RashSya Story

RashSya Story
Devin~CLBK 25



Oek oek oek


Suara tangis bayi terdengar begitu merdu memenuhi ruang persalinan Tisya. Seorang bayi tampan terlahir dengan sehat dan tak kurang satu apapun. Sakit saat proses melahirkan yang dirasakan oleh Tisya langsung hilang saat bisa menatap wajah tampan putera pertama mereka. Devin pun kini sudah tak merasakan mulas lagi. Dia kembali sehat setelah bayi mungil itu menangis kencang.


Karena prediksi dokter kala itu calon anak Devin adalah perempuan, Tisya belum mempersiapkan nama untuk anak lelaki. Tapi tidak untuk Devin. Devin sudah mempersiapkan semua, apalagi firasatnya mengatakan jika calon anaknya lelaki.


"Jadi siapa nama cucu opa yang tampan ini"


"Tisya belum sempat kepikiran pah. Karena prediksi dokter selalu perempuan"


"Devin sudah punya nama untuk jagoan tamaon ini. Tapi belum tentu kalian setuju"


"Siapa bang namanya"


"Ghava Chiragh Alfatir"


"Artinya apa bang"


"Pria berhati lembut dan bercahaya. Alfatir sendiri kalian sudah paham artinya kan. Pembuka. Pembuka rezeki untuk dirinya dan keluarga. Pembuka kebahagiaan bagi siapa saja. Pembuka dalam setiap hal baik. Aamiin"


"Aamiin. Nama adalah doa. Dan papa suka nama itu. Ghava"


"Tisya suka kak. Baby Ghava"


"Anak kalian hanya selisih satu Minggu dengan anak si Eneng. Bisa jadi sahabat dan saudara"


"Haduh pah. Bukannya Devin gak mau. Tapi tau sendiri emaknya kelakuannya aja ajib. Gimana anak-anaknya. Udah gitu kembar lagi"


"Hahahaha. Biar cucu Oma tidak datar. Kayak Opa dan papanya"


Kelahiran Ghava membawa keceriaan dan warna baru dikeluarga Alfatir. Bahkan sejak tangis pertamanya keluar, Ghava sudah terpatri menjadi penerus Alfatir. Karena adik Devin, Danish sudah berkata tidak mau mewarisi perusahaan milik opa mereka.


Karena Tisya melahirkan secara normal, dan cepat pulih. Dokter mengijinkan Tisya untuk pulang kerumah setelah tiga hari lamanya dia menginap dirumah sakit. Tisya didorong oleh Devin menggunakan kursi roda. Baby Ghava dalam gendongan ibunda Tisya. Sedangkan kedua orangtua Devin menunggu mereka di kediaman Devin. Bersama para keluarga dan sahabat Devin.


"Wellcome home baby Ghava"


Teriakan dari para sahabat sekaligus sepupu Devin. Mereka sudah berkumpul dirumah Devin. Ghava pun ikut berpindah tangan. Arka dan Aidil begitu bahagia melihat penerus dari Alfatir berikutnya.


"Gak berasa kita sudah tua ya bang"


"Loe aja yang tua Dil. Gue mah kagak"


"Ih gak inget. Berapa cucunya sekarang coba. Sok muda"


"Faktanya memang masih muda kali"


Balqis dan Melany akhirnya melerai kedua kakak beradik itu. Yang sama-sama tak mau mengalah.


"Stop kalian itu memang sudah tua. Sudah beruban. Hanya ditutupi saja pake cat rambut tuh uban"


"Kalian nih ya bukannya bela suami. Malah ikut menjatuhkan"


"Ya memang faktanya seperti itu"


Tisya memilih beristirahat dikamar. Bahkan makanan sehat sudah disiapkan. Ibunya sendiri yang menyuruhnya untuk banyak memakan makanan sehat selama menyusui. Beruntung bagi Tisya karena begitu Ghava lahir, air susunya langsung lancar. Karena tidak semua ibu bisa menyusui bayi mereka.


"Bang siapa nama lengkapnya"


"Ghava Chiragh Alfatir"


"Auuuu. Kerennya"


Bukan Icha dan Aretha jika tidak merusuh. Beruntung Eneng masih dalam masa pemulihan paska melahirkan juga. Dia hanya mengirim hadiah dan ucapan selamat yang diantarkan oleh Airil bersama emak dan ibu Tisya.


"Iya keren Tha. Nama dengan dua fungsi"


"Maksud loe dua fungsi gimana Cha"


"Siang Ghava. Nanti habis Maghrib berubah jadi Vava"


"Hahahaha. Bener Cha. Selain Vava bisa juga dipanggil Cici atau Rara. Kan Chiragh namanya"


"Hahahaha. Kalian berdua sudah terkontaminasi Eneng"


"Arash, Arsya. Bisa gak bini kalian sehari saja gak merusuh"


"Sepertinya tidak bisa bang. Jadi nikmati ajalah"


"Dasar pasangan kampret emang kalian"


"Karena belum saja tha. Apalagi markoneng sering kerumah loe. Siap-siap aja bini loe keracunan virus Eneng"


Icha mengambil Ghava dari pangkuan Seila. Yang memang masih normal diantara para wanita menantu keluarga Malik. Ghava dipangku Icha sambil ditimang.


"Vava tampan bobok manis. Anak pintar"


"Icha. Plis deh. Jangan loe panggil anak gue dengan panggilan mengerikan itu"


"Keren kali bang"


"Gue gak mau ya ntar anak gue melambai gara-gara loe manggil dia Vava. Ih amit-amit"


"Jauh amat sih mikirnya bang"


Mereka hingga sore hari berada dirumah Devin. Bahkan Ghava dimandikan oleh Icha. Tisya ikut melihat agar nantinya bisa memandikan sendiri. Opa dan Oma serta nenek Ghava akan bergantian menginap untuk membantu mengurusi Ghava hingga Tisya pulih.


Malam hari, Devin ikut menjaga Ghava tak sedikitpun Devin mengeluh. Dia sudah merasakan bagaimana perjuangan Tisya melahirkan putranya. Karena Devin juga merasakan mulas yang sama. Walaupun bagi Devin itu masih belum setara dengan sakit yang Tisya rasakan.


"Ghava. Jadilah penerang bagi kami semua nak. Nanti kalau sudah besar, wajah garang tak masalah asalkan hari kamu tetap lembut nak"


Tisya yang terbangun saat mendengar Devin terkikik sendiri, begitu takjub melihat sang suami yang sedang menimang sang putra. ASI Tisya memang sebagian sudah dipompa dan disimpan didalam frezer khusus dikamar mereka. Bahkan alat penghangat khusus mereka beli dan diletakkan didalam kamar. Sehingga Devin bisa menghangatkan ASI untuk Ghava tanpa membangunkan Tisya.


"Ghava bangun kak"


"Iya sayang. Kamu bobok lagi aja. Biar Ghava sama papanya ya ganteng"


"Sudah minum susu kak"


"Sudah sayang"


"Bawa sini kak. Baringkan disini saja"


"Iya sayang"


Devin membawa Ghava keatas ranjang dan membaringkannya disana. Devin dan Tisya bermain dengan bayi tampan berusia tiga hari itu.


"Kak jadi aqiqah"


"Jadi sayang. Semua sudah aku pesan"


"Makasih kak"


"Iya sayang. Itu kewajibanku sebagai papa Ghava"


"Huh tapi ya sampai sekarang aku masih kesal kak"


"Kenapa sayang"


"Wajah Ghava seratus persen duplikat papanya. Aku sama sekali tidak kebagian".


"Hahaha. Ya harus itu sayang. Coba kalau duplikat dakocan. Kan bahaya"


"Iya sih. Tapi aku yang hamil kak. Masa gak kebagian sedikit aja"


"Dia akan seperti mamanya yang lembut dan berani"


"Tapi aku lebih suka dia memiliki sifat papanya. Yang begitu baik dan menghargai wanita"


"Itu pasti sayang"


Ghava sudah terlelap dengan sendirinya. Begitu juga Devin. Tisya memindahkan Ghava kedalam box bayinya. Tisya naik keatas ranjang dan mengamati wajah lelah Devin..


"Terimakasih sayang. Suamiku. Papa Ghava. Kamu terbaik. Beruntung aku menjadi istrimu. Aku akan berusaha untuk menjadi yang terbaik. Terimakasih selama ini selalu menyayangiku. Menjagaku dan menuntunku menjadi lebih baik. I love you my hubby. Devin Pradipta Alfatir. Kita akan menua dan mati bersama itu janjiku sayang. Tak akan kubiarkan satu semut pun mengusik kita"


Tisya mengusap pipi Devin dengan penuh kasih sayang. Guratan lelah nampak jelas di wajah pahlawan keduanya setelah sang ayah meninggal. Devin lah yang sekarang menjadi suami, kakak dan ayah baginya. Walaupun nanti ada aral melintang dalam hubungan mereka, mereka akan mengatasi bersama. Masalah kecil dihilangkan dan masalah besar dikecilkan. Selesaikan setiap permasalahan dihari yang sama jangan terbawa hingga mata terpejam. Itulah prinsip mereka saat ini.


Sebuah kecupan mesra Tisya daratkan pada kening Devin sebelum dia masuk kedalam dekapan sang suami dan ikut terlelap dalam mimpi. Perjalanan mereka baru dimulai sebagai orangtua.


_______


Bang Devin end ya gaesss... Selanjutnya Kuta lihat siapa yang akan muncul


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading