Gak mungkin sayang. Ngapain papi dikolam"
"Gini sekarang buna minta kalian bertiga ngomong yang jelas. Apa maksudnya kalian bilang kalau ayah sama papi ada didalam kolam"
Mereka menceritakan kejadian makan malam. Icha dan Retha langsung saling menatap. Tak lama suami mereka mendekat.
"Sayang maksud omongan papi dan ayah itu bukan yang sebenarnya. Kalian bukan anak kodok. Mana mungkin kalian anak kodok tampan dan cantik begini. Kalian anak kami"
"Lalu kenapa mereka bilang kami berasal dari kecebong"
"Itu istilah sayang. Dab belum saatnya kalian tau apa arti sebenarnya"
"Jadi kami bukan anak kodok. Kami anak manusia"
"Iya sayang. Kalian anak - anak kami"
Mereka saling berpelukan. Tanpa mereka sadari eneng membawa karung beras kosong dan langsung melemparkan kearaha arash dan arsya.
"Tangkap siluman kodok"
______
part panjanggg gaessssss
Jangan lupa jempol
Happy reading