RashSya Story

RashSya Story
Mr Jutek (Ghaisan Story)



Hari ini adalah waktu yang sudah disepakati antara Ghaisan dan Arumi. Mereka bertemu terakhir kali saat Ghaisan mengetahui tentang pengunduran diri Arumi dari perusahaan miliknya. Sejak saat itu mereka belum pernah bertemu kembali.


Ghaisan bermaksud akan mengunjungi rumah Arumi siang nanti. Dia sudah yakin dengan pilihan hatinya. Satu Minggu mereka mencari jawaban. Dan Arumi akan memberi jawaban kepada Ghaisan hari ini.


"Mah. Papa mana"


"Papa baru saja berangkat bang"


"Tumben weekend papa pergi"


"Papa pergi sama Daddy Jay"


"Oh"


"Tumben anak mama sudah tampan gini"


"Memang dari dulu sudah tampan kan mah"


"Selalu narsis. Mau kemana bang. Ketemuan sama si kembar"


"Gaklah. Hari ini spesial mah"


"Oya. Memangnya ada apa hari ini"


"Hari ini Ghaisan akan mendapat kepastian dari seseorang yang sama-sama melakukan istikarah"


"Benarkah. Mama semakin penasaran. Seperti apa perempuan itu"


"Doakan lancar ya mah. Nanti kalau dia bilang, oke aku mau. Barulah Ichan kenalkan sekaligus melamarnya"


"Bismillah bang. Doa mama dan papa selalu bersama kalian"


"Aamiin. Makasih mah"


Ghaisan sudah mengirim pesan kepada Arumi jika dia sudah berada dalam perjalanan. Ghaisan berhenti di toko kue favorit mamanya. Dia berniat membelikan oleh-oleh untuk orangtua Arumi.


"Selamat siang kak. Bisa saya bantu"


"Kak tolong bungkus tiramisu cake ukuran sedang satu sama cheese cake ukuran sedang satu"


"Baik. Ada lagi kak"


"Tidak itu saja"


'Mohon tunggu sebentar"


"Baik"


Toko kue ini sangat terkenal. Dan selalu padat pengunjung. Ghaisan mencari tempat duduk untuk menunggu. Karena kursi penuh, Ghaisan memilih untuk berdiri. Ghaisan menunggu sambil membaca pesan dari para sahabatnya yang mengajaknya berkumpul sore nanti.


"Uncleeee"


Ghaisan kaget karena tiba-tiba dia mendapat sebuah pelukan dari seorang gadis kecil. Ghaisan melihat wajah anak kecil tersebut untuk memastikan.


"Cheryl. Ini kamu sayang"


"Uncle. Cheryl rindu. Kenapa uncle tidak pernah menemui Cheryl"


"Maafkan uncle baby. Uncle terlalu sibuk bekerja. Cheryl apa kabar"


"Cheryl baik uncle"


"Mana mama kamu sayang. Kenapa berlarian sendiri"


"Cheryl tidak bersama mama. Tapi bersama ayah"


"Ayah.."


"Heem. Ayah Ezha"


"Oh. Dimana ayah sekarang"


"Sedang memesan kue untuk kakak Mutia"


Cheryl menunjukkan jarinya kearah ayahnya. Ghaisan berjalan sambil menggandeng Cheryl menemui Mirza.


"Bro"


"Ichan. Loh kok sama Cheryl"


"Iya tadi dia lihat gue kayaknya. Jadi lari ketempat gue"


"Cheryl jangan seperti itu lagi ya. Disini sedang ramai. Ayah takut terjadi apa-apa sama kamu"


"Iya ayah"


"Tumben Cheryl disini sendiri. Malika gak marah loe bawa Cheryl pergi keluar"


"Malika sedang diluar kota. Awalnya Cheryl akan dia bawa. Namun setelah tahu jika dikota tersebut papa kandung Cheryl berada, Malika memilih menitipkan Cheryl sama gue"


"Hmm. Begitu"


Tak lama terdengar panggilan pesanan atas nama Ghaisan. Ghaisan mengambil pesanannya dan kembali mendekat ke arah Mirza dan Cheryl untuk berpamitan. Awalnya Cheryl ingin ikut dengan Ghaisan. Namun Ghaisan mengatakan jika hari ini tidak bisa menemani Cheryl bermain karena sudah ada janji dengan seseorang.


"Cheryl. Kalau lusa Cheryl masih ada dikota ini, uncle janji akan mengajak Cheryl jalan-jalan. Tapi untuk hari ini uncle tidak bisa"


"Baiklah uncle. Tapi uncle janji ya lusa main sama Cheryl"


"Janji"


Ghaisan memeluk Cheryl sebentar sebelum pergi. Ghaisan berlalu meninggalkan toko kue tersebut setelah berpamitan kepada Mirza. Saat didalam mobil, Ghaisan sempat kembali menoleh kedalam toko kue untuk melihat Cheryl. Ada raut sedih dan kecewa diwajah Cheryl.


"Huh. Semoga mama kamu semoga terbuka hatinya sayang. Agar kamu bisa memiliki kuarga lengkap"


Ghaisan hanya menatap Cheryl sesaat saja. Dia kemudian melajukan mobilnya menuju rumah Arumi. Sejujurnya Ghaisan merasa sedikit gugup. Apalagi dia dan Arumi langsung menjalin hubungan secara satu pihak. Mungkin Ghaisan masih meraba perasaannya sendiri. Dan mencoba kembali membuka hati.


Dua puluh menit dalam perjalanan, akhirnya Ghaisan sampai dialamat rumah Arumi. Ghaisan sempat tertegun melihat begitu mewahnya kediaman keluarga Arumi. Dan dia berfikir jika Arumi bukanlah dari keluarga biasa.


"Karyawan bagian keuangan. Rumah orangtuanya mewah sekali. Bahkan hampir sama dengan vila milik Daddy Jay. Siapa dia"


Ghaisan memarkirkan mobilnya disamping rumah Arumi. Dia berjalan turun sambil membawa kue yang sudah dibeli tadi. Melihat pagar menjulang tinggi dan terkunci, Ghaisan mencoba memencet bel yang berada didekat pagar. Tak lama datang seorang penjaga rumah mendekati Ghaisan.


"Selamat siang pak. Mau mencari siapa"


"Arumi ada pak"


"Neng Arumi. Bapak temannya"


"Oh silahkan masuk pak. Non Arumi sudah menunggu di dalam"


"Terimakasih pak"


Ghaisan melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah Arumi. Benaknya masih saja terus bertanya-tanya tentang siapa Arumi sebenarnya. Ghaisan sudah berada didepan pintu utama dan dia bersiap untuk mengetuk pintu.


Tok tok


"Sepertinya ada tamu mah"


"Iya pah. Sebentar mama buka dulu pintunya"


Mama Arumi sudah beranjak dari sofa, dan Arumi mencegahnya. Arumi sendirilah yang akan membuka pintu tersebut.


"Mah biar Rumi saja yang buka"


"Oh. Oke"


"Hmmm. Mah pah. Sepertinya yang datang tamu Arumi. Dan mungkin papa akan suka dengan orang ini"


"Hah. Memangnya siapa sayang. Kok kamu bisa tau papa akan menyukainya"


"Nanti papa juga tahu. Arumi ke depan dulu"


Arumi berjalan menuju pintu depan. Dan membuka pintu tersebut. Nampak Ghaisan berdiri membelakangi pintu rumah Arumi. Namun Arumi masih bisa mengenalinya. Setelah mendengar suara Arumi, Ghaisan baru berbalik.


"Mas"


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Masuk yuk"


Ghaisan tersenyum sambil mengangguk. Arumi takut jika Ghaisan akan marah setelah mengetahui siapa keluarganya. Dan entah mengapa Arumi juga merasa takut jika Ghaisan akan menjauhi dirinya.


"Mah pah"


Kedua orangtua Arumi langsung menengok. Dan benar Ghaisan dan juga papa Arumi sama-sama terkejut. Ghaisan tak pernah menyangka jika karyawan sekaligus orang yang ingin dia nikahi adalah anak dari pengusaha ternama.


"Loh pak Ghaisan"


"Pak Wijaya. Rumi ini.."


"Iya mas. Ini kedua orangtua Rumi. Maaf tidak ada maksud untuk Rumi membohongimu"


"Jadi pak Wijaya papa Arumi"


"Iya pak Ghaisan. Saya papa Arumi dan ini mama Arumi"


Mama Arumi yang selama ini belum pernah bertemu Ghaisan memperlihatkan wajah yang nampak begitu senang.


"Yuk duduk pak Ghaisan"


"Maaf pak Wijaya. Jangan panggil saya pak. Ini juga bukan di kantor. Silahkan panggil nama saja"


"Hmm. Baiklah. Ghaisan"


"Begitu lebih baik pak"


"Ada apa ini. Tumben nak Ghaisan mampir kerumah saya ini"


"Pah. Mah biar Arumi jelaskan dulu"


"Oke"


"Satu Minggu yang lalu Arumi pernah bercerita kepada papa dan mama kalau ada yang melakukan istikarah bersama Arumi. Dan orang itu adalah Ghaisan. Atasan Arumi"


"Benar pak Wijaya. Saya berniat akan menikahi Arumi. Dan kami sepakat untuk melakukan istikarah terlebih dahulu agar diberi petunjuk yang benar oleh Allah. Hari ini sesuai kesepakatan saya dengan Arumi untuk mendengar jawaban masing-masing dan sekaligus mengenal keluarga Arumi"


"Sebelum kalian saling memberi jawaban. Saya ingin tahu apa yang mendasari nak Ghaisan memilih Arumi sebagai pendamping hidup. Sedangkan diluaran sana masih banyak yang berharap menjadi pendamping nak Ghaisan"


"Saya memang tidak memiliki alasan khusus untuk meminang Arumi. Jika saya beralasan karena cinta, cinta itu akan memudar seiring waktu. Dan jika saya beralasan karena harta. Saya saja baru mengetahui siapa Arumi sebenarnya. Saya meminang Arumi dengan tekad karena Allah. Dan selama satu Minggu saya semakin yakin jika memang wanita itu Arumi. Ijinkan saya untuk meminang Arumi pak Wijaya. Saya tidak bisa menjanjikan sesuatu yang indah untuk Arumi. Namun saya hanya bisa berusaha terus membuatnya selalu tersenyum disisi saya. Dan menjaganya sepenuh jiwa saya"


Kedua orantua Arumi saling pandang dan melempar senyum. Arumi bahkan berkaca-kaca karena mendengar perkataan manis dari Ghaisan.


"Saya percaya kamu bisa membahagiakan putri saya. Dan saya juga percaya kamu bisa menjaga putri saya tercinta ini. Sekarang apa jawaban kalian masing-masing. Papa ingin dengar"


Arumi sedikit melihat kearah Ghaisan. Begitu juga Ghaisan. Walaupun secara tak sengaja tadi Ghaisan sudah menjawabnya, namun Ghaisan tetap mengulanginya.


"Pak Wijaya. Saya datang untuk meminang Arumi secara pribadi. Jika keluarga Arumi menyetujui pinangan pribadi dari saya, besok saya akan membawa keluarga saya untuk melamar Arumi secara resmi"


"Hm. Saya sih oke ya. Dan mama Arumi sepertinya iyes. Sekarang tinggal Aruminya gimana"


"Iya sayang gimana"


"Hmm. Arumi menerima pah mah"


"Alhamdulillah. Jadi mantu kita pah"


"Iya mah"


Ghaisan tersenyum lega karena Arumi telah menerima lamarannya. Lega sudah akan gelar Bejo nya.


"Hmm. Karena sudah saling menerima, jangan panggil saya pak. Panggil papa saja seperti Arumi"


"Baik pah. Sesuai janji saya, besok saya akan membawa keluarga saya untuk melamar secara resmi"


"Aduh nak Ghaisan jangan besok ya. Terlalu cepat kami belum ada persiapan. Iya kan pah"


"Benar kata mama Arumi. Bagaimana kalau Minggu depan saja. Saya juga harus memberi kabar keluarga lainnya dan juga adik Arumi"


"Adik. Arumi memiliki adik"


"Iya. Arumi itu kembar nak. Adiknya bernama Aruna. Dan sekarang sedang berada di luar negeri karena bekerja disana"


"Oh begitu. Baiklah mah pah. Saya akan mengabari keluarga dirumah juga. Minggu depan saya akan kembali melamar Arumi"


_______


Maaf ya telat...lagi kurang fit... insyaallah akan up lagi nanti


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading